
Hari itu sesuai perjanjian pembeli dan orang tua Aditya mereka bertemu di restoran ternama, mereka akan mengalihkan semua aset mereka kepada seorang kakek tua.
"Senang bertemu dengan pak Saputra" ucap Kakek Joni kepada Ayahnya Aditya sambil berjabat tangan.
"Saya juga senang berbisnis dengan anda,"
"Silahkan duduk" ucap Kakek Joni.
Kakek Joni seorang pebisnis hebat di kota Aceh, untuk itu Pak Saputra menawarkan pembelian saham yang ada di Jakarta. Ia tidak ingin di ketahui orang lain bahwa sahamnya sudah di jual makanya pak Saputra menawarkan kepada Investor yang di luar daerah.
"Bagaimana apa Kakek menyetujui kisaran biayanya?" tanya Pak Saputra, ayahnya Aditya
"350Triliun khan?" tanya balik Kakek Joni.
"Benar Kakek" Pak Saputra Mengangguk membenarkan.
"Ini cek dari saya, anda bisa mencairkannya sekarang juga" lanjut Kakek Joni.
"Iya kakek. Saya harus membayar hutang 300 Triliun dan sisanya untuk pegangan saya nanti di LA," ucap Pak Saputra
"Jadi semua usahamu di Indonesia sudah di jual semuanya ya?" tanya lagi Kakek Joni.
"Benar, kek. Setelah Aditya lulus maka kami akan pindah ke LA juga dan terkecuali rumah yang di sini tak akan kami jual" terang Pak Saputra.
"Baiklah , kita makan malam dulu. Sekarang kan baru pukul 8 malam," ucap kakek Joni.
Ibu Aditya pun berbisik kepada suaminya
"Ayah, bagaimana pertemuan kita dengan Pak Tri" bisik Ibu Aditya dengan lirih.
"Besok saja kita ke rumah Pak Tri" Balas Pak Saputra dengan berbisik juga
"Baiklah, Ayah." Ibu Sofia mengangguk.
"Apa ada keperluan lain. Kalau memang ada acara, tidak masalah nanti lain kali kita makan malam lagi," ujar Kakek Joni karena melihat gelagat aneh dari kedua orang tua Aditya.
"Tidak, Kek. Kami hanya membahas kepergian kita besok saja" terang Ibu Sofia karena takut kakek Joni tersinggung dengan sikap mereka.
"Oh, Ayo_ mari nikmati makan malamnya," Kakek Joni mengambil pizza dan memasukkannya kedalam mulutnya.
Pak Saputra dan Ibu Shofia memilih menu steak yg mereka pesan.
Mereka pun menikmati makan malam dengan nikmat sambil ada obrolan kecil menambah ke akraban mereka.
Tak terasa sudah satu jam lebih mereka selesai makan malam bersama.
"Kakek, jika kakek masih ada keperluan tentang pengalihan saham boleh hubungi anak saya,saya sudah meninggalkan surat kuasa karena saya tidak ingin orang lain tau kondisi saya." ucap Pak Saputra.
"Oke Baiklah."
Kakek Joni beranjak dari duduknya dan menyalami Pak Saputra dan Istrinya.
Pak Saputra pun membalasnya dan ikut berdiri menghargai keberadaan Kakek Joni karena sudah mau menolong mereka.
Mereka pun meninggalkan restoran untuk balik ke tempat tinggal masing - masing.
Ditengah perjalanan Pak Saputra mengemudi mobil dengan kecepatan yang standar.
"Ibu, Simpan baik - baik cek itu, besok sebelum ke LA kita harus mencairkan cek itu dan langsung pergi ke rumahnya Pak Tri untuk membicarakan perjodohan anak kita" Pak Saputra memulai obrolan di dalam mobil.
"Baik Yah_ apa rencana ayah selanjutnya. Sisa 50Triliun saja tak akan cukup untuk kehidupan perusahaan kita lagi" lanjut Bu Sofia.
"Bener, kita harus mencari Investor Lain untuk menanam saham di perusahaanku. Apa Aku minta Ayahnya Atika saja ya, Bu?" tanya Pak Saputra tentang Ide untuk Pengembangan bisnisnya biar tidak tutup.
" Besok Kita ketemu Pak Tri, coba Saja Ayah Bicarakan Sekaligus Rencana Perjodohan Atika Dan Aditya " Lanjut Ibu Sofia
"Iya bener katamu Bu, tak ada salahnya kita mencoba" ucap Pak Saputra.
"Tapi jika Pak Tri menolak untuk menanam sahamnya? bagaimana Pak!?"
"Yah, tidak ada salahnya di coba dulu. Jika di tolak kita cari investor yang lain"
" Lalu rencana Ayah tentang perjodohan Aditya bagaimana?, kita tak punya uang yang banyak untuk buat pesta yang meriah. Tak mungkin pernikahan Aditya dan Atika sederhana" ucap Ibu Sofia karena dia tau keluarga Pak Tri begitu banyak koleganya dan keluarganya Juga.
"Mungkin jika Atika mau sederhana kita akan terbantu tapi Atika anak tunggal tak mungkin keluarganya mau mengadakan Acara pernikahannya hanya sederhana" lanjut Ibu Sofia.
" Aku juga bingung, uang sisa harus di gunakan untuk perusahaan tapi di sisi lain untuk acaranya Aditya." ucap Pak Saputra Dengan nada lirih dan sedih
"Apa ibu tak punya ide yang lain?" tanya pak saputra.
Ibu Aditya pun hanya menggeleng karena sudah tak punya ide yang lain.
"Kita pikirkan lagi besok saja Ayah" saran Ibu Sofia.
"Baiklah"
Pak Saputra terus mengemudikan mobilnya berjalan ke rumahnya.
10 Menit kemudian sampailah mereka di rumahnya.
Pak Satpam pun membukakan gerbang.
"Malam Pak" sapa Pak Satpam.
Pak Saputra pun hanya menganggukkan kepalanya, dan lanjut memasukkan mobilnya di garasi mobil.
Setelah mobil terparkir mereka berduapun masuk ke dalam rumah.
Bi Ati pun membukakan pintu dan tampak di dalam masih sepi.
"Bi, apa Aditya sudah pulang?" tanya Bu Sofia.
"Belum Nyonya" jawab Bi Ati sambil membungkuk takut kena marah Ibu sofia.
"Sudah jam 10 malam kok belum pulang ke rumah, apa tidak tau besok harus sekolah lagi ya, selalu saja keluyuran. Apa setiap hari dia begini ya Bi?" tanya Ibu Sofia.
"Iya Nyonya" lanjut Bi Ati.
"Apa nyonya mau di siapkan makan malam?" tanya Bi Ati kepada sang majikan.
"Nggak usah bi, kami barusan makan malam" ucap Pak Saputra.
"Bibi istrahat saja. Kami berdua juga mau istrahat" ucap Ibu Sofia.
"Bi, kami berdua titip Aditya ya. 4 bulan lagi baru dia akan berangkat ke LA, sekolahnya baru selesai 3 bulan lagi. Setelah menyelesaikan berkasnya baru dia akan bersama saya" ucap Sofia.
"Ibu bicara dulu dengan Bi Ati, Ayah masuk ke dalam kamar dulu ya, bu" Ucap Pak Saputra.
"Baiklah, Ayah. Ayah duluan saja dulu. saya mau bicara sama Bi Aty dulu"
Pak Saputra pun melangkahkan kaki menuju ke kamarnya untuk beristirahat.
"Jangan khawatir nyonya, Aditya Sudah dari kecil dengan saya, apa nyonya masih meragukan saya"
"Saya yakin bibi orang terbaik untuk merawat dan membimbing Aditya. Dan untuk sementara saya belum bisa pulang bolak balik sebulan sekali bi, jadi saya mohon bibi mengawasi Aditya" ucap Ibu Sofia dengan wajah Sedih.
"Nyonya, saya akan selalu mengawasi Aditya dan sudah menganggapnya sebagai anak saya jadi saya akan berusaha sesuai kemampuan saya agar Aditya tidak akan salah langkah nyonya" ucap Bibi Ati Lagi kepada Ibu Sofia.
"Terima kasih Bi, saya begitu bersyukur bibi yang dari dulu merawat anak saya_"
"Saya ke dalam kamar dulu bi, bibi istrahat saja"
"iya, Nyonya" balas Bi Aty.
Ibu Sofia pun lanjut masuk ke dalam kamar menyusul Pak Saputra.
Bibi Aty segera mengunci pintu dan lanjut beristirajat di kamar ART, yang di siapkan keluarga Aditya.
TBC...