
"Nak, apa kalian tidak berencana honeymoon" tanya Kakek Jony.
Mahendra dan Atika saling memandang, memang belum di rencanakan.
"Kakek, rencananya kami ingin umroh. tapi bukan hanya kami saja. Tapi kita semua yang ada di mansion ini" ucap Mahendra Kepada Kakek Joni.
Kemudian Mahendra menatap Atika.
"Bagaimana sayang, apa kamu mau jika honeymoon kita sekalian umroh bareng kita semua di sini. Boleh sekalian kedua orang tuamu juga? Bagaimana?"
"Aku setuju Aby, apapun keputusan Aby aku akan selalu mendukungnya"
"Bagaimana Kek? Apa Kakek setuju dengan usulku?" Tanya Mahendra.
"Baiklah, aku setuju. Telponlah orang tuamu nak Atika. Jika memang mereka setuju, Kita akan cari waktu yang pas untuk berangkat"
"Siap Kek, aku akan memberitahu kedua orang tuaku dahulu"
Atika pun segera mengambil handpone yang ada di kamarnya.
Dia segera memberitahukan kepada kedua orang tuanya.
Dreeettt...
Ibu Tantri melihat ada panggilan dari anaknya. Dia pun segera mengangkatnya.
"Assalamu Alaikum nak,"
"Waalaikum salam mamah, mamah apa kabarnya?"
"Alhamdulillah, sehat nak,"
"Begini mamah, aku sama Aby punya rencana honeymoon, tapi rencananya sekalian umroh sekeluarga. Dan aku ingin mengajak mamah sama papah ikut juga. Bagaimana? Biar seru mah kita banyak kok yang ikut"
"Mamah tanya papah dulu ya nak, jika memang papah tidak repot kerjaannya. In Syaa Allah bisa ikut juga"
"Beri info secepatnya ya mah, kalau begitu Atika tutup dulu telponnya"
"Iya Nak, Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"
Atika pun memutuskan sambungan telponnya.
Mahendra datang memeluknya dari belakang.
"Bagaimana sayang, apa kedua orang tuamu mau ikut umroh?"
"Kata mamah, mau di tanyakan dulu sama papah. Jika papah tak ada kegiatan, mungkin akan ikut bersama kita."
"Baiklah, kita sholat dzuhur terlebih dahulu, setelah itu kita ke panti asuhan yuck"
"Ayuk"
Mahendr dan Atika mengambil air wudhu, Setelah itu melaksanakan sholat.
Mereka berencana ke Yayasan Mufidah.
Mereka ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim.
"Iya sayangku, aku siap-siap dahulu"
"Begitu juga sudah cantik yang," ucap Mahendra dengan mengerucutkan bibirnya.
"Jangan cantik-cantik banget, ntar ada yang nyantol gimana? "
"Aby, aku sudah menjadi milikmu. Tak mungkin kecantol orang lain lagi."
"Oke deh, aku hanya ambil tas saja,"
Mahendra mengecup dahi Atika.
"Aby tunggu Ummy di depan ya"
"Iya By"
Atika melihat penampilannya di depan cermin, dia hanya menambahkan lip balm saja, agar tak kelihatan pucat.
Setelah itu, Atika mengambil tas selempangnya yang biasa dia bawa ketika dia bertugas di rumah sakit.
Atika sudah dari dulu tetap berpenampilam sederhana saja.
Itulah yang membuat Mahendra jatuh hati, walau kaya tapi Atika tetap sederhana.
Mereka pamit kepada kedua orang tua Mahendra dan kepada Kakek Joni dan Kakek Rangga.
"Nak, ini ada tambahan sedikit, belilah keperluan sehari-hari. Dan sampaikan salamku kepada anak-anak yang ada di sana" ucap Kakek Joni.
Kakek Joni memberikan uang 5 juta, uang yang tersimpan di dalam lemarinya.
"Padahal aku ada Kek, tapi jika Kakek ingin seperti itu. Baiklah"
"Kami pergi dulu,"
"Assalamu'alaikum" ucap Mahendra dan Atika serempak.
"Waalaikum salam" balas mereka juga.
Setelah menempuh 1 jam, akhirnya mereka sampai di depan Yayasan Mufidah.
Ibu Ratna yang penanggung jawab pesantren, umurnya sudah paruh baya. Ibu Ratna telah menunggunya di depan teras.
Memang sebelumnya mereka sudah memberi tahu akan datang.
Atika pun turun dari mobil sekalian dengan Mahendra.
Mahendra mengangkat beras yang isinya 50 kg 6 pcs dan kebutuhan sehari-hari lainnya di bantu oleh anak-anak pesantren yang sudah remaja.
Setelah semuanya telah di bawa ke dalam pesantren Atika dan Mahendra duduk sebentar bersama kepala Yayasan.
"Alhamdulillah nak, kamu sudah menjadi donatur tetap di yayasan ini"
"Ini hanya rasa syukur saya bu, kemarin saya dan istri saya sudah selesai merayakan resepsi pernikahan dan yang sebagian itu titipan dari Kakek Joni."
Mahendra lalu mengeluarkan amplop yang cukup tebal.
"Ini juga ada sedikit rezeki buat pesantren, siapa tau ibu mau perbaikan pesantren. Gunakan saja uang ini Bu"
"Trima kasih Nak Mahendra,"
Bu Ratna membuka amplopnya, dan dia bersyukur amplop itu berisi uang 50 juta.
"Semoga kebaikan kalian di balas Allah SWT" ucap Bu Ratna.
Memang pesantrennya mau di perbaiki bagian kelas, banyak yang bocor bahkan ada yang kelas tal terpakai karena sudah hampir mau roboh.
"Semoga kalian cepat di beri momongan ya"
"Aamiin" ucap Mahendra dan Atika bersamaan.
Setelah berbincang-bincang, Mahendra dan Atika berjalan-jalan di sekitar pesantren.
Kadang mereka bermain dengan anak-anak yang masih balita.
Atika sangat senang dengan anak-anak.
Mahendra pun memperhatikannya dari kejauhan.
Sebelum pulang, mereka sholat Ashar berjamaah terlebih dahulu.
"Kalau begitu kami pamit dulu Bu, senang bisa bermain-main sebentar dengan anak-anak" ucap Atika.
"Baik Nak Mahendra dan Atika, sampaikan salam ibu kepada Kakek Rangga dan Kakek Joni, terutama kedua orang tuamu Mahen. Mereka walau dulu belum jadi orang kaya, masih tetap mau berbagi di sini"
"Iya Bu, nanti saya sampaikan. Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"
Atika dan Mahendra pun segera pulang ke mansion. Meraka senang hari ini bisa berbagi kebahagian bersama anak-anak Yayasan.
Tubuh mereka lelah tapi ada rasa senang sehingga lelahnya tergantikan dengan kebahagian.
Mahendra melihat Atika tertidur di kursi mobil.
Mahendra memberhentikan mobilnya terlebig dahulu, setelah itu menurunkan kursi yang di pakai Atika agar Atika nyaman tidurnya.
Mahendra mengecup dahi Atika.
"Maaf ya sayang, aku sudah membuatmu capek seharian"
Atika hanya menggeliat dan Mahendra tersenyum melihat Atika masih tertidur pulas.
Mahendra melajukan mobilnya dengan perlahan-lahan. Dia tak ingin Atika terbangun dari tidurnya.
Setelah beberapa jam, tibalah mereka di mansion.
Mahendra menggendong Atika, Atika masih tertidur pulas.
"Kenapa Atika nak," tanya Ibunya Mahendra.
"Tidak apa-apa bu, dia hanya tertidur. Mungkin kecapean karena di Yayasan sempat bermain dengan anak-anak"
"Oh, iya nak, bawalah Atika ke kamarmu"
"Iya Bu"
Mahendra membawa Atika dengan hati-hati, dia tak ingin sang putri tidur akan terbangun dari tidurnya.
Setelah sampai di kamarnya, Bi Asih membantu membuka pintu kamar Mahendra.
Bi Asih tersenyum melihat begitu romantisnya pasangan Mahendra dan Atika.
Bi Asih berdo'a semoga rumah tangga mereka akan sakinah, mawadah warahmah sampai akhir hayat mereka.
Bi Asih menutup kembali pintu kamar Mahendra.
Setelah Mahendra meletakkan Atika, dia pun ikut membaringkan tubuhnya.
Tak berapa lama Mahendra pun ikut tertidur di samping Atika.
TBC....