MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 70



Kehidupan Mahendra berjalan seperti biasa, setelah pulang umroh sekaligus honeymoon.


Setiap hari Mahendra ke rumah sakit atau pergi ke perusahaan secara bergantian.


Jika dirinya off di rumah sakit maka dia akan pergi ke perusahaan.


Begitu juga dengan Atika, tugasnya sebagai Dokter kandungan memang cukup padat aktifitasnya.


Kadang pada saat malam hari, rumah sakit akan menelponnya untuk melihat pasien yang sedang gawat.


Entah bayinya meninggal di dalam, atau karena ada lilitan di dalam janin sehingga harus segera di lakukan oprasi.


Mungkin karena terlalu kecapean sehingga hingga sudah 3 bulan ini Atika belum hamil juga.


Kedua orang tua Mahendra melihat aktifitas anak mantunya, membuat mereka memberikan saran kepada Atika.


"Nak, apa di Rumah Sakit Ibu dan Anak tidak ada dokter lain yang mendampingimu?" tanya Ibu Nanda.


"Ada bu, hanya saja rumahnya terlalu jauh dsri rumah sakit."


"Begini nak, kamu kan seorang dokter kandungan, pasti kamu yang lebih tau dan paham bagaimana kondiri seseorang yang sedang program kehamilan."


Atika mulai paham apa keinginan Ibunya Mahendra.


"Iya bunda, saya akan atur ulang jadwal tugas saya bersama rekan-rekan kerja saya. Maafkan saya yang belum sempurna ini" ucap Atika sambil memeluk Ibunya Mahendra.


"Ibu hanya ingin yang terbaik dari kalian, tetaplah bahagia. Jangan terlalu stress dan capek nak"


"Baik bunda, trima kasih sudah mau menerima Atika yang banyak kekurangan Ini"


"Ibu mau sholat magrib dulu, apa Mahen belum pulang dari rumah sakit?"


"Belum bunda, mungkin jam 8 nanti sudah pulang ke rumah"


"Baiklah nak, ibu masuk ke kamar dulu"


"Iya bunda,"


Atika mulai memikirkan apa yang di katakan Ibunya Mahendra.


Karena waktu menunjukkan sudah masuk ba'da maghrib sehingga Atika langsung sholat maghrib untuk menenangkan dirinya dan tak hentinya berdo'a agar segera dirinya mendapat momongan.


Kakek Joni yang mendengar pembicaraan Atika dan Ibunya Mahendra, berinisiatif untuk segera membangunkan sebuah klinik untuk Atika sendiri.


Jika sudah punya klinik sendiri, maka tinggal mencari dokter lain yang bisa membantunya.


Jika sudah kerja sendiri, Atika boleh hanya memantau bagaimana kliniknya berjalan dengan lancar. Kakek Joni pun meminta saran dari Adiknya.


"Rangga, bagaimana menurutmu jika Atika kita bangunkan sebuah klinik di jalan sudirman, kebetulan tanah depan jalan itu masih belum kita bangun apa pun"


"Sepertinya idenya bagus, agar Atika tidak terlalu kecapean sehingga bisa fokus untuk program kehamilannnya, tapi alangkah baiknya tanyakan kepada Mahendra dan Atika dahulu. Jika mereka setuju, biar aku yang akan mengawasi pembangunan klinik itu."


"Baiklah, saranmu juga tidak terlalu buruk"


"Demi cicit kita"


"Ya.. ya.. ya, baiklah"


Mereka berdua menunggu kedatangan Mahendra.


Hari ini Mahendra terlambat pulang karena harus lembur.


Sambil menunggu Mahendra pulang, Atika mengaji tadarus al-qur'an agar hatinya tenang.


Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam, namun yang di tunggu belum pulang ke mansion juga.


Atika berusaha menelpon Mahendra, tapi yang menjawab hanya operator telepon saja.


Tidak seperti biasanya begini, biasanya Mahendra pasti akan memberi kabar jika dirinya lembur atau akan pulang terlambat.


Tapi berulang kali di telepon, tetap saja operator yang menjawabnya.


Akhirnya Atika memberanikan menelpon perawat yang mendampingi Mahendra.


Kringg...


Terdengar nada dering dari seberang.


"Assalamu'alaikum bu" jawab suster Mery.


"Waalaikum salam dek, apa Bapak masih belum selesai tugasnya?"


"Sudah selesai Bu, hanya bapak harus kontrol ke dokter penyakit dalam, sepertinya kondisi bapak lagi drop karena kelelahan"


"Astagfirullah, baiklah saya akan ke sana" kaget Atika, memang sudah beberapa hari ini Atika melihat ada sesuatu kepada Mahendra. Mahendra belum mengontrol ginjalnya yang hanya sebelah.


"Maaf Bu, tadi bapak tidak ingin Ibu tau, makanya saya tidak menelpon Ibu" ucap suster Merry yang tak enak hati telah lancang memberi tahu keadaan Mahendra.


"Tidak apa-apa suster, trima kasih sudah memberitahukan saya, saya akan ke sana. Tunggu saya ya Suster"


"Baiklah Bu, saya akan tunggu di loby depan rumah sakit"


Atika pun segera mengambil kunci mobil, dia tak ingin orang-orang khawatir dengan keadaan Mahendra. Untuk itu dia berpamitan jika ada yang urgent di rumah sakit tempatnya bekerja.


"Apa tak sebaiknya kamu pakai sopir saja nak?" ucap Kakek Joni.


"Jika ada Mahendra, pasti kamu tak akan di kasih izin menggunakan mobil sendiri" ujar Kakek Rangga.


"Baiklah Kek, aku akan meminta abang sapri untuk membawa mobilnya"


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam"


Bang Sapri pun menyalakan mobilnya dan Atika masuk ke dalam mobil setelah berpamitan kepada semuanya.


"Bang, ke Rumah Sakit Harapan bangsa ya"


"Siap non"


Bang Sapri melihat kecemasan di raut wajah Atika, tapi dia tak berani bertanya.


"Bang, jangan katakan orang rumah kalau kita ke rumah sakit tempat Mahendra bertugas ya?" pinta Atika.


"Baiklah non, siap"


"Trima kasih, bang"


"Sama-sama non"


"Ya Allah, semoga Aby Mahendra baik-baik saja" lirih Atika namun masih di dengar oleh Abang Sapri.


Bang Sapri pun bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengan Tuan kecilnya. Bang Sapri Berdo'a semoga semuanya baik-baik saja.


Memang sudah sebulam ini, Bang Sapri tidak pernah melihat Mahendra olahraga lagi.


Apalagi hidup dengan satu ginjal resikonya sangat besar jika tidak menerapkan pola hidup sehat dan jarang berolahraga.


Tak lama mereka sampai di Rumah Sakit Harapan Bangsa.


Atika pun segera menemui suster Meryy. Suster Merry pun menunjukkan tempat praktek Dokter Penyakit Dalam.


Tok tok tok..


"Masuk," terdengar teriakan dari dalam ruangan.


"Permisi Dokter Adam, saya ingin mengantarkan Istri Dokter Mahendra"


Mahendra yang duduk di ruangan langsung kaget. Dia pun mengingat jika hpnya dari tadi mati dan belum sempat di cash.


"Astagfirullah, ummy. Maaf ya Aby lupa ngecash Hp"


"Masuklah Bu, Dokter Mahendra hanya sedikit kurang fit. Makanya dia konsultasi dengan saya, eh taunya udah kemalaman ya"


"Alhamdulillah, Aby. Ummy hanya khawatir saja dengan keadaan Aby"


"Duduklah, Kita ngobrol sebentar"


Mahendra pun bangkit dari tempat duduknya, menggenggam tangan Atika dan menuntunnya untuk duduk bersamanya.


"Suster, terim kasih ya" lirih Atika kepada suster Merry.


"Sama-sama Bu, kalau begitu saya pergi dulu Dokter" pamit suster Merry.


"Iya suster, terima kasih sudah mengantarkan istri Saya ke sini"


"Sama-sama Dokter Mahendra"


Akhirnya mereka berkonsultasi bersama-sama. Dokter Adam menyuruh Dokter Atika agar selalu mengingatkan Dokter Mahendra untuk selalu menjaga kondisinya sekarang ini.


Apalagi Dokter Adam juga tau jika mereka berdua lagi program kehamilan.


"Trima kasih dokter, aku akan selalu memperhatikan kondisiku, memang tadi aku sempat pusing. namun setelah meminum obat yang di resepkan darimu, Alhamdulillah sudah agak mendingan"


"Jangan lupa olah raga"


"Ya, benar. Sudah sebulan ini aku jarang berolah raga"


"Baiklah Dokter, kami pamit pulang dulu. Trima kasih atas waktunya, maaf sudah mengganggu waktu istrahat dokter"


"Tak masalah Dokter Mahen, jangan sungkan-sungkan untuk konsultasi. Trus ingatkan Kakek Joni, bulan ini harus cuci darah lagi jika sudah 6 bulan kan?"


"Baiklah dokter, kami pamit dulu. Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam"


Mereka pun menuju ke tempat parkiran mobil.


"Ummy, suruh Bang Sapri pergi saja."


"Astagfirullah, Ummy lupa kalau pergi dengan Bang Sapri"


Atika pun menghampiri mobil Bang Sapri. Dia mengatakan akan ikut dengan Mahendra saja.


"Baiklah Non"


"Trima kasih ya Bang sudah mengantarkan istri saya"


"Sama-sama Tuan kecil, itu sudah kewajiban saya" ucap Bang Sapri.


Akhirnya mereka pergi dengan mobil masing-masing.


"Maaf ya Ummy, sudah buat Ummy khawatir"


"Tidak apa-apa By, aku malah senang bisa berjumpa dengan Dokter Adam agar bisa mendengar sendiri kondisi Aby sebenarnya"


"Trima kasih sayang, mungkin karena kondisiku makamya kamu sulit hamil"


"Aby, berkata apa sih. Sudah! kalau memang Aby menyalahkan kondisi Aby terus, sepertinya kita perlu buat bayi tabung saja"


"Baiklah, jika itu keinginan Ummy. Aby setuju"


"Aby, jangan pernah menyalahkan keadaan Aby terus"


"Kita ini sama-sama berjuang"


"Trima kasih sayang, kamu memang istri solehaku"


Mahendra mengusap pucuk kepala Atika yang tertutup hijabnya.


"Sama-sama By, Aby tetap suami terbaikku" ucap Atika Sambil memeluk lengan tangan Mahendra.


Kondisi Mahendra yang sedang menyetir, membuatnya membawa mobil perlahan-lahan. Mereka menikmati jalanan malam hari.


TBC....