MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 50



"Kamu kenapa bo*doh sekali Fredy, bagaimana bisa menikah kalau dia lagi pingsan begini" ucap Aditya marah kepada Fely.


"Dia tak mau di ganti baju bos, makanya tanpa pikir panjang aku membiusnya"


"Kalau sudah begini, bagaimana??,"


"Bukannya yang penting dia sudah ganti baju pengantin bos"


"Makanya punya otak di pakai" ucap Aditya sambil menoyor kepala Fely.


"Harusnya dia duduk di sampingku, kamu ngasih biusnya banyak atau tidak,"


"Tidak bos"


"Baiklah tunggu sejam lagi, jika ada penghulu dia belum juga sadar, awas kau, terima konsekuensinya"


"Siap bos"


Sudah sekitar satu jam lamanya Fredy mencari penghulu untuk menikahkan Aditya dan Atika tapi belum juga ketemu.


"Bagaimana?, kapan penghulunya datang"


"Sabar bos, kami belum menemukan penghulu yang mau menikahkan bos,"


"Astaga Fredy, otakmu tuh di pakai. siapapun ajak kemarin yang bisa menjadi penghulu"


"Tapi bos...."


"Dasar anak buah kerjanya tak becus"


Aditya mematikan sambungan teleponnya. Adita mondar mandir di depan kamar Atika.


Dia pun masuk kamar yang di tempati Atika, Dia membelai wajah Atika.


"Cantik sekali calon istriku ini," gumamnya di dalam hati.


Seketika Atika mengerjapkan matanya perlahan-lahan matanya terbuka. Atika pun kaget dengan keberadaan Aditya.


"Sudah bangun calon istriku ini, bersiaplah sayang, sebentar lagi kita akan menikah"


"Cuihh.. siapa yang sudi menikah denganmu, lebih baik aku mati dari pada menikah dengan laki-laki sepertimu"


"Haha.. haha.. haha... marahmu membuatku semangat untuk tetap menikah denganmu"


"Kau sudah tak waras"


"Yaaa... aku memang tak waras. kau yang membuat aku seperti ini" ucap Aditya sambil mencekik leher Atika.


Seketika Atika seperti sudah tak bisa bernafas. dan tak lama Aditya melepas cengkramannya.


"Jika aku tak bisa memilikimu, siapa pun juga tak bisa menikahimu. Paham!!," teriak Aditya dengan mata amarah di wajahnya.


Atika seketika menangis tersedu-sedu, dia tak tahu harus berbuat apa.


"Fely, cepat bawa Atika ke depan penghulu, jika aku yang membawanya, aku malah akan melukainya"


"Siap bos,"


Fely pun memapah tangan Atika dan mengingatkan agar selalu menuruti perkataannya agar Atika tidak akan kesakitan.


Atika berjalan gontai, dilihatnya ada seorang ustad yang duduk di depan meja dan kursi yang sudah di duduki Aditya.


Aditya tersenyum lebar.


Sementara Mahendra, Tejo dan polisi mengendap-ngendap di dalam danau, mereka menyelam menyusup ke tengah danau.


Hari sudah malam, jika mereka menggunakan perahu maka akan ketahuan kedatangannya dan malah akan mencelakakan Atika nantinya.


Mereka melihat anak buahnya Fredy membawa senjata tajam. entah berapa banyak anak buahnya Fredy yang berjaga.


Satu-satu anak buahnya Fredy berhasil di lumpuhkan oleh Mahendra, Tejo, dan beberapa Polis tanpa ada keributan.


"Aman, semua sudah terkendali," ucap Mahendra kepada Kakek Joni.


Dan Kakek Joni mengajak mereka semua naik kapal. Tak lama terlihat kapal yang membawa kedua orang tua Atika, kedua orang tua Aditya, Sonia, Kakek Joni dan beberapa Polisi.


***


Do'a sudah di bacakan sebelum melakukan ijab kabul. Aditya sudah terlihat gelisah.


"Pak Ustad, apa tak bisa langsung ijab kabul saja"


Pak Ustad nampak heran, tapi dia mengatakan memang prosesinya harus begini. Pak Ustad pun melanjutkan membaca do'a sebelum ijab qobul.


Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Aditya bin Saputra dengan saudari yang bernama Atika binti Tri hasanah dengan mas kawinnya berupa 50 gram emas dan seperangkat alat sholat... ”


"Berhentiii...!!." teriak Sonia sambil memegangi perutnya.


Atika melihat kebelakang, dia pun nampak bahagia melihat kedua orang tuanya bahkan Mahendra datang bersama-sama.


"Papah.... mamaaaa...," Atika berlari ke arah kedua orang tuanya, lalu memeluk ibunya.


"Berhenti Aditya aku mohon..., aku tak rela.. kamu menikah lagi,shhh..." ucapnya lagi sambil terisak menangis menahan sakit.


"Plakk... " Sonia menampar Aditya yabg bengong entah apa yang harus di katakan.


"Sadar Aditya, kamu tak lihat aku sedang mengandung anakmu??,shhh..Aw.. "


"Ada apa ini?," ujar Pak Ustad bingung dengan kondisi sekarang ini.


"Maaf pak Ustad, ini anak saya Atika, kami orang tuanya tidak rela dia menikah dengan Aditya yang sudah mempunyai istri"


"Loh, katanya sodara Aditya kalau orang tuanya Atika sudah meninggal dan dia masih single"


"Itu semua bohong pak, kami orang tuanya Atika dan ini istrinya yang lagi hamil tua"


"Maaf sodara Aditya pernikahan ini tak bisa dilanjutkan"


"Saudara Aditya kamu kami tahan, karena mencoba menculik seorang wanita"


Polisi memborgol Aditya, Aditya diam tak berkutik.


"Aw... sakit... shhh... Aw... Ayah, ibuuuu" teriak Sonia memegangi perutnya.


"Soniaaa!" teriak Aditya.


"Cepatlah bawa ke dalam kamar, aku akan memeriksanya terlebih dahulu" ucap Atika.


Kedua orang tua Aditya membawa Sonia ke dalam kamar. Atika yang sudah menjadi dokter kandungan segera memeriksa apa sudah ada pembukaan berapa.


"Pak Polisi, aku tak akan kabur. Ijinkan aku menemani istriku yang mau melahirkan terlebih dahulu" melas Aditya kepada Polisi yang sudah memborgolnya.


"Baiklah," ucap pak Polisi sambil membuka borgol yang telah di pasangnya.


Aditya berlari ke arah kamar yang ada Sonia. Rasa penyesalan terpancar di wajahnya.


"Sonia, bertahanlah" ujar Aditya sambil memegangi tangan Sonia.


"Makanya kalau mau lakukan apapun di pikir dulu" ucap ayahnya Aditya sambil menoyor kepalanya Aditya.


"Sepertinya baru pembukaan 5, masih ada 5 pembukaan lagi. kita masih bisa membawanya ke rumah sakit terdekat atau klinik yang dekat dari sini," ucap Atika sambil membersihkan tangannya.


"Baiklah, ayo kita cepat membawanya ke rumah sakit" ucap Aditya.


Dia pun menggendong Sonia dan membawanya ke atas kapal. Diikuti dengan yang lain.


"Mahendra, trima kasih kamu sudah mau menolongku" ucap Atika sambil memeluk Mahendra.


Tak sadar kedua orang tua Atika dan yang lain memperhatikan dan mereka hanya tersenyum.


"Cepatlah, halalkan pasanganmu" ucap Pak Tri Ayahnya Atika.


Mahendra pun kaget dengan permintaan Ayahnya Atika. Karena tak ingin kesempatannya terlewatkan maka Mahendra pun langsung melamar Atika.


" Will you merry me"


"Yes, I would"


Semua pun bertepuk tangan, Aditya tersenyum. Dia harus merelakan pujaannya dengan orang yang tepat.


"Jagalah Atika dengan sebaik-baiknya, maaf aku memang sudah salah dengan kamu selama ini. maafkanlah aku" ucap Aditya memeluk Mahendra.


"Aku sudah memaafkanmu sudah sejak lama, tapi aku tak akan memaafkan kamu jika saja tadi kamu sudah menikah dengan Atika"


"Atika bukan jodohku, makanya walau di paksa bagaimana pun tak akan terjadi" ucap Aditya sambil melepas pelukannya.


Dia lalu mengambil tangan Sonia dan menciumnya.


"Aku sudah menemukan wanita yang tepat untukku, Sonia yang tepat, ibu dari anak-anakku" ucap Aditya sambil menangis karena membayangkan setelah Sonia melahirkan, dia harus mendekam di penjara.


TBC....


"