
Persiapan demi persiapan pernikahan Mahendra telah di lakukan.
Semua di serahkan kepada pihak WO sehingga tidak mengganggu aktifitas Mahendra dan Atika di rumah sakit.
Konsep yang sederhana membuat pihak WO tidak terlalu repot dengan persiapan pernikahan Mahendra dan Atika.
"Bu Dokter Atika, nanti kapan ada waktunya untuk fiiting baju pengantin"
"Besok bisa, kebetulan saya piketnya malam"
"Oke nanti saya hubungi pihak salon biar bisa mempersiapkan segalanya"
"Iya, jangan lupa jam 10 pagi ya, trima kasih"
Atika memutuskan sambungan teleponnya, dia ingin menghubungi Mahendra agar mengantarkannya besok.
Dreett...
Mahendra yang melihat ada panggilan Atika tersenyum simpul.
"Assalamu'alaikum, sayang"
"Waalaikum salam by, aby besok ada waktu untuk mengantarku ke salon tempat fiiting baju"
"Jam berapa dek,"
"Jam 10 pagi Rencananya"
"Oke baiklah, kebetulan saya kerjanya malam."
"Loh, kok sama ya Aby, Adek juga tugasnya malam"
"Kalau begitu nanti setelah fiiting baju kita bisa makan siang bersama dan pergi ke rumah sakit bersama-sama"
"Iya, by"
"Oke sayang, sampai ketemu besok, assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"
Atika memutuskan mengakhiri percakapannya, kebetulan ada pasien yang datang ke ruangan Atika.
"Assalamu'alaikum, Bu Dokter"
"Waalaikum salam bu, silahkan duduk, apa ada keluhan selama ini?," tanya Atika ramah.
"Hanya sering sakit punggung dokter" ucap pasien.
"Itu hal yang wajar jika kehamilan mendekati waktu melahirkan ya,"
"Silahkan berbaring ya bu, kita liat calon dedek bayinya,"
Ibu itu bergegas berbaring di atas ranjang.
Suster mengoleskan gel di atas perut ibu itu, Atika segera menempelkan Alat USG.
"Anaknya sehat dan sudah tepat di jalan lahir tidak sungsang, air ketubannya juga cukup, dan sepertinya 2 minggu lagi di perkirakan persalinannya,"
"Saya akan buat surat rekomendasi agar pas akan melahirkan Ibu bisa masuk di rumah sakit ini, saya buatkan resep vitamin agar tubuj ibu tetap dalam kondisi stabil"
"Iya Dokter, trima kasih"
Setelah melakukan pembayaran, ibu itu menebus resepnya masih di apotik rumah sakit tersebut.
Dreett...
Atika melihat handponenya, ada panggilan dari Mahendra lagi.
Atika tersenyum.
"Assalamu'alaikum, by"
" Waalaikum salam, sayang. Aku akan menjemputmu hari ini"
"Baiklah, aku sebentar lagi akan selesai bertugas kok,"
"Aku sudah di ruang parkir,"
"Ya sudah, Aby ke ruangku saja. Kebetulan pasienku sudah tak ada"
"Oke sayang. Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"
Mahendra segera memutuskan sambungan handponenya dan bergegas turun dari mobil.
Mahendra pun menyusuri koridor rumah sakit IA dan di perjalanan banyak pasang mata memperhatikannya.
Mahendra terus berjalan menuju ruang Atika. Ini kali keduanya dia datang ke rumah sakit ini.
"Suster, mau tanya, ruang Dokter Atika di mana ya?," Tanya Mahendra setelah bertemu dengan salah satu suster di rumah sakit itu.
"Dokter Atika di ruang Poli kandungan, anda belok kiri nanti ada tulisan Poli kandungan bisa langsung ketuk ruangan itu"
"Trima kasih suster,"
"Sama-sama pak"
Mahendra mengikuti arahan suster yang tadi, benar saja terpampang nyata tulisan poli kandungan.
Tok! tok! tok!
"Masuk," terdengar suara dari dalam ruangan yang di ketuk Mahendra.
kreettt...
Mahendra tersenyum melihat tunangan pujaannya yang telah bersiap untuk pulang kerja.
"Assalamu'alaikum, sayang"
"Waalaikum salam Aby, masuk. tunggu sebentar ya, aku tinggal mengambil tas saja"
"Iya dek,"
Atika pun segera mengambil tas yang ada di ruangannya. Tak lupa dia bercermin terlebih dahulu. Dia ingin terlihat sempurna di mata calon suaminya.
"Dokter Atika, di jemput pacar ya," sapa dokter Roni teman Dokter Atika tapi beda Poli.
"Ini bukan pacar saya Dokter tapi calon suami saya, perkenalkan Dokter Mahendra calon suami saya"
"Oh, Dokter juga ya, saya Roni teman beda poli Dokter Atika, selamat ya, jangan lupa undangannya ya" ucap Dokter Roni
"Oke Dokter, saya Mahendra," ucap Mahendra dengan berjabat tangan.
"Tugasnya di Rumah Sakit mana?" tanya Dokter Roni.
"Saya kerja di Rumah Sakit Harapan Bangsa"
"Wah, Rumah Sakit besar juga."
"Kami pergi dulu ya," ucap Dokter Atika.
"Silahkan Dokter,"
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"
Mahendra dan Atika bergegas meninggalkan Dokter Roni.
"Ternyata sudah punya calon suami" batin Dokter Roni kecewa.
Setelah mereka memasuki mobil.
"Sepertinya dokter itu menyukaimu" ucap Mahendra posesif.
"Aku hanya menyukaimu dari dulu hingga sekarang, walau dia menyukaiku asal aku tak membalasnya,"
"Iya, tapi jangan terlalu dekat ya, namanya ujian menuju pernikahan itu banyak akan terjadi"
"Iya, by. Percayalah padaku"
"Ya, aku percaya padamu. kita singgah di perusahaan dulu ya"
"Baiklah,"
Mereka pun menuju ke perusahaan yang tak jauh dari rumah sakit Atika bekerja.
Setelah sampai di perusahaan J, Mahendra dan Atika segera turun dari mobil.
"Iya kek, aku sudah di bawah, aku tadi menjemput Atika dahulu"
"Baiklah nak, Kakek tunggu di ruanganmu"
"Baik kek"
"Ayo sayang, kakek sudah menunggu kita di atas"
"Iya by"
Mereka pun berjalan berdampingan memasuki perusahaan J, karyawan yang sudah mengetahui Mahendra adalah CEO perusahaan langsung menunduk menghormatinya. Begitu juga kepada Atika, mereka juga sudah mengetahui Atika calon istri sang CEO.
"Selamat sore Pak Dokter Mahen, Bu Dokter Atika"
"Sore juga," ucap Mahendra dan Atika berbarengan sambil tersenyum.
Setelah Mahendra dan Atika berlalu.
"Cantik ya, bu Dokternya, wajar pak CEO dokter ke pincut"
"Iya, pak Dokter CEO juga ganteng kok. mereka sangat serasi"
"Iya bener"
Atika dan Mahendra memasuki lift khusus pejabat tinggi.
Ting!
Lift pun terbuka dan mereka bergegas menuju ruangan Mahendra bertugas menjadi CEO.
"Assalamu'alaikum kek" sapa Atika sambil menyalim tangan Kakek Joni.
"Waalaikum salam nak, duduklah"
Mahendra pun menyalim tangan Kakek Joni.
"Kakek Rangga tidak ikut kek?"
"Tidak nak, dia lagi menunggu Bi Asih dahulu setelah itu Kakek Rangga akan ke sini di antar sopir"
"Oh, Kakek, besok aku dan Atika mau fiiting baju pengantin, mungkin besok pagi aku ke sini dulu"
"Baiklah, Kakek hanya ingin memberi ini padamu, pelajarilah dan tanda tangani proposal yang memang kamu rasa bisa bekerja sama dengan perusahaanmu, semua ku serahkan padamu"
"Kakek, apa tak sebaiknya Kakek Rangga dulu yang memegang peranan di sini?"
"Rangga sudah ingin beristirahat nak, semalam kakek sudah membicarakannya"
Flasback On
"Rangga, apa tak sebaiknya perusahaan itu kamu pegang dahulu, sambil Mahendra belajar memimpinnya?" tanya Kakek Joni.
"Kak, kamu sudah tau kondisiku, sebaiknya Mahendra belajar dari sekarang saja"
"Baiklah, aku akan menyerahkan semua dokumen ini padanya"
"Baiklah, aku serahkan padamu saja"
Flasback off.
"Jika kakek dan Kakek Rangga sudah menyerahkan padaku, aku tak akan bisa menolaknya, tapi aku hanya berfikir apa aku sanggup memegang 2 peranan penting"
"Aku rasa kamu pasti bisa nak"
"Trima kasih atas kepercayaan Kakek"
Mahendra memeluk Kakek Joni. Dia bersyukur bisa bertemu dengan orang seperti Kakek Rangga dan Kakek Joni.
TBC...