MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 63



"Para Hadirin yang di rahmati Allah."


"Keluarga yang baik adalah keluarga yang mampu mengajarkan kebaikan kepada keturunan dan pasangannya tentang apa yang diperintahkan Allah dan menjadi sunnah RasulNya (ma’ruf), serta mampu mencegah terjadinya perbuatan yang dibenci Allah dan RasulNya (munkar) dengan mengajari serta selalu mengawasi agar perbuatan dosa dan maksiat tak dilakukan diri sendiri maupun anggota keluarga."


"Dari keluarga yang baik maka akan semakin berkembang menjadi masyarakat yang baik, tempat tinggal dan lingkungan yang nyaman, baik, dan tentunya diberkahi Allah."


"Yang keempat, adalah selalu hidupkanlah rumah dengan Al-Qur’an. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Janganlah menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari suatu rumah yang didalamnya dibacakan Al-Baqarah.” (HR. Muslim)."


"Dengan selalu dibacakannya Al-Qur’an, bahkan dilakukan kajian keluarga tentang Al-Qur’an, hafalan bersama keluarga, dan aktivitas belajar Al-Qur’an dalam rumah akan menjadikan rumah nyaman di tempati, penuh keberkahan, dan di jauhi dari setan yang hendak menetap di dalamnya."


"Yang kelima, jadikan rumah tangga sebagai ajang kompetisi dalam kebaikan. Pasangan suami dan istri selalu merasa iri jika pasangannya mampu beribadah dengan baik, dan dia ingin melampauinya minimal menyamainya. Begitu pun dengan anak-anak dan orang tuanya. Berlomba-lomba dalam kebaikan akan meningkatkan semangat untuk selalu beribadah kepada Allah demi bekal hari akhir dan di akhirat kelak."


"Baiklah untuk pasangan Mahendra dan Atika, Yang terakhir adalah perlakukan pasangan dengan penuh syukur dan kemuliaan. Karena dia adalah anugerah sekaligus amanah yang Allah berikan dalam hidup kita. Muliakan dia, hormati dia. Bagi suami jangan pernah memperlakukan istri dengan buruk atau seperti pembantu, karena istri kelak akan melahirkan dan menjadi madrasah terbaik anak-anak." "Kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban suami apakah mampu mendidik istrinya dengan baik atau tidak. Istri juga harus taat dan berbakti kepada suami, jangan kufur padanya, karena Allah memerintahkan para istri untuk menaati suaminya yang telah mengambil alih tanggungjawab dirinya dari ayahnya."


"Itulah sedikit nasehat pernikahan yang bisa saya berikan. Semoga bisa menjadi pengingat dan bekal bersama bagi kita semua, para hadirin, kedua mempelai yang berbahagia, dan diri saya sendiri."


"Mohon maaf bila ada kesalahan, sesungguhnya semua khilaf adalah milik saya pribadi dan kebenaran hanya milik Allah SWT."


"Wassalaamu’alaykum wr.wb" ucap Ustad Maulana memberikan wejangan sedikit tentang pernikahan.


"Waalaikum salam wr wb," jawab mereka serempak.


Setelah itu ramah-tamah sekaligus menyantap makanan yang di sediakan.


Semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan.


"Nak, istirahatlah. Jam 3 sore baru kita akan persiapan resepsi" ucap Ibu Nanda.


"Iya bu, kami ke kamar dulu"


"Inget, ntar malam aja setelah resepsi buka puasanya"


Mahendra tersipu.


Atika malah merasa aneh.


"Buka puasa? emang aby puasa, tapi kok tadi sempat makan kue" tanya Atika sambil berbisik kepada Mahendra.


"Maksudnya ibu, buka puasa kamu" goda Mahendra.


Atika memukul lengan Mahendra karena malu apa yang di katakan Mahendra.


"Iya bu, Mahendra paham" jawab Mahendra sambil tersenyum.


Atika dan Mahendra segera ke kamar pengantin mereka.


Di sana telah terhias kamar cantik, di hiasi bunga mawar.


Atika berdiri di depan pintu, dia sangat gugup. Pasalnya baru kali ini dia berdua dalam kamar dengan seorang laki-laki.


"Hanya mau berdiri saja?," tanya Mahendra.


Atika hanya menggeleng.


"Nanti juga akan terbiasa"


Atika pun tersenyum dan melangkah masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana suka?,"


"Suka by"


"Ya sudah ganti bajunya dan semua pakaianmu sudah ada di dalam sana" ucap Mahendra sambil menunjuk ruangan khusus ganti pakaian.


Atika pun masuk ke dalam walk in closet yang begitu besar dan luas.


Sudah 15 menit tetapi Atika belum juga keluar.


Tok! tok!


"Sayang?!" panggil Mahendra.


"Ya,"


"Kamu baik-baik saja?"


Atika tidak menjawab.


Mahendra pun melangkah masuk ke dalam.


Mahendra keheranan Atika belum juga mengganti pakaiannya.


"Kamu butuh bantuan?," tanya Mahendra.


Atika menganggukkan kepalanya.Dia tak bisa membuka kebayanya yang resletingnya di bagian belakang.


Atika sudah berusaha, tapi hasilnya nihil.


Mahendra melihat Atika tanpa menggunakan hijab,seketika hatinya berdegub kencang.


duk! duk! duk!!


Begitu juga gemuruh hati Atika. Mahendra berusaha tetap terlihat biasa.


Mahendra menyibakkan ke depan rambutnya Atika.


Memang mereka sudah suami istri, tapi rasa canggung masih mereka rasakan karena tidak terbiasa dengan berdua bersama dengan lawan jenis.


Mahendra membuka knop yang ada di ujung kebaya setelah itu menurunkan resleting kebaya.


Atika menutup matanya.


Mahendra tersenyum melihat tingkah Atika.


"Apa aku boleh menyentuhnya?"


Atika membalikkan badannya. Dia sadar Mahendra pasti belum pernah di posisi seperti ini, makanya setiap mau melakukan apapun dia pasti akan bertanya kepada Atika.


"Aby, aku sepenuhnya milik Aby"


"Lakukan apa yang ingin Aby lakukan, aku ikhlas karena aku istrinya Aby"


Walau Atika gugup tapi dia berusaha tidak grogi.


Mahendra pun senang akan pengakuan Atika.


Mahendra mendekati Atika perlahan-lahan,Atika pun mengalungkan tangannya di belakang kepala Mahendra.


Mereka saling menatap menyalurkan rasa cinta dan sayang mereka.


Perlahan-lahan Mahendra mengecup singkat bibir Atika.


mmmuach.


Mereka tersenyum.


Atika membelai rambut Mahendra perlahan.


Mahendra mengulangi mengecup bibir Atika tapi bukan kecupan seperti yang sebelumnya.


Sesapan demi sesapan, bibir mereka berdecak menggema di ruangan, menambah panasnya suasana walk in closet.


Tanpa sadar Mahendra telah menggendong Atika dan tubuh Atika telah tersandar di dinding lemari.


Baju yang di kenakan Atika telah menurun separuh badannya.


Mahendra seperti melihat pandangan indah di depannya.


Putih bersih terpampang nyata di depannya. Mahendra mendekatkan kepalanya di sela bukit kembar Atika.


Ahhh....


Seketika gelayar-gelayar aneh di rasakan Atika. Atika tanpa sadar meremas rambut Mahendra, ketika bibir Mahendra menempel sempurna di kulit sambil di sesapnya.


"Ab... Aby, ahh"


Panggilannya Atika menambah semangat Mahendra.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan terdengar dari luar kamar.


Mahendra melepas kecupannya dan mereka berdua tersenyum bersama.


"Hampir saja kelepasan" gumam Atika dalam hati.


"Siapa sih, mengganggu saja" gerutu Mahendra.


Atika pun memukul lembut lengan Mahendra.


"Ih, nggak inget apa kata bunda"


"Enggak!, emang sengaja di buat lupa"


"Sanaaa, bukain dulu. Siapa tau penting" ucap Atika sambil mendorong Mahendra.


"Iya sayang" ucap Mahendra mencubit kecil dagu Atika.


Mahendra bergegas ke depan kamarnya, dan membuka pintu kamarnya.


"Eh, Ibu" ucap Mahendra sambil menyengir seperti ekspresi kuda yang tertawa.


"Hayo, lagi ngapain?" goda Ibunya.


"Ibu seperti belum pernah muda saja"


"Ini isi tenaganya dulu, kalian kan belum makan dari pagi"


"Ingat, buka segelnya ntar aja, malam kalian masih ada resepsi"


"Iya bu, inget kok"


Mahendra pun mengambil 2 piring makan yang ada dalam tatakan yang di bawa Ibunya.


Ibunya segera meninggalkan Mahendra dengan tertawa.


TBC...