
Pagi hari yang cerah Mahendra menuju ke universitas untuk mengambil formulir pendaftaran, ternyata Atika juga sementara mengantri juga.
Keduanya tampak saling memandang tak sengaja bertemu. Atika hanya melihat sekilas setelah itu dia membuang muka ke arah lain.
Dia tak ingin melewati batas yang ketika bertemu dengan Mahendra. Dan pada saat itu Aditya pun ternyata mendampingi Atika.
Sebenarnya sudah hampir 2 bulan lebih Aditya menahan diri untuk tidak mengganggu Mahendra tapi melihat interaksi keduanya timbul lagi sakit hati di hati Aditya.
Dia pun berencana mempermalukan Mahendra di tengah pendaftaran. Aditya menyusun rencana agar bisa mempermalukan Mahendra.
Aditya pun berjalan ke Arah Mahendra berdiri. Tak lama dia menyenggol kaki Mahendra dan membuat Mahendra jatuh ke arah depan. Sontak saja Mahendra kelimpungan dan jatuh tepat di bawah kaki gadis lain.
"Hahaha, baru mendaftar sudah jatuh...eh penjual roti lebih baik kamu kembali ke rumahmu. Tempat ini tak layak untuk kau penjualan roti "
"Aditya, apa yang kau lakukan. Ayo kita pergi nggak usah cari masalah dong" ucap Atika menghampiri Aditya sambil menyeret tangannya agar menjauh dari kerumunan.
Orang-orang memperhatikan mereka semua. Aditya tak tinggal diam, dia tetap menghina Mahendra.
"Kamu kira tempat ini cocok buat penjual roti seperti kamu ya... Hahaha.. Jangan mimpi ketinggian ntar jatuhnya sakit "
Orang-orang tampak terprovokasi keadaan, ada yang tertawa ada juga yang melirik hina Mahendra. Tapi Mahendra hanya diam saja tanpa menghiraukan hinaan Aditya.
Tiba-tiba Tejo datang.
"Heh, Aditya asal kau tau ya. Mahendra di rekomendasi sekolah untuk daftar di sini sedangkan kamu.. Heh, liat aja hanya nemenin sang kekasihmu" ucap Tejo dengan penuh Penekanan.
Aditya kaget kenapa Mahendra bisa mendapatkan rekomendasi dari sekolah, dia tak menyangka kalau Mahendra cukup berhasil di ujiannya, sedangkan dia hanya bagai remahan krupuk saja.
Orang-orang mulai memperhatikan Mahendra, ada yang tatapan kagum, ada juga yang menatap iba karena di permalukan di depan orang banyak.
"Ayo, Aditya kita pergi dari sini saja. Aku belum jadi mendaftar" ucap Atika dengan wajah kesal kenapa Aditya masih saja bersikap kekanak-kanakan.
"Awas aja kamu, Tejo" ucap Aditya sambil berlalu di hadapan Mahendra dan Tejo.
"Kamu sih Mahendra, kenapa kamu diam saja setiap Aditya menghinamu, coba seperti malam-malam kita di warung tuh"
"Tejo, ini suasana kampus kamu mau aku di tolak gara-gara hal sepele kayak gitu, aku yang di hina tidak masalah asal jangan orang tua atau sabahatku. Itu pasti aku lawan. Ayo kita lanjut mendaftar saja dari pada harus melayani orang stress kayak gitu"
"Ckckck.. Mahendra kamu itu aneh ya"
"Nggak usah di pikirin, rugi buang tenaga dan waktu aja "
"Ya, sudah ayo kita megantri aja deh"
Tejo pun akhirnya mengantri untuk mendaftar kebetulan sudah tak banyak yang mendaftar.
Sementara Atika memasang wajah cemberut di wajahnya. Dia kesal banget sama Aditya.Padahal tadi dia tidak meminta di tunggguin,tapi Aditya kekeh mau menemaninya. Ternyata hanya berbuat onar aja.
"Lain kali nggak usah temenin deh, liat gue nggak jadi daftar gara-gara kamu tuh" sunggut Atika.
"Kamu nggak usah kuliah di UI lagi mending kuliah di FMI " Kata Aditya
"Aditya, kamu tak berhak melarang aku kuliah di mana lagian saya hanya kuliah" protes Atika.
"Pokoknya kamu tidak boleh kuliah di situ atau saya minta ayah dan ibumu mempercepat pernikahan kita" lanjut Aditya.
"Kamu itu, selalu itu saja yang kamu katakan padahal umur kita masih belia belum pantas untuk berumah tangga"
"Eh, aku sekarang juga bisa bercinta dengan kamu ya" Ucap Aditya dengan mata nyalang beringas melihat Atika.
Atika yang di tatap begitu sangat takut, namun dia tak mau sesuatu menimpanya, akhirnya Atika menyurutkan pandangan Aditya dengan tatapan tajam juga.
"Kamu kira berumah tangga hanya soal itu saja, masih banyak tanggung jawab yang harus di siapkan. Mental Seorang Pemimpin itu perlu" tegas Atika dengan suara lantang, jika sudah begini Aditya tak berani membalasnya.
Terpaksa Aditya hanya bisa bersunggut menahan kekesalannya.
"Pokoknya besok aku antar kamu di FMI tidak boleh di bantah"
"Baiklah" ucap Atika mengalah dari pada tak kuliah.
"Nah, begitu. Jadi gadis yang baik dong"
**
Tejo dan Mahendra sudah selesai mendaftar, formulirnya sudah di isi dan di kembalikan di bagian pendaftaran. Mereka menunggu di panggil lewat sms jika lolos dalam pendaftaran.
Mereka berdua naik motor bersama, motor Tejo berjalan membelah Jalanan dengan santai, tanpa ada gangguan dari siapapun.
Tibalah di rumah Mahendra. Mahendra meminta Tejo untuk singgah dulu di rumahnya Tapi Tejo menolak karena hari sudah siang hampir sholat dzuhur lebih baik dia langsung pulang saja.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam" jawab Ibu Nanda dari dalam.
"Bagaimana pendaftarannya Nak, apa ada masalah?" tanya Ibu Nanda.
"Tidak Bu, alhamdulillah lancar"
"Syukurlah, semoga kamu di terima Nak"
"Aamiin. Semoga do'a Ibu di ijabah Allah SWT"
"Aamiin. Mahendra ke dalam dulu ya Bu, mau ganti baju dulu"
"Iya Nak"
Mahendra pun segera melangkah ke kamarnya dan berganti pakaian. Dia mengingat kejadian tadi pagi bertemu Atika dan hampir saja bertengkar dengan Aditya.
Mahendra heran padahal 2 bulan Lebih ini dia merasa Aditya tidak mengganggunya mengapa sekarang harus terjadi lagi.
Mahendra hanya menghirup nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Dia sadar selama dia masih miskin maka orang-orang hanya memandanginya dengan rendah.
Dia melihat langit-langit kamar dan berdo'a semoga Allah bisa merubah nasibnya agar tidak di pandang rendah orang lain. Tak terasa dia ketiduran.
Ibunya pun melihat Mahendra dan tak tega membangunkannya karena sebentar lagi jam stengah 3 jadwal Mahendra kerja hari Ini. lebih baik membiarkan Mahendra beristirahat dulu.
Ibunya melangkah ke arah dapur, untuk menyiapkan makan siang mereka nanti. Jadi pada saat Pak Tohar datang maka makanan sudah tersaji.
15 menit kemudian Pak Tohar datang.
"Assalamu'alaikum "
"Waalaikum salam "
"Hari ini bapak hanya dapat uang 50rb" ucap Pak Tohar sambil menyerahkan uang 50rb kepada Ibu Nanda.
"Alhamdulillah yah, yang penting ada saja. Tidak masalah mau sedikit atau banyak tetap kita harus bersyukur. Semoga Allah menambahkan rezeki kita, kalau kita sering banyak bersyukur "
"Iya, bu. Mahendra udah pulang?" tanya Pak Tohar.
"Iya, dia lagi istrahat. Ibu biarkan saja karena sebentar lagi dia akan kerja di toko lagi "
"Iya, Bu. Bener kasian, dia harus kuliah sambil kerja hanya untuk mewujudkan impiannya"
"Bener Yah, Ibu kasian melihat Mahendra"
"Dia perjaka tangguh Bu, do'a orang tua pasti membuatnya bisa sukses"
"Aamiin, ayo Yah. Kita makan siang dulu, sekaligus saya bangunkan Mahendra dulu"
"Ayah mau bebersih dulu, bangunkan saja Mahendra"
Ibu Mahendra menuju kamar Mahendra,membangunkannya dan mengajaknya makan siang.
Tak lama Mahendra dan ibunya datang sedangkan Pak Tohar sudah duduk di meja makan. Akhirnya mereka makan siang bersama dan lanjut sholat dzuhur. Setelah itu Pak Tohar dan Mahendra pamit ke Ibu Nanda untuk bekerja.
Kebahagiaan terpancar dari raut wajah Ibu Nanda melihat anak dan suaminya berjalan bersama untuk mencari nafkah.
***
Jangan lupa komentar, kritik, saran, like, vote dan beri hadiah ya... salam sayang dari author recehan๐๐๐*