
POV Kakek Joni.
Aku seorang pengusaha yang terkenal di berbagai daerah, sahamku ada di mana-mana. Umurku sekarang 76 tahun.
Semenjak bertemu dengan Mahendra aku bersyukur seolah-olah mempunyai keluarga lagi.
Anak-anakku telah lama meninggal dunia, aku hanya mempunyai satu orang adik, dulu adikku terpisah selama 5 tahun denganku.
Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan Mahendra, mulai aku di tolongnya hingga aku di berikan ginjal.
Sejak saat itu aku telah berjanji akan mengangkat Mahendra menjadi bagian dari keluargaku.
Apalagi setelah dia menikah dan mengajak kedua orang tuanya tinggal di mansionku, sejak itu aku sangat berterima kasih.
Di saat usia tuaku, aku di kelilingi oleh orang-orang yang baik.
Saat aku menggendong anak pertama Mahendra, terbesit pikiranku untuk mendidiknya menjadi pebisnis yang hebat.
Aku bertekad menjadikannya sebagai penerusku. Aku melihat sosok Aarash sangat aktif di bandingkan dengan kedua adiknya.
"Mahendra, aku ingin Aarash sejak dini sudah belajar bisnis" ucapku dengan lantang.
Aku melihat Mahendra cukup kaget dengan keinginannku.
"Tapi kek, aku ingin anakku tumbuh seperti anak lainnya" ujar Mahendra keberatan dengan permintaanku.
"Tapi Kakek melihat anakmu nampak beda dari anak-anak yang lain, ketika kakek membicarakan soal bisnis terlihat mata elangnya sangat bersemangat" lanjutku.
"Kek, Aarash masih 6 bulan, masih belum paham apa itu soal bisnis." protes Mahendra.
"Pokoknya itu keputusanku, Aarash akan selalu ada di dekatku" celaku atas protesnya Mahendra.
"Baiklah kek" ujar Mahendra mengalah.
Sejak saat itu, aku terus memantau Aarash.
Sebenarnya sosok Aariz juga pantas, tapi kulihat Aariz cukup pendiam dan tak aktif seperti Aarash.
Aariz lebih dekat dengan Adikku Rangga.
Aku hanya ingin antara mereka menjadi seseorang yang pantas membesarkan nama perusahaanku lagi.
Sebenarnya aku ingin Mahendra yang memegang perusahaanku.
Tapi mungkin dirinya tak enak hati dengan keberadaan adikku satu-satunya. Untuk itu Mahendra menyerahkan sepenuhnya kepada adikku.
Aku tak keberatan, tapi perusahaan di pegang adikku tetap biasa-biasa saja.Belum ada gebrakan yang membuat semangat.
Aku maklumi karena adikku sudah sakit-sakitan. Belum lagi jika harus berangkat bertemu client harus di wakili asistenku saja.
Aku hanya berharap, anak-anaknya Mahendra menjadi penerusku.
*****
POV. Kakek Rangga.
Aku Rangga, umurku saat ini telah berusia 70 tahun. Di saat seperti ini harusnya aku sudah pensiun menikmati hari tuaku. Tapi karena tak ada yang menggantikan Kakakku terpaksa mau tak mau aku harus berdiri tegak memimpin perusahaan.
Ketika aku menggendong Aariz terbesit rasa ingin mengajarkan sosok Aariz menjadikan pebisnis hebat, tapi aku kaget dengan pernyataan Kakakku menginginkan sosok Aarash menjadi penerusnya.
Mau tak mau aku harus pasrah, walau masih tetap yakin Aariz yang menjadi penerusku.
"Kak, sebaiknya kita ajarin Aarash dan Aariz menjadi pebisnis, siapa yang memang begitu minat, berarti menjadi penerusnya kita berdua" ujarku memberi solusi.
"Tapi Aku yakin sosok Aarash patut menjadi pebisnis hebat" jawabnya Kakakku menyakinkanku.
"Kita lihat saja nanti" ucapku pasrah.
"Kakek Joni dan Kakek Rangga, keinginan kalian memang baik, tapi aku sebagai orang tuanya tak ingin memaksakan kehendak anak-anakku. Aku ingin mereka memilih sendiri apa yang mereka inginkan bukan yang kita inginkan" timpal Mahendra dan aku pun memyetujuinya.
"Tapi aku akan mengajari mereka berdua dari usia dini, 6 bulan lagi tepat mereka setahun mereka harus sudah mengenal apa itu bisnis" ujar Kakakku lantang.
Jika sudah begini tak ada yang berani memberi solusi atau melarang keinginan kakakku.
Aku hanya bisa terdiam, tapi ya memang harus menyetujui perkataan Kakakku.
****
POV Atika.
Sejujurnya aku ingin ketiga anakku menjadi manusia normal seperti orang-orang, tanpa ada beban menjadi seorang pebisnis.
Apapun keputusan anak-anakku, aku sebagai orang tuanya hanya bisa memberi dukungan.
Beruntung anakku yang perempuan tak mereka bicarakan. Aku ingin anakku menjadi dokter saja, agar bisa merawat kami semua yang sudah tua.
Tapi apapun cita-cita mereka, aku sebagai orang tuanya akan terus mendukung keinginan mereka.
Mau Aarash pebisnis atau Aariz bagiku asal halal tak masalah.
*****
POV. Mahendra.
Aku bingung dengan keinginan kedua kakekku. masih bayi saja mereka sudah punya cita-cita untuk kedua anakku yang laki-laki.
Aku sebagai ayahnya hanya ingin anakku mendapat pendidikan yang layak dan berguna untuk negara yang terlebih menjadi anak yang soleh.
Apalagi mendengar dari Kakek Joni, jika umur 1 tahun sudah di berikan mandat untuk belajar bisnis, aku sangat keberatan.
Aku takut nantinya pertumbuhan mereka menjadi dewasa sebelum waktunya.
Belajar bisnis bukanlah hal yang mudah, aku saja yang sudah dewasa memikirkan soal bisnis sangatlah menguras tenaga dan pikiran.
Aku berharap ketiga anakku siap dengan keputusan kedua kakek buyutnya nanti.
"Kakek, aku ke kamarku dulu. Kasihan anakku pasti capek dengan acara mereka barusan"
"Iya nak, pergilah istirahat"
Aku pun mengajak istriku ke dalam kamar membawa buah hatiku.
"Nak, kami pulang dulu" ucap mertuaku.
"Papah dan mamah tidak nginap di sini dulu" imbuh istriku.
"Papah sama mamah besok ada acara di perusahaan, nanti lain kali kami akan nginap di sini" ujar Pak Tri Ayahnya Atika.
"Hati-hati di jalan ya Papah, Mamah" ucap istriku sambil cipika-cipiki.
"Iya Nak, Cucu-cucu Omah, kami pulang dulu ya" ucap Ibu Tantri sambil mencium ke tiga buah hatiku.
"Iya omah, omah hati-hati ya" ucap istriku menirukan suara anak kecil.
Kami semua pun tertawa.
Kedua mertuaku pamit kepada semuanya. kebetulan mereka di sopiri mang ujang jadi mereka tidak memintaku mengantarkan mereka.
Setelah mereka pergi, aku dan istriku langsung menuju ke kamar kamar.
Kakek Rangga dan Kakek Joni masih duduk di ruang keluarga sedangkan kedua orang tuaku sudah masuk kamar mereka.
Setelah sampai di kamar, aku membaringkan kedua anakku dan istriku sedang menggantikan baju Arsyla.
"Ummy, bagaimana tanggapan ummy tentang keinginan Kakek Joni dan Kakek Rangga?" tanyaku penasaran dengan keinginan istriku.
"Aby, serahkan semuanya kepada Allah, jika Allah sudah berkehendak, mau mereka menjadi pebisnis atau tidak. Kita sebagai kedua orang tua mereka harus tetap menanamkan pendidikan agama kedapa ketiganya agar tak salah jalan" ucap istriku menenangkanku.
"Benar Ummy, trima kasih sudah mengingatkanku tentang pendidikan agama buat anak kita"
Aku pun memeluk istriku dari belakang, sambil memperhatikan istriku menggantikan baju ketiga anakku. Setelah itu aku labuhkan ciuman di leher jenjang istriku. Maklum istriku jika sudah di dalam kamar tak menggunakan hijab.
"Aby, geli ah"
"Tapi khan suka"
"Ih, di depan anak-anak tak baik Aby"
"Iya-iya maaf, jadi kalau anak-anak sudah tidur boleh ya"
Kulihat istriku hanya tersipu malu. Aku pun langsung memperhatikan ketiga buah hatiku yang lucu dan menggemaskan.
Aku berdo'a semoga kedepannya kehidupan kami selalu berjalan sesuai dengan ridho Allah.
TBC....