
Shubuh menjelang, Mahendra seperti biasa sedang mencuci pakaian di sumur umum.setelah selesai di bilas dia pun menjemur pakaian mereka di samping rumah.
Ibunya sudah selesai memasak sarapan dan mengajak suami dan anaknya sarapan pagi.
"Ayah, sarapan pagi sudah matang.Ayo!! kita sarapan dulu," Ibu Nanda menyuruh suaminya sarapan.
"Apa Mahen sudah selesai mencuci pakaian?," tanya Pak Tohar.
"Belum, Ayah kalo buru - buru mending sarapan terlebih dahulu dan biar Mahendra sama Ibu sarapan saja," lanjut Bu Nandam
"Baiklah." sambil duduk di kursi makan Pak Tohar mengambil piring dibantu istrinya.
"biar Ibu yang ambilkan lauk dan nasinya." tawar Ibu Nanda sambil mengambil piring, nasi dan lauknya untuk di berikan pada suaminya.
Hanya ada oseng tempe dan sayur tumis terong. Menu sederhana tapi yah mau bagaimana lagi. Setiap hari bapaknya Mahendra hanya bisa mendapat uang 30rb sampai dengan 40rb.
"Trima kasih, Bu" kata ayah setelah meletakkan piring di depannya.
Setelah berdo'a Pak Tohar segera sarapan karena jika kesiangan malah biasanya akan sepi. Tak ada orang yang menyuruh mengangkat barang dagangannya karena sudah di dahului orang lain.
Selesai sarapan Pak Tohar bergegas ke pasar dan pamit kepada istrinya.
Setelah selesai menjemur pakaian, Mahendra segera mandi dan berpakaian seragam sekolah dan diapun menuju ke ruang makan.
"Bu, apa Ayah sudah berangkat?," tanya Mahendra.
"Sudah nak, barusan," jawab Ibu Nanda
"Semoga rezeki bapak lancar ya, bu," lanjut Mahendra.
"Aamiin" Ibu dan Mahendra mereka berdua serempak mengamini.
"Apa kamu masih harus singgah di warung Ibu Romlah lagi, nak?" tanya Ibu Nanda.
"Iya Bu_ kemarin masih tersisa 5 buah. Mau lanjut jualan. Eh, taunya sudah harus masuk ke kelas." Mahendra mengingat kemarin.
"Yang penting jualannya lancar, nak,"
"Iya, bu,"
"Apa murid - murid yang lain tidak ada yang mengejekmu, nak?," tanya Bu Nanda.
"Walau di ejek aku tak akan malu bu, dan nggak akan membalasnya. Mahen tau mereka tidak pernah merasakan kehidupan Mahendra makanya_ mereka hanya bisa mengejek dan menghina aku,bu," Sambung Mahendra.
"Coba mereka pernah merasakan kehidupan Sulit dan Susah, pasti mereka tau menghargai kehidupan orang lain." lanjut Mahendra.
"Iya, nak. bersyukurlah setidaknya kamu masih bisa bersekolah," Ibu Nanda menjawab dengan sedih.
"Iya, Bu."
Setelah selesai sarapan Mahendra segera pamit ke warung Ibu Romlah lanjut ke sekolah yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumah.
Sampai di sekolah ternyata Mahendra berpapasan dengan Atika dan entah mengapa Mahendra merasa ada yang berbeda.
Atika tidak menegurnya bahkan hanya jalan melewati Mahendra tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut Atika. Mahendra melihat ada perbedaan tatapan Atika saat ini.
Mahendra pun membiarkannya karena itu adalah permintaannya sendiri dan untuk kebaikan mereka berdua.
"woy.!! pagi - pagi kok melamun, kesambet hantu wanita baru kamu tau rasa," ujar Tejo mengagetkan Mahendra.
"Apaan sih Tejo, mengagetkan saja,"
"Lagian masih pagi ngapain ngelamun, bukannya semangat malah seperti orang baru kedatangan tamu bulanan. whuahaha...haha.." Tejo tertawa dengan sikap Mahendra yang menurutnya berbeda hari ini.
"Siapa yang melamun, Aku hanya capek jalan dari rumah ke sekolah saja,"
"Bukannya sudah 3 tahun, kok baru sekarang bisa bilang capek?," bantah Tejo
"atau baru aja sadar ya??" lanjut Tejo lagi.
"Ah, kamu ini ada ada aja," ucap Mahen.
"Ada apanya Mahen.. nnnn," ledek Tejo
"Apa, Sayangku " ucap Mahendra sambil tertawa. whuahaha.. haha.. haha...
"Ih_ jijik ah_"
"Whuaha.. hahaha.. haha😂" akhirnya mereka berdua tertawa lepas.
"Tejo, Ayo!! kita ke kelas," ajak Mahendra.
"yok!!,"
"Untung PR kita sudah kita selesaikan semalam kawan," ujar Tejo dengan Sumringah.
"Bener, ada gunanya juga kita belajar bersama." balas Mahendra
Teng.. teng.. teng.
Terdengar bunyi bel tanda jam pelajaran pertama berakhir. Ibu Sari pun mengakhiri pelajarannya.
"Baiklah anak - anak kita akhiri dulu pelajaran kita hari ini, jangan lupa PR Bab 5 sebagai penutup pertemuan pelajaran kita hari ini,sampai berjumpa besok lagi, Assalamu'laikum," ucap Bu Sari mengakhiri pelajaran.
" Waalaikum salam." ucap anak - anak serempak.
Seperti biasa siswa - siswa keluar kelas untuk ke kantin tapi tidak dengan Tejo dan Mahendra mereka hanya berdiri depan kelas untuk menjajakan roti seperti biasa
"Tejo, kenapa kami tidak ke kantin?," tanya Mahendra.
"Biasa, aku dibatasi uang jajannya buat nabung nanti, kan aku mau kuliah kedokteran,"
"Kamu mau lanjut kuliah kedokteran Juga?" tanya Mahendra lagi.
"Iya masih rencana sih, tadi mulai sekarang aku harus berhemat." jawab Tejo
Mahendra hanya ber-oh saja mengerti dengan keadaan Tejo. Tejo juga bukan orang kaya banget tapi berkecukupan ayahnya hanya seorang ASN dan Ibunya hanya Ibu rumah tangga saja jadi wajar jika harus berhemat.
"Mahen, Ibu mau roti 1," pinta ibunya.
"Kak Mahen, beri saya roti 2," ucap adik kelasnya.
"Mahen roti 3," ucap siswa lain.
"kak mau roti 1," pinta siswa lain juga.
"Mahen beri saya Roti 2." ucap siswa lagi.
Siswa - siswa membeli jualannya Mahendra,ada anak Kelas 10 dan ada Juga Anak kelas 11 bahkan siswa kelas 12...
Ada yang berbeda hari ini, Aditya tidak dattang mengolok-ngolok Mahendra. Mereka ke kantin hanya melewati Tejo dan Mahendra.
Tapi Mahendra merasa ada yang kurang.
"Apa aku terlalu nyaman di ejek - ejek ya," batin Mahendra dalam hati.
"Aku heran satu cecunguk itu, tumben tidak datang mengejekmu," kata Tejo sambil keheranan melihat tingkah Aditya.
"Mungkin udah tobat, entalah aku nggak peduli. Buang - buang energi aja, meladeni kelakuan Aditya,"
"Benar, banget apa kata kamu." Tejo pun mengangguk tanda setuju.
"Beli Roti 1, Mahan," ucap Sindi teman sekelasku.
"Roti 2, Mahen" ucap temannya Sindi.
Siswa - siswa datang membeli roti isi coklat dagangannya.
Akhirnya hari ini jualan Mahendra habis tak tersisa.
"Alhamdulillah." Gumam Mahendra.
Tak lama Aditya dan Atika hanya berlalu saja setelah dari kantin tanpa melihat atau mengejek Mahendra jualan.
Mahendra hanya berdo'a semoga ke depannya begini terus tanpa ada gangguan dari Aditya, apalagi sebentar lagi ujian Nasional.
"Jualan hari ini laris manis. Apa mungkin karena ada kamu Tejo. Keberuntunganku datang" canda Mahendra.
"Yah, benar. Aku sudah jampi - jampi supaya pelanggan datang membeli rotimu," canda balik Tejo.
"Dasar sahabat tak berakhlak." ujar Mahendra sambil menimpuk kepala Tejo dengan kantong plastik bekas tempat roti.
Tejo pun menghindar dan berlari dari amukan Mahendra.
"Eh, nggak kena.. nggak Kena," ucap Tejo sambil menjulurkan lidahnya dan masuk ke dalam kelas.
Mahendra pun mengejarnya, begitulah persahatan antara Tejo dan Mahendra.
Teng.. teng... teng..
Bunyi bel terdengar nyaring pertanda jam pelajaran selanjutnya akan di mulai. Hari ini kelas Mahendra akan belajar pelajaran kimia.
Semua siswa sudah memasuki kelas menunggu guru datang. Tak lama Pak Weli guru kimia masuk ke dalam kelas.
Para siswa pun belajar dengan hikmat karena sebentar lagi ujian nasional akan berlangsung.
Semua siswa menginginkan kelulusan dengan hasil yang maksimal. Begitu pun untuk Tejo dan Mahendra mereka berkeinginan mendapat hasil yang baik. Sikap tanggung jawab itu mereka tanamkan dari dalam diri mereka agar hasilnya cukup memuaskan.
TBC....
**** Jangan lupa komentar, saran, kritik, like,vote, beri hadiah ya readers jika kalian suka.
maaf ceritaku tak mengadung ++ ya..