
Malam ini Mahendra bersiap-siap untuk datang ke rumah Atika sesuai dengan janjinya kepada Atika.
Sebelum pergi ke rumah Atika, Mahendra singgah di toko bunga. Dia membeli bunga lily putih kesukaannya Atika.
Tampak ada seseorang mengawasi Mahendra dari jauh. dan sedang melaporkan apa yang sedang di buatnya.
Setelah membeli bunga kesukaan Atika. Mahendra segara menuju ke rumahnya Atika.
Ting tong...
Atika yang sudah tahu Mahendra akan datang, membukakan pintu untuk Mahendra.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam, masuk Mahen"
"Ini untukmu"
"Wah, trima kasih ya, masuk dan duduk dulu ya. Aku akan membuatkan kopi susu yang spesial untukmu"
"Iya, trima kasih juga ya"
Atika berjalan ke arah dapur dan membuatkan kopi susu kesukaan Mahendra.
Tak lama dia membawakan cemilan dan kopi susu ke arah Mahendra.
"Maaf, hanya ini saja" ucap Atika sambil menaruh kopi susu dan cemilan di hadapan Mahendra.
"Air putih pun tak masalah, aku tak ingin merepotkanmu"
"Nggak kok, hanya ini tuh, tidak merepotkan"
"Bagaimana persiapan wisudamu"
"Kebayanya sudah 80% saja, kalau kamu bagaimana?"
"Aku masih ada jas yang biasa ku pakai, aku tak ingin membeli yang baru"
"Kalau aku sudah di pesan ibuku, jadi mau tak mau harus di pakai"
"Orang tuamu hanya ingin yang terbaik saja"
"Iya benar"
Dari kejauhan ada seseorang yang melaporkan. keberadaan Mahendra dan Atika.
****
Sementara di LA.
"Bos, sepertinya hubungan mereka semakin dekat lagi"
"Baiklah, terus awasi saja"
Aditya memutuskan sambungan handponenya dan dia berencana harus membicarakan dengan orang tuanya.
"Ayah, Ibu, kita harus ke Indonesia"
"Ada apa Nak?"
"Atika sudah mau wisuda, sebaiknya kita harus membicarakan pernikahanku dengannya"
"Tapi Nak, bagaimana dengan Sonia istrimu"
"Dia tak akan mengetahui perihal pernikahanku dengan Atika"
"Lebih baik, kau lepaskan Atika Nak. Sonia sebentar lagi akan melahirkan. Apa kau tak sayang dengan anak dan istrimu?"
"Pokoknya aku tak mau tau, aku ingin menikahi Atika"
"Besok kita akan berangkat ke Indonesia" lanjut Aditya.
"Ayah tidak setuju dengan niatmu, lebih baik disini, apalagi kamu sudah ada istrimu di sini. Perusahaanmu sudah selamat dan kau sebentar lagi akan menjadi seorang ayah"
"Ayah, aku tetap ingin menikahi Atika. Aku tidak perduli Sonia mau mengijinkan atau tidak, harus! aku akan menikahi Atika"
"Terserah padamu, ayah juga tetap dengan keputusan ayah. Kamu akan kehilangan semuanya jika ketahuan Nak. Pikirkan itu!" ucap pak Saputra mengingatkan Aditya.
"Ibu harus ikut denganku, jika tidak, aku akan meninggalkan ini semua dan kita hancur sekalian"
"Baiklah, ibu akan ikut denganmu"
Ibu Sofia tak ingin anaknya pergi darinya, untuk itu dia akan menuruti keinginan Aditya walau itu salah.
"Besok kita akan berangkat, Bu"
"Iya, nanti ibu akan bersiap-siap"
Aditya pun meninggalkan mereka berdua dan Ayahnya Aditya nampak marah kepada Ibunya. Ibunya selalu memanjakannya sampai sekarang sehingga Aditya menjadi pribadi yang mau semaunya sendiri.
"Bu, Ibu tidak kasihan dengan Sonia. Sebentar lagi kita akan punya cucu pertama"
"Iya tidak masalah poligami, asal Sonia mengizinkan Aditya untuk menikah lagi"
"Cobalah bapak bicara dengan Sonia, dia pasti tidak akan keberatan"
"Bu, Ibu ini seorang wanita. Apa ibu rela jika harus di madu?!"
"Ibu tidak ingin kehilangan Aditya, Yah. Apalagi kita sudah bersahabat lama dengan orang tua Atika. Apa jadinya jika kita tak jadi meminang anaknya"
"Itu sangat mudah, kita tinggal katakan jika Aditya sudah menikah dan karena perusahaan kita yang hampir bangkrut sehingga kita meminta pertolongan pada keluaga Sonia"
"Dan nanti Pak Tri akan heran, mengapa tak meminta bantuan pada mereka. Ayah akan menjawab apa"
"Ayah akan menjawab apa adanya dan yang sebenar-benarnya. Kita tak punya waktu untuk ke Indonesia dan hanya keluarga Sonia satu-satunya yang bisa menolong perusahaan kita"
"Aku mohon Yah, turuti kemauan Aditya"
"Ayah tetap tak setuju, terserah Ibu mau ke Indonesia silahkan. Ayah tak akan ikut"
Ibu Sofia terdiam dan menunduk. Ini memang keputusan yang sulit. Satu sisi dia tak ingin Aditya pergi, satu sisi dia pun sangat tak suka akan poligami.
Pasti orang tua Atika tak ingin anaknya di madu, tapi Aditya begitu keras kepala dan tak ingin kehilangan Atika.
Ibu Sofia juga tak ingin Atika yang baik akan di poligami. Tapi dia harus menuruti keinginan Aditya.
Ibu Sofia juga sangat menyayangkan jika Aditya menduakan Sonia yang sedang mengandung 9 bulan. Artinya sebentar lagi Aditya akan menjadi Ayah.
Ibu Sofia harus membujuk Aditya lagi, itu jalan satu-satunya. lebih baik memilih Sonia yang jelas-jelas sudah mengandung anaknya dari pada hanya memilih Atika yang merupakan obsesinya selama ini. Atika dan Sonia pasti hanya akan menderita.
Ibu Sofia beranjak ke dalam kamar Aditya, kebetulan Sonia lagi menginap di rumahnya orang tuanya. Dan Aditya tak ingin ke rumahnya orang tua Sonia.
Tok... tok.. tok...
"Ada apa bu" ucap Aditya setelah pintu kamarnya di buka lebar.
"Apa Ibu boleh masuk?"
"Boleh, Bu. Masuklah"
"Apa persiapan kelahiran anakmu sudah di siapkan?"
"Sudah semuanya"
"Nak, apa kamu masih ingin menikahi Atika?"
"Ibu, mengapa mengatakan seperti itu, keputusanku sudah bulat. Aku tak ingin siapapun memiliki Atika"
"Nak, pikirkan istrimu. Pasti dia tak akan rela di poligami"
"Jika ketauan pasti dia keberatan, Atika akan tetap tinggal di Indonesia. Dan Sonia tetap di sini, apa ibu keberatan pergi denganku besok?!"
"Bukan begitu Nak, istrimu sebentar lagi akan melahirkan"
"Sonia sementara tinggal di rumah orang tuanya, jadi tak masalah jika aku akan ke Indonesia"
"Bagaimana jika semua akan ketahuan Nak, resikonya lebih besar lagi"
"Bu! aku sudah katakan, keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap menikahi Atika"
"Tapi Nak... "
"Ibu akan ikut denganku atau tidak, jika tidak? aku akan berangkat dan tak akan kembali lagi"
Ibu Sofia terdiam dan tampak air matanya sudah mengenangi di pelupuk matanya. Berat rasanya tidak mendengarkan kata anaknya.
"Masih ada yang mau Ibu bicarakan?"
Ibunya hanya menggeleng dan meninggalkan Aditya. Aditya begitu keras kepala tak mau mendengarkan nasihat orang tuanya.
Ibu Sofia hanya bisa pasrah akan keputusan anaknya. Dia pun kembali ke kamarnya dan hanya bisa menuruti kata-kata anaknya. Dia mempersiapkan pakaian yang akan di bawanya besok.
Pak Saputra hanya melirik Ibu Sofia dengan ekor mata. Pak Saputra berfikir bagaimana caranya bisa menggagalkan rencana Aditya. Itu yang harus di lakukannya.
****
Mahendra nampak sedang berdiri di samping motornya. Dia pamit ingin pulang ke rumahnya, cukuplah sejam bercerita dan bertamu di rumahnya Atika.
"Aku pamit dulu ya, salam sama kedua orang tuamu"
"Iya, nanti aku akan sampaikan, hati-hati di jalan. Bye-bye"
"Bye-bye. Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"
Mahendra melajukan motornya membelah jalanan. Hatinya sangat senang, malam bisa bertemu dengan Atika dan kedua orang tuanya Atika.
Apalagi respon kedua orangtua Atika yang menerimanya dengan hangat. Langkah ke depannya hanya mengumpulkan pundi-pundi rupiah agar bisa meminang Atika.
TBC...