Love

Love
- Melahirkan



Dua bulan kemudian ...


Setelah mengejan beberapa kali, dengan keringat membanjiri seluruh tubuhnya, Meera berhasil melahirkan secara normal untuk kedua kalinya dalam hidupnya.


Meera bahagia, proses melahirkan kali ini ditemani oleh suaminya. Menggenggam tangannya erat dan kuat. Yang kini tengah meringis perih di sepanjang kedua lengannya. Lihat saja, lengan kekar itu kini dipenuhi dengan cakaran dan gigitan Meera di sana.


Lucas bahkan menangis tadi, kala melihat Meera mengejan, menahan sakit tiada henti. Dengan rasa takut yang menyelimuti dada, khawatir sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada istrinya.


Bahkan tadi, saking begitu cemasnya, Lucas meminta Meera untuk menyerah dengan kelahiran normal yang dipilihnya.


" Kita oprasi saja, Sayang ! Hmm ? " Ucap Lucas begitu putus asa akan kekhawatirannya. Sembari mengelus lembut rambut istrinya.


Sudah beberapa jam istrinya melalui rasa sakit ini. Dan Lucas menyaksikannya sedari awal tadi. Lucas menyatukan dahi mereka, merangkum kedua pipi istrinya dengan kedua tangannya, mendekatkan wajah mereka.


Menatapnya dengan begitu dalam dan lekat penuh dengan kasih sayang dan dorongan semangat. Sesekali mengecup wajah istrinya sembarang, yang saat itu dipenuhi dengan peluh keringat yang bercucuran. Meera terengah menahan sakit dan lelah bersamaan.


" Ehhhh !! " Jerit Meera saat itu.


Mengatupkan giginya. Memejamkan kedua matanya. Mengeluarkan tenaga sebesar-besarnya. Meremas dan mencakar lengan Lucas yang digenggam erat olehnya. Mendorong bayi itu untuk keluar dari rahimnya dengan segera, dalam satu hembusan nafas yang dia kerahkan sekuat tenaga.


" Aaarrrrgggghhhh !!! "


Jerit Meera saat itu, dengan berurai air mata. Bersamaan dengan kepala bayi yang perlahan keluar dengan cairan bening dari dalam rahimnya. Berangsur dengan tubuh sang bayi dari badan hingga kaki yang masih begitu lentur saat itu dan keluar dengan begitu lancar dan cukup licin dari organ pribadinya.


Tentu saja, semua itu dengan bantuan dan tarikan dari tangan sang dokter yang bergerak siaga, kala melihat kepala bayi itu perlahan keluar karena terdorong oleh dorongan perut Meera, yang mengejan sekuat tenaga.


Lucas menatap takjub semua itu, air matanya luruh seketika. Dia tidak bisa membayangkan rasa sakit yang tengah dirasakan istrinya saat ini. Apalagi setelah seorang bayi utuh dan cukup besar telah dikeluarkan dari tubuh istrinya.


Takjub, dengan keajaiban yang diberikan Tuhan di hadapannya kini. Ini pengalaman pertama dan baru dalam hidupnya, melihat perjuangan seorang ibu melahirkan seorang bayi.


Pantas saja surga ada di telapak kaki ibu, karena perjuangan seorang ibu memang begitu besar untuk melahirkan anaknya ke dunia ini. Jasanya begitu besar dan tak bisa tergantikan oleh apapun.


Rasa sakit yang seperti meremukkan tulang. Rasa sakit yang berkali lipat dari rasa sakit yang biasa dirasakan. Bahkan konon, jika diibaratkan, rasa sakit itu hingga dua puluh kali lipat dan begitu sulit untuk diungkapkan.


Namun, yang membuat takjub adalah, rasa yang terasa begitu dahsyat itu, samasekali tak membuat para wanita untuk kapok dan tidak ingin memiliki anak lagi. Rasa bahagia kala melihat bayi yang telah dilahirkannya itu, memupus dan meredam seketika segala rasa sakit yang dia rasa tadi. Hingga perempuan manapun tak pernah kapok untuk membuatnya lagi dan lagi.


Rasa bahagia, sedih, terharu, takjub, bercampur menjadi satu. Dengan refleks dan gerakan cepat, Lucas melayangkan bertubi ciuman dan kecupan di kening istrinya. Begitu lama dan hangat, bersamaan dengan air mata yang luruh mengalir membasahi wajah sang istri.


Oaaa ... Oaaa ... Oaaa ...


Suara tangisan bayi, memenuhi ruangan yang terasa tegang sedari tadi, berubah hangat seketika dengan seulas senyuman kebahagian yang tersungging di bibir orang-orang yang ada di sana.


" Terimakasih ... terimakasih ...Sayang ... !! "


Ucap Lucas saat itu. Mendekap istrinya dengan begitu erat, dalam hati dia berjanji untuk slalu mencintai Meera, istrinya yang telah menyempurnakan hidupnya, dengan menghadirkan seorang anak diantara mereka.


" Bayinya laki-laki ! " Salah seorang perawat memberitahukan hal itu. Lucas yang mendengarnya tersenyum bahagia, begitu pun Meera.


" Sehat dan sempurna ! " Lanjutnya lagi setelah memeriksa fisiknya.


Sebelumnya, mereka memang sering melakukan USG, pemeriksaan rutin tiap bulan. Walau dokter sudah berkali-kali memberi informasi itu, tetap saja rasa takjub dan bahagia dengan kehadiran bayi laki-laki diantara mereka begitu terlihat nyata, seakan itu adalah sebuah kejutan besar yang tidak diketahui hasilnya sedari awal.


" Terimakasih ! " Ucap Lucas sekali lagi pada Meera istrinya. Menatap Meera dalam dan lekat.


" Kita harus membuatnya lagi, aku ingin banyak anak diantara kita. " Bisik Lucas saat itu, sembari tersenyum menggoda.


" Ish !! " Sebuah cubitan Meera layangkan pada perut suaminya.


" Luka jahitan ini bahkan belum kering, keterlaluan sekali. " Jawab Meera sembari mencebik sebal, namun akhirnya tertawa.


Meera tahu Lucas tengah menggodanya. Masalah keinginan untuk memiliki banyak anak, mereka memang sudah membicarakan sebelumnya. Dan Meera tidak keberatan untuk itu, selama dia mampu, apapun akan dia lakukan demi membahagiakan suaminya itu.


Perawat lalu meletakkan bayi itu di dada Meera yang kini tengah terbuka.


" Biarkan dia mencari sumber makanannya sendiri. " Intruksi perawat itu.


Prosedur ini Meera sudah mengetahuinya, pengalaman saat melahirkan Nara dulu.


" Kau yakin ? Bukankah dia masih terlalu kecil. " Lucas merasa khawatir dan cemas saat itu.


" Insting bayi begitu kuat. Ini sangat bagus untuk merangsang kecerdasan otaknya. " Kali ini dr. Amanda yang menjelaskan.


" Tenanglah ! Dulu Nara juga seperti ini. " Meera mencoba menenangkan Lucas yang terlihat paranoid saat itu.


Dan untuk kedua kalinya, Lucas dibuat takjub kala melihat sang bayi dengan begitu mudah menemukan sumber makanannya itu lalu menyesapnya dengan cukup kencang, sepertinya dia sudah cukup lapar saat itu. Maklumlah, bayi laki-laki.


" Apa yang kau lihat ? " Tanya Meera saat itu yang melihat Lucas tengah menatap intens bayi mereka yang tengah menyusu pada dirinya.


" Lihatlah ! " Bisik Lucas.


" Baru saja lahir, dia sudah langsung menguasainya. " Lanjutnya, membuat Meera kaget dan tertawa mendengarnya.


" Kau ?!! " Meera melihat ke sekitar khawatir ada yang mendengarnya terutama mamanya, malu !!


" Kau harus memastikan agar aku bisa tetap menikmatinya, Sayang ! " Bisik Lucas lagi menggoda. Lagi-lagi sebuah cubitan Meera layangkan pada perut suaminya yang mesum itu.




" Beristirahatlah ! " Ucap dr. Amanda pada putrinya. Sembari mengelus dan mengecup kening putrinya itu.


" Berbahagialah sayang, putramu tampan sekali. " dr. Amanda melanjutkan ceritanya.


" Suamimu bahkan tidak berhenti memuji ketampanannya, katanya bayi itu sangat mirip dengannya. " Kali ini dr. Amanda terkekeh setengah tertawa mendengarnya. Menertawakan tingkah konyol menantunya tadi saat pertama kali melihat jelas wajah putranya.


" Benarkah ? " Meera pun ikut terkekeh saat itu. Ikut terhanyut dengan cerita lucu dari sang mama.


" Dia tertawa dan menangis bersamaan. Luar biasa bukan ? " Haru dr. Amanda. Melihat sikap Lucas tadi, dia semakin yakin, lelaki itu benar-benar mencintai dan menyayangi putrinya.


" Jagalah dia. Dia benar-benar mencintaimu. " Nasihat sang mama, mengejutkan Meera saat itu.




🍬 Bersambung ... 🍬