
.Momy Evelyn hanya menatap sendu kalau waktu itu dia tidak memaki sang menantu melalui telepon, juga dengan kasar nya dia merampas bayinya, semuanya tidak akan seperti ini. Wanita paruh baya itu merasa bersalah kepada kedua putranya dan cucu-cucunya yang sangat menyayangi ibunya.
Sementara itu kyeowook Cartwright memikirkan bagaimana cara membalas atas keterpurukan keluarga Nya dan mendapatkan kekayaan dari mantan besannya. Dia sudah mendapatkan kabar tentang Rodrigo Cartwright yang di rumah sakit pemerintah dan terjerat kasus hukum perjudian dan di tagih hutang judi oleh bandar judi. Lelaki tua itu bertambah membara dengan dendamnya. Dia tidak sadar diri, bahwasannya dialah yang menciptakan mala petaka itu sendiri. Tingkah anak-anaknya yang dimanjakannya hanya dengan uang tanpa pertanggungjawaban diri. Dia sendiri lah yang menghancurkannya dan orang-orang sekitarnya. Dia tidak ingat penyebab kematian putrinya Amalia Cartwright dia menyalahkan menantunya dan keluarganya yang tidak mengetahui hal besar yakni kebusukan keluarga besar Cartwright.
Suasana pagi cerah, Ambressio sudah di sibuk kan dengan kegiatan nya menyiapkan peralatan dan perlengkapan bayi dia juga menyiapkan pakaian untuk mereka karena dia berencana untuk menginap di rumah kakak nya. Rencana yang dia lakukan ini untuk kejutan keluarga nya. Cindy hanya duduk diam menatap sang suami hilir mudik menata perlengkapan dan mengeceknya. Dia masih menyusui bayinya secara bergantian. Hatinya bimbang dan gugub takut penolakan terhadap dirinya nanti.
"Kau sudah selesai sweetie?", tanyanya.
"Ehem..", wanita itu hanya berdehem sambil mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju ke mobilnya. Dan tak lama Ambressio mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Tak memakan waktu yang lama mobilnya memasuki kediaman Reynald. Mereka keluar dan berdiri di samping mobil. Ambressio membantu Cindy dan menggendong bayi Ayana sedangkan bayi Revano bersama Cindy. Sammy kebetulan ada di halaman menghampiri dan menyapa.
"Tuan Muda.... Nyonya, selamat datang " , sapanya. Cindy mengangguk menerima sapaannya. Ambressio membalasnya dengan senyum dan tangannya menepuk pelan lengannya Sammy.
"Tolong bantuannya di mobil ada barang bawaan kami", katanya, lelaki itu mengangguk.
Mereka berjalan beriringan menuju ke arah pintu utama rumah. Reynald kebetulan berdiri di balkon kamar melihat mereka langsung melesat keluar dari kamarnya dan berteriak.
"Semuanya cepat keluar Ambressio datang bersama anak-anak!', lelaki itu setengah berlari menuju pantry dan menyuruh maid menyiapkan hidangan dan minuman serta camilan.
Anaknya Reynald berhamburan keluar dari kamarnya memekik bahagia, "Momy ..."
Momy Evelyn berjalan di belakang Reynald dengan perlahan antara cemas dan malu bertemu keduanya.
Cindy dan kedua gadis cilik itu bergantian berciuman di pipinya karena rindu hampir dua tahun mereka berpisah.
"Miss you.." kata Cindy disela-sela kegiatan mereka yang berpelukan.
"Dia adikmu Revano namanya", cicit nya.
Reynald berdiri dari jauh diantara ketiga wanitanya, yah itu bagi nya di dalam hati. Matanya berkaca-kaca menatap ketiga nya. Dia menatap Ambressio yang berdiri di belakangnya Cindy dan tersenyum, perasaan haru menyelimuti hatinya.
"Terimakasih ", katanya tampa bersuara, hanya mulutnya yang bergerak. Ambressio mengangguk mengerti. Di belakangnya Ambressio Sammy ikut dalam suasana haru juga para maid yang ada di belakangnya Mom Evelyn yang mengetahui Prahara di keluarga Cassiedy mereka menahan air matanya.
"Kami berempat berencana untuk menginap, apakah kami diijinkan untuk menginap?", tanya Ambressio.
"Tentu saja..", jawab Reynald dengan menjaga suara agar terdengar senormalnya, dengan meraup wajahnya dia berpaling ke belakang berbicara dengan maid yang datang dengan membawakan minuman dan makanan ringan.
"Siapkan kamar tamu bawah untuk mereka. " titahnya. Maid bergerak menuju kamar tamu diikuti Sammy membawa tas jinjing dan koper berukuran sedang.
" Masih ada stoler baby-nya yang belum di turunkan, masih di mobil" ujar Sammy sambil memberikan koper dan tas jinjing ke maid.
Lelaki itu berbalik keluar menuju ke mobil.
Kedua baby di dudukkan di stoler baby-nya. Mereka masih berdiri, mom Evelyn mendekati Cindy. " Maafkan aku sayang. Kamu pasti sangat tertekan dan terluka.. maafkan momy", kata wanita paruh baya itu, setelah dia berhadapan dengan Cindy. Cindy memeluk nya dan berbisik", Maafkan Cindy juga. Kami tidak bermaksud..."
"Sudah Sayang. Sudah.. cukup..", wanita itu menciumi pipinya Cindy dengan berderai air matanya.
"Duduklah karena minuman dan makanan ringan sudah di sediakan para maid."
"Bagaimana kalau kita langsung sarapan? Lihatlah Cindy menyusui tadi hanya makan sandwich dan sayuran, kurasa dia perlu asupan makanan karena mereka sudah menguras tadi pagi sehabis mandi." Semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar leluconnya Ambressio. Cindy memukul lengan suaminya malu. "Biarkan maid yang menjaganya terlebih dahulu. Ayo kita sarapan." ajak Reynald. Semua berjalan beriringan menuju ke ruang makan keluarga. Ambressio duduk disebelah kiri Reynald berdampingan dengan Cindy, mom Evelyn disamping kanan Reynald dan di sampingnya mom Evelyn ada Sarah dan Revalia. Mereka mengobrol sambil makan ramai.
"Bagaimana sekolah kalian sayang?", tanya Cindy.
"Semua berjalan Lancar mom. Aku akan bercerita tentang adikku. Teman-teman ku pasti akan iri karena aku memiliki dua adik bayi. ", jawab Sarah bersemangat.
"Kalian dapat memotretnya nanti. Keduanya adikmu tapi sayang jangan berlebihan nanti jika bercerita, takutnya temanmu ada yang tidak suka dan menaruh dendam pada mu. Kalau bisa jangan pernah pamer apapun itu. Itu perbuatan tidak terpuji!", Cindy memberikan pengertian pada keduanya.
"Baiklah momy", jawab keduanya serempak. Ambressio hanya tersenyum, Reynald terdiam sambil menikmati hidangan dan menatap interaksi ketiga nya. Diam-diam Ambressio melihatnya ekspresi wajah sang kakak dia merasa lega karena keputusan ini membuat keluarga menjadi lebih baik.
"Bagaimana tumbuh kembang bayi Ayana dan bayi Revano?", mom Evelyn ikut bergabung dalam obrolan.
" Baik, Mereka sehat Cindy selalu memberikan ASI eksklusif, walau dia keletihan dan sekarang mereka sudah mengenal makanan pendamping lainnya. " Ambressio menjelaskan nya.
"Sudah kewajiban ibu menjaga dan merawat nya." jawab Cindy. Sedetik mereka saling tatap Cindy merasa canggung dia menunduk dan melanjutkan makan.
"Kami berusaha untuk memberikan yang terbaik kak", lanjut Ambressio. Reynald menoleh menatap lekad Ambressio Lalu mengangguk. Selesai acara makan bersama mereka pindah ke ruang keluarga bersama dengan bayi Ayana dan bayi Revano.
"Gendong lah kak Revano sangat mirip dengan mu", bisik Ambressio dan memberikan bayi nya. Reynald menatap bayi gembul itu dan memperhatikan hal-hal yang jelas mirip dengan nya. Dari mata, hidung, wajah dan dia juga sudah membaca hasilnya DNA, yang menjelaskan tentang bayi Revano. Mulutnya berkedut matanya berkaca-kaca menerima sang buah hati yang dirindukan. Diciumnya seluruh tubuh anaknya. "Maafkan Dady." bisiknya lirih.
Cindy memberikan bayi Ayana langsung di pangkuan mom Evelyn, wanita paruh baya itu merasa terharu dan bahagia menatapnya. Bayi Cantiknya versi Ambressio hanya berambut hitam lebat dengan berkulit putih bersih. Cindy berjalan mundur kedua putrinya mendekati adiknya Ayana dan Revano dengan antusias.
"Ayo ke kamar saja kita biarkan mereka bergerak bebas di kasurnya. ", usulan Ambressio di setujui semua. Mereka berjalan beriringan ke kamar yang disiapkan untuk mereka. Reynald meletakkan bayi Revano hati-hati diikuti mom Evelyn yang meletakkan bayi Ayana, keduanya bergulingan sambil tertawa. Sarah memotret dengan phonsel nya Revalia juga tidak mau ketinggalan.
"Pergilah kak, kalian butuh berbicara ", bisik Ambressio, Reynald hanya mengangguk dan keluar dari kamar. Mencari keberadaan Cindy. Ternyata wanita itu duduk di belakang rumah Reynald berdehem sesudah berada di dekat nya Cindy menoleh.
"Maafkan aku. Atas semuanya", kata Reynald menatap wajah Cindy.
"Aku takut akan bertambah dalam menyakiti hati mu jika kita tetap bersama. Aku pengecut meninggalkan mu dalam penderitaan. " lanjutnya. Cindy hanya terdiam mendengar penuturan Reynald.
"Aku melihat tatapan mata mu saat Ambressio kemari ..dulu ... aku cemburu. Dan Ambressio juga memujamu. Kupikir keputusan ini akan membuat mu bahagia."
"Wow... begitu mulia kau bahkan tak menanyakan bagaimana dengan ku? Apa yang kamu pikirkan? Kamu pikir aku senang dapat melayani dua orang suami?", tanyanya berlinang air matanya.
"Aku memang terpesona pada Ambressio, kenapa tak kau pikirkan itu hanyalah pemujaan seorang fans saja? Aku yang di korbankan disini. Semuanya hanya permainannya, apa aku yang merayunya terlebih dahulu? Apakah adikmu sengaja berbuat seperti itu? Aku harus menerima kenyataan Ambressio suamiku, aku pasrah tanpa ingin tahu apakah aku juga mencintainya. Dia berharap agar aku nyaman dan aman, juga bahagia. Dia berusaha keras dan aku amat sangat menghargai. Aku berusaha menahan semuanya demi anak-anak." raungan Cindy kembali mengenang masa lalu mereka bertiga.
"Jika saja tidak ada bayi ini aku akan memilih pergi atau mati saja. Ambressio selalu menahan ku. Sedikit pun dia tidak memberikan celah, selalu bersama, kapan pun atau dimana saja. Aku bisa apa? Aku hanya seorang wanita lemah. Tiada orang tua ataupun keluarga. Jadi seperti ini saja, kita jalani apa adanya. Kuharap kau sudah tidak menaruh curiga atau semacamnya." Cindy masih berusaha menenangkan hatinya dan mengusap air matanya.
"Iya aku mengerti. Aku hanya memiliki Ambressio. Dan sangat menyayangi kalian berdua. Kita jalani saja yang ada. Maafkan atas semua keputusan sepihak dariku. Aku tidak ingin keluarga kita hancur. Terimakasih kau masih bersedia mengakui mereka putrimu. " jawab Reynald dengan menundukkan kepalanya. Tanpa mereka sadari bahwa Ambressio sudah berada di dekatnya mendengar pembicaraan singkat itu. Hanya keheningan diantara mereka. Reynald mengusap wajah kasar, Cindy berusaha menenangkan dirinya. Ambressio berjalan mendekat dan menyapa." Kenapa kalian pada diam? Apakah terjadi sesuatu?".
Cindy hanya menggeleng cepat ia berdiri, " Aku akan melihat anak-anak kurasa sudah waktunya untuk minum susunya". Wanita itu berlari kecil masuk ke dalam.
"Apakah kakak Sudah berbicara dengan nya tentang.." belum selesai dia berkata sudah dipotong. "Itu masa lalu Ambressio. Jangan pernah di ingat lagi demi ketenangan semua." Reynald menepuk pundaknya Ambressio dengan pelan. Ambressio hanya tersenyum.
Kemudian Reynald mengalihkan pembicaraan mereka berdiskusi tentang pekerjaan, mereka berjalan menuju ke ruang kerjanya Reynald .
Dikamar Sarah dan Revalia asyik bermain dengan adiknya mereka bergantian menjahili nya. Sedangkan mom Evelyn hanya duduk diam disisinya, Cindy duduk di sofa menyusui bayi bergantian dengan tersenyum melihat mereka bermain. Hatinya terasa penuh kehangatan dan berharap. "Semoga semuanya berjalan dengan baik dan tidak ada lagi kegelapan di keluarga ini, " batinnya.
Mom Evelyn berpindah duduk di dekatnya Cindy. "Maafkan momy sayang.." bisiknya dengan tertunduk malu.
"Mom. Sudah... semuanya sudah berlalu kita mulai lagi dari awal,mhm?", pinta Cindy dengan meremasnya kedua tangannya mom Evelyn.
Mereka mengobrol tentang masa-masa kehamilan dan setelah nya. Cindy bercerita tentang kerepotan mengurus anak balita, wanita itu berusaha tidak mengingat kejadian pahit yang dirasakan oleh nya. Mom Evelyn juga memberikan dukungan dengan memberikan masukan agar nantinya Cindy dapat menggunakannya untuk mengatasi kelincahan kedua balita itu. Waktu pun berlalu mereka makan siang bersama dan Cindy hanya di kamar karena anak-anak sudah tertidur. Dia memilih bergantian makannya dengan Ambressio. Wanita itu membelai keduanya hingga diapun ikut bergabung di alam mimpinya. Ambressio hanya menggeleng kan kepalanya melihat ketiga nya saat dia masuk dengan membawa baki makanan. Setelah meletakkan nya di atas nakas ia menghampiri dan bergabung di sisinya. Dia angkat tubuh Cindy dan dipeluknya Cindy dari belakang dengan rapat ia menempelkan tubuhnya. Cindy mengerjab menolehkan kepalanya merasakan pergerakan juga ada yang mendesak di pantatnya. "Hubby..." cicit nya.
Ambressio hanya bergelung di ceruk lehernya Cindy dan mengendus aromanya. "Swetie...akh.." hanya ******* seraknya yang terdengar.
"Ini di rumah orang. Bagaimana nantinya jika ada yang masuk.." Cindy berusaha menahan pergerakan tangan suaminya yang semakin liar. Ambressio bangkit dan mengunci pintu dengan berjalan dibuka bajunya dan menggendong Cindy membawa nya ke pangkuan nya duduk di sofa. Dengan sigap di bukanya dress dan celananya Cindy langsung diposisikan menghadap ke arah nya. Mereka saling bercumbu dan melakukan nya. Setelah meraih kepuasan surgawi, di bawa nya sang istri mandi bersama. Cindy menyisir rambutnya sedang kan Ambressio mengambil semua pakaian yang berserakan dan memasukkan nya ke keranjang. Di hampiri sang istri, diciumnya puncaknya ", Terimakasih sweetie". Dia pun memakai pakaian santainya,t shirt dan celana pendek kasual. Kemudian dia merebahkan tubuh disamping mereka. Cindy pun ikut bergabung disisi lainnya. "Lain kali jangan seperti ini. Bagaimana jika ada yang memergoki rasanya tidak nyaman." omel Cindy.
"Kau yang menggoda ku sweetie,pahamu terlihat menggiurkan sangat sayang jika dilewatkan begitu saja". kekehnya.
"Dasar hidung belang ", sungutnya. Mereka pun memulai memejamkan matanya.
Reynald duduk di ruang kerjanya. Dia hanya termenung sepeninggal Ambressio, dia hanya dapat membahas seputar pekerjaan jika bersama adiknya. Dia tidak mempunyai keberanian untuk membahas masa lalu kelam yang melibatkan mereka bertiga. Akan ku simpan rasa cinta ku padamu honey, batinnya.
Siapapun yang bersamamu asal kau dapat hidup tenang dan selalu tersenyum bagiku sudah cukup, dia menenangkan diri.Di kamar momy Evelyn merasa lega karena keputusan Ambressio yang mencoba menyingkirkan luka itu. Dan memulai dari awal lagi agar semua kembali pada tempatnya walau tidaklah mudah, tragedi ini juga bukanlah disengaja Namun oknum itulah yang sakit, tampa hati dan pikiran dia menghancurkan ikatan persaudaraan.
Baby Revano Cassiedy
Baby Ayana Cassiedy