
Seusai berganti pakaian dan melihat kondisi Nara, putrinya. Meera kembali ke rumah sakit untuk menemui Lucas. Dengan menjinjing beberapa tas jinjing di tangannya. Berisi makanan, pakaian ganti dan lain sebagainya.
Dia terlihat tidak bersemangat saat itu. Apalagi setelah mengingat obrolan dirinya dengan sang mama tadi. Seakan ada tembok besar yang mengganjal di hatinya saat ini.
" Mama harap, kamu memikirkannya kembali. Mama hanya tidak ingin kamu terluka untuk kedua kali. " Ucap mama saat itu.
" Tapi, Ma-- "
" Turuti mama, Sayang. Jika dia benar-benar menyayangi dan mencintaimu, dia pasti akan memperjuangkanmu. " Jelasnya lagi. Meera tampak terperangah mendengarnya.
" Mama hanya ingin melihat bagaimana perjuanganya nanti untuk memilikimu kembali. Dan-- harus dipastikan juga bahwa dia sudah benar-benar berpisah dengan istrinya itu, jangan hanya di mulut saja. " Lanjutnya seraya menatap Meera lembut, memberi pengarahan dan nasihat. Wejangan yang bertujuan demi kebaikan putri semata wayangnya itu.
" Tapi-- beberapa bulan kemarin, dia-- juga ... "
" Setidaknya, mama ingin melihat dia melamar putri mama, menikahimu dengan terbuka tanpa sembunyi-sembunyi seperti dulu lagi. Mama hanya ingin kau diakui dan dihargai, Sayang. " Sembari membelai lembut rambut putrinya.
" Ingat ! Sekarang kau punya mama. Mama tidak rela jika kamu dianggap sebelah mata oleh mereka. Hanya karena kamu bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa seperti kata kamu dulu itu. " Sembari tersenyum.
Meera tersenyum. " Ah, Mama. Masih ingat aja ! " Menepuk pelan lengan sang mama.
" Dan .... " Lanjut mamanya lagi.
" Apa ?! "
" Mama ingin, kamu melanjutkan kuliah kedokteranmu lagi. Nara sudah satu tahun. Sudah cukup umur untuk bisa dititipkan. " Saran dr. Amanda.
" Kuliah ? "
" Hmm ! " Angguknya. " Dan-- jika dia mencintaimu, dia pasti akan mendukungmu. Jadilah perempuan sukses dan mandiri, Meera. Gapai cita-citamu. "
" Tapi-- bagaimana bila .. "
" Bicarakanlah dengannya terlebih dahulu. Jika dia mencintaimu, dia pasti akan memahami itu. " Meera terlihat mengerti, kemudian berpamitan pada sang mama untuk bergegas pergi. Beranjak keluar dari rumah setelah, setelah sempat melayangkan sang mama cipika cipiki.
Meera menoleh, kala sang mama memanggilnya lagi.
" Oh, iya Meera ! "
" Hmm ? "
" Mama ijinkan kamu menginap di sana untuk merawatnya saja, jangan lebih ! " Sembari tersenyum meninggalkan Meera merenung sendiri di depan pintu.
Eh ?
*****
Meera berjalan menyusuri lorong rumah sakit itu. Hatinya masih bimbang saat itu. Apa yang di ucapkan oleh mamanya memang benar adanya, tidak ada salahnya. Dia tidak bisa menerima Lucas begitu saja dalam hidupnya. Harus dipertanyakan terlebih dahulu statusnya bersama Helena. Tapi-- membicarakan itu, bukankah hanya akan memicu pertengkaran kembali. Bahkan, kecelakaan Lucas malam tadi, secara tidak langsung adalah disebabkan karena pertengkaran dengan dirinya karena membahas hal tadi.
Menimang beberapa lama, sembari berjalan sendiri. Baiklah-- mungkin pembicaraan ini harus ditunda untuk beberapa hari lagi, setidaknya sampai Lucas sembuh dan keluar dari rumah sakit.
Krieeeettt ..
Tak terasa, tanpa sadar Meera sudah sampai di kamar Lucas, bergegas masuk kala Meera baru saja membuka pintunya. Tanpa memperhatikan seseorang yang ada di dalam sana.
" Ma--maaf !! " Ucap Meera, kala menyadari ternyata ada Helena di sana. Tengah menyuapi Lucas.
OPS !
Andai menyadarinya sedari tadi, mungkin Meera akan menunggu di luar saja.
Berdiri kaku dan kikuk dalam situasi yang benar-benar canggung itu, Meera memilih untuk keluar saja. " Aku-- menunggu di luar ! " Tunjuknya pada arah pintu. Tanpa menunggu jawaban, dia bergegas pergi, tanpa menghiraukan tatapan Helena dan Lucas padanya.
" Tunggu, Meera ! Kau mau pergi kemana ? " Panggil Helena mengejar Meera.
Langkah Meera terhenti. " Aku-- "
" Di sini saja. " Helena menghampiri Meera, lalu menarik tangan Meera untuk mendekat ke ranjang Lucas.
" Aku-- " Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Meera terlihat senang saat itu, akhirnya mempunyai alasan untuk menghindari mereka.
" Aku-- menerima telfon dulu ! " Ijinnya pada Lucas dan Helena, memperlihatkan ponselnya yang berbunyi cukup nyaring. Bergegas berlari menuju ke luar kamar.
Cukup lama Meera menunggu di luar. Panggilan telfon yang menjadi alasan tadi, sudah lama berakhir. Memilih berdiri daripada duduk. Dia bersandar di tembok meratapi hidup. Tanpa derai tangis dan air mata, hanya fikiran yang melanglang buana, berkecamuk ke mana-mana. Bersamaan dengan rasa cemburu yang kian merayapi hati.
" Masuklah ! " Tanpa disadari Meera, Helena tiba-tiba sudah berada di dekatnya. Meera hanya tercenung saat itu.
" Katanya-- Lucas akan mengadakan suatu acara penting yang begitu mendadak. Tadi-- dia menelfonku dan memanggilku. Dia hanya ingin meminta pendapat dan saranku. " Jelas Helena saat itu.
" Acara ? " Penasaran, dalam hati penuh tanya.
" Hmm. " Helena mengangguk.
" Dia meminta pendapatku mengenai acara nanti, sekaligus hal-hal yang lainnya. " Jelas Helena begitu antusias dan semangat.
" Acara apa ? " Tanya Meera tak bisa menahan diri.
" Rahasia ! Pokoknya, itu acara yang sangat penting untuk Lucas. " Jelas Helena membuat Meera dongkol mendengarnya. Kenapa harus main rahasia-rahasiaan segala ? Untuk pesta itu, kenapa tidak meminta tolong pada dirinya saja. Ah, Meera benar-benar merasa tidak dianggap kali ini.
" Sekarang masuklah ! Aku harus segera pulang dan mengurus semua permintaan Lucas tadi. Dia memang slalu aneh-aneh ! " Gerutunya sembari berlalu pergi. Lupa untuk sekedar berpamitan sebelum pergi.
Sedangkan Meera, dia hanya diam terpaku saat itu. Menyadari bahwa Helena dan Lucas sudah semakin dekat dan akrab saja seiring dengan waktu. Mungkin saja rasa cinta sudah tumbuh tanpa disadari. Ya, bagaimanapun juga mereka adalah sepasang suami istri bukan ?
Dengan berat hati Meera kembali ke kamar. Akan kekanak- kanakan sekali jika lagi dan lagi dia menunjukkan rasa cemburunya itu. Mengingat kondisi Lucas yang belum pulih. Ya, mungkin dia harus menunggu beberapa lama untuk menunjukkan rasa cemburu dan kemarahan yang dia rasakan. Belum lagi, akan pertanyaan sebuah kejelasan akan status hubungan mereka kini dan selanjutnya nanti. Seperti yang mamanya inginkan selama ini.
" Sayang !! " Lucas melambai-lambaikan tangannya di depan mata Meera, kala menyadari sedari tadi, Meera hanya melamun saja.
" Apa yang kau fikirkan ? " Mengulurkan tangannya pada Meera, meminta Meera untuk mendekat padanya. Meera diam tak menjawab.
Lagi lagi, dengan berat hati, Meera mendekati Lucas. Lucas yang sedang duduk bersandar di ranjang, meraih Meera yang berdiri untuk didekapnya dengan erat. Melingkarkan lengannya pada pinggang ramping Meera, Lucas bersandar pada punggung Meera. Mungkin, karena masih marah Meera memilih untuk memunggungi lelaki itu.
" Ada apa, hmm ? " Lucas memutar tubuh Meera agar menghadap padanya.
" Jika ada masalah, ceritakan padaku ! " Ujarnya Lembut.
Lama mereka terdiam. Meera sama sekali tidak berniat untuk memberikan jawaban. Meera hanya bergerak menjauh dari Lucas. Duduk di sofa sembari membereskan barang-barang bawaannya tadi. Tak lupa ia pun membereskan pakaian Lucas yang dibawa Vincent kemarin. Yang belum sempat dia bereskan setelah pagi tadi dia bongkar kala mencari baju ganti.
Lama Lucas menunggu, hilang kesabarannya saat itu. Akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
" Apa kau tidak suka dengan kedatangan Helena tadi ? " Tanya Lucas tanpa terlihat merasa sedikit bersalah sedikitpun.
Hening ! Tidak ada jawaban.
" Meera, jawab aku ! Apa kau-- "
Meera mendelik tajam, memotong pertanyaan Lucas seketika.
" Kenapa tidak suka ! Memangnya aku siapa bagimu ? " Jawab Meera sinis sembari membereskan tumpukan baju. Sepertinya rasa cemburu sudah menguasai. Hingga Meera tidak bisa mengendalikan diri.
" Tentu saja kau istriku. Apa kau sudah lupa semua itu ? " Jelas Lucas lembut.
" Tentu saja aku tidak pernah lupa. Bahwa aku-- adalah istri simpanan mu. " Jawabnya lirih. Sembari mengacak-acak baju, karena emosi.
" Ck ck ck ! Jadi kau mengajakku bertengkar ?! " Lucas terpancing, namun masih bisa mengendalikan dirinya. Siapa juga, yang menganggap Meera istri simpanan, fikirnya.
" Baiklah ! Kau slalu marah jika aku membahas perceraian kita bukan ? " Lucas mengangguk menatap Meera kesal.
" Sekarang, bagaimana jika aku bertanya ? " Diam sejenak. " Kapan kau akan menceraikan Helena ? " Meera mendelik tajam, namun akhirnya menunduk. Dia baru sadar, baju yang baru saja dia bereskan tadi, kini sudah berantakan kembali. **** !
" Kemarilah ! " Lucas mengulurkan tangannya.
" Tidak mau ! " Tolak Meera.
" Kemari ! " Pinta Lucas lagi.
Menghela nafas kesal, akhirnya Meera menurut. Berjalan menghampiri Lucas yang tengah duduk bersandar di atas ranjangnya. Meera lalu duduk di sampingnya, dengan kaki yang terjulur ke samping bawah ranjang.
" Sepertinya ... aku melupakan sesuatu ! " Lucas mulai menjelaskan sesuatu. Menarik Meera untuk bersandar di dadanya.
" Hmm ! Sepertinya kau memang melupakan aku sebagai istrimu. " Jawab Meera lirih.
" Kenapa kau bisa berfikir seperti itu, hmm ? " Kecup Lucas pada pelipis Meera. Mendekap erat mesra. Meera terdiam saja mendengar pertanyaan itu.
" Jadi-- apa yang kau lupakan ? " sedikit menoleh, Meera menatap Lucas dalam.
Lucas mengulum senyum. Lalu menunjukkan sebuah amplop besar berisi kertas, berupa dokument penting yang tadi dia simpan di atas meja kecil.
" Apa ini ? " Meera mengambil kertas yang diulurkan Lucas padanya.
" Baca saja sendiri ! " Lalu duduk bersandar lagi dengan santainya.
" Ah !! " Meera menutup mulutnya yang terbuka. Menatap Lucas dengan tatapan berbinar.
" Kamu-- sudah berpisah dengan Helena ? " Tanyanya setelah membaca kertas itu. Keputusan resmi bercerai tertera di sana. Sepertinya alasan Lucas beberapa bulan menghilang kemarin adalah untuk mengurus semua itu.
Lucas mengangguk. " Tadi-- dia ke sini untuk mengantarkan itu. " Dengan raut wajah yang terlihat cukup sedih.
Meera melihatnya. " Apa kau menyesal ? "
" Tentu saja tidak, itu sudah keputusan kami ! " Jawab Lucas.
" Lalu, mengapa kau masih terlihat sedih ? "
" Sekarang, aku hanya mempunyai satu istri. Yang hobbynya marah-marah dan slalu minta berpisah. " Goda Lucas menghela nafas.
" Ish.. ! " Meera melayangkan pukulan pelan di dada Lucas. Refleks tangan Lucas meraih tangan Meera. Lalu menarik Meera untuk mendekat. " Itukan karena status kamu. " Gerutu Meera saat itu.
" Aku merindukanmu. " Bisik Lucas pada telinga Meera, lalu menggigitnya hingga memerah.
" Aww ! " Meera meringis pelan. Mengusapnya dengan tangannya.
Jangan tanya dan memikirkan apa yang mereka lakukan selanjutnya. Karena memang tidak terjadi apa-apa. Lucas masih sakit saudara-saudara. Mereka hanya lanjut mengobrol dengan sesekali menyelipkan adegan mesra diantara mereka.
.
.
💫 Bersambung ... 💫
Jangan lupa rate ⭐⭐⭐⭐⭐, sedih deh ... kemarin udah nyampe 4.8 sekarang turun lagi jadi 4.6 ...
Bentar lagi end kok, kalo diperpanjang, khawatirnya malah ada masalah lagi.
****
Maaf ya, akhir2 ini telat up, lagi ga fit nih , mohon do' anya saja biar terus sehat ... Makasih ..
Jangan lupa like, rate, dan koment. yuhuu...