
Meera membaringkan putrinya ke dalam box bayi yang ada di ruangan kerja mamanya. Sang mama sedang tidak ada di sana, karena ada kunjungan darurat pasien. Yang semestinya hanya dilakukan pagi hari, namun karena sesuatu hal, siang ini terpaksa dilakukannya kembali.
" Aku titip Nara ya, Sus ! Mau ke toilet dulu. "
Ucap Meera pada perawat asisten mamanya. Yang sudah diketahuinya sejak beberapa hari lalu. Mengingat mamanya yang slalu rajin bercerita mengenai kondisi tempat kerjanya, setiap ada di rumah.
" Toilet yang di dalam lagi mampet, Kak. Jadi gak boleh digunakan dulu. Kakak pakai toilet yang di luar saja. "
Beritahu perawat itu mengenai kerusakan toilet yang berada di dalam ruangan kerja mama Meera, dr. Amanda.
" Emh. "
Meera mengangguk mengerti. Lalu melangkah keluar melenggang pergi menuju toilet sesuai informasi arah dari perawat tadi.
Berjalan sendiri menyusuri lorong koridor menuju toilet yang terasa sepi. Meera sama sekali tak menyadari, bahwa ada seseorang yang tengah mengikutinya sedari tadi.
Krieett !!
Meera membuka pintu toilet yang bertuliskan Ladies di sana. Menolehkan sedikit kepalanya ke dalam, sama sekali tidak ada siapa-siapa. Merinding juga rasanya, Meera mengusap-usap kulit tangannya.
Graapp !!
Tiba-tiba, sebuah tangan meraih lengannya cukup erat. Mendorong Meera cukup kuat ke dalam toilet itu. Menghempas dan menyandarkan tubuhnya ke dinding tembok, setelah sesaat lalu mengunci pintu terlebih dahulu dengan gerakan yang begitu cepat dan kilat.
Dalam hitungan detik, secepat kilat, pemilik tangan kekar itu, Meraih Meera kembali. Lalu membekap mulutnya cukup erat, sedikit menekan, hingga Meera kehabisan nafas dan terengap-engap, dengan ..
Meera ingin menjerit, tangannya meronta kuat, namun kalah oleh si pemilik bibir, dan tangan yang mencengkeram bahunya begitu kuat.
Mata Meera seketika melotot, mulutnya bukan dibekap atau dibungkam oleh sebuah tangan, melainkan-- sebuah bibir.
Meera ingat betul rasa ini, aroma ini, dan sensasi ini. Hanya satu pemiliknya, sang lelaki dengan sejuta pesona dan cinta yang dimilikinya, memikat hatinya hingga begitu menggila. Merasakan kesesatan hati akan kenikmatan yang tiada tara dan rasa sakit bersamaan di setiap sesi di dalamnya.
Tatap mata mereka bertemu. Mata itu, Meera mengenalnya dengan begitu jelas. Tatapan yang penuh dengan cinta yang menggelora, kadang berkabut tebal dipenuhi dengan gairah asmara. Menggoda hatinya hingga dia terlupa segalanya.
Lucass ??
Meera ingin menolaknya, namun hal yang dia suguhkan membuat dirinya enggan mengelak. Sungguh sayang untuk dilewatkan bukan ? Sudah terlalu lama mereka tidak melakukannya.
" Lucas !! "
Pekik Meera pelan, setelah berhasil mendorong Lucas dengan cukup tenaga. Setelah beberapa kali meronta, namun bagi Lucas itu adalah sebuah geliatan akibat suatu
sensasi yang terlanjur terasa di sekujur tubuhnya.
" Meera ! "
Ucap Lucas dengan suara serak parau. Matanya benar-benar berkabut kala itu. Nafasnya tersengal. Ingin segera melampiaskan rasa rindu yang beberapa bulan ini terpendam di dalam dada.
" Meera .. aku merindukanmu. "
Ucapnya lirih sembari mengungkung Meera. Hembusan nafasnya terasa hangat di permukaan kulit wajah Meera. Seakan menggodanya dan menggelitikinya.
Dengan gerakan cepat, Lucas meraih Meera kembali, setelah sesaat lalu menahan bahu Meera lalu memiringkan wajahnya dan menggigit bibir merah istrinya.
" Aww ! "
Pekik Meera. Meera masih saja meronta. Namun apalah artinya tenaga dia dimata Lucas yang sedang dimabuk gairah.
Memagut bibir itu kembali, lebih dalam dan lebih mesra, menyesapnya hangat dengan keintiman lebih kental terasa. Meera sedikit meronta dan menggeliat manja. Dan kali ini berhasil mendorong Lucas untuk sedikit menjauh darinya, walau hanya beberapa centi saja.
Karena pada kenyataannya, kini sebelah tangan Lucas telah berhasil merengkuh kedua tangan Meera di atas kepala Meera. Dan sebelah tangannya lagi melingkar di pinggang Meera hingga tubuhnya terdorong ke depan merapat pada tubuh Lucas. Sementara tubuh depan Meera ditekan sekuat tenaga oleh dada Lucas yang bidang sembada.
" Lucas !! "
Meera menggelengkan kepalanya beberapa kali karena gelisah dan frustasi. Dia menyukai sensasi ini, namun dia masih bingung dengan situasi yang dihadapinya kini. Bukankah mereka sudah lama tidak bertemu. Seharusnya saling bertanya kabar dan sebuah kejelasan akan hubungan yang selama ini renggang karena berjauhan.
Hey, bukankah kau sudah menikah lagi ? Tidak inginkan kau menjelaskan itu ? Aku marah padamu, Lucas. Apalagi, setelah mengetahui kehamilan istrimu, Helena. Jadi, kau sering bercinta dengannya, bercumbu dengannya, lalu mengapa kau kini menyentuhku ? Apakah Helena saja tidak cukup untukmu, huh ?
Lucas sedikit marah saat itu. Dia sudah ditinggalkan dulu, hingga membuat dirinya kesepian seperti ini. Tidak salah bukan, jika dia melampiaskan rasa rindu dan hasratnya yang terasa menggunung. Belum lagi harus melihat pertemuan Meera dengan Vano tadi, cukup untuk membangkitkan rasa cemburu yang membakar hatinya di dalam dada.
" Geli !! "
Rintihnya dengan manja saat itu. Bagimana tidak, saat ini dagu dan pipi bawah Lucas dipenuhi dengan bulu-bulu halus namun menggelitik nyeri itu. Meera yang belum terbiasa, tentu merasa aneh saat dicium olehnya. Apalagi dengan gerakan Lucas yang begitu menggebu meraih bibirnya, membuat pergesekan kulit wajah mereka begitu terasa.
" Heh !! " Lucas menyeringai.
" Itu hukuman untukmu. " Ucap Lucas, lalu meneruskan ciuman panas nan ganas tadi.
Mereka bahkan belum bertegur sapa, saling bertanya, keadaan dan segalanya. Rasa cinta dan rindu yang menggebu terlanjur menguasai kalbu. Hingga akhirnya kini, mereka terlena terbawa suasana kenikmatan walaupun dengan sedikit sensasi nyeri dan nikmat bersamaan di mana-mana.
Hayo, dimana-mana ?
•
•
Mereka tidak melakukan hal yang sampai sejauh itu, walaupun pada kenyataannya tangan dan jari Lucas berkelana terlalu jauh. Tapi, tak apa bukan, sejauh ini, tadi-- mereka begitu menikmatinya sekali. Bahkan hingga mereka sampai terlupa ada di mana.
Dan juga, masih halal juga kan ? Mereka belum bercerai samasekali.
Menyisir dengan jarinya, rambutnya yang berantakan tak berupa. Lipstick belepotan ke mana-mana. Lucas bahkan menyindir.
" Sejak kapan kau memakai lipstick, bukankah biasanya yang berperisa buah-buahan itu. "
Protesnya, sembari mengusap bibirnya yang kini berawarna merah dengan sapu tangan miliknya.
" Dan, bukankah warna ini terlalu terang, ckk. "
Protes Lucas seraya berdecak, ketika melihat noda bekas lipstick berwarna cukup terang di sapu tangan miliknya itu.
Kau belum menjadi janda sayang, jangan berniat untuk menggoda lelaki lain.
Meera mendelik tajam ke arah Lucas, sembari tangannya aktif membersihkan dan merapikan dirinya.
" Kau benar-benar gila ! "
Umpat Meera. Dan, bukanlah Lucas jika langsung terbawa suasana. Melihat kemarahan Meera, Lucas justru merasa gemas karenanya. Dan malah ingin semakin menggodanya lagi, lagi dan lagi. Tapi, untuk hari ini-- cukup satu kali ini saja. Untuk besok, akan dipikirkan lagi caranya.
" Kita-- sepertinya harus bicara. "
Lucas mulai berbicara serius. Dia lalu berdiri tepat di belakang punggung Meera yang sedang berdiri di depan cermin besar yang ada wastafel di sana.
Melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping istrinya yang sekian lama berpisah jauh itu, lalu menyenderkan dagunya di bahu istrinya.
Ramping ? Benar, Meera sudah melahirkan sekarang.
Menatap Meera dengan begitu dalam dari arah samping.
Cup
Lucas mengecup pipi mulus Meera, hingga membuat pipi Meera merah merona. Tersipu malu, walau kemarahan masih bersarang di rongga dada.
Blush
.
.
💫 Bersambung ... 💫
Akhirnya ... mereka bertemu, like, rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan coment ya ... 😘😘