
Di dalam mobil Lucas menangis, merutuki Meera dengan umpatan-umpatan kasar di dalam hatinya. Mendadak membencinya walau nyatanya masih belum bisa mengalahkan besar cinta yang dirasakan padanya.
Bodoh !
Sembari memukul kemudi setir yang tengah di pegangnya. Berulang kali umpatan itu Lucas ucapkan, walau ternyata hanya di hati saja.
Meratapi diri sendiri, kenapa dirinya bisa terjebak cinta yang begitu besar pada perempuan sebodoh itu.
Breemmmmm ....
Mobil Lucas melaju cepat membelah jalanan yang cukup lengang malam itu. Tak memperdulikan dirinya yang bisa saja tiba-tiba mati karena kecelakaan yang mungkin saja bisa terjadi. Mengingat ucapan Meera tadi yang memintanya untuk menceraikannya sungguh memuakkan baginya. Membuatnya ingin segera pergi dari muka bumi ini, hingga meninggalkan rasa penyesalan yang besar di hati perempuan bodoh itu.
Namun sayang ...
Bayangan air mata yang terus mengalir dari matanya, menghiasi wajah cantiknya yang sangat jarang dilihatnya tertawa, menyesakkan jiwanya. Akankah dirinya setega itu meninggalkan Meera yang jelas saat ini masih begitu mencintainya, hanya saja begitu gengsi untuk mengakuinya karena rasa cemburu yang membutakan hatinya.
Baiklah, Lucas putuskan tuk terakhir kali untuk mencoba sekali lagi. Tidak akan menyerah dengan perasaannya. Akan dia perjuangkan cintanya itu, hingga akhirnya Meera jatuh ke pelukannya lagi.
Naas,
Tepat Lucas tersadar, sebuah mobil dengan kecepatan cukup tinggi melesat menyalip mobil miliknya. Hingga akhirnya mobilnya yang melaju tidak kalah cepat, lepas kendali. Tersingkir, terbanting, lalu terbentur keras ke tepian jalan. Bersamaan dengan itu, bagian depan mobil tidak sengaja menabrak mobil yang berada di depannya. Membuat body depan mobilnya penyok, belum lagi kaca mobil yang kini terlihat retak hampir pecah. Benturannya cukup keras luar biasa. Jangan tanya kondisi mobil di depannya tadi, body belakangnya hancur tak indah dipandang mata.
Braaakkk !!
Dengan cepat dirinya memutuskan untuk mengerem mobil miliknya secara mendadak kemudian, namun kecelakaan lebih besar tak dapat terelakkan tidak jauh di depan matanya. Walaupun itu tidak dialami olehnya, melainkan dialami oleh mobil yang menyalipnya tadi, dengan sebuah mobil yang tiba-tiba datang dari arah berlawanan dengan kecepatan yang begitu tinggi.
Bergegas Lucas beranjak turun dari mobilnya tadi. Saat menyadari gumpalan asap tipis telah mengepul dari kap mesin mobil mewah kesayangannya. Berlari cepat menjauh dengan sedikit tergopoh-gopoh menahan sakit dan pusing akibat benturan di kepala yang kini tampak berdarah, belum lagi kaki yang entah retak atau terkilir semata akibat terhimpit body dalam mobil saat terkena benturan keras tadi.
Braaaaaakkkkk !!
Benturan hebat terjadi dengan begitu cepat sekejap mata. Dahsyat dan menegangkan. Hingga akhirnya salah satu dari mobil itu terpental menjauh, memutar, terbang terjungkir tepat membanting mobil Lucas dengan gerakan cepat, secepat kilat. Hingga mobil-mobil mewah itu kini tampak hancur tak indah dipandang mata. Mengepul bersamaan dengan bahan bakar yang sedikit tersulut api.
Boom !!
Ledakan kecil terjadi. Lucas hanya melongo, diam terpaku saat itu. Jika dia belum turun, mungkin dirinya ikut hancur bersama leburnya mobil mewah miliknya itu.
******
Mereka tidak jadi pulang. Ternyata Lucas bohong saat bilang dokter sudah mengijinkan.
Tidur di atas ranjang rumah sakit berdua, Meera memeluk Lucas erat. Lucas sudah terlelap tidur, saat Meera masih terlihat sibuk dalam lamunannya. Matanya sulit terpejam saat itu. Berbeda dengan Lucas yang mudah terlelap karena pengaruh obat.
Sembari terbaring di samping Lucas yang kini masih memeluknya dengan begitu posesif, Meera menatap wajah Lucas yang bagian kepala atasnya terbalut perban. Belum memar di beberapa titik wajahnya.
Seraya mengelus permukaan kulit yang terbuka itu, Meera merenung, tersenyum dengan hal manis yang telah dihadapinya kini. Dia telah berbaikan dengan Lucas. Walaupun masih dengan setitik tanya di benaknya, bagaimana dengan Helena ?
Lamunan Meera terhenti, dengan getaran kecil di atas meja kecil di samping ranjang. Ponselnya bergetar, karena mode sylent telah dia setting tadi.
Melihat ' Mama ' tertulis di sana.
" Ah, Mama ! " Pekik Meera pelan, bagaimana dia bisa terlupa untuk menghubungi mamanya tadi. Bergegas dia turun dari ranjang setelah melepas pelukan Lucas dari tubuhnya.
Berlari kecil menuju pintu keluar dari kamar itu.
" Maaf, Ma ! Sepertinya aku-- akan menginap, boleh ? " Dengan sedikit memelas dia meminta ijin pada sang mama untuk menemani Lucas yang kini masih terbaring di ranjang rumah sakit. Meminta ijin, sekaligus menitipkan putrinya Nara.
Meera tersenyum kecil kala mendengar jawaban dari sang mama yang sepertinya memberikan ijin padanya. Menyambut bahagia malam ini, dia akan tidur di samping sang suami. Setelah sekian lama.
******
Pagi yang cerah, sinar mentari masuk menelusup melalui celah tirai jendela. Mereka masih terlelap tidur terbawa mimpi. Namun, gesekan kulit dan gerakan asing di balik selimut menyadarkan Lucas dari alam mimpi.
Menatap Meera yang kini tertidur miring menghadapnya. Lucas tak melewatkan saat itu untuk menatap wajah Meera dengan begitu lekat. Menyusuri setiap inchi kulit wajahnya yang begitu halus dan merona itu dengan matanya.
Satu kecupan Lucas layangkan di kening Meera. Dan beberapa kecupan lainnya, di mata, hidung, pipi dan bibirnya. Hingga sentuhan hangat dan basah itu membangunkan Meera dari tidurnya saat itu.
Mata Meera terbuka. Dua pasang mata bertemu seketika.
" Pagi ... " Sapa Lucas dengan suara seraknya.
Meera mengerjap. Tampak kaget dengan apa yang ada di hadapannya kini. Bangun terduduk, mengingat-ingat kemudian, Meera akhirnya tersadar dengan kejadian tadi malam.
" Pagi ... " Sapa Meera tersipu. Merasa aneh dan asing dengan situasi ini. Hal baru setelah hampir satu tahun lamanya mereka berpisah.
" Jangan bilang kamu lupa, seperti adegan di novel-novel yang sering kau baca. " Goda Lucas yang cukup kaget ketika melihat reaksi Meera tadi saat terbangun dari tidurnya.
" Idih ! Siapa juga yang suka baca novel ? " Pukul Meera pada tangan Lucas yang justru langsung menangkap tangannya untuk digenggamnya kemudian.
" Biasanya perempuan kan gitu. Kalau ga baca novel paling nonton drama Korea. " Lucas duduk bersandar, dengan sedikit menahan nyeri di tubuhnya.
" Aku mau mandi dulu. Kalau gak salah, sebentar lagi dokter ke sini. " Bergerak mengambil tas. Dia baru sadar tidak membawa baju ganti, handuk dan apapun itu. Ah, dia lupa semalam kan mendadak dia memutuskan untuk menginap di sini.
" Kenapa ? " Seraya menatap Meera.
" Aku lupa. Kan gak bawa baju ganti. " Seraya menggigit bibir bawahnya.
" Coba lihat di tas ! " Tunjuk Lucas pada tas berukuran besar miliknya yang dibawa Vincent tadi malam.
Meera berjalan mendekati tas itu. Membukanya dan sedikit membongkarnya. Tada-- tidak ada baju perempuan ! Semuanya hanya baju laki-laki, baju ganti untuk Lucas.
" Pilih saja, mungkin ada yang cukup ! " Saran Lucas, boleh juga. Kebetulan baju ganti yang diantarkan Vincent casual semua.
" Emh !! " Meera berfikir seraya mengetuk-ngetuk bibirnya. Dalemannya ?
" Aku pulang aja dulu. Sekalian ngecek Nara, ya ? " Lucas tampak kecewa mendengarnya.
" Yah ! Aku sakit begini gak tiap hari. Masa di tinggalin sih. " Keluh Lucas merajuk manja dengan bibir yang mencebik.
" Ish !! " Meera meringis.
Mau tidak mau, Meera memakai baju Lucas. Atasan t-shirt dipilihnya dan rok semalam terpaksa dia pakai lagi. Sedikit mencebik Meera keluar dari kamar mandi.
" Kenapa ? " Tanya Lucas setelah Meera mendekat padanya.
" Kegedean, Lucas ! " Keluhnya manja. " Aku pulang dulu, ya ? " Rengeknya.
Lucas tersenyum melihat penampilan istrinya itu. " Ya udah, aku telfon Vincent ya ?! " Tangannya terulur cepat mengambil ponsel di atas meja.
Meera mengerjap, menatap Lucas seraya mengerutkan dahi. " Kok Vincent ?!! " Pekiknya cukup keras dan mengagetkan Lucas.
" Ya, aku mau suruh Vincent membelikan baju untukmu .. " Jawab Lucas santai.
Meera menghempas tubuhnya di atas sofa. Menyerah, sebenarnya dia ingin pulang dulu, mengingat putrinya Nara yang jarang dia tinggalkan.
" Sayang .. kau kenapa ? " Mengulurkan tangannya meminta Meera untuk menghampirinya.
Meera bangun dari duduknya. Berjalan menghampiri Lucas. " Maafkan, aku ! " Jawabnya lirih.
" Aku-- hanya tidak terbiasa jauh dengan putriku. " Dengan ragu Meera menjawab.
Helaan nafas terdengar cukup kencang. Lucas harus menerima kenyataan. " Baiklah ! "
Meera mengangkat kedua alis matanya.
" Aku akan menyuruh Vincent membawa baju gantimu. Sekaligus, mengajak Nara ke sini. Bukankah aku juga harus mengenalnya lebih dekat ? " Meera belum terlihat lega.
" Anak sehat dibawah 12 tahun itu, dilarang masuk area rumah sakit. Kau tidak tahu ? "
Lucas menghela nafas dalam. " Baiklah ! Baiklah ! Apa yang kau inginkan ? " Sedikit ketus.
Meera tersenyum hangat. " Ijinkan aku pulang sebentar, secepatnya aku kembali. Jika kau sudah sehat, kau bisa berkenalan dengan Nara. " Meera berujar manja melingkarkan lengannya pada leher Lucas. Namun Lucas malah terlihat sedih saat itu.
Cup
Tiba-tiba Meera mengecup bibir Lucas singkat.
Cup
Kecupnya sesaat lalu melepasnya lagi. Namun Lucas masih saja terlihat sedih saat itu. Tepatnya berpura-pura sedih.
Cup
Kecup Meera sekali lagi, namun tak bisa melepasnya lagi. Karena tangan Lucas sudah terlanjur menahan tengkuk Meera hingga tak berkutik untuk melawannya.
Jadilah, ciuman sarapan pagi saat itu. Vitamin menyambut hari panjang ini.
.
.
💫 Bersambung ... 💫
Lagi buntu, moga terhibur 😅😅😅
Like, rate, vote jangan lupa ...