Love

Love
Chapter 58 - Kesedihan



Terbayar sudah lelahnya semalam berpeluh keringat di atas meja makan, demi melayani sang suami yang keinginannya slalu macam-macam, bahkan sedikit aneh-aneh. Apa mau dikata, memang pada masa-masa itu, waktu yang tepat bagi mereka saling mengeksplor segala sesuatu yang ingin mereka coba. Apalagi bagi mereka yang baru mengenal aktifitas candu itu.


Kini Meera terdampar di sebuah pusat perawatan kecantikan, relaksasi dan spa. Demi memanjakan tubuhnya yang akhir-akhir ini slalu beraktivitas ekstra, apalagi saat malam telah tiba.


Mencari tempat spa yang aman bagi ibu hamil, dimana pelayanan yang tersedia dikhususkan untuk ibu hamil dan dipastikan aman bagi mereka, dan tentunya bersertifikasi kesehatan juga.


Uang milik Lucas berkuasa di tempat ini. Dimana Meera dilayani dengan begitu baik bak putri raja, karena terdaftar sebagai anggota VVIP.


Sementara Lucas, karena permintaan Meera akhirnya mau tidak mau menuruti keinginan sang istri untuk ikut mendampingi. Sesekali mengikuti salah satu terapi yang dikira cocok untuk dirinya.


Segala pelayanan dan fasilitas terbaik mereka dapatkan, memuaskan mereka sebagai pelanggan.


" Kau senang, sayang ? " Tanya Lucas semangat, merangkul bahu istrinya. Memastikan upaya dirinya hari ini untuk menyenangkan dan memanjakan istrinya berhasil.


" Hmm. "


Meera mengangguk pelan. Tersenyum kecil nan anggun. Hal-hal seperti ini baru pertama kali dia alami. Dia merasa takjub dan terpukau bersamaan. Mengenal Lucas adalah sesuatu hal baginya.


" Apa ada lagi yang kau inginkan ? " Tanya Lucas pada Meera. Mumpung mereka sedang di pusat perbelanjaan kota Paris.


Meera berfikir sesaat.


" Aku-- ingin membeli perlengkapan bayi. Apa kau bisa mengantarku ? " Ucap Meera ragu dan Lucas hanya terdiam saat itu.


" Dulu-- aku sempat membelinya bersama Zora. Hanya saja masih banyak yang kurang. " Dia sampai menelan ludahnya beberapa kali hanya untuk menanyakan hal itu.


Sepertinya untuk masalah kehamilannya ini, Meera masih merasa canggung bila meminta tolong atau sesuatu pada Lucas, mengingat bayi yang dikandungnya bukanlah anak Lucas.


" Emh, itu ... " Ada helaan nafas terdengar. Meera mendengarnya dengan begitu jelas dan mendetail. Sangat manusiawi bukan, Lucas memang belum sepenuhnya menerima kehamilan ini.


Raut wajah Lucas langsung berubah, binar bahagia di matanya memudar perlahan. Sesak, Meera merasakan hal itu dengan begitu jelas. Lagi-lagi rasa bersalah mengganjal di rongga dadanya.


" Kita tanyakan kepada petugas di sana .. " Jawab Lucas setelah beberapa lama. Dia memang tidak terlalu tahu tentang toko perlengakapan bayi, karena dia memang belum pernah memiliki seorang anak.


Lalu menarik tubuh Meera yang sedari dia rangkul untuk mengikuti langkahnya. Lucas yang sedari tadi begitu hangat mendadak dingin seketika.


Setelah bertanya kepada petugas yang ada di sana, mereka lalu tiba di sebuah toko perlengkapan bayi. Meera begitu senang melihatnya. Setiap ibu pasti merasakan hal yang sama, tak terkecuali Meera.


" Kau, masuklah. Aku-- menunggu di luar. " Ucap Lucas sembari menunjuk deretan kursi dan meja. Dia bisa sekaligus memesan minuman di sana.


" Tapi-- "


Raut wajah Meera berubah sedih, rasa bahagia yang tadi datang mendadak hilang. Sikap Lucas kali ini sangat jelas. Dia bahkan tidak repot-repot untuk menutupinya.


Bayangan berbelanja bersama perlengkapan bayi perlahan memudar. Hatinya semakin sedih tatkala melihat sepasang suami istri tengah berbelanja berdua sembari tertawa bahagia memilih baju bayi yang begitu mungil di balik kaca jendela. Sepertinya, hal itu takkan pernah dialami olehnya.


Sakit-- namun, lagi-lagi dia berusaha bersyukur, Lucas begitu baik mau menikahi dirinya, mencintai dan menyayanginya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa.


Apa lagi yang kau inginkan, Meera ? Karena pada kenyataannya, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Wajar saja jika Lucas masih belum sepenuhnya menerima bayi ini, semuanya butuh waktu bukan ?


" Baiklah ! Aku-- tidak akan lama. " Ucap Meera singkat, sembari berjalan perlahan masuk ke dalam toko tanpa semangat dan gairah yang sama seperti tadi.


Baru beberapa langkah Meera berjalan masuk ke dalam toko, suara perempuan terdengar mendayu-dayu memanggil nama suaminya.


" Lucas ... !! "


Meera menoleh, mendapati seorang perempuan yang ternyata adalah Helena tengah bergelayut manja pada lengan Lucas.


Lucas tertawa bahagia, menyambut perempuan yang berstatus tunangan itu, namun ternyata hanya seorang sahabat biasa.


Meera berdiri di balik kaca jendela toko itu memperhatikan interaksi mereka. Sesekali berpura-pura melihat perlengakapan bayi yang terpajang di sebelah sana.


Melihat interaksi hangat antara Lucas dan Helena, jujur hatinya cemburu. Masih normal bukan ? Karena Meera mencintai Lucas.


Meera melanjutkan belanjanya tanpa memperdulikan Lucas dan Helena. Hatinya terlalu sakit melihat semua itu. Rasa minder dan rendah diri semakin menghantui dan menguasai dirinya.


Menunggu selang beberapa lama di dalam toko, walau sebenarnya sudah sedari tadi belanjanya telah usai. Meera bertahan untuk tidak keluar, mengingat pernikahan mereka yang masih dirahasiakan.Sembari sesekali matanya melirik ke arah mereka yang kini terlihat sedang bercanda, bersenda gurau bahagia.


.


.


" Kau sudah selesai, Sayang ? " Tiba-tiba Lucas datang mengagetkan Meera yang sedang fokus dalam lamunan. Lucas mengecup pelipis Meera lembut.


" Sudah ! " Jawab Meera singkat. Bergerak berdiri lalu berjalan menjinjing satu paper bag di tangannya, dan Lucas melihatnya saat itu.


" Hanya itu ? " Tunjuk Lucas pada belanjaan Meera yang begitu sedikit. Mengingat waktu yang dihabiskan untuk belanja tadi cukup lama.


Meera tersenyum getir. " Aku-- sedang tidak bersemangat ! " Jawabnya singkat.


Tanpa ingin menjelaskan, apalagi bercerita dengan apa yang kini tengah dirasakan olehnya.


Meera berjalan pelan dengan tatapan kosong. Mengabaikan Lucas yang dia lewati tanpa sadar dan kini tengah menatap Meera dengan begitu tajam.


" Meera-- ada apa ? " Lucas menarik tangan Meera. Meera mengerjap kaget, tersadar seketika.


" Apa ? " Meera menatap Lucas bertanya-tanya, mengapa Lucas menarik tangannya


" Ada apa ? " Tanya Lucas sekali lagi.


" Oh.. itu. Aku-- hanya sedikit tidak enak badan. " Jawab Meera bohong.


" Dan belanjaanmu bagaimana ? Bukankah kau begitu antusias tadi ? " Tanya Lucas sedikit merasa bersalah mengingat dirinya yang tadi tak menemani Meera masuk ke dalam toko. Malah asik mengobrol bersama Helena. Apakah Meera melihatnya ?


" Sepertinya-- aku akan membeli online saja. Atau mungkin-- aku bisa meminta Zora untuk membelikannya lalu mengirimkannya padaku. "


Ide Meera muncul, dia mendadak tidak bersemangat hari ini. Dan mungkin hari berikutnya. Sebaiknya, mungkin dia meminta tolong pada Zora saja untuk membelikannya.


Di sini, selain Lucas yang ternyata masih belum sepenuhnya menerima kehamilannya, Meera sungguh tidak punya siapa-siapa lagi.


Hatinya sedih seketika, dengan siapa dia harus berbagi duka.


Matanya berkaca-kaca, dengan segera Meera berpaling, agar Lucas tidak melihatnya.


Lalu Meera berjalan untuk pulang meninggalkan Lucas yang kini masih termenung memikirkan semua yang telah terjadi.


" Sayang, ayolah-- aku ingin segera pulang. " Ucap Meera setengah berteriak.


Akhirnya Meera menoleh menatap Lucas, dengan bibir yang tersenyum manis menyembunyikan kesedihannya.


.


.


💫 Bersambung ... 💫