Love

Love
29. Merajut hati



Stuart dengan memandang Reynald, lelaki ini mengetahui sifatnya Reynald yang lebih bijaksana daripada Ambressio. Reynald memandang wajah Stuart yang sungguh-sungguh menemukan rasa cintanya pada Cindy. Reynald menunduk rasa bersalah atas semua kejadian itu menghinggapinya. Hening.


"Honey ada tamu siapa?" Sebuah suara membuat mereka menoleh ke arah Cindy. Wanita cantik itu berhenti berjalan mendekat. Nampak Cindy datang membawa baki berisi makanan kecil dan teh hangat, sejenak ia berhenti sejenak namun ia melangkah lagi menuju tempat mereka duduk. "Sweet heart, kita kedatangan tamu. Kau sudah mengenalnya lebih dari pada aku.


Aku rasa ada yang harus kamu bicarakan hanya berdua dengannya?" Stuart bertanya kepada Cindy. "Tidak. Tidak ada yang bisa kita bicarakan semua sudah berakhir." Jawabnya ketus dengan seraya duduk di hadapannya.


"Kami sekeluarga terguncang hebat karena kepergianmu Cindy. Kami semua menyayangi mu dan juga anak-anak yang menyayangimu seperti ibunya dan Mom yang masih merasa bersalah atas peristiwa yang lalu." Sahut Reynald.


"Omong kosong, nyatanya lelaki brengsek itu dengan santai bercinta dengan wanita bayaran. Dan kau juga tidak ada bedanya. Jika cinta tidak akan pernah berbuat seperti itu kepada aku! Melempar aku seperti barang, aku jenuh dengan semua alasan kalian."


"Pergilah jangan pernah mengganggu kehidupan aku lagi ! Jika anak-anak ingin bertemu dengan saudara mereka silahkan saja. Aku terima mereka dengan tangan terbuka. Namun itu nanti setelah adiknya sudah cukup dewasa untuk mengerti tentang masalah orang dewasa yang sangat rumit." Jelasnya.


Reynald merasakan kepedihan yang dirasakan Cindy. Terus terang ia ikut bersedih dan menyesali atas semua tindakannya yang sepihak, Lelaki itu hanya dapat menundukkan kepalanya. Tidak lama kemudian terdengar notifikasi dari gawainya Stuart. Lelaki itu menyipitkan matanya menatap tajam.


"Ada apa?" tanya Cindy namun dia hanya membalasnya dengan senyuman. Tak lama muncullah sepasang anak perempuan dan laki-laki dari samping mereka seperti berdebat saling tarik-menarik dan berlarian kecil. "Sayang ada masalah?" Stuart berteriak memanggil mereka.


Pergerakannya mereka terhenti, Stuart mendekati mereka diikuti Cindy dan Reynald. "Mengapa mukamu lebam dan bibirnya sobek?" Cindy maju memegang dagu anak lelakinya. "Pulang sekolah dia berkelahi dengan Daniel di ujung jalan masuk sekolahan. Kami diejek, dia bilang Daddy bukanlah Dady kami yang sebenarnya. Dia mendengar pembicaraan orang tua nya dan lalu mengatakan pada kami dan juga teman-teman sekolah.


Bahkan kepala sekolah tidak mengatakan apapun saat kami membicarakan ini, Revano dipanggil karena berkelahi dengan dia tadi, dan dia juga masih menantang berkelahi lagi. Dia luka parah Daddy" Amalia menjelaskan dengan berlinang air matanya. Stuart membelai rambutnya Ayana dengan penuh kasih sayang, serta menghapus air matanya yang menetes dengan tangan satunya. Karena dia masih menggendong putra kecilnya.


Revano menunduk tampa sepatah katapun. Cindy memeluk putranya erat-erat, "Momy tidak marah? Dia bilang Mom wanita murahan karena tidur banyak lelaki." Cicit Revano lirih. Cindy menciumi muka putranya. "Tidak. Momy bangga kau sudah menjadi seorang yang dapat diandalkan. Dia sudah menghinaku kau hanya membela kehormatan Mom." Katanya dengan mengusap kepala nya lembut.


" Kemarilah nak! Kita mengobrol di sana." Ajak Stuart berjalan masuk kedalam mansion. Mereka duduk di ruang tengah si kecil diberikannya pada pelayan oleh Stuart, karena dia habis berenang tadi dan belum mengenakan bajunya. "Momy dulu pernah menikah dengan Dady kalian, Mom menikah dengan seorang pria waktu itu, dia seorang duda mempunyai dua putri. Namanya Revalia dan Sarah Amalia."


" Lalu ada orang jahat, musuh persaingan bisnisnya, Dia menjebak Mom dan adik Daddy kalian dengan obat-obatan lalu terjadilah peristiwa yang sangat buruk. Beberapa hari setelah kejadian itu momy bercerai dan usai perceraian momy hamil. Dan Mom menikah lagi dengannya ", Cindy terdiam merasakan sesak di dadanya.


"Momy menikahi adik ipar mom?" sahut Revano. Cindy mengangguk. "Dan dia ayah kami?" Lanjutnya penuh rasa ingin tahu. "Momy mengalami kejadian yang spesial di dunia kedokteran. Kalian anak Mom, namun Daddy kalian berbeda. Revano daddymu adalah Reynald Cassiedy dan daddy Ayana adalah Ambressio Cassiedy. Daddy kalian adalah kakak adik. Saudara kalian Revalia dan Sarah Amalia." Cindy menjelaskan panjang lebar dengan perasaannya yang sedih dan berlinang air mata.


" Kalian kembar namun daddy yang berbeda." Cindy terisak Revano mendekati Cindy dan memeluk nya. "Mom, maafkan kami" Bisiknya. Ayana ikut tersedu-sedu. Reynald dan Stuart hanya terdiam. Stuart tidak mengetahui tentang kronologi pernikahan istrinya, namun ia tidak membayangkan begitu menyesakkan dadanya, karena Cindy tidak pernah mengungkapkannya dan dia menghargai perasaan nya.


"Lihatlah dia mencari informasi tentang kamu. Dia datang untuk melihat dirimu Revano. Dialah Reynald Cassiedy, Daddy mu Reynald." Tunjuk Cindy dengan dagunya. Revano menatapnya. Reynald hanya duduk terdiam melihat putranya wajahnya terlihat mirip dengan dirinya, dari muka, iris matanya dan rambutnya.


"Kurasa kalian harus mengobrol bertiga." Stuart mengajak istrinya pergi meninggalkan mereka bertiga. "Kenalkan namaku Reynald Cassiedy. Dan ini Ambressio Cassiedy". Reynald mengeluarkan gawainya dan membuka galery foto yang memperlihatkan foto Ambressio dan diberikan kepada Ayana. Mereka duduk bersama dengan posisinya Reynald diampit sebelah kanan Revano dan sebelah kiri Ayana.


Mereka menatap tak berkedip ke arah galeri foto di phonsel. "Ini adalah kakak Revalia dan yang kecil kakak Sarah Amalia. kalian memiliki dua kakak perempuan. Mereka masih menyimpan foto kalian sewaktu masih bayi. Disini juga ada juga foto kalian. Dan inilah foto terbaru kakak kalian." lanjutnya terus memindai menggulirkan koleksi fotonya Reynald memperhatikan ekspresi keduanya.


"Aku harap kita dapat melakukan hubungan komunikasi walaupun hanya lewat media elektronik. Jangan salahkan Mom kalian. Akulah yang harusnya di salahkan. Karena gagal menjaganya dan kalian bertiga." Reynald menundukkan wajahnya tak kuasa menahan emosi dan sesalnya. Rasanya ingin sekali memeluk buah hatinya.


"Bertiga? Maksudmu?" Tanya Revano mengernyitkan keningnya. Ayana menatapnya bingung. "Momy kalian dalam keadaan hamil saat pergi meninggalkan rumah. Dua bulan usia kehamilan nya. Ada seseorang yang membantu mom kalian dan melindungi kalian yakni Daddymu. Jangan membenci dia, nyatanya dialah yang memberikan cinta dan kenyamanan bagi kalian. Dan momy sangat menyayangi dia." Jelasnya.


"Jadi adik kami Isabella adalah adik kami dari daddy siapa?" Tanya Revano penasaran. "Ambressio. Daddymu Ayana. Itu berarti Daddy Ambressio memiliki dua putrinya, yakni Ayana dan Isabella. Dan Daddy memiliki Revalia dan Sarah Amalia beserta kamu Revano. " Jelas Reynald panjang lebar.


Ayana hanya menyimak pembicaraan mereka. Tampa ingin menambah atau menyanggahnya. Ketiganya terdiam saling menatap. Cindy mendekat ", Anak-anak ganti seragam sekolahnya dan Mom tunggu di meja makan dan jangan khawatir Daddy Reynald akan ikut makan siang dan juga Daddy Stuart. " Cindy berkata dengan menatap Reynald dengan ekspresi wajah datarnya. Anak-anaknya tersenyum kemudian berhamburan naik ke ke atas menuju kamarnya masing-masing.


"Silahkan." Cindy mengarahkan ke ruang makan disana ada Stuart dan seorang gadis cilik yang mirip dengan Sarah Amalia, gadis cilik itu berusia tujuh tahun. Dan balita berusia tiga tahun. Mereka akrab bercanda ria dan rasa cemburunya menyeruak lagi.


"Halo sapa Isabella dengan senyum lebarnya." Sapa gadis cilik itu. "Isabella. Nama yang indah. Reynald namaku." Jawabnya. Kemudian duduk disebelahnya. Tak lama Revano dan Ayana bergabung dengan mereka.


"Ingatlah sayang. Adik kaliyan masih belum saatnya mengetahui yang terjadi. Tunggulah sampai adik kaliyan besar seperti kamu." Cindy memberikan pengertian. Kedua anak kembar nya mengangguk mengerti.


Mereka pun makan bersama dengan sedikit pembicaraan. "Masakan kamu masih selezat dulu Cindy." puji Reynald. Stuart mengerutkan keningnya menatap Reynald dengan tatapan mata yang tajam.


"Aku dulu pernah merasakan masakan momy mu cantik." Reynald merasakan sesuatu hal yang tidak nyaman saat semuanya memandangi wajahnya. Karena Isabella masih kecil. Ia meruntuki keusilan mulutnya.


"Maaf". Katanya pada Cindy dan wanita itu hanya mengangguk samar. Acara makan bersama berjalan dengan lancar tanpa melibatkan sesuatu yang menimbulkan kecurigaan Isabella. Gadis cilik itu sengaja tidak dilibas karena memang belum saatnya.