
Zora mengedipkan matanya berkali-kali. Menatap sepasang insan yang kini tengah berpelukan di hadapannya.
Apalagi, tatkala menyadari bahwa lelaki asing yang kini tengah berada di rumahnya adalah si pengusaha muda sukses favorit idamannya.
Dan kini, tengah berdua bersama sahabatnya, bermesraan di rumahnya. Ini mimpi atau nyata, ya ?
" Ehem ! " Zora berdehem.
Menyadarkan kedua insan itu yang tengah terhanyut dalam nuansa siang yang begitu romantis. Meera dan Lucas langsung melepas pelukan mereka, seketika itu juga !
Ini tidak salah bukan ? Zora mengerjapkan matanya beberapa kali. Merasa tak percaya ribuan kali. Mimpikah ini ? Meera bersama seorang lelaki ?
" Kalian ? " Zora memandang dan menunjuk dua orang itu secara bergantian.
" Zora ... " Sapa Meera tegang.
Meera langsung memanggil nama sahabatnya itu, berusaha menjelaskan. Menghampiri Zora yang kini tampak kebingungan.
" Meera, kenapa dia ada di sini ? Dia-- siapa ? Maksudku -- " Dengan setengah berbisik Zora bertanya. Setelah sesaat lalu menarik Meera ke kamar.
Zora benar-benar terlihat bingung sekarang. Lelaki yang selama ini slalu dia kagumi di layar TV, kini ada di hadapannya, di rumahnya, OoMmGg !!
" Dia--, dia-- " Meera terlihat bingung menjelaskannya.
" Dia apa ? " Tanya Zora lagi.
" Dia-- " Meera menggigit bibir bawahnya.
" Aku calon suaminya ! "
Tiba-tiba Lucas menginterupsi obrolan dua sahabat itu. Sedikit kesal ketika melihat Meera dari balik pintu, masih begitu ragu untuk mengakuinya sebagai calon suaminya. Padahal, baru saja beberapa menit lalu Meera mengakui perasaannya.
" Apa ?!! "
Zora memekik kencang. Tak percaya dengan hal yang baru saja di dengarnya.
" Benarkah, Meera ?!! Benarkah ?!! Jelaskan padaku, pokoknya !! Kau punya hutang penjelasan padaku !! "
Seketika ruangan rumah kecil itu begitu heboh. Pekikan Zora sekaligus celotehannya mengisi udara di sekitarnya. Zora menggerak-gerakkan bahu Meera, saking bahagia.
Sedang Meera dan Lucas hanya diam saja, membiarkan Zora yang masih terlihat takjub tak percaya.
" Jadi ... kapan kalian akan menikah ? " Tanya Zora begitu antusias.
Zora memecah keheningan siang itu. Bisa mati penasaran dia jika tidak segera bertanya, menggeluarkan uneg-uneg yang ada di fikirannya.
" Itu -- " Meera bingung, dia memang telah mengutarakan perasaannya. Tapi untuk menikah belum sejauh itu pembicaraannya.
" Lebih cepat, lebih baik ! "
Lucas yang menjawab, dengan tegas dan lugas. Kali ini Meera yang kaget dengan keputusan sepihak Lucas.
" Emh, baguslah ! Aku sangat senang mendengarnya. Akhirnya-- keponakanku akan bertemu dengan ayahnya. "
Tutur Zora polos, dia memang belum tahu sejauh itu. Mengenai Vano yang sebenarnya menghamili Meera, dia samasekali belum tahu.
Meera tersontak kaget mendengarnya. Begitu pun Lucas, tidak jauh berbeda. Mau bagaimana lagi, mau tidak mau mereka harus menerima.
Apalagi Lucas, jika memang dia berniat untuk menerima Meera dia harus siap dengan kemungkinan yang ada. Dengan segala resiko dan konsekuensinya.
Sudah menjadi fakta, meminang Meera bak membeli barang satu paket, beli satu dapat dua.
" Jadi, nanti kalian akan tinggal di mana ? " Cemas Zora. Dia khawatir akan berjauhan dengan Meera dan calon keponakannya itu.
Itu adalah salah satu pertanyaan Zora dari beberapa rentetan pertanyaan lainnya.
" Tentu saja, ikut denganku ! " Meera mengernyitkan dahinya. Kala Lucas lagi-lagi menjawab, dengan keputusan sepihaknya.
" Paris ! " Jawab Lucas. Membuat Meera terlonjak kaget seketika saat mendengarnya.
***
Lucas harus membuktikan pada Meera, bahwa cintanya tulus. Menerima apa adanya, apapun kondisi Meera bagaimana pun juga. Termasuk kehamilannya.
Dan kini, mereka terdampar di sini. Di sebuah rumah sakit di ruang Obgyn. Untuk memeriksakan kondisi kandungan Meera, apalagi ?
Dengan sedikit memaksa tentunya, karena bukan seperti ini sebenarnya yang Meera inginkan. Namun, rupanya Lucas serius, dia tidak ingin cintanya diragukan. Berbagai upaya akan dilakukan, apapun itu, untuk meyakinkan si calon istri pujaan.
" Anda suaminya ? "
Tanya dokter kandungan yang ternyata seorang lelaki. Lucas kira dokter yang terkenal dengan nama dr.Willy itu adalah seorang perempuan, siapa sangka ternyata nama lengkapnya adalah dr. William.
Sejenak Lucas lupa tadi, saat melihat daftar nama dokter yang tertera di list. Dia terlanjur senang, kala seorang perawat memberikan informasi, bahwa dokter yang terbaik adalah dr. Willy.
Meera yang selama ini biasa diperiksa oleh seorang bidan tampak senang saja. Karena ini adalah kali pertama baginya memeriksakan kandungannya kepada dokter spesialis kandungan.
" Iya, aku suaminya. "
Jawab Lucas tanpa ragu sedikitpun. Meera tersenyum riang mendengarnya. Walau sedikit kaget dan aneh dengan status yang masih belum resmi disandangnya itu. Baru rencana juga !!
Seorang perawat menuntun Meera untuk berbaring di ranjang yang terdapat di ruangan itu, Lucas sedikit mengernyitkan dahi tatkala dress Meera disingkap begitu saja hingga memperlihatkan paha mulus putihnya.
" Apa yang anda lakukan ? "
Tanya Lucas pada perawat perempuan itu. Lucas bergerak cepat membuka jasnya untuk menutupi paha seksi Meera yang bahkan dia sendiri pun belum pernah melihatnya. Dan kini disingkap begitu saja, sementara ada lelaki lain juga di ruangan itu. Walaupun dokter itu kini masih sibuk di mejanya.
" Dokter akan memeriksa perutnya. " Jawab perawat itu.
Meera sadar dengan reaksi Lucas, dia pun tak kalah kaget, mengingat Lucas yang tadi mengajak ke tempat ini secara mendadak. Sehingga Meera tidak menyesuaikan pakaian yang digunakan olehnya. Dia fikir, Lucas hanya akan mengajaknya jalan-jalan saja.
Sorot mata tajam lucas bergerak mengikuti gerakan tangan sang dokter ketika mengelus perut buncit dan mulus Meera, walaupun menggunakan alat tentunya.
Semakin gusar, tatkala tangan itu bergerak ke arah pangkal perut bawahnya. Sepertinya dokter itu tengah memastikan posisi kepala sang bayi. Gila, Lucas bisa gila karenanya.
Meera bukannya tidak terkejut, dia bahkan malu tatkala dua pasang mata lelaki, kini tengah menatap perutnya yang terbuka.
Terutama Lucas, pandangan matanya itu penuh makna yang sulit untuk diartikan dan dijelaskan dengan kata-kata.
" Bayinya sehat ... " Jelas dokter muda itu, cukup tampan dan berkharisma.
" Detak jantungnya normal ! " Jelasnya lagi.
" Posisi kepala bayi sudah di bawah. " Sembari menekan nekan pangkal perut bawah Meera, Lucas terlihat begitu tidak nyaman melihatnya.
" Jenis kelamin bayinya ... " Sembari menatap layar monitor.
" Rahasiakan saja, Dok. " Potong Meera. Mau apapun itu, laki-laki atau perempuan dia akan tetap senang.
" Baiklah .. " Jawab dokter itu, tersenyum manis. Jangan tanyakan reaksi Lucas saat melihatnya.
Selagi menjelaskan, dokter menatap layar monitor dengan begitu lekat, hanya sesekali saja melirik ke arah perut Meera untuk memastikan proses pemeriksaan. Tetapi, Lucas begitu risih melihatnya, Meera bahkan melihatnya dengan begitu jelas.
Padahal, jika Meera mau jujur, Meera lebih risih dengan tatapan Lucas pada perutnya. Yang tak berhenti berkedip, apalagi saat dokter mengusap sebuah alat yang sebelumnya perutnya dibaluri gel terlebih dahulu.
" Tidak ada yang menghalangi jalan lahir, mudah-mudahan bisa melahirkan secara normal nanti. " Jelas dokter itu penuh harap, memberi harapan positif pada pasiennya.
Lucas nampak mengernyitkan dahi. Apa yang ada di fikirannya ya ?
.
.
💫 Bersambung ... 💫