
" Oaa ... Oaa ... Oaa ... "
Tangisan suara seorang bayi pecah di tengah malam buta. Di dinginnya malam yang sunyi senyap, disaat Lucas dan yang lainnya tengah sibuk dan cemas setengah mati mencari keberadaan Meera, di belahan tempat lainnya seorang calon ibu baru, tengah berjuang mempertaruhkan nyawa melahirkan bayinya dengan sekuat tenaga.
dr. Amanda membantu Meera yang memilih untuk melakukan persalinan normal, mengingat setelah lari dari rumah sakit tadi, mereka hanya bisa lari ke tempat tinggal dr. Amanda. Syukurlah proses melahirkan itu tidak terlalu sulit, apalagi dibantu dengan kemampuan dr. Amanda yang begitu ahli dan mumpuni.
" Bayinya perempuan ! " Ucap dr. Amanda terharu bahagia.
Sang ibu, Ameera, masih terlihat lemah tidak berdaya. Walau begitu, dia tidak sampai kehilangan kesadarannya. Perjuangan melahirkan bayi itu terasa begitu sulit, cukup menguras tenaga ekstra apalagi bagi Meera yang baru mengalaminya. Dengan bantuan dan dukungan dari sang dokter yang tak henti menyemangati, akhirnya Meera lolos dari ujian yang menantang maut itu.
Tangis haru biru pun pecah, dalam heningnya malam yang sedari tadi disesaki teriakan, jerit tangis dan pekikan kencang. Meera yang saat itu masih terlihat terengah-engah dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, menyambut sang bayi di dalam dekapan, di atas dadanya.
" Biarkan dia mencari sumber makanannya sendiri, itu sangat bagus untuk perkembangan otaknya. "
dr. Amanda sengaja tidak mendekatkan mulut sang bayi dari sumber makanannya. Karena, memang itulah prosedural kelahiran terbaru, membiarkan sang bayi mencari sumber makanannya sendiri untuk stimulasi otak dini, dengan cara mengendus menggunakan indera penciumannya. Setelah melahirkan, aroma put*n* sang ibu akan sama persis dengan aroma cairan air ketuban yang menjadi favorit sang bayi untuk ditinggali saat masih di dalam kandungan. Hingga akan mempermudah bayi itu untuk mencari dan menyesapnya kemudian.
" Terimakasih ... " Ucap tulus Meera pada dokter itu.
Tangisannya pecah saat itu juga, dengan derai air mata yang tidak urung berhenti saking bahagianya menyambut kehadiran putrinya tercinta. Kehadiran bayi itu adalah anugerah terbesar dalam hidupnya. Apalagi bagi Meera yang hidup sebatang kara di dunia ini, tanpa orang tua dan sanak saudara.
Walaupun awalnya kehadiran bayi itu sangat tidak diharapkan, karena hadir oleh sebuah kesalahan, tapi bayi itu tetaplah anugerah terbesar dalam hidupnya. Akan dia jaga sebaik mungkin, titipan Tuhan yang begitu berharga itu.
" Tidak apa-apa, ini adalah tugasku. Oh iya, dimana suamimu, ayah dari bayi ini ? " Tanya dr. Amanda pada Meera.
Saat itu, dr. Amanda tengah membersihkan tubuh Meera setelah sesaat lalu selesai membersihkan sang bayi merah yang begitu lucu itu.
Meera hanya terdiam. Tampak bola matanya berkaca-kaca. Seperti ingin menumpahkan segala rasa yang mengganjal di dalam dada. Namun, urung seketika. Dia tak sanggup untuk kembali mengingat masa kelam itu apalagi menceritakannya. Biarlah semua kenangan di masa lalu adalah titik baliknya menuju kehidupan baru yang lebih bahagia, dipenuhi dengan harapan dan cita-cita bersama sang buah hati tercinta.
Baik Vano maupun Lucas, kini mereka adalah bagian dari masa lalunya. Apalagi, setelah pernikahan Lucas berlangsung, yang cukup membuat hatinya porak-poranda karena termakan rasa cemburu yang begitu membabi buta.
Kepergian dirinya dari kehidupan sang suami atas perintah Ny. Alice sang ibu mertua menorehkan luka yang cukup menyakitkan. Bahkan luka itu belum sempat kering, kala luka baru kian bertambah dengan kabar pernikahan itu.
Walau begitu Meera berusaha lapang dada, dia tetap meyakini cinta Lucas untuknya. Setidaknya, luka yang mereka berikan untuknya menjadi sebuah motivasi baginya saat prosesi melahirkan tadi. Meera bertekad untuk tetap hidup dan mejalani kehidupan yang lebih baik. Mengejar cita-cita dan ambisinya hingga dia pantas bersanding dengan lelaki seperti Lucas. Torehan rasa sakit itu memotivasi dirinya untuk menjadi perempuan sukses nan mandiri yang patut dan pantas untuk dicintai dan dimiliki. Semoga bisa !! Gambatte !!
dr. Amanda mengerti dengan diamnya perempuan yang kini tengah berbaring di ranjang di rumahnya itu. Tanpa banyak tanya lagi, dia menyadarkan Meera yang fikirannya tengah melayang entah ke mana. Perempuan ini membawa luka, dan sepertinya, dokter ini tahu akan itu.
" Sudah selesai ! "
Lamunan Meera terbuyarkan kala dr. Amanda menepuk pelan bahunya. Memberi tanda bahwa semuanya telah usai.
" Beristirahatlah terlebih dahulu ! "
Lalu dia membawa bayi Meera yang sudah terlihat kenyang disusui oleh ibunya tadi. Untunglah produksi ASI nya sudah mengalir dengan cukup subur dan lancar.
Meletakkan bayi yang sudah tertidur dengan nyenyak itu ke dalam box bayi yang sengaja diletakkan tidak terlalu jauh dari pasiennya itu. Lagi-lagi Meera hanya bisa terenyuh dan tersentuh dengan sikap baik dokter itu.
" Terimakasih ... "
Meera mengucapkan hal itu dengan tulus. Sementara sang dokter hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan lalu menggenggam tangan Meera dan menatapnya dengan begitu dalam dengan tatapan mata yang tidak terbaca maknanya. Namun, Meera merasakan mendapat kehangatan dari sana.
.
.
Lucas duduk di lantai, di tepian ranjang di dalam apartemennya. Menengadahkan kepalanya dan bersandar pada ranjang, dia menatap langit-langit kamar yang menjadi saksi bisu kemesraan dirinya bersama sang istri tercinta.
Kembali membaca ulang surat terakhir yang ditinggalkan Meera padanya, tanpa sadar Lucas terisak menangis tanpa henti. Suaranya terdengar pahit menyayat hati. Apalagi dalam keheningan malam yang akan menginjak dini hari.
Lucas ...
Selamat tinggal ...
Maafkan aku harus pergi dari sisimu, aku benar-benar terpaksa melakukannya.
Tiada lagi kebahagiaan yang kudapat selain bersamamu, walau berat dan tak yakin akan mampu untuk menjalani kehidupan ini tanpamu, aku akan slalu berusaha untuk berbahagia.
Dan aku harap, kau pun juga, akan seperti itu.
Jaga dirimu baik-baik, semoga suatu saat kita akan bertemu lagi.
Terimakasih atas semua cinta dan kebahagiaan yang telah kau berikan padaku. Maafkan aku yang belum bisa membalasnya. Semoga saja, suatu saat aku bisa membalas semua kebaikanmu.
Aku mencintaimu, Lucas.
Maafkan aku ...
Selamat tinggal ...
--Meera--
" Maafkan aku ! " Ucap Lucas lirih. Secarik kertas yang sudah lusuh, yang dia remas sedari beberapa hari lalu itu, kini dia genggam dengan begitu kuat.
Semoga saja, suatu saat kita akan bertemu lagi, Meera. Aku akan mencarimu kemanapun kau pergi. Dan saat itu, akan kutagih semua hutangmu kepadaku ..
Lucas sedikit menyesal, selama mereka hidup bersama beberapa bulan lalu, dia sering mengabaikan kehamilan Meera. Mengingat bayi yang dikandung Meera bukanlah anaknya. Sekaligus perut besar itu slalu mengingatkan Lucas dengan hubungan terlarang, One stand night sang istri dan Vano yang merupakan ayah biologis sang bayi.
Semua itu sangat menyesakkan baginya. Membayangkan Meera yang malam ini tengah berjuang melahirkan seorang diri tanpa dirinya mendampingi, membuat hatinya sakit dan merasakan kecemasan yang teramat sangat.
Dengan harapan yang membumbung tinggi, Lucas hanya bisa memanjatkan do'a kepada Tuhan agar Meera dan bayinya selamat. Dan suatu saat nanti mereka akan dipertemukan lagi di dunia ini.
.
.
Esok harinya ..
Semalam, Ny. Alice pingsan. Tepat setelah beberapa saat lalu, Lucas pergi meninggalkan dirinya dengan kalimat terakhirnya tadi. Dengan terpaksa Ny. Alice harus dirawat di rumah sakit. Arselli akhirnya memindahkan Ibunya ke rumah sakit keluarga setelah semalam sempat mendapat pertolongan pertama di rumah sakit yang penuh dengan kenangan pahit itu.
Sepertinya Ny. Alice mengalami syok, mengakibatkan dirinya mengalami serangan jantung walaupun ringan saja.
Siang itu, Helena tampak terlihat menangis berderai air mata, duduk dengan menunduk malu di hadapan Arselli dan Alessya. Mereka mencoba menginterogasi Helena mengenai sesuatu hal yang baru saja mereka dengar semalam. Di ruangan yang berbeda dengan ruangan tempat Ny. Alice beristirahat, mereka berbicara enam mata.
" Lucas, sudah mengetahui semua ini. Namun, dia tetap memintaku untuk melakukan pernikahan yang penuh dengan pura-pura itu. " Jelas Helena saat itu. Dengan suara terbata-bata dan rasa malu yang menggerogoti dada, kala aibnya telah diketahui oleh keluarga dari lelaki yang mulai saat ini berperan sebagai suaminya
" Dia-- sama sekali tidak menjelaskan alasannya padaku. Aku samasekali tidak tahu apa alasannya. Yang aku tahu-- sedari dulu, dia memang tidak pernah bisa mencintaiku dan akupun menerimanya. Jadi-- semenjak itu kita telah bersepakat untuk menjalin persahabatan saja. " Lanjutnya dengan suara pelan dan lirih. Kepalanya menunduk dengan jemari tangan yang saling bertautan.
" Kita-- memang bertunangan. Tapi kita samasekali tidak pernah berhubungan yang lebih dari sekedar persahabatan semata. " Lanjutnya lagi.
" Maafkan aku, Kak. Aku tidak tahu akhirnya akan seperti ini. Saat aku tahu ayah dan ibu berencana untuk mempercepat tanggal pernikahan kami, sebenarnya saat itu aku ingin menolaknya, mengingat kondisiku sekarang yang-- " Wajah Helena memerah dan mendadak terisak saat itu, namun dengan cepat dia tepis segera.
" Dan-- juga mengingat perasaan Lucas yang tidak pernah mencintaiku, jujur-- aku sangat kaget, saat Lucas tiba-tiba mengajakku untuk bertemu dan terjadilah kesepakatan itu. Saat itu, aku hanya merasa terbantu karenanya. " Lanjut Helena lagi putus asa, mendadak mengingat kekasihnya yang belum juga mengetahui kehamilan dirinya.
Arselli dan Alessya hanya bisa menghela nafas berat setelah mendengar penjelasan itu.
" Aku-- hanya bisa pasrah dengan .. "
" Cukup !! " Ucapan Helena mendadak terputus. Kala suara seorang lelaki dengan begitu tegas menginterupsi. Helena mendongak seketika, menoleh ke sumber suara. Begitupun Arselli dan Alessya. Mendapati si pemilik suara yang kini berjalan mendekat dengan rahang yang terlihat mengeras. Lucas, ya dialah orangnya.
Lucas lalu meraih tangan Helena. Menariknya cukup keras hingga Helena meringis lalu refleks ikut berdiri seiring tarikan Lucas tadi.
" Kau tidak perlu menjelaskan semua itu ! Ini adalah urusanku, Helena. " Ucap Lucas kala itu.
" Dan kau-- tidak perlu merasa bersalah atau menjelaskan apapun. " Lanjutnya lagi pada Helena.
Lucas lalu melayangkan tatapan tajam pada kakaknya, Arselli.
.
.
💫 Bersambung ... 💫