
Sama seperti saat ini dia sedang menggempur Celine di bawah shower, keduanya melekat erat di tekannya Celine di dinding kamar mandi dengan kakinya diangkatnya satu sedangkan tangannya Celine berpegangan pada lehernya Ambressio. Lelaki itu langsung melesat ke intinya tampa pemanasan seperti biasanya, dan tampa mencumbui nya. Ambressio masih kesal karena pengaruh obat itu masih ditubuhnya. Dia mempercepat irama nya agar cepat mencapai puncak kenikmatan. Setelah pelepasan pertama dia terdiam sesaat, lalu bergerak lagi hingga mencapai organisme masih belum puas menyatukan lagi lewat belakang Celine berpegangan pada wastafel tubuhnya luruh setelah pelepasannya berkali-kali karena serangan itu. Ambressio langsung membersihkan diri tampa memperdulikannya dia keluar dari kamar mandi dengan handuk sepinggang. Duduk di sofa dengan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ranjangnya masih berantakan karena pergulatan panas yang mereka lakukan semalaman. Dia sudah meminta cleaning servis hotel untuk membersihkan kamar dan mengganti seprai baru, Ambressio hanya duduk di balkon dengan bertelanjang dada dengan handuk sepinggang ia makan makan dan minuman nya yang sudah dipesannya tadi karena dia butuhkan asupan untuk memudahkan tenaga yang sudah ia kerahkan. Dia tidak peduli cleaning servis membersihkan kamarnya. Saatnya membuat perhitungan dengan dia batinnya. Ia sudah bercinta dengannya selama tiga hari ini sungguh membosankan. Dia sama seperti wanita bayaran yang disewanya, pikirnya. Celine muncul dengan berbalut bathrob duduk di hadapannya. "Dia sudah menikah dengan lelaki berpengaruh di kota LN dan lelakinya begitu posesif". Katanya dengan duduk dihadapannya Ambressio dengan sedikit pose menggoda dengan mempertontonkan organ tubuh nya yang terlihat sana-sini. Dia sengaja tidak mengikat erat kaitannya. "Apakah pernikahan itu sah menurut hukum?" Lanjutnya bertanya. Ambressio hanya diam menatapnya tajam, merasa tidak puas terhadap sikapnya Ambressio Celine Cartwright memberikan map coklat yang dibawanya sedari tadi. Secepat kilat Ambressio membukanya dan menarik foto-foto, foto-fotonya Cindy yang menunjukkan kegiatannya, nampak Cindy dengan manja menerima ciuman dan suapan dari lelaki itu saat makan di restoran, berbagai macam pose yang menunjukkan keintiman dan kedekatan nya pada lelaki itu. Ambressio mengenali siapa orang itu. Stuart. Matanya membulat menatap foto anak-anak dua diperkirakan berusia sama dan yang satu berusia tujuh tahun nan serta seorang anak laki-laki balita Mereka memiliki anak? Tentu saja ini sudah tujuh tahun rahangnya Ambressio mengeras melihat ekspresi wajah sang istri yang dirindukan nya.
Dilempar ke meja foto-fotonya, ia menatap Celine Cartwright " Kurasa transaksi yang kita lakukan sudah selesai. " Katanya. Lelaki itu hendak berdiri namun dihalangi kakinya Celine bahkan dengan gerakan murahannya ia menggodanya. "Tidak ada bonus tambahan?" Tawarnya manja. Lelaki itu menyeringai ," Mhmm?" Ambressio menarik tangannya dan membawa masuk ke kamarnya Celine tertawa senang "Kau yang diatasnya puaskan dirimu! Terima atau tidak terserah kamu!" Celine mencium bibir Ambressio " Tentu bercinta adalah kesenangan yang kusukai." Ambressio melepaskan handuk lalu tiduran terlentang dalam keadaan polos Celine Cartwright langsung mencumbui dari pusat intinya Ambressio dan lelaki itu hanya memperhatikan gerak-gerik Celine yang berusaha membangkitkan gairah Ambressio. Bahkan saat organ intim wanita itu berdenyut meminta lebih, ia pun masih tak mau bergerak Celine merengek meminta Ambressio menyentuh nya ia hanya tersenyum tipis tak menghiraukannya. Akhirnya dia yang bergerak sendirian diatas tubuh Ambressio hingga pelepasan keduanya. Celine kesal dibuatnya tubuhnya benar-benar kecapekan lunglai iris matanya menatap Ambressio, sedangkan lelaki itu hanya berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan jejak sisanya mereka bercinta. Dengan sangat santai ia kenakan pakaian yang sama saat dia datang mengambil foto-foto itu dan keluar dari kamarnya Celine sendiri sudah terlelap karena kecapekan akibat terkuras tenaganya.
Ambressio menatap gedung bertingkat dihadapan nya tampa ragu dia melangkah ke lobby dan menanyakan keberadaan dari Stuart Weitzman, Sebelumnya dia ke sekolah dan butiknya Cindy, wanita itu tidak ada sudah tiga bulan lalu tepatnya terakhirnya dia datang ke tempat itu. Dua orang resepsionis menyambut nya dan mempersilakan dia masuk saat Ambressio memperkenalkan dirinya, wanita cantik itu mengantarkan ke ruangan CEO nya. Di depan pintu ruangan CEO sudah berdiri sang sekretaris menyambut kedatangannya dan mempersilakan masuk kedalamnya.
"Selama datang di tempatku yang kecil ini tuan Cassiedy." Sambut Stuart Weitzman dengan merentangkan kedua tangannya dengan pongah, ada rasa muak dan marah di dadanya Ambressio tampa basa-basi ia merogoh amplop coklat dan melemparkannya ke arahnya. Lelaki itu dengan cepat menangkapnya. Perlahan dibukanya dengan seringai licik dia merendahkan Ambressio. "Akulah yang membawa kabur istrimu itu memang benar adanya." Jawabnya nada yang mengejeknya. Bug. Bug. Pukulan demi pukulan ia tujukan pada Stuart Weitzman karena amarah yang tidak bisa di bendung lagi. Tidak berapa lama kemudian sebuah suara teriakan menghentikan langkahnya. " Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memukuli suamiku", Cindy menghambur memeluk tubuh Stuart, Ambressio mematung menatap ke arah Cindy. Wanita itu menoleh ke arah yang memukuli suaminya dan matanya terbelalak menatap ke arah Ambressio. "Kau...?" Cindy gugub dan terkejut. "Sweetie.." Suara seraknya Ambressio mencoba mendekati Cindy. Wanita cantik itu mundur dan bersembunyi di balik tubuh Stuart. "Pergilah tak ada gunanya kau datang ke sini!" Teriaknya.
"Kita harus bicara sweetie tentang keluarga kita. Anak-anak kita dan.." Belum selesai ia berkata sudah dipotong Cindy.
"Mereka anak-anak ku. Kau yang meninggalkan aku ingat? Kau berselingkuh entah sudah berapa kali kau lakukan itu!" Teriaknya.
"Swetie dengarkan. Seseorang sudah membuat skenario dan.."
"Ha...ha .. Skenario ? Dan tiba-tiba saja kau sudah berada di night Club lalu wanita itu yang meniduri mu begitu? Nyatanya kau menikmatinya setiap pergerakannya. Ada di vidionya yang lainnya apa kau masih menyangkalnya?" sakars Cindy meringsek maju emosional. Ambressio melupakan bukti-buktinya bahwa dia memang bermain dengan para wanita bayarannya. Dipejamkankan matanya lalu ia mencoba untuk merayunya lagi. " Swetie dengar ada sesuatu yang tidak kamu ketahui .."
"Aku tak mau mendengarkan pergilah!" hardiknya ketus. Stuart tersenyum mengejek dengan kedua tangannya merengkuh tubuh Cindy dan mengecupi ceruknya lalu menatap Ambressio. Ambressio sendiri menatapnya nyalang. "Kalian sudah resmi bercerai pada saat kecelakaan itu. Kau menandatangani persetujuan perceraian itu, alasannya perceraian itu adalah tidak adanya kecocokan antara kalian. Sekretaris mu? Cobalah kau bertanya kepada nya! Pada saat itu aku hanya seorang pria yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Wajarlah jikalau ku lakukan semua untuknya." Jelas Stuart Weitzman dengan tenang.
"Kau memanfaatkannya! Bahkan kamu dapat melihat celah-celah kelemahan di keluarga Cassiedy." Tuduh Ambressio.
"Salah satunya kesalahan yang kamu lakukan adalah kamu tidak pernah mempercayai pasangan Anda dan dirimu yang selalu merasa benar sendiri." Kata Stuart datar mencoba untuk menegaskan. Di raihlah pinggulnya Cindy dan dituntun duduk di sofa diikuti Ambressio. Stuart menciumi tangan seraya mengelus pipinya Cindy mencoba menenangkan wanitanya. Ambressio menatap cemburu. Kenapa dengan mudahnya kamu melupakan cinta kita sweetie, batinnya.
"Anak-anak hanya mengetahui Stuart daddy nya. Aku mohon jangan katakan apapun pada mereka, kau boleh menemuinya namun jangan pernah katakan kau ayah biologisnya, aku tak memiliki kenangan apapun dari mu! Karena aku benci kalian. Kalian anggap aku hanya mesin pemuas dan pencetak anak. Asal kau tahu saja aku sudah mencurigai mu sebelumnya dan kecelakaan itu hanya kebetulan saja!" Panjang lebar Cindy berbicara.
Ambressio menatap dengan wajah yang tak terbaca, shock. Perasaannya sakit bagaimana bisa dia menganggap dirinya seperti itu? Begitu burukkah dirinya memperlakukan wanita cantik ini sehingga dia menganggap dirinya seperti itu. Padahal dia bertindak hati-hati agar tidak melukai hati dan perasaan nya.
"Sweetie... Kau mengetahui bagaimana cara kita menikah? Dan waktu itu aku sedang investigasi kasus police asuransi yang bernilai ratusan juta. Dan itu berkaitan dengan orangtuamu Sweetie. Saat itu aku marah dengan cara Kyeowook Cartwright yang sengaja melakukan sabotase pada kendaraan orangtuamu. Aku menemukan bukti-bukti itu. Aku pergi ke Club untuk melampiaskan amarahku Sweetie." Jelasnya menatapnya memohon kepada Cindy. Wanita itu hanya menatap datar.
"Lanjutkan." katanya.
" Mereka sudah mengatur perekaman dan memanggilmu beserta penculikan anak-anak. Mereka sengaja melakukan itu, semua karena uang." bebernya.
"Tapi kau menikmatinya kan? Kau dan wanita mu?" sakars Cindy.
"Sweetie.. setiap lelaki normal pasti melakukan itu." Ambressio mencoba memberikan pembelaan. Cindy tertawa kecil.
"Kau sama dengan kakakmu. Kalian sama brengsek hanya itulah yang dapat ku katakan!"
"Sweetie.. Cobalah untuk memahami permasalahan ini." Ambressio mengeram gemas.
"Mengenai orangtuaku adalah sudah takdirnya meninggal dunia karena itu, aku sudah menerima kenyataan ini. Dan tentang uang police asuransi aku tak peduli karena aku tak memiliki itu. Dan kenyataan adalah kau bermain dengan wanita bayaran. Selingkuh." katanya penuh tekanan amarah. Lagi-lagi Stuart mengelus lengannya Cindy dan Ambressio menatap tingkahnya itu merasakan kesal.
"Bagaimana dengan anak-anak?" tanyanya.
"Kau dapat melihat di suratnya", Stuart menyela pembicaraan mereka. Lelaki itu dengan penuh kemenangan menatap Ambressio yang penuh dengan rasa kekesalan dan amarah.
"Kamu boleh menemuinya hanya dirumah kami. Namun jangan berharap aku ijinkan kau mengekspos siapa dirimu. Kita katakan setelah mereka berumur 17th. Apa kau mengerti?" ujarnya sambil tersenyum menyeringai menatap ke Ambressio yang masih menahan emosi.
"Sweetie ini tidak adil, setidaknya kau harus memberikan aku pembelaan dan kesempatan untuk semua. Kenapa kau langsung berbuat seekstrim ini? Apakah dia sudah mempengaruhi mu?" cecar Ambressio.
"Stuart tidak berkaitan dengan hal tersebut. Keputusan ini aku yang melakukan nya. Kau yang bersalah janganlah kau timpahkan pada orang lain." Sanggahnya.
Ambressio hanya bisa pasrah dengan semuanya. Dia berdiri dan meninggalkan tempatnya belum sampai ke pintu. " Aku harap ini terakhir kita bertemu. Kuharap kau menikah saja dengan orang lain dan memiliki anak lain. Biarkan mereka tumbuh tampa terlibat dalam kericuhan di keluarga kalian." Seru Cindy. Ambressio hanya memejamkan mata merasakan sesak dada nya. Sedemikian besarnya kau membenciku, batinnya.
Ternyata kepergian Ambressio diketahui Reynald lelaki itu menatap adiknya dengan kesal. Disinilah mereka berdiri berhadapan terdiam di dalam kamar yang sewanya di hotel mewah kota LN. "Apakah kaliyan sudah bertemu? Bagaimana sudah puas melakukan semuanya?" tanya nya memulai bicara.
"Dia membenci kita. Dia marah, amat sangat marah." Jawabnya sedih.
"Kau selalu membuat masalah dan selalu mengacaukan semuanya." amuk Reynald.
"Apa aku harus berdiam diri sementara dia di luar sana bersama dengan orang lain?" teriaknya kesal.
"Lantas kenapa ? Kenyataan memang mereka sudah menikah" jawab Reynald.
"Aku akan membawanya kembali." Kata Ambressio.
"Jangan gegabah. Anak-anak taruhannya! Mereka sangat penting bagi Cindy. Lupakanlah dan jalani hidupmu dengan cara yang baik." Reynald menyarankan.
"Mudahnya kau tinggal berbicara seperti itu!", Ambressio hanya mencebik.
"Aku sudah mengalaminya ingat?" Nasehatnya ia pun berlalu. Keluar dari kamarnya Ambressio. Ambressio hanya merebahkan diri di kasurnya dan teringat semua kata-kata Cindy diusap wajah nya dengan kasar. Maafkan aku sweetie, semuanya kulakukan agar kau tidak terluka lagi, bisiknya tak terasa air matanya menetes. Penyesalan yang mendalam dan lukanya tersayat lagi tampa berdarah.
Keesokan harinya Reynald mencoba menemui Stuart di kantor namun lelaki itu tidak datang ke kantor nya, namun sang resepsionis memberikan informasi bahwa dirinya dapat bertemu dengannya di mansion. Sopir perusahaan mengantarkan hingga ke mansion milik Stuart. Reynald sudah menyelidikinya siapa Stuart Weitzman, lelaki itu hampir sama dengan Ambressio bahkan lebih kejam lagi. Bisa disebut mafia bisnis berdarah dingin.
Reynald berjalan mengikuti pelayan mansion Stuart menuju ke halaman samping kanan mansion yakni kolam renang dengan gazebo dan hiasan taman. Stuart sedang berenang bersama kedua anaknya, seorang balita dan gadis cilik. Gadis cilik cantik itu mirip dengan Sarah. Cantiknya batin Reynald. Stuart melihatnya ia mengajak anak-anak berhenti berenang mereka pun keluar dari kolam renang. "Kau sudah tahu? Apakah kamu akan memaksakan kehendak sama seperti adikmu?" tanya Stuart menatap tajam Reynald, namun tangannya membelai rambutnya Isabella dengan handuknya. Sedangkan si kecil langsung di lilitkan handuknya yang besar.
"Temannya bisnis Daddy? " tanya Isabella.
"Mhmm, ya sayang. Pergilah ke atas ganti baju lalu bilang ke mom untuk membawakan teh ke sini." titahnya. Gadis cilik itu berlari menuju ke dalamnya mansion.
Sedangkan balita laki-laki dia angkat dan dalam dekapannya. "Silahkan" Mereka berjalan duduk di bangku taman disisinya kolam renang. "Dia putraku Shawn Weitzman. Baru tiga tahun usianya. Cindy yang berinisiatif memberikan keturunan untuk aku. Aku tak keberatan membesarkan anak-anak kalian. Dia yang memberikan kabar gembira kehamilan ini. Aku melihatnya menderita saatnya dia melahirkan Isabella, kelahiran nya normal, jadi aku tak mau memaksakan kehendak anak padanya." Katanya Stuart dengan memandang Reynald, lelaki ini mengetahui sifatnya Reynald yang lebih bijaksana daripada Ambressio. Reynald memandang wajah Stuart yang sungguh-sungguh menemukan rasa cintanya pada Cindy. Reynald menunduk rasa bersalah atas semua kejadian itu menghinggapinya.
"Honey ada tamu siapa?" Sebuah suara membuat mereka menoleh ke arah Cindy. Wanita cantik itu berhenti berjalan. Hening.