Love

Love
Chapter 80 - Salah Paham



Meera meninggalkan Lucas duduk sendiri di kafe itu. Meningglkan Lucas yang saat itu dipenuhi dengan kehampaan dan sesak yang terasa menyiksa dan begitu jelas terlihat pada raut wajahnya yang menunjukkan sebuah keputus asaan yang begitu mendalam.


Keraguan melanda hati Meera, haruskah dia sekejam itu. Mengingat dulu Lucas bahkan menerima dirinya dengan begitu terbuka dan lapang dada, saat dirinya begitu ternoda. Sedangkan dirinya, tak bisa menerima Lucas begitu saja dengan statusnya, sementara lelaki itu telah menjelaskan situasi sebenarnya yang telah dialaminya, tidak adilkah dia ?


Berfikir cukup lama, akhirnya Meera berbalik ke arah dimana Lucas masih terduduk tadi. Namun, hatinya kecewa. Kala menyadari, ternyata Lucas sudah tidak ada di sana.




Lucas, air matanya luruh saat itu juga. Bagaimana tidak, pertemuan itu adalah pertemuan yang sangat diharapkan olehnya. Setelah tujuh bulan lamanya menunggu dan mencari keberadaan Meera yang menghilang dan pergi. Namun, semuanya seakan sirna begitu saja, diterjang sapu gelombang kala Meera memutuskan untuk berpisah dengannya.


Apakah cintanya tiduk cukup besar, hingga Meera berfikir bahwa dirinya telah berkhianat. Bukankah alasan yang diberikan cukup kuat, Lucas bukan melakukannya secara disengaja untuk menyakiti Meera, melainkan justru untuk melindungi diri Meera saat itu.


Argh, Lucas benar-benar dibuat pusing karenanya. Mungkin, mereka hanya butuh waktu untuk berfikir dan merenung sejenak, Meera hanya butuh waktu untuk memaafkannya.


Bergegas Lucas pergi, berjalan menuju teras balkon lantai empat rumah sakit itu. Sekedar untuk mencari angin segar guna menenangkan fikiran dan menghisap rokok melampiaskan tekanan di fikirannya yang mendadak terasa penat.


Fiuuuhhh


Asap rokok terbang ke udara, keluar dari lubang hidung dan mulut Lucas. Dia begitu menikmatinya saat itu. Saat stress melanda, benda itu cukup membantunya. Tak memperdulikan resiko buruk yang akan ditimbulkan untuk kesehatan tubuhnya.


Dering ponsel tiba-tiba berbunyi cukup nyaring. Mengagetkan Lucas yang sedang terbawa lamunan saat itu. Bergegas merogoh saku untuk mengambilnya, namun ..


Brakkk


Tanpa di sengaja, ponsel itu jatuh ke sisi pagar balkon bagian luar. Dan sialnya, posisinya di bawah, cukup jauh untuk dijangkau oleh tangannya.


Siall !!!


Bagi Lucas, ponsel mahal itu bukanlah masalah. Dia bisa membelinya lagi dengan begitu mudah. Hanya saja, dia cukup panik tadi, kala melihat nama yang muncul di layar ponselnya adalah nama salah satu rekan bisnis pentingnya.


Ponsel itu tidak mati, dan dering panggilan masuk masih terus berbunyi. Bagaimana ini ?


Akhirnya, dengan terpaksa Lucas menaiki pagar balkon yang cukup tinggi itu. Bermaksud untuk naik ke sana, lalu turun dengan berpegangan pada pagar besi yang ada di sana dengan sebelah tangannya, dia akan mengambil ponsel itu dengan salah satu tangannya lagi yang bebas.


Namun, tiba-tiba ...


" Lucas !!! Apa yang akan kau lakukan ?!! " Saat itu Lucas sudah hampir berada di atas pagar. Tersontak kaget kala seorang perempuan berteriak cukup histeris padanya.


" Apa kau akan bunuh diri ?!! " Teriak perempuan itu, yang ternyata adalah Meera. Setengah berlari dia menghampiri Lucas yang hampir berdiri di atas pagar. Air matanya luruh, dan bibirnya juga bergetar.


" Lucas !! Apa kau akan bunuh diri ?!! " Marah Meera saat itu. Dia memegang kaki lucas yang masih bisa dijangkau olehnya. Menahan kaki itu dengan memeluknya, bermaksud untuk menahannya agar Lucas tidak benar-benar lepas kendali, dan lompat ke bawah saat itu.


Lucas, wajahnya pucat pasi saat itu. Tersontak dan mengerjap kaget dengan apa yang didengarnya baru saja. Bunuh diri ? Siapa yang akan melakukannya ? Seraya menunduk melirik ke arah ponselnya yang kini sudah tidak berbunyi lagi, syukurlah.


Karena ada Meera di sini yang tengah menahannya, mungkin dia akan menyuruh Vincent untuk mengambilnya nanti.


Sh*** !! Kemana dia dari tadi ?




Lucas sudah di bawah sekarang, setelah Meera membantu, lebih tepatnya memaksanya turun dari atas pagar.


" Kau gila, Lucas !! " Hardik Meera saat itu. Dadanya terlihat naik turun. Mungkin karena kaget, histeris dan emosi bercampur menjadi satu.


Emh ???


Lucas hanya terdiam dengan seulas senyuman di ujung bibirnya. Hatinya menghangat bahagia, ternyata Meera masih memiliki sedikit perhatian padanya.


" Jangan pernah lakukan itu lagi !! Aku mohon, Lucas. Aku bisa gila karenanya. " Cerocos Meera lagi terlihat masih begitu panik. Tangannya mencengkram kuat lengan Lucas yang kini tengah berdiri tepat di hadapannya.


Mendengar itu, Lucas langsung menarik Meera kuat, membawanya segera dalam pelukannya erat.


" Kau harus berjanji Lucas, berjanji ! Jangan pernah berniat sedikitpun untuk melakukan hal itu lagi ! " Sembari mengeratkan pelukannya dengan begitu kuat, tak henti Meera menatap wajah Lucas dengan tatapan sendunya. Bibirnya tak berhenti bicara dari wejangan-wejangan yang terlontar dari sana.


Jadi, jika aku tidak di sampingmu maka kau tidak akan baik-baik saja, dan akan tetap melakukannya ?


Apakah ini pertanda mereka sudah baikan kembali ? Mungkin saja.


********


Saat itu, seusai berbicara yang cukup lama dan dramatis di balkon tadi, mereka akhirnya memutuskan untuk berbaikan, Meera urung dengan keputusannya untuk berpisah, setidaknya untuk sementara-- sampai dia yakin Lucas tidak akan nekad untuk bunuh diri lagi.


Meera akhirnya memutuskan untuk mengenalkan Lucas pada mamanya, sekaligus mempertemukan Lucas dengan putrinya.


Berjalan beriringan dengan begitu antusias. Hingga tanpa sadar, saking terlalu semangat, langkah Meera terlalu besar dan cepat, hingga meninggalkan Lucas yang berhenti sejenak di satu tempat. Sepertinya, dia akan meminta tolong pada salah satu petugas di sana, untuk mengambilkan ponselnya yang jatuh tadi.


Meera, senyuman yang seulas terbit di bibirnya perlahan sirna. Memudar seketika setelah melihat Helena. Yang kini tengah berdiri tepat di samping sang mama, dr. Amanda.


" Sayang ! " Panggil Helena pada Lucas tiba-tiba.


Saat itu Lucas berjalan masih tertinggal cukup jauh di belakang Meera.


Dueerrrrrr !!!


Meera yang mendengar panggilan itu diam terpaku dan membisu.


Panggilan itu terdengar begitu mesra di telinga Meera, cukup mencubit hatinya yang sedari awal sudah terluka.


" Sayang ! " Sembari mengangkat sebelah tangannya dan melambai-lambaikannya ke arah Lucas.


" Kau datang ke sini ? " Panggil Helena lagi.


Helena, mendadak hatinya menghangat kala tiba-tiba melihat Lucas saat itu. Hormon kehamilan membuat dirinya begitu sensitif dan merindukan perhatian dari seseorang. Lucas yang sebenarnya sudah berstatus resmi sebagai suaminya, jujur Helena sedikit mengharapkannya. Dan melihat Lucas ada di sana, salahkah Helena mengira Lucas mulai memperhatikan dirinya, menerima keberadaannya sebagai istrinya ?


" Itu-- suamiku, dokter. " Helena menunjuk dan memperkenalkan suaminya pada dr. Amanda yang akan memeriksa kandungannya.


" Oh-- itu, benarkah ? Tampan sekali. " Sambut dr. Amanda hangat. Sembari melayangkan sedikit pujian, demi menyenangkan hati sang pasien.


Masih belum menyadari sepenuhnya kehadiran sang putri, Meera dengan wajah yang sudah ditekuk. Tadi-- pandangan dr. Amanda langsung tertuju pada lelaki tampan yang berjalan di belakang seseorang.


Seseorang ? Akhirnya dr. Amanda tersadar dan teringat.


" Sayang ... " Sapa lembut dr. Amanda pada Meera yang kini sudah berdiri di hadapannya.


Walaupun ragu, Lucas terus berjalan mendekat, mau tidak mau. Walaupun sedikit tersentak kaget tadi, kala melihat Helena tiba-tiba ada di sana.


Dan apa maksudnya tadi, sayang ? Tidak seperti biasanya Helena memanggilnya seperti itu. Dan sungguh kebetulan sekali bukan, sangat tidak diharapkan di waktu yang tidak tepat.


Apalagi disaat moment penting seperti saat ini, saat pertama kali bertemu dengan sang istri, Ameera, setelah berpisah beberapa bulan lamanya. Dan tepat setelah moment pertengkaran di kafe tadi.


Dan jantung Lucas mendadak terasa berdetak begitu cepat, tak beraturan. Kala melihat dan mendengar sang dokter memanggil sayang pada istrinya.


Sayang ? Lucas cukup pintar, otaknya bergerak cepat. Dengan singkat dia menyimpulkan setelah beberapa detik lalu sempat melirik ke arah perut Helena yang besar.


Sial !


Pertemuan pertama, kesan pertama dirinya di depan sang ibu mertua harus ternodai dengan situasi ini. Ternyata dokter kandungan yang menangani kehamilan Helena adalah dr. Amanda. Dan seperti yang sudah dia ketahui sebelumnya, dr. Amanda adalah mamanya Meera, itu berarti mama mertuanya juga. Dan kini ada tepat di hadapannya.


Pusing ! Kenyataan di depan matanya kini adalah sebuah realita. Kenyataan tidaklah bisa dirubah. Seperti saat ini, situasi ini, tak bisa dirubah atau diulang kembali untuk diperbaiki.


Kesan pertama sebagai seorang menantu, pasti akan jelek sekali.




💫 Bersambung ... 💫


Jangan lupa like, rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan coment ya ...