Love

Love
- Aneh



Tidak seperti hari biasanya, kali ini kehamilan Meera mulai menunjukkan hal yang berbeda. Jika di kehamilan pertama saat mengandung Nara dulu samasekali tidak ada masalah baik mual atau ngidam, berbeda dengan kehamilan Meera kali ini.


Awal-awal kemarin sama sekali tidak ada keluhan, namun pagi ini mual dan pusing mulai datang mendera.


" Kau yakin tidak apa-apa ? " Tanya Lucas perhatian. Sembari memijit pelan punggung istrinya.


" Hmm. " Meera mengangguk pelan dengan wajah yang terlihat pucat dan tubuh yang lemas. Dia bahkan hanya berbaring saja saat itu. Di atas ranjang, di balik selimutnya, sembari meringkuk, dan menutup hidungnya dengan ujung selimutnya.


Tangan Lucas bergerak menyentuh kening istrinya itu. " Bagaimana jika memanggil Mama ? " Saran Lucas, untuk memanggil dr. Amanda.


" Tidak ! Aku hanya ingin tidur, Sayang .. " Jawabnya lemah dan lirih, sudah memejamkan matanya begitu saja, Lucas yang melihatnya langsung panik seketika.


Bergegas mengambil ponsel, Lucas lalu menghubungi ibu mertuanya untuk melihat kondisi Meera.


" Kondisinya sangat lemah. " Jelas sang ibu mertua.


" Sepertinya dia kekurangan asupan gizi. " Tidak bermaksud menghakimi Lucas, dr. Amanda tahu Meera cukup ngeyel untuk makan, apalagi dengan kondisi mual yang dialami tubuhnya kini.


Lucas mengernyitkan dahinya, melirik ke arah istrinya dengan sorot mata tajam. Lucas cukup tahu akhir-akhir ini istrinya itu memang sangat sulit untuk makan. Selain karena mual yang mendera, dan muntah apabila ada makanan yang masuk ke dalam lambungnya. Permintaan makanan yang Meera inginkan pun cukup aneh dengan ekspektasi akan membuat Meera lahap, namun nyatanya hanya cukup dipandang saja.


" Lalu, bagaimana sebaiknya ? " Tanya Lucas meminta pendapat.


" Mama akan memasang infus untuknya. Dan mama akan mengirim seorang perawat untuk merawatnya beberapa hari ini. " Jelas dr. Amanda saat itu. Sebenarnya dia sangat ingin merawat putrinya itu. Namun, kesibukan di rumah sakit benar-benar menghalanginya. Belum lagi menjaga perasaan sang menantu khawatir merasa canggung karena kehadirannya. Mungkin, sesekali dia akan datang untuk melihat kondisi putrinya itu.


" Kau jagalah dia, mama percayakan dia padamu. " Ucap Amanda tenang, menenangkan, sembari melangkah berjalan setelah sebelumnya mengecup kening putrinya itu.


" Oh iya ! " dr. Amanda tiba-tiba berbalik.


Lucas yang melangkah di belakangnya pun repleks ikut berhenti.


" Untuk sementara ... " Tampak ragu.


" Ehem !! " Berdehem untuk menetralisir keraguannya saat itu.


" Untuk sementara-- jangan melakukan hubungan suami istri dulu. " Sembari terkekeh. Menepuk pelan lengan atas menantunya itu. Lalu pergi meninggalkan Lucas sendiri yang kini mematung meratapi diri. Oh No !!




Bukan hanya itu, emosi Meera pun terlihat begitu tidak stabil. Sering marah-marah tidak jelas dan terlihat begitu membenci Lucas, dengan alasan bau atau apalah-apalah.


Beberapa hari kemarin, Lucas bahkan tidur di sofa karena Meera tak ingin seranjang dengannya. Dan bila Lucas memaksa, maka Meera mengancam akan pindah ke kamar Nara.


Lucas terpaksa mengalah, daripada ditinggal sendiri di kamarnya, Lucas lebih memilih tidur sekamar berdua, walau di tempat yang berbeda. Dan kini Meera terlelap nyaman di atas ranjang, sementara Lucas di atas sofa terlihat gundah gelisah.


Malam itu ...


Tiba-tiba Meera menangis terisak di balik selimutnya. Lucas yang tengah berbaring di atas sofa beringsut bangun kala mendengarnya. Lalu menghampiri istrinya itu.


" Sayang, kau kenapa ? " Merasa cemas Lucas mendekap istrinya itu. Mengelus rambutnya dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.


" Tidak ! Aku tidak apa-apa. " Menunduk menghindari tatapan dari suaminya. Dia berbohong saat itu.


" Kau yakin ? " Sembari mengerutkan dahi, apakah hormon kehamilan Meera separah ini, tiba-tiba menangis karena alasan yang tidak jelas.


Meera hanya terdiam saat itu, tak menjawab. Setelah beberapa lama akhirnya Lucas bangun dari posisinya, melepaskan dekapannya terhadap istrinya itu.


" Baiklah ! Kalau begitu aku akan tidur dulu. Besok pagi ada meeting penting, aku harus berangkat pagi sekali " Jelas Lucas seraya mengecup kening sang istri. " Tidurlah, hmm. Aku mencintaimu. " Ucapnya lirih saat itu. Bergegas berjalan menuju sofa.


Lucas refleks menoleh, membalikkan badannya. " Hmm ? " Mengangkat kedua alisnya. " Apa maksudmu ? " Mengernyit heran.


" Aku-- pasti jelek sekali kan saat ini. Apalagi ini adalah kehamilan keduaku. " Ucap Meera menunduk terdengar ragu dan terbata.


Lucas bergegas menghampiri istrinya, memegang kedua bahu Meera dengan kedua tangannya. " Jelaskan padaku ? "


" Ya itu, tadi. Ish ! Masa kau tidak mendengarnya. " Jawab Meera mendelik, berpaling dari tatapan penuh tanya suaminya. Menghempas tangan Lucas di tubuhnya.


" Siapa yang bilang kau jelek ? " Dengan raut wajah yang begitu serius.


" Lalu-- " Meera menatap Lucas, lalu menunduk lagi, jarinya saling bertautan saat itu, menghilangkan rasa gugup dan malu di dalam diri.


" Lalu apa ?!! " Meraih dagu Meera untuk menatap dan ditatapnya dengan jelas.


" Lalu-- mengapa kau tidak pernah menyentuhku ? Bahkan kau sampai tidur di sofa, karena tidak ingin tidur seranjang denganku. " Jawab Meera tertunduk malu, dengan wajah yang kini terlihat merona.


" Eh ????????? " Lucas menatap Meera heran.


Kemarin-kemarin, siapa ya yang marah-marah karena tidak ingin disentuh olehnya. Terus siapa juga yang mengancam pindah kamar ketika Lucas ikut berbaring di ranjang bersama Meera.


****


Keanehan tidak sampai di situ saja. Contohnya seperti hari ini.


Siang itu ...


Lucas tiba-tiba pulang dari kantornya. Tepat setelah mendapat telfon dari Meera yang menyuruhnya pulang dengan segera.


Dengan panik Lucas bergegas pulang, dan apa yang ia dapatkan ? Sungguh di luar dugaannya.


" Sayang ?!! " Lucas terlihat panik saat itu.


" Ada apa ? " Mengira sesuatu hal yang buruk telah terjadi pada istri dan kandungannya itu.


" Ahh ... Sayang, kau pulang ? " Respon Meera saat itu, dengan begitu santainya.


Lagi-lagi Lucas mengernyitkan dahinya heran.


" Bukankah tadi kau menelfonku ?! "


" Oh itu ... !! Tadi aku ingin memakan salad buah kesukaanku, untunglah ternyata aku bisa memesan online. " Jelas Meera datar tanpa merasa bersalah sedikitpun. Sembari memakan salad buah favoritnya itu.


" Kau mau ? Sepertinya bayi kita sudah kenyang. " Menyodorkan piring berisi salad buah tadi, sembari mengelus perutnya yang katanya sudah kenyang itu.


Jangan tanya reaksi Lucas saat itu. Kesal ? Tentu saja. Saat pergi tadi, dia bahkan terpaksa meninggalkan meeting penting di perusahaannya. Mengira sesuatu yang buruk terjadi padi istri dan calon bayinya.


Menatap tatapan tajam Lucas. Meera terdiam, lalu menunduk dalam. " A--pa kau marah ? " Tanyanya mulai terisak. " Maaf !! " Ucap Meera lirih. Sedikit tersadar, manjanya kali ini terlalu berlebihan. Entahlah, perasaannya saat itu, begitu sulit untuk dikendalikan.


" Sudahlah ! " Sembari memijit pelipisnya. Menghempas tubuhnya ke atas sofa. Lalu berlalu pergi dari sana setelah beberapa lama.


Meera hanya terdiam saat itu, menatap nanar kepergian suaminya. Dengan rasa bersalah yang menyesak di rongga dada.


Namun, perlahan rasa sesak itu sirna. Karena selang beberapa lama kemudian, Lucas kembali datang, sembari berjalan cepat tersenyum menghampirinya.


" Tidak apa-apa, aku mengerti ! " Ucapnya saat itu, lalu mengecup kening Meera dengan begitu mesra. " Tetaplah sehat, hmm !! " Mengelus punggung istrinya lembut. Lalu berjalan pergi untuk kembali ke perusahaannya.