
Berdua, menatap hamparan kolam di samping restoran, sungguh di luar rencana. Apalagi bagi Lucas, sang pengusaha sukses dan sibuk, samasekali tidak ada tertulis dalam agenda rencana perjalanan bisnisnya.
Rintik gerimis hujan kian kerap, walau begitu, tak kunjung membasahi tubuh mereka. Apalagi bagi seseorang yang kini tengah dilanda panas, Lucas kah ? atau Meera ?
Meera yang sedang hamil pun tak ambil peduli. Walau bagaimanapun nanti, mungkin saja berakibat fatal bagi kesehatan si ibu hamil yang kerap sakit-sakitan karena kadang terlalu kelelahan. Walaupun sebenarnya Meera bukanlah type manja, yang merengek sakit hanya karena kepalanya pusing tersiram tetesan air hujan.
Lucas berdiri dengan gagah dan pongah. Memasukkan kedua tangannya, pada kedua saku celananya.
Sedang Meera, berdiri tidak jauh di belakang Lucas sembari menundukkan kepalanya. Sesekali kedua tangannya saling meremas, kadang mengelus perutnya yang mendadak terasa tegang. Begitu saja, bergantian.
" Bagaimana pernikahanmu, apakah kau merasa bahagia ? " Tanya Lucas tanpa ingin sekalipun menatap Meera. Benci dan cinta terlanjur melebur menjadi satu. Dia takut, saat menatap mata Meera, Lucas ingin membawa Meera pergi ke ujung dunia.
Terdengar helaan nafas pelan namun cukup panjang. Meera jelas bingung harus menjawab apa. Siapa yang menikah ?
" Tentu saja, aku sangat bahagia. " Bohong Meera, sembari tersenyum getir. Tak apa, toh Lucas tak melihatnya.
Cih
Lucas mendelik ke arah semu, ke udara di depannya. Senyumannya tak kalah getir dari Meera, dia benar-benar terpuruk mendengarnya.
Bahkan aku belum menikah, mencari pengganti mu pun belum pernah ..
" Istrimu, sangat cantik. Kau, pasti sangat berbahagia hidup bersamanya. " Komentar Meera, kala mengingat Lucas yang sempat tampil di layar kaca beberapa waktu lalu, bersama seorang wanita cantik nan rupawan.
Mendengarnya, Lucas langsung mengernyitkan dahinya.
Istri ?? Kapan aku menikah ? Baiklah, itu lebih baik ...
" Tentu saja ! Kami sangat bahagia. Kenapa tidak ? Orang lain saja bisa berbahagia, kenapa kami tidak bisa ? " Jawab Lucas berbohong, dengan nada bicara yang begitu sinis.
Kali ini Meera yang mengernyitkan dahinya. Apa maksudnya ?
" Berapa usia kandunganmu ? " Tanya Lucas masih terdengar begitu sinis. Membuat telinga yang mendengarnya terasa begitu meringis.
Walaupun sebenarnya dari hati yang paling dalam, dia bermaksud untuk menunjukkan rasa perhatiannya pada Meera. Namun, karena rasa benci atas cinta yang terabaikan, nada ketus kerap keluar dari bibirnya.
Ngomong-ngomong, saat hamil seperti ini-- Meera, begitu menggemaskan. Sayang-- beribu sayang, itu-- bukan hasil buah cinta kita ...
Lucas lalu berjongkok, mengambil batu kecil, lalu melemparnya kencang ke arah kolam. Berusaha menghempaskan emosi yang terpendam di dalam dada.
" Enam bulan. " Jawab singkat Meera. Dia sedikit memundurkan tubuhnya, ketika melihat Lucas mengambil gerakan ancang-ancang lempar batu itu, bak lempar lembing saja !! Mengambil ancang-ancang nya begitu jauh.
" Emh. " Lucas mengangguk kesal. Mengingat kejadian beberapa bulan lalu, saat mengetahui Meera telah bercinta dengan Vano.
Tok cerr ternyata ! Shitt ! Brengs*k ! S* tan ! Sialan ! Bla ... bla ... bla ...
Lucas merenggut kesal, namun tetap berusaha dia sembunyikan dari Meera.
" Istrimu, apakah ikut ? " Kali ini Meera sedikit memajukan tubuhnya, mendongakkan wajahnya ke arah Lucas, berharap bisa menatap wajah Lucas yang selama ini sangat dia rindukan.
Sepertinya tidak akan ada kesempatan lagi di waktu kedua nanti ... Kita, belum tentu akan berjumpa lagi.
Lucas yang melihat Meera tengah menatap dirinya sembari tersenyum padanya, bergerak gugup, salah tingkah.
" Tentu saja ikut. Kemanapun, kami-- slalu pergi bersama, berdua ! " Bohong Lucas lagi, sembari memalingkan wajahnya dari Meera yang begitu rupawan di matanya.
Aura ibu hamil memang menakjubkan.
Woyyy, istri orang ... sadar ... sadar !!!
Meera tersenyum lagi, walau sakit saat mendengarnya, tak apa baginya. Melihat lelaki yang sangat dia cinta hidup bahagia, sudah cukup baginya.
Sampai detik ini, Meera bertekad, memutuskan untuk menutupi deritanya dari Lucas. Biarlah, Lucas mengira dirinya hidup bahagia, padahal hanya kebohongan semata.
Tanpa sadar, mereka berjalan beriringan seirama, Lucas tetap satu langkah di depan. Dan Meera, bertahan satu langkah di belakang.
Menyusuri sisi kolam itu, mereka terus mengobrol membicarakan kebahagiaan. Tentang harmonisnya kehidupan rumah tangga mereka, yang begitu indah, romantis, padahal hanyalah semu belaka.
.
.
Mobil yang ditumpangi Helena, tepat berhenti di depan restoran itu. Matanya begitu tajam, langsung menangkap Lucas yang tengah berbicara berdua bersama seorang wanita, hamil ?
Keluar bergegas dari dalam mobil dengan segera. Bak adegan film India, Helena berlari kecil menghampiri Lucas sembari melambaikan tangannya.
Rambutnya yang panjang tergerai indah, bergerak tertiup angin dengan begitu indahnya, memabukkan mata siapapun yang memandangnya.
Tak terkecuali Lucas, yang kini tengah membutuhkan topangan hidup disaat hatinya meringis pedih mendengar kebahagiaan kisah percintaan Meera, sang mantan kekasih pujaan hati.
Lucas tengah menendang batu ke udara, melampiaskan rasa kesal yang bergejolak di dalam dada, tatkala mendengar Meera menyebut nama Vano dengan begitu mesra.
" Lucas ... Lucas ... " Panggil Helena. Hati Lucas yang gundah gulana langsung meletup letup bahagia melihat kedatangan ' istrinya '.
" Sayang ... " Balas Lucas memanggil ' istrinya ' itu.
Sayang ?
Meera yang mendengar langsung kata itu dari bibir Lucas, tersenyum kecut, miris, getir, pedih, sedih, luka, dan semuanya ... Sungguh, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Apalagi,
Saat melihat Helena yang langsung bergelayut manja pada lengan ' Suaminya ' dengan begitu mesra. Belum lagi kecupan mesra yang dilayangkan Lucas di pipi mulus ' istrinya ' , Helena.
" Bagaimana perjalananmu, Sayang ? " Lucas merangkul bahu Helena mesra.
Helena yang langsung mengerti, merespon balik kemesraan palsu itu.
" Tentu saja menyenangkan, Sayang ... " Sembari bersandar manja di bahu bidang ' suaminya '.
Meera, menatap interaksi mesra sepasang 'suami istri' itu, lengkap sudah derita hidupnya. Mencoba bertahan sekuat hati, masa depannya kelak bahkan mungkin lebih getir dari sekedar ini.
Perjalanan dan perjuangan hidupnya masih panjang, harus merawat dan membesarkan seorang anak seorang diri, tanpa seseorang yang menemani dan mendampingi.
Meera mengantar Lucas dan Helena sampai ke mobilnya. Memberi sekedar ucapan selamat jalan dengan senyuman termanis yang dimiliki olehnya. Walau pedih mendera hati, luka tak perlu di bagi-bagi. Cukup dia yang tahu dan rasa seorang diri.
" Sampai jumpa ... " Ucap Lucas pada Meera, sebelum naik ke dalam mobilnya. Lagi-lagi dia menunjukkan kemesraan pada Helena dengan membantu Helena naik ke dalam mobil miliknya.
" Hati-hati ... " Ucap Meera tuk terakhir kalinya. Sebelum akhirnya Lucas naik ke dalam mobil dan pergi dari sana, meninggalkannya lagi seorang diri.
Meera tetap berusaha tersenyum, memperlihatkan gigi putih dan rapinya, walau sedari tadi hatinya tak henti menjerit dan menangis.
Melambaikan tangannya tatkala mobil Lucas berlalu pergi, tangis Meera akhirnya meledak terdengar begitu rintih.
.
.
💫 Bersambung ... 💫