
" Berusahalah untuk tetap tenang, Tuan. " Ujar Vincent kala itu.
" Sebaiknya kita menyelidikinya terlebih dahulu. " Lanjutnya lagi.
Lucas hanya terdiam saja. Sorot mata yang tersirat di sana, cukup jelas terbaca. Lucas menyerahkan urusan itu pada asistennya.
Vincent begitu yakin, istri tuannya tidak akan setega itu meninggalkan suaminya begitu saja.
Kejadian siang tadi, bahkan masih melekat di fikirannya, kala memergoki atasannya tengah bermesraan dengan istrinya. Posisi mereka yang gak banget, membuatnya malu untuk sekedar menginterupsi walaupun hanya sesaat saja. Namun, rasa profesionalisme menuntutnya saat itu juga.
Vincent mundur perlahan, memilih untuk pura-pura tidak tahu. Lalu bersandiwara seolah dirinya baru datang ke ruangan kerja atasannya dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Siapapun tahu, Vincent yang bekerja sebagai asisten pribadi Lucas, tidak pernah melakukan itu.
Apalagi, ketukan itu terdengar begitu keras sekali. Cukup mengganggu mereka yang sedang terhanyut dalam pusara kenikmatan.
Dan Vincent hanya tersenyum kecil kala melihat atasannya datang dengan rambut yang cukup berantakan. Namun, dengan binar kebahagiaan terpancar di matanya.
Sepertinya memang sudah selesai.
.
.
Bermula dari menginterogasi maid / pelayan wanita yang sesungguhnya hari ini tidak memiliki jadwal untuk datang ke apartemen mereka.
Kebetulan sekali, saat dia datang untuk mengambil barang pentingnya yang ketinggalan dan memang sangat dibutuhkan olehnya hari ini juga, pelayan itu merasa aneh karena Nyonya mudanya tak kunjung keluar membukakan pintu. Padahal sudah berkali-kali dia mengetuk pintu dan memencet bel. Tidak seperti biasanya bukan ?
Pelayan itu lalu menelfon Lucas tuan majikannya. Memberitahukan kondisi itu.
Lucas yang sudah tahu dengan pasti kepulangan istrinya tadi, setelah mendapat laporan dari sopir pribadinya, merasa cemas mendengarnya.
Meera tidak membuka pintu. Apakah terjadi sesuatu dengan istrinya di dalam sana ?
Bergegas Lucas pergi, mengikut sertakan Vincent bersamanya tadi, hingga akhirnya mereka menemukan pelayan wanita itu tengah kebingungan tepat di depan pintu.
" Meera .. ! Sayang .. ! " Panggil Lucas pada istrinya. Setelah sesaat lalu memasukkan kode pin pintu apartemennya. Tampak Vincent dan pelayan itu mengekori Lucas di belakangnya, masuk ke dalam.
" Meera .. ! " Lucas mencari Meera di kamar mereka.
" Sayang .. ! " Lalu mencari ke kamar bayi dengan nuansa baby soft di sana.
Berjalan cepat ke arah dapur, ruang keluarga, televisi, lalu kembali ke ruang tamu apartemen itu.
Lucas memeriksa ke setiap sudut ruangan. Bahkan kamar mandi pun tak luput dari tujuan pencariannya.
Nihil. Meera tak ditemukan di manapun. Di bagian terkecilpun. Gila Lucas, bila sampai mencari Meera di dalam CoolCase. Di dalam lemari, mungkin masih masuk di akal.
Tak putus asa, Lucas kembali ke kamar tidur mereka. Mengecek ke arah kolong ranjang, lemari pakaian. Dan tempat lain yang memungkinkan Meera untuk bersembunyi di sana. Ini gila bukan ?
Finish ! Meera tidak ditemukan dimana-mana. Saat melihat lemari tadipun Lucas baru tersadar, ternyata sebagian pakaian Meera sudah tidak ada, dan mirisnya Meera hanya membawa pakaian miliknya sebelum menikah dengan Lucas. Lalu bagaimana dengan pakaian bayi ?
Lucas bergegas pergi ke kamar bayi yang sempat Lucas siapkan sebelumnya. Dan benar saja, sebagian perlengkapan bayi pun sudah tidak ada di sana.
Kembali ke kamar, Lucas kecewa dan putus asa. Tanpa sengaja, sudut matanya mengarah ke atas meja. Melihat penampakan putih di sana, terlipat rapi, dan tertindih lampu meja.
Apa itu ? Rasa penasaran pun muncul.
Surat ? Hanya secarik kertas itu yang Lucas dapat. Surat yang berisikan surat perpisahan. Ucapan selamat tinggal.
Perlahan, tangan Lucas terkepal. Meremas erat surat itu hingga tak berbentuk. Entahlah, hatinya begitu yakin, kepergian Meera-- ada keterlibatan ibunya di sana.
Vincent mengangguk, lalu melenggang pergi. Sepertinya dia akan menghubungi petugas apartemen untuk memeriksa CCTV yang tersedia di lorong koridor dan di dalam lift. Semoga saja, ada titik terang di sana.
.
.
Meera menatap takjub rumah sementara yang disediakan Ny. Alice untuk dia tinggali. Kesan pertama ? Begitu mewah. Untuk dirinya yang dianggap seorang buangan belaka.
Terdapat beberapa pelayan wanita yang mendampingi di sana. Lebih tepatnya mungkin mengawasi. Namun, mereka cukup baik dan sopan. Melayani Meera seperti nyonya mereka sendiri. Tentu saja, itu semua sesuai intruksi dari Ny. Alice.
Tampak beberapa pengawal lelaki berjaga di luar sana. Memakai pakaian serba hitam dan terlihat begitu gagah. Melihatnya, Meera merasa seperti tahanan rumah. Dan memang itu kenyataannya. Untuk beberapa lama ke depan, selama tinggal di sana, Meera tidak bisa keluar pergi dari sana dengan sesuka hatinya.
Mungkin, Ny. Alice takut, Lucas akan menemukan Meera. Karena sudah dipastikan olehnya, jika Meera tidak ada, Lucas pasti akan mencarinya.
" Itu adalah perintah Ny. Alice, Nona. Lebih baik anda menurutinya saja. " Jawab salah satu pelayan di sana, ketika Meera sedikit protes dengan banyaknya peraturan yang diberikan padanya.
" Tapi-- kenapa harus seperti ini ? "
Terkurung seperti ini bersama orang asing di tempat yang tak dia ketahui, Meera benar-benar tidak menyukainya. Kenapa tidak ke tempat yang jauh saja, namun dia bisa bebas melakukan hal yang diinginkannya.
" Ini demi kebaikan Anda, Nona. Percayalah ! " Lanjut pelayan itu.
" Ish ... !! " Meera mengelus perutnya yang terasa begitu tegang. Sepertinya bayinya ikut stress saat itu, menyadari sang ibu yang kini terlihat begitu frustasi.
" Berusahalah untuk tetap tenang, Nona. Demi kebaikan Anda dan bayi dalam kandungan Anda. " Lanjutnya lagi menunduk.
Sepertinya, pelayan yang dipilih Ny. Alice bukanlah orang sembarangan. Setidaknya dia cukup mengerti dengan kesehatan. Mengingat orang yang harus dia jaga adalah perempuan yang tengah hamil besar.
Meera mengambil nafas cukup kencang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Benar, pelayan itu benar, dia harus tenang. Demi kebaikan bayi yang kini tengah dikandungnya.
Tapi, situasi ini-- sungguh membuatnya tersiksa. Jauh dari Lucas membuat hidupnya menderita. Tanpa sadar, Meera merindukan aroma tubuh suaminya, ocehannya, omelannya, dan segalanya yang berbau romantis darinya.
Meera terisak, menangis penuh dengan kehampaan. Dia ingin pulang menemui orang-orang yang dikenalnya. Biarlah Lucas jauh darinya, tapi bisakah dia bertemu Zora, sahabatnya. Atau Alessya mungkin, yang merupakan menantu kesayangan Ny. Alice ?
Tanpa sadar, tubuh Meera merosot ke lantai. Kakinya mendadak lemas saat itu. Menopang berat badannya pun sepertinya tak mampu.
" Aku ingin bertemu dengan Ny. Alice, bisakah ? "
Pinta Meera pada pelayan itu dengan sedikit meraung. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan beban hidupnya yang terasa semakin berat ini.
" Aku ingin pulang--, aku tidak ingin tinggal di sini. Tolong sampaikan keinginanku !! "
Ucapnya dengan suara yang begitu lemah. Terdengar begitu putus asa. Seiring Isak tangis yang terus terdengar memenuhi ruangan kamarnya.
Meera ingin pulang. Kembali ke tempatnya semula. Dimana ada Zora sahabatnya, atau teman lainnya yang begitu baik padanya. Bukan di sini, di tempat asing ini.
.
.
💫 Bersambung ... 💫
Jangan lupa like, rate ⭐⭐⭐⭐⭐
Coment ya ...