
Vano, bukannya tidak mengetahui kabar pernikahan Meera. Semenjak mengetahui keberadaan Meera dan kehamilannya, Vano mengutus mata-mata untuk mengawasi Meera.
Dan kini, dia tercenung seorang diri, terdiam terpaku, tenggelam dalam kesedihan yang cukup mendalam tatkala mendengar kabar pernikahan Meera. Kali ini, dia telah kalah telak, tertinggal satu langkah dari Lucas.
Walau sebenarnya dia belum sepenuhnya kalah, karena bagaimanapun juga, bayi yang dikandung Meera adalah anaknya.
" Besok, mereka akan pergi ke Paris ... " Lanjut mata-mata itu lagi. Sukses mengagetkan Vano untuk ke sekian kali.
" Baiklah. " Ucap Vano terdengar dingin.
Bergegas mata-mata itu pergi meninggalkan Vano seorang diri, yang kini larut dalam luka dan kehampaan. Binar mata yang sedari dulu redup kini kian meredup dengan kesedihan yang tersirat begitu dalam di sana.
Berjalan pelan menatap bintang di langit dan rembulan dari balik jendela kaca di ruang kerja di rumahnya, benaknya berlarian ke masa lalu. Dimana ada Meera dan dirinya yang tengah kasmaran, melepas hasrat cinta dalam kisah satu malam.
" Meera ... haruskan aku berdo'a untuk kebahagiaanmu ? "
.
.
.
Malam ini bertabur bintang, bulan bahkan bersinar begitu terang. Semilir angin yang berhembus pelan, terasa begitu menyejukkan.
Mereka yang kini tengah menikmati indahnya malam, tengah terlena dan terbuai dalam dekapan dan buaian syahdu. Sepasang insan yang dimabuk cinta kini tengah memadu kasih, mencurahkan beribu cinta dan sejuta kasih sayang.
Sapuan lembut bibir Lucas pada dagu Meera membuat tubuh Meera meremang. Menggigit-gigit kecil di sana disertai dengan sesapan yang terasa begitu menakjubkan di kulit mulusnya.
Tangan Meera mengelus dada bidang Lucas yang terbuka dengan gerakan eksotis. Memberikan sensasi hangat nan luar biasa yang membangkitkan gelora dan gairah dari dalam dada.
Lucas, tangannya terulur, menyusup liar masuk melalui ujung dress panjang istrinya. Mengelus dengan gerakan lembut seringan bulu. Jengkal demi jengkal, dia jamah dengan cara yang berbeda, dengan sedikit gerakan nakal yang memancing hasrat dari dalam jiwa.
Tok tok tok ...
Mereka berhenti dengan sedikit tak rela. Menyesap bibir Meera cukup lama, untuk mencecap rasa manis di sana, Lucas melepasnya kemudian, walau begitu berat.
" Biar aku yang membuka pintu, kau mandilah
terlebih dahulu, hmm ... " Sembari merangkak turun dari ranjang.
Lucas berbisik pada telinga Meera dengan begitu mesra. Setelahnya sapuan lembut sempat Lucas layangkan pada telinga Meera yang telah merah karena bekas gigitannya tadi. Suara serak Lucas terdengar menggoda, seiring hembusan panas dari hidungnya. Sepertinya, dia tengah menahan diri saat ini.
Dengan malu-malu kucing, Meera mengangguk. Bergegas bangun dari posisi tidurnya, lalu berjalan dengan langkah yang terlihat meliuk indah seakan melambai-lambai, sengaja menggoda Lucas untuk segera menyusulnya.
Tamu itu tidak sepenuhnya salah. Acara pernikahan baru saja selesai, belum sepenuhnya malah. Masih ada acara makan malam romantis diantara mereka. Sebagai layanan hotel, hadiah bagi mereka yang bersiap menyambut malam pertama pernikahannya.
•••
Sial !!
" Layanan kamar ... "
•••
Tok tok tok
Apa lagi ?
Lucas mendelik ke arah pintu, pintu baru saja tertutup beberapa detik lalu, tapi ...
Dengan langkah yang lebih tergesa dari sebelumnya, Lucas bergegas membuka pintu.
Tak ingin membuat Meera terlalu lama menunggu kehadiran dirinya di kamar mandi. Namun, apa daya ?
Melihat tamu yang datang di hadapannya kini, Lucas hanya bisa melengos pasrah. Sepertinya, malam ini mereka harus sedikit menunda, acara yang memabukkan dan menenggelamkan mereka dalam peraduan penuh hasrat itu.
" Lucas !! "
Ada Diana, Reynald dan Dafa. Helena tidak ikut, karena sudah kembali ke Bali, sudah cukup lama, dan Lucas pun tahu itu, karena Helena sempat meminta izin padanya.
Mereka sengaja membuat kejutan kecil dengan membawa beberapa kaleng minuman ringan. Tentunya, dengan sedikit cemilan.
Datang berkunjung, bermaksud sedikit menghibur sang sahabat yang hampir dua minggu kemarin tidak bisa mereka temui, setelah insiden cukup menghebohkan malam itu.
Sekaligus sebagai perpisahan, sekedar acara kecil mengingat Lucas yang akan kembali ke Paris esok hari.
" Ada-- apa ?! "
Lucas bukannya tidak senang, hanya saja-- waktunya sungguh tidaklah tepat. Hello-- asal kalian tahu, ini adalah malam pertama kami.
Reynald lalu menatap meja yang dipenuhi dengan makanan. " Apa kau memiliki seorang tamu ? " Tanya Reynald, dia menjadi ragu melangkah masuk ke kamar hotel yang Lucas tinggali.
" Ti--dak .. "
Lucas sedikit memutar kepalanya. Takjub kala mendapati ****** ***** Meera teronggok di atas sandaran sofa. Setidaknya, dia tidak lupa, dia sendiri yang melemparnya tadi.
" Begini, mhh bagaimana kalau kita mengobrol di bawah ? "
Lucas sedikit menyapu mundur ketiga tamunya. Membuat mereka mengerti bahwa Lucas tidak ingin mereka masuk ke kamarnya. Masih sedikit tidak peka ternyata, atau berusaha memikirkan apa alasannya.
" Mhh, Baiklah ! " Kali ini Diana yang menjawab. " Kami akan menunggu di bawah. " Jawab Diana sembari berjalan perlahan meninggalkan Lucas sendiri di dekat daun pintu.
" Aku-- berganti pakaian dulu. " Izin Lucas lalu begegas menutup pintu.
Lucas lalu melenggang masuk ke kamar mandi untuk menemui Meera dengan hati yang berdegub kecewa, rencana malam panas mereka terpaksa ambyar, karena harus ditunda.
.
.
.
💫 Bersambung ... 💫
Tok tok tok
Apa lagi ?
Lucas mendelik ke arah pintu, pintu baru saja tertutup beberapa detik lalu, tapi ...
Dengan langkah yang lebih tergesa dari sebelumnya, Lucas bergegas membuka pintu.
Tak ingin membuat Meera terlalu lama menunggu kehadiran dirinya di kamar mandi. Namun, apa daya ?
Melihat tamu yang datang di hadapannya kini, Lucas hanya bisa melengos pasrah. Sepertinya, malam ini mereka harus sedikit menunda, acara yang memabukkan dan menenggelamkan mereka dalam peraduan penuh hasrat itu.
" Lucas !! "
Ada Diana, Reynald dan Dafa. Helena tidak ikut, karena sudah kembali ke Bali, sudah cukup lama, dan Lucas pun tahu itu, karena Helena sempat meminta izin padanya.
Mereka sengaja membuat kejutan kecil dengan membawa beberapa kaleng minuman ringan. Tentunya, dengan sedikit cemilan.
Datang berkunjung, bermaksud sedikit menghibur sang sahabat yang hampir dua minggu kemarin tidak bisa mereka temui, setelah insiden cukup menghebohkan malam itu.
Sekaligus sebagai perpisahan, sekedar acara kecil mengingat Lucas yang akan kembali ke Paris esok hari.
" Ada-- apa ?! "
Lucas bukannya tidak senang, hanya saja-- waktunya sungguh tidaklah tepat. Hello-- asal kalian tahu, ini adalah malam pertama kami.
Reynald lalu menatap meja yang dipenuhi dengan makanan. " Apa kau memiliki seorang tamu ? " Tanya Reynald, dia menjadi ragu melangkah masuk ke kamar hotel yang Lucas tinggali.
" Ti--dak .. "
Lucas sedikit memutar kepalanya. Takjub kala mendapati ****** ***** Meera teronggok di atas sandaran sofa. Setidaknya, dia tidak lupa, dia sendiri yang melemparnya tadi.
" Begini, mhh bagaimana kalau kita mengobrol di bawah ? "
Lucas sedikit menyapu mundur ketiga tamunya. Membuat mereka mengerti bahwa Lucas tidak ingin mereka masuk ke kamarnya. Masih sedikit tidak peka ternyata, atau berusaha memikirkan apa alasannya.
" Mhh, Baiklah ! " Kali ini Diana yang menjawab. " Kami akan menunggu di bawah. " Jawab Diana sembari berjalan perlahan meninggalkan Lucas sendiri di dekat daun pintu.
" Aku-- berganti pakaian dulu. " Izin Lucas lalu begegas menutup pintu.
Lucas lalu melenggang masuk ke kamar mandi untuk menemui Meera dengan hati yang berdegub kecewa, rencana malam panas mereka terpaksa ambyar, karena harus