
Mengabaikan pagi yang penuh dengan kejutan tadi, yang sedikit memalukan namun mengesankan, kini mereka telah berada di sini, di ruang tunggu bandara. Sembari menunggu giliran penerbangan.
" Menurutmu-- , aku-- akan baik-baik saja ? "
Meera terlihat cemas pagi itu. Tanpa henti tangannya mengelus perutnya yang sedari tadi terasa tegang.
Meera yang baru pertama kali ke luar negeri dan melakukan perjalanan dengan pesawat, tentu merasa gugup sekarang.
Kehamilannya menjadi alasan utama kecemasan Meera saat itu. Khawatir akan terjadi apa-apa pada kandungannya. Belum lagi rasa gugup yang kian mendera perasaannya, bagaimanapun juga, Paris adalah negara dimana Ibu Lucas tinggal sekarang, beserta keluarga yang lainnya. Termasuk Arselli dan Alessya yang merupakan kakak dan kakak ipar suaminya.
" Tenanglah, kondisi kandunganmu sangat sehat. Bukankah dokter sudah mengijinkan waktu itu, hmm. "
Lucas mencoba menenangkan, tangannya terulur ikut mengelus perut Meera.
Ngomong-ngomong tentang dokter, Meera mendadak ingat betapa berlebihannya sikap Lucas waktu itu. Saat dokter kandungan lelaki itu memeriksa perutnya. Meera tersenyum geli mengingatnya.
Lucas semakin merapatkan duduknya di samping Meera. Menautkan jari tangannya pada jari tangan Meera yang mungil dan lentik.
" Mungkin--, aku hanya merasa takut saja, Lucas. " Jelas Meera pada suaminya.
" Tenanglah, hmm. Ada aku di sini. " Ucap Lucas lirih. Mengecup punggung tangan Meera yang berada di genggamannya kini.
" Terimakasih ... "
Meera merasa terharu. Masih tidak menyangka lelaki ini telah berstatus suaminya sekarang.
Kadang Meera berfikir, mungkin di masa lalu nenek moyangnya pernah menyelamatkan negara atau melakukan kebaikan yang tidak terkira. Hingga saat sekarang, dan sedari dulu, Tuhan mengirimkan Lucas padanya untuk slalu menolongnya setiap dirinya mendapat kesulitan.
Dengan beribu cinta yang tercurah hingga saat sekarang. Meera jelas dapat merasakannya, cinta Lucas begitu tulus padanya.
" Ayolah ... dalam pernikahan itu tidak ada kata terimakasih, Sayang ... "
Ucap Lucas nakal seraya menggoda Meera agar tidak tegang. Mengusap ujung bibir Meera dengan ibu jarinya, rasanya ingin melum*tnya sekarang.
Mendengar kata sayang dari bibir Lucas, Meera tersipu malu, hatinya menghangat bahagia.
" Ya, ... Baiklah. " Jawab Meera mengangguk pelan.
" Itu saja ? " Lucas menautkan alisnya.
" Apa ? " Tanya Meera heran, karena tidak paham.
" Aku memanggilmu apa tadi ? " Lucas memancing. Meera langsung mengernyitkan dahinya berfikir, mengingat-ingat.
" Oh, itu ... " Meera tersenyum.
" Apakah itu lucu ? " Lucas sedikit marah karena tersinggung.
" Tidak, Lucas .. Bukan itu maksudku. " Jelas Meera dengan gaya manjanya.
" Masih, Lucas ? Ayolah ... " Rayu Lucas lagi, mengelus dagu Meera.
" Mhh. Baiklah ... " Jawab Meera masih terlihat ragu dan malu. Memutar bola matanya, merasa gemas dengan tingkah Lucas saat ini.
" Baiklah apa ? " Tuntut Lucas.
" Mhh .. Baiklah. Sa-- yang ... "
Ucap Meera lirih, bahkan terlalu lirih. Dia bahkan menghirup nafas dalam-dalam sebelum mengucapkannya. Seolah mengumpulkan tenaga. Sesulit itukah ?
" Apa ?!! "
" Sa-yang. " Desis Meera.
" Apa ??!! " Lucas pura-pura tidak mendengar.
Meera mendengus kesal.
" Sayang !! "
Pekik Meera lumayan cukup kencang. Lucas tergelak puas mendengarnya. Sementara Meera menahan malu menyadari orang-orang tengah melihatnya.
.
.
" Lucas .. " Desis Meera.
Lagi-lagi Lucas menautkan alisnya tatkala mendengar Meera memanggil namanya.
" Mhh, baiklah. " Meera berdehem mencoba menghilangkan rasa canggungnya.
" Sayang ... " Ucap Meera lirih, setelah beberapa saat.
Lucas tersenyum, lalu tertawa. Meera terlihat begitu lucu dan menggemaskan.
" Ada apa ? " Lucas terdengar begitu senang mendapat panggilan itu.
" Aku mau ke toilet. " Ucap Meera manja.
" Perlu ku antar ? " Menyodorkan sikut lengannya.
Istri mana yang tidak senang saat disayang, dimanja, dan dipuja oleh suaminya.
Menitipkan barang-barang pada asisten pribadinya, Lucas mengantar istrinya ke toilet.
Di depan toilet ladies Lucas menunggu untuk beberapa saat. Sempat menjauh dari sana setelah mendapat panggilan telfon yang cukup penting.
Meera keluar dari toilet setelah menyelesaikan urusannya. Tertegun sesaat karena tak mendapatkan Lucas di sana.
Langkahnya terhenti seketika, ketika seseorang menarik tangannya dan mengajaknya berjalan ke tempat yang cukup sepi.
" Aku ingin bicara, Meera. " Orang itu adalah Vano. Meera terkesiap.
" Vano, ... " Meera hanya bisa bereaksi seperti itu. Sisanya, kebingungan yang kental terasa. Dengan beribu pertanyaan berkecamuk di benaknya.
" Aku-- hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu, Meera. " Ucap Vano tulus.
Meera hanya terdiam mendengarnya. Dia takut, mungkin kini Lucas tengah mencarinya. Sementara dirinya tengah berduaan dengan Vano di tempat sepi. Walaupun tidak melakukan apa-apa, Meera cukup cemas Lucas akan salah paham padanya.
Tangan Vano terulur mengelus wajah cantik Meera. Wajah, yang akan slalu Vano rindukan dan dia damba dalam hidupnya. Meera refleks memundurkan badannya.
" Meera, asal kau tahu ... saat itu, aku hendak memperjuangkanmu. Hanya saja, tiba-tiba ibuku terkena serangan jantung. " Jelas Vano. Dia tidak ingin Meera terus-menerus membencinya.
Meera sempat terhenyak. Namun, dengan sigap segera dia menahan dirinya. Menahan perasaan aneh yang bergejolak di dadanya. Bagaimanapun, mereka pernah begitu dekat, bahkan sangat dekat, terlampau dekat, hingga di perutnya tumbuh seorang anak sekarang.
" Aku hanya berharap kita bisa tetap berteman, Meera. Bagaimanapun juga dia-- adalah anakku. "
Vano lalu menunduk, mengelus dan mengecup perut Meera untuk beberapa lama.
Meera memundurkan badannya seketika. Perlakuan Vano kali ini sedikit menggetarkan jiwanya, menggoyahkan hatinya. Namun sayang, hati dan jiwanya, sebagian besar telah Meera serahkan kepada Lucas. Bahkan sedari dulu.
" Jangan seperti ini, Vano. Berbahagialah ! "
Ucapan Meera bersamaan dengan tetesan air mata yang mengalir di pipinya.
" Kau juga Meera, berbahagialah ! "
Kecup Vano pada kening Meera dengan perasaan yang mendalam. Mata Vano berkaca-kaca saat itu.
Meera membelalakkan matanya. Dia sangat takut Lucas akan melihat semua ini. Lalu dia bergerak panik untuk meninggalkan Vano di sana.
" Aku harus pergi. "
Ucap Meera dingin. Sambil berjalan cepat, berlalu meninggalkan Vano seorang diri.
" Meera !! "
Teriak Vano, sedangkan Meera terus berjalan melangkah tanpa menghiraukan Vano yang memanggilnya.
" Jika kau tidak berbahagia dengannya datanglah padaku, tanganku slalu terbuka untukmu. "
Langkah Meera terhenti seketika, tanpa menoleh samasekali ke arah Vano. Dia terhenyak, kaget dengan ucapan Vano barusan.
Segera berlalu pergi tanpa menghiraukan Vano lagi, Meera kembali ke tempat semula, dimana tadi Lucas menunggunya. Dan benar saja, Lucas tengah mencarinya di sana, dengan begitu cemas.
" Sayang ... " Ucap Meera lirih.
" Kau membuatku panik. Kau darimana saja, hmm, Sayang ? "
Lucas menarik lembut pinggang Meera dan membawanya dalam pelukannya. Mengelus punggung Meera lembut, melampiaskan kegelisahan tadi.
" Tadi-- ada-- seorang anak kecil. Dia-- mencari orang tuanya. " Bohong Meera sedikit merasa bersalah.
" Syukurlah. Aku fikir, terjadi apa-apa denganmu. " Menepuk punggung Meera lembut. Lalu melepaskan pelukannya.
" Lain kali, jika terjadi apa-apa, apapun itu ... panggil lah aku, hmm. Jangan lakukan seorang diri. "
Lucas menyelipkan rambut Meera ke belakang telinga istrinya. Dia memperlakukan istrinya itu dengan selembut mungkin, walaupun sebenarnya dirinya baru saja dilanda kepanikan yang cukup hebat tadi. Tatkala kehilangan Meera beberapa saat di tempat ini.
Sementara itu, dari kejauhan, Vano memperhatikan interaksi mesra itu. Ada rasa bahagia kala melihat Meera juga bahagia. Dan ada rasa kecewa juga terluka kala menyadari bahwa kebahagiaan Meera, bukanlah dengan dirinya.
Lucas lalu menarik Meera berjalan ke tempat duduk tadi. Dimana ada asisten pribadinya di sana.
Sedang Meera, sesekali menoleh ke arah belakang. Yang mungkin saja, ada Vano di sana.
Selamat tinggal, Vano. Selamat tinggal masa lalu !!
.
.
.
💫 Bersambung ... 💫
Maaf ya, akhir-akhir ini up nya cuman 1 episode, lagi buntu ... ide-ide mendadak beterbangan. Mungkin ... butuh piknik.
Jangan lupa like, rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan coment. Kalo bisa bantu promosi juga karya abal-abal ku ini.😘😘😘