
Seorang dokter wanita tampak begitu tergesa-gesa berangkat pergi dari kliniknya malam itu. Seorang wanita paruh baya berusia sekitar empat puluh tahunan. Dia adalah seorang dokter spesialis kandungan yang cukup bisa diandalkan. Selain karena keahliannya yang memang luar biasa di bidangnya, dia adalah seorang dokter yang berjiwa sosial tinggi, slalu melayani dan membantu pasien yang memiliki taraf ekonomi rendah tanpa memungut biaya sepeserpun.
Malam itu, setelah menonton acara spesial di salah satu televisi swasta, Meera mendadak merasakan sakit luar biasa di perutnya. Bayi yang dikandungnya mendadak bergerak begitu frontal seolah mendorong kuat karena ingin segera keluar.
Cairan bening bahkan mendadak keluar, mengucur di sela pahanya. Meera yang baru pertama kali mengalami hal ini tentu saja merasa panik. Untunglah salah satu pelayan di rumah itu memang benar-benar mengerti sedikit banyak tentang kesehatan dan kehamilan.
Ny. Alice yang mendadak tidak bisa dihubungi membuat dirinya terpaksa menghubungi dan memanggil dokter kenalannya dengan inisiatifnya sendiri. Tentu saja, ini semua dia lakukan demi keselamatan Meera dan bayinya. Persetan dengan tanggapan Ny. Alice nanti, nyawa seorang ibu dan anak tengah dipertaruhkan saat ini.
Ny. Alice yang malam ini tengah begitu sibuk menghadiri acara pernikahan putra bungsunya, Lucas, sudah mewanti-wanti dari jauh-jauh hari. Menjaga Meera yang saat ini tengah hamil besar agar tidak kemana-mana. Namun apa daya, jika mendadak harus melahirkan malam ini, padahal waktu perkiraan melahirkan masih beberapa hari lagi.
Ny. Alice hanya terlupa, putranya yang akhir-akhir ini menjadi seorang pengusaha sukses cukup menjadi sorotan di kalangan pengincar berita, termasuk pernikahan hari ini, Ny. Alice tak memikirkan dampak bagi sang ibu hamil yang kemungkinan mengetahuinya dari alat media.
Turun dari mobil, dokter itu langsung menghambur berlari ke dalam rumah. Mengikuti langkah sang pelayan wanita yang membawanya ke kamar dimana Meera berada.
" Ini sudah pembukaan sembilan ! "
Ucapnya dengan sedikit panik kala itu, melihat kondisi Meera yang cukup memprihatinkan. Dia tengah menangis meringis dan menahan nyeri di perutnya. Belum lagi dengan adanya cukup banyak darah yang keluar dari jalan lahirnya, akibat adanya pendarahan di dalam rahimnya. Entah karena apa sebabnya.
" Tetaplah sadar, Nona. Kau harus semangat OK ? " Ucap dokter itu pada Meera. Berusaha memberi semangat untuk melalui ini semua.
Tunggu !!
Mata dokter itu mengerjap berulang kali, kala melihat sesuatu yang berbeda pada paha bagian dalam pasiennya itu, seperti sebuah tanda. Berwarna coklat dan cukup besar. Perlahan dokter itu mematung, mundur beberapa langkah terkesiap. Namun, segera sadar mengingat pasien yang terlihat kritis.
Maju kembali, menyentuh tanda itu, memperhatikan lagi berulang kali. Memastikan bahwa yang dilihatnya bukanlah kesalahan. Namun, dia masih menahan diri untuk bertanya. Setidaknya, menunggu waktu yang tepat tiba.
Meera terus menangis meringis sakit. Sedikit mengejan akibat dorongan dari dalam perutnya itu. Posisi kaki yang terbuka lebar memudahkan baginya untuk berusaha sekuat tenaga mendorong bayi itu untuk keluar. Tentu saja, hal itu hanya bisa dilakukan kala mulas datang mendera.
Nafas Meera terengah-engah, keringat yang sedari tadi mengucur kini membanjiri tubuhnya. Hingga semua pakaiannya dipenuhi peluh keringat, semoga menjadi saksi kelak. Perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anaknya ke dunia.
" Huh, sakit dok ... " Erang Meera menangis.
Kesedihan di hatinya sejujurnya lebih mendominasi saat itu. Mengetahui suaminya menikah lagi, sakitnya sungguh tak terperi. Walau pelayan itu berusaha menghibur tadi dengan mengatakan bahwa adanya keterpaksaan dalam pernikahan itu, tetap saja Meera terlanjur terbawa perasaan.
Rasa sedih yang teramat sangat mendera, apalagi mengingat dirinya yang kini jauh dari sang suami. Membayangkan harus berjuang melahirkan seorang diri tanpa ada yang mendampingi, membuatnya lemah dan putus asa, tidak ada semangat dalam hidupnya. Walaupun akhirnya semangat itu kembali datang, kala mengingat bayi dalam kandungannya adalah darah dagingnya sendiri, yang tentunya sangat membutuhkan dirinya sebagai ibunya.
" Tolong siapkan kendaraan, dia harus dibawa ke rumah sakit ! "
Ujar dokter wanita itu kepada pelayan wanita yang menghubunginya tadi. Pelayan itu mematung sesaat, berfikir sejenak.
" Tunggu apa lagi ! Dia harus segera ditangani ! " Lanjut dokter itu lagi.
" Apakah tidak bisa dilakukan di sini saja, dengan melahirkan normal ? " Bisiknya pada dokter itu, tak ingin membuat Meera merasa stress dan khawatir.
" Ada pendarahan yang cukup banyak, kondisi ibunya terlihat lemah. Dia tidak akan mampu mengejan dengan kuat. " Lanjutnya cemas dan gusar. " Cepatlah ! Nyawa mereka menjadi taruhannya ! " Tukas dokter itu, sedikit mengancam. Karena memang itu kenyataanya.
Hingga akhirnya pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua saja di kamar. Bergegas untuk menyiapkan diri, sopir dan juga perlengkapan Meera beserta bayinya.
Setelah pelayan itu pergi, menyisakan Meera dan dokter itu di dalam kamar ...
" Tolong aku !! "
Ucap Meera tiba-tiba. Dengan nafas yang tersengal, dia menyentuh tangan sang dokter itu. Sedikit meremasnya, menandakan permintaan tolong yang teramat sangat. Sorot matanya bahkan ikut memelas saat itu.
" Bawa aku pergi dari sini, aku mohon. Mereka mengurungku di sini ! "
Ucapnya lagi, bersamaan dengan rasa sakit akibat dari rasa mulas yang kembali muncul. Derai air mata ikut membanjiri wajahnya yang sudah memerah kala itu. Dokter itu kini, tampak diam terpaku melihat pemandangan yang cukup pahit di matanya. Kenapa seperti ini ?
Dia yang mengenali tanda lahir itu. Tentu saja, berusaha untuk mempertimbangkan permintaan itu.
" Huh ... " Meera kembali mengejan. Tetap saja, dorongan dari Meera terlalu lemah. Dia harus menjalani proses melahirkan di rumah sakit dengan peralatan yang lebih lengkap.
.
.
Ranjang brankar didorong dengan begitu cepat. Melalui lorong koridor panjang untuk segera memasuki ruang khusus penanganan pasien dalam kondisi gawat darurat.
Pelayan wanita itu mengikuti bersamaan dengan ranjang yang melaju cukup kencang dan tergesa. Didorong oleh dokter dan para perawat.
Tampak beberapa bodyguard lelaki mengikuti dari belakang. Mereka hanya memastikan untuk berjaga sesuai dengan perintah dari majikan.
Pelayan itu terlihat frustasi. Berkali-kali dihubungi, Ny. Alice tak sekalipun menyahut. Beberapa menit kemudian, akhirnya tersambung juga. " Apa ?!! Bagaimana kondisinya ? " Terdengar begitu khawatir.
Dia yang sudah berjanji untuk mempertemukan Lucas dengan istrinya setelah acara pernikahan itu usai, tentu saja sangat khawatir. Apabila terjadi sesuatu pada istri putranya itu, dia samasekali tidak bisa membayangkan bagaimana kemarahan putranya nanti.
Semua itu, hanya akan menghancurkan hubungan antara seorang anak dan ibunya. Dan sayangnya, anak itu adalah Lucas, dan ibu itu adalah dirinya.
Jantungnya mendadak berdenyut nyeri saat itu. Mendengar kondisi Meera yang cukup kritis, bayangan wajah Lucas yang dipenuhi rasa kecewa berkelebat di benaknya.
Untuk sekali ini dalam hidupnya, Ny. Alice merasa cemas akan terjadi sesuatu hal antara dirinya dengan putranya.
.
.
💫 Bersambung ... 💫