Love

Love
Chapter 76 - Terlambat Satu Langkah



Siang itu ...


Lucas tengah merenung seorang diri di kantornya. Seraya menatap jalanan hiruk pikuk kota yang berada tepat di bawah gedung perusahaannya, dari balik jendela kaca yang tertutup. Andai bisa terbuka, mungkin Lucas akan melompat ke bawah dari sana. Karena frustasi sepertinya.


Bagaimana tidak ? Tujuh bulan sudah, dia sukses menjadi pria kesepian. Jablay, yang jarang di belai dan kurang mendapat sentuhan kasih sayang. Bersyukur, cinta yang besar membuat dirinya kuat menjalani itu semua. Padahal ada Helena, yang secara status hukum dan agama sangat boleh untuk disentuh, dijamah, dan dinikmati olehnya, malah wajib hukumnya.


Namun, jika perasaan cinta terhadap Meera yang berkuasa, mereka bisa apa. Karena merekapun tak ingin terjebak dalam sebuah permainan semata. Cukup, tekad mereka sudah bulat, satu tahun mereka menikah, selepas Helena melahirkan, mereka akan langsung bercerai. Dan Lucas bersedia menjadi ayah angkat dari sang bayi. Tak apa, demi seorang sahabat. Dengan setitik harap, semoga Helena bisa bertemu kembali dengan sang mantan kekasih yang lost contact itu.


Renungan Lucas masih terpaut tentang Meera, Meera, dan lagi-lagi Meera. Hanya nama itu yang terukir di benaknya. Tertulis rapi di hatinya, ikut berdetak di jantungnya dan wajahnya terbayang jelas di pelupuk matanya.


Pautan itu membumbung jauh dalam lamunan dan khayalan tingkat tinggi. Akhir-akhir ini, Lucas memang mulai sering terlihat berhalusinasi. Vincent sang asisten pribadi mulai terlihat cemas. Dia yang slalu mendampingi, paling tahu kondisi atasannya itu, semakin bergerak cepat mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mencari istri atasannya itu.


Walau kondisi kian terpuruk, baik Vincent maupun Arselli menyimpan setitik kagum di sana. Untuk urusan pekerjaan, Lucas tetap profesional dalam melakukannya. Setidaknya dia masih ingat dengan perjuangannya, demi meraih kesuksesannya ini, dia sampai meninggalkan Meera dulu. Tak perlu diingatkan lagi bukan, karena hal itu, Meera berkenalan dengan Adam, si sumber biang keladi.


Lamunan Lucas buyar seketika, ketika Vincent tiba-tiba datang ke ruangannya, setelah berlari cukup jauh tadi. Dia bahkan terlihat ngos-ngos-san saat itu. Bulir- bulir keringat bercucuran di pelipis wajahnya. Nafasnya tersengal-sengal, ditandai dengan dadanya yang bergerak naik turun dengan ekstreme. Deru nafas terdengar kencang dan tidak beraturan.


" Tuan !! "


Lucas membalikkan badannya setelah mendengar pintu yang dibuka cukup kencang sesaat lalu. Vincent datang dengan sorot mata yang tidak terbaca.


Mengangkat sebelah alisnya, Lucas bertanya. " Ada apa ? "


Menenangkan nafasnya terlebih dahulu, Vincent lalu menjawab. " Nona Ameera telah ditemukan ! " Jawabnya saat itu.


" Apa ?!! " Lucas bukan tidak mendengarnya, hanya saja dia butuh diyakinkan.


" Istri Anda telah ditemukan. " Ulang Vincent lagi, dengan sedikit berbeda penyebutan.


Mendengar itu, seketika Lucas langsung menghambur berlari ke luar dari ruangan kerjanya diikuti Vincent di belakangnya.


Berlari cepat menyusuri lorong koridor menuju lift khusus untuknya, Lucas memijit tombol-tombol yang ada di sana.


Shit ! Kenapa mendadak terasa begitu lama.




Meera ...


Perempuan itu kini ada di hadapannya, bersama dengan seorang bayi kecil, tidak jauh berada di hadapannya.


Rambutnya yang dulu lurus, kini berubah Curly. Lihatlah penampilannya kini, sedikit seksi dengan atasan yang memperlihatkan sedikit bahu putihnya dan celana pendek seatas lutut. Mau marah pun tak bisa, Lucas bisa apa ?


Cantik !


Satu kata itu yang pantas disematkan. Kini, Meera memang lebih cantik. Tubuhnya sedikit berisi dibanding saat sebelum hamil dulu. Berisi di beberapa tempat, yang pasti disukai oleh mata para lelaki.


Penampilannya jauh berbeda dengan dulu, sekarang Meera terlihat fashionable, mengikuti trend mode masa kini. Sepertinya, memiliki ibu seorang dokter cukup mempengaruhi kondisi keuangan mereka. Meera benar-benar terlihat bahagia.


Musnah sudah rasa cemas yang beberapa bulan kemarin menggerogoti perasaan Lucas, khawatir Meera hidup sendiri tanpa ada yang menemani. Dengan kesengsaraan yang terus mengikuti. Nyatanya, sesuai laporan dari Vincent barusan, Meera benar-benar tinggal bersama ibu kandungnya yang seorang dokter kandungan. Yang sekarang ini bekerja di rumah sakit yang berada di hadapannya kini.


Dan satu lagi, Seorang bayi ...


Bayi lucu nan menggemaskan berada di pangkuan Meera saat itu. Lucas hampir tak percaya, bayi yang sempat tidak dia sukai dulu, yang sering dia tengok saat berada dalam kandungan istrinya, kini sudah sebesar itu. Dan takjubnya Lucas saat itu, setelah memperhatikan lebih seksama, bayi itu benar-benar mirip dengan ibunya, Meera. Sama sekali tak ada gen Vano di sana. Bahagiakah Lucas ? Tentu saja.




Sh*** !!


Belum pernah dia seperti ini, belum pernah dia sepayah ini. Dari dulu dia sang play boy cinta, pemain wanita, tak pernah merasakan kegugupan seperti saat ini.


Apakah vacum tujuh bulan menjalin cinta dengan seorang wanita membuat dirinya payah seketika ? Entahlah, dia tak tahu alasannya itu apa. Dia tak menyangka mencintai Meera membuat dirinya bertekuk lutut tidak berdaya.


Menggerakkan tangannya untuk menyentuh bahu terbuka istrinya itu, Lucas tak menyangka tangannya bergetar saat itu. Urung, dia tarik kembali tangan itu, berusaha keras untuk menormalkan diri.


Cinta sih boleh cinta, tapi-- harga diri harus tetap dijaga.


Menarik nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan-lahan ...


Berhasil !


Selang beberapa lama, detak jantungnya berubah normal kembali. Tangan dan tubuhnya tidak gemetaran lagi, walaupun masih sedikit ada sisa, Lucas fikir-- Meera tidak akan menyadarinya.


Mengangkat tangannya kembali, Lucas bergerak untuk menyentuh kembali bahu mulus Meera yang terlihat begitu menggoda.


Satu, dua, tiga ...


Terlambat !


Meera sudah terlanjur pergi meninggalkan dirinya di tempat itu, dengan tubuh yang mematung dan sebelah tangan yang terangkat di udara.




Lucas melangkah cepat mengejar Meera yang setengah berlari menuju rumah sakit itu. Langkah Lucas terhenti, merasa lemas seketika, bahkan sekedar untuk berdiri sekalipun. Ketika melihat Meera bersama Vano tidak jauh di hadapannya.


Lucas sadar, lagi-lagi-- dia terlambat satu langkah dari Vano.


Duduk tidak jauh dari tempat mereka mengobrol berdua. Hati Lucas berdenyut sakit kala melihat Meera meletakkan bayinya di atas pangkuan Vano.


Ya, mereka tengah duduk di sebuah kursi tunggu berukuran panjang. Meera dan Vano duduk cukup berjauhan, mengambil jarak satu tempat duduk kosong diantaranya. Awalnya Meera mendudukkan bayinya di sana, namun sepertinya Vano meminta Meera untuk mendudukkan bayinya di pangkuannya.


Lihatlah !


Bahkan sekarang, mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang telah memiliki satu anak. Terlihat harmonis, serasi, dan bahagia.


Cemburu ?


Tentu saja ? Jangan ditanya. Saat itu, hati Lucas benar-benar kacau. Untunglah, Vincent mengikutinya tadi. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi.


" Kendalikan diri Anda, Tuan. " Seraya menahan lengan Lucas yang hendak bergerak maju menghampiri mereka.


" Masih banyak waktu, bersabarlah ! " Nasihat Vincent kala itu.


Lucas mengepalkan kedua telapak tangannya. Dalam hati dia berjanji, tekadnya sudah bulat, mulai saat ini, mulai detik ini, dia akan memperjuangkan Meera setengah mati. Takkan memberikan celah bagi lelaki lain, apalagi Vano untuk mencuri kesempatan darinya. Dia benar-benar harus maju lebih cepat, satu langkah, bahkan beberapa langkah dari yang lainnya.


.


.


💫 Bersambung ... 💫