Love

Love
Chapter 47 - Diantara Dua Pilihan



Menatap Vano yang kini tengah dipukuli oleh Lucas, jujur hati Meera terluka. Tak bisa dipungkiri bukan, bagaimanapun juga, Vano adalah ayah dari anak yang kini tengah dikandung olehnya. Merupakan bagian dari masa lalunya, dan memiliki kenangan manis bersamanya.


Jujur, Meera akui. Vano tak sepenuhnya salah. Meera yang telah memutuskan hubungan itu secara sepihak. Dengan keputusan singkat dan telak tanpa membicarakan terlebih dahulu, empat mata apalagi dari hati ke hati.


Saat itu, Vano yang sedang dilanda kebingungan, hanya bisa apa ? Disaat dirinya dihimpit dua pilihan penting dalam hidupnya. Meera yang telah ternoda olehnya atau ibunya yang memohon hingga terkena serangan jantung, berharap Vano membantu mereka dari keterpurukan perusahaan.


Mungkin, saat itu Vano merasa lega. Disaat dirinya bingung memilih, Meera justru mundur dari hidupnya. Seolah memberi jalan baginya untuk membuat keputusan, Vano fikir itu adalah jalan, petunjuk dari Tuhan. Dikala dia dilanda kebingungan yang begitu mendalam.


Namun, ternyata pilihan yang telah dia buat sendiri begitu menyulitkan hatinya. Memberinya duka terdalam, luka terpendam di dalam dada. Pernikahan yang dijalani tanpa cinta, hanya menyisakan air mata dan derita.


Selama itu, di hati Vano hanya ada Meera, Meera dan Meera. Walau jelas, Vano kian merasa dan menyadari bahwa rasa cinta dan kerinduan yang begitu mendalam itu berawal dari rasa bersalah semata.


Andai kejadian itu tidak terjadi, dimana Meera menyerahkan dan merelakan jiwa raganya pada Vano, mungkin semua takkan sesulit ini, perpisahan itu, takkan sesakit ini.


Tapi, apa yang bisa dilakukan, semua sudah terlanjur terjadi, waktu tak bisa terulang kembali.


Kini, mengetahui kehamilan Meera. Sungguh, menyesakkan jiwa. Ada rasa terkejut yang begitu kentara namun tak dipungkiri rasa bahagia bergelora di dalam dada. Kehangatan, kian terasa mengalir di sekujur tubuhnya, menyadari bayi yang dikandung Meera saat ini, adalah anaknya.


Haruskah Vano diam saja. Ini, adalah kesempatan kedua, mungkin saja bukan ? Lelaki bisa memiliki lebih dari satu istri. Membayangkan bisa menikah dengan wanita yang begitu dia cinta, sungguh membuatnya bahagia. Apalagi ada anak yang mengikat mereka.


Beberapa hari kemudian ...


" Kau ? "


Meera jelas terkejut, tatkala pintu tempat tinggalnya diketuk dan saat membukanya, mendapati Vano telah berdiri di sana. Dengan, beberapa jinjing paper bag menjadi buah tangannya.


Meera mengerjap kaget, Lucas bahkan belum pernah Meera ajak ke tempat ini. Sedari dulu, Vano memang slalu bergerak lebih cepat.


Helaan nafas terdengar, Meera bingung harus melakukan apa. Mengusirnya, sungguh dia tidak tega.


Namun, kecemasan kian kentara terasa. Meera melirik jalan di sekitarnya, rasa khawatir mendera. Takut, tiba-tiba ada Lucas di sana.


" Aku-- hanya ingin berkunjung, boleh ? " Tanya Vano kemudian.


" Mhh ? "


Bagaimana ini, Zora bahkan sedang pergi keluar. Meera sungguh bingung dibuatnya. Apalagi saat mengingat, lelaki yang kini berada di hadapannya, bertandang ke rumahnya, telah berstatus suami-- orang.


" Masuklah ! "


Mau tidak mau, mau bagaimana lagi. Meera mengizinkan Vano masuk, dengan membiarkan pintu tetap terbuka.


Risih, itu yang dirasakan oleh Meera sekarang. Vano menatapnya dengan begitu dalam, juga ke arah perutnya yang membesar.


Pernahkah Vano bilang, saat hamil Meera terlihat lebih cantik dan menggemaskan ? Vano jadi ingat, bahkan senang, terlalu riang, kala akhirnya menyadari-- bahwa yang telah membuat Meera hamil, adalah dirinya. Sebuah prestasikah ?


" Aku-- membawa semua ini. "


Vano tersenyum, terlampau manis. Namun, jangan harap Meera akan tergoda, dia sangatlah kuat. Tahan goda dan ujian, namun terpatahkan. Kehamilan dirinya membuktikan, bahwa dirinya telah gagal menjaga dirinya sendiri.


Vano mengulurkan buah tangan yang sedari tadi di bawanya. Memberikan pada Meera kemudian, berharap Meera mau menerimanya.


" Walaupun kau membenci diriku, setidaknya terimalah ini. "


Ucap Vano penuh trik, berharap hati Meera luluh. Dia sedang berusaha mendekati, meraih hati Meera kembali secara perlahan.


Cukup lama mereka menghabiskan waktu berdua. Walau diam lebih dominan diantara mereka. Sesekali mengobrol, walau kaku kental terasa.


Waktu yang terus bergulir, akhirnya Vano beranjak pergi.


" Oh iya Meera. " Ucap Vano untuk terakhir kali, sebelum dia berlalu.


" Apa aku sudah pernah mengatakan ini ? " Tanya Vano pada Meera.


" Apa ? " Jawab Meera dingin.


" Jika kau mau kembali bersamaku, aku-- akan mengajakmu naik bianglala raksasa yang lebih besar dari yang pernah kau naiki bersama lelaki itu. "


Meera mengerjap kaget. Jadi, itukah alasan sikap Vano berubah dulu. Tidak datang ke tempat janjian di taman ?


Tidak ! Meera tidak peduli, kesalahan Vano lebih fatal, meninggalkan dirinya yang sudah ternoda, lalu menikah dengan perempuan lain, apalagi yang lebih menyakitkan dari itu ?


Belum lagi, kehamilan Meera akibat perbuatan Vano padanya, walaupun saat itu mereka terpaksa melakukannya. Memikirkan lagi hal itu, membuat hati sakit teriris.


***


Sedangkan Lucas,


Dia tidak lagi bodoh. Pengalaman berkali-kali membuktikan, dan dia tidak ingin menjadi pecundang untuk ke sekian kali.


Dia sedang di perjalanan, melesat dengan kecepatan tinggi, menuju Meera sang kekasih hati.


Bersabar, setidaknya itu yang kali ini Lucas lakukan. Dengan menahan diri teramat sangat-- dia menunggu Vano keluar dari rumah Meera. Dia sungguh tak ingin Meera melihatnya begitu emosi untuk ke sekian kali.


Bergegas menghampiri Meera setelah sesaat lalu melepas Vano pergi, setidaknya Lucas lega tak ada senyuman manis tersungging di bibir mungilnya.


" Kau ? "


Mimpi apa Meera semalam, dalam sehari dikunjungi tamu yang merupakan orang-orang penting. Mereka bahkan rela datang ke gubuk deritanya, yang terlihat begitu sederhana.


Setidaknya, kali ini Meera tersenyum, kala menyambut kehadiran Lucas di hadapannya.


" Apa kau menyambutnya seperti ini juga tadi ? "


Sindir Lucas walau begitu halus. Melihat senyum manis Meera, sungguh tak rela dia berbagi.


Meera tertawa kecil, sudah dia duga. Lucas ada di sekitarnya, setia memata-matai dan mengawasi.


" Apa saja yang kalian lakukan, hmm ? "


Kali ini Lucas menarik Meera untuk duduk di pangkuannya. Memeluknya kemudian. Dengan sedikit-- menyentuh perut buncit itu. Namun urung-- dia tarik kembali.


Mengusap punggung Meera kemudian, berusaha menyalurkan kasih sayang.


Meera melingkarkan lengannya pada leher Lucas. Tersenyum kecil seraya menatap Lucas dalam.


" Kalian para suami orang-- jangan berfikiran macam-macam. " Meera menggoda Lucas, mentoel hidung Lucas dengan jari telunjuknya.


" Apa kau bersikap seperti ini juga padanya tadi ? "


Goda Lucas terdengar posesif. Meera hanya terkekeh saja, tak melanjutkan obrolan itu. Dia sedikit malas jika harus membahas Vano sekarang.


Meera menggeleng kepalanya, lantas beranjak bangun dari pangkuan Lucas. Namun, Lucas tahan seketika. Dia tak ingin berjauhan dengan Meera.


" Bagaimana, apakah kau sudah memiliki jawaban dari pertanyaan ku, Meera ? "


Tanya Lucas pada Meera dengan sorot mata yang begitu dalam. Mengandung seribu makna, tersirat sejuta cinta, kasih sayang dan harapan di sana.


Pertanyaan atas permintaan pernikahan itu, sungguh membuat hati Meera meletup-letup bahagia, berbunga-bunga dan menjadi pelipur lara dalam kehidupannya yang kini penuh dengan luka dan air mata. Menjadi penyejuk gersangnya hati yang terasa begitu hambar.


Namun, lagi-lagi kebingungan melanda, seperti yang kemarin Meera fikirkan, kalimat itu, permintaan itu, bak permata di lautan lumpur.


Kenyataan walaupun pedih tetap harus dijalani, harapan walaupun indah tetap hanyalah mimpi. Permata tetaplah permata, dan lumpur tetaplah lumpur. Mungkinkah mereka bisa bersatu, bersanding seirama ?


Nyatanya, sampai detik ini, rasa rendah diri masih kerap menyelimuti hati Meera.


.


.


💫 Bersambung ... 💫