Love

Love
9. Bersaing



"Sum... Sumpah?"


Iren membulatkan matanya ke arah Rendi, dengan wajah yang mulai menampakkan ketegangan macam murid yang lagi nyontek tiba-tiba di belakangnya ada Pak Guru atau Bu Guru mengawasi,


Rendi terlihat menganggukkan kepalanya pelan dengan mata yang terus memberikan isyarat jika hantu Nyonya Wening masih ada di sana,


"Ki... Kita... Kita lari sajaaaaaa..."


Rendi lantas menarik tangan Iren lagi yang sontak saja kaget tiba-tiba ditarik untuk lari ke arah lantai dua di mana kamar Iren berada,


Sementara itu, Mama dan Yoga yang melihat Iren tiba-tiba saja lari tidak jelas tentu saja jadi saling berpandangan karena bingung,


Belum lagi kedua orang itu memahami situasi dan kondisi yang sedang terjadi, tiba-tiba Mama merasakan hidungnya mencium aroma seperti anyir darah,


Seketika, merasakan ada aroma anyir darah tiba-tiba, Mama pun bergidik ngeri, ia menatap calon menantunya dengan wajah takut,


"Ap... Apa kamu mencium aroma itu juga nak Yoga?"


Tanya Mama,


"Aroma apa Ma?"


Tanya Yoga yang semakin bertambah bingung, karena kali ini bukan hanya Iren yang tampak aneh, namun juga calon mertuanya,


"Darah, seperti ada aroma darah,"


Mama berdiri sambil celingak-celinguk takut, Yoga yang mendengar Mama berkata demikian, tentu saja ia jadi ikut merasa merinding, seketika ia langsung teringat Nyonya Wening yang baru saja diketahui tewas dibunuh di tempat usahanya,


"Dia di mana sekarang? Dia di mana?"


Iren di kamar terlihat bersembunyi di bawah selimut di atas tempat tidur, di sampingnya Rendi juga ikut bersembunyi pula,


"Mana aku tahu honey, kan aku juga di sini,"


Jawab Rendi,


"Lah kamu kan sekarang hantu juga, San coba dilihat,"


Kesal Iren karena Rendi malah ikut sembunyi, bahkan dialah juga yang mengajak Iren sembunyi di balik selimut,


"Lah beda dong honey, aku kan hantu ganteng, lihat dong, tidak ada satupun hal yang menakutkan pada diriku, iya kan?"


Rendi mengerling ke arah kekasihnya yang hanya mendesis menanggapi,


Semua juga tahu Rendi dulu cukup populer di kampus, banyak sekali mahasiswi yang naksir dan ingin dipacarinya, dari kakak angkatan, yang seangkatan hingga adik angkatan, semua antri macam pembagian sembako,


"Tapi kan meskipun ganteng, kamu tetap hantu, cobalah sana dilihat du..."


Iren belum lagi menyelesaikan kalimatnya, saat tiba-tiba selimut yang menutupi dirinya dan Rendi dari bawah seperti ada yang menarik pelahan,


Srrrttt...


Iren dan Rendi pun saling berpandangan, yang kemudian dalam dua detik berikutnya sama-sama teriak,


"Aaaaaaaaaaa,"


Brak!!!


"Nona... Nona..."


"Sayang..."


"Iren..."


Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, pak satpam penjaga rumah, Mama dan Yoga terlihat berada di pintu menatap Iren yang kini di atas tempat tidur menggigil ketakutan,


"Ada apa sebetulnya? Ada apa?"


Mama bergegas menghampiri Iren, Yoga pun sama mengikuti,


"Maaa..."


Iren melompat memeluk Mamanya, Yoga yang akan berusaha ikut menenangkan kakinya tampak di jegal Rendi sebelum sampai ke tempat tidur hingga Yoga tersandung dan terhuyung ke depan,


"Nyo... Nyonya Wening, dia ada di sini Ma,"


Bisik Iren, bersamaan dengan itu Yoga menabrak meja rias kamar Iren, membuat Mama dan Iren menatapnya,


"Ada yang menjegal kaki saya Ma,"


Kata Yoga yang merasa jika itu jelas perbuatan hantu,


Rendi sendiri tertawa terpingkal-pingkal, membuat Iren terpaksa melepaskan pelukannya dari Mama sebentar untuk meraih bantal dan menimpuk Rendi,


"Rese kamu mah,"


Kata Iren kesal.


...****************...