
Jengah !
Mungkin kata itu yang cocok di sematkan. Beberapa kali bertemu dengan Meera, hanya pertengkaran dan perdebatan yang terjadi. Dan lagi-lagi, kata cerai yang terlontar dari bibir mungil manis yang sudah lama tak dicicipinya itu. Atau mungkin, justru karena itu bibir Meera menjadi begitu pahit. Ketika hanya kata perpisahan yang terucap dari sana pabila berjumpa.
Rahang Lucas mengeras saat itu. Ini sudah ke sekian kalinya Meera membahas perpisahan dengannya. Ke sekian kalinya Meera meminta cerai padanya. Hanya semudah itu ? Dengan semudah itu dia berkata meminta cerai seolah membalikkan telapak tangannya.
" Turun dari mobilku ! " Usir Lucas dengan tegas dan rahang yang terlihat mengeras.
" Lu--Lucas ! " Meera terperangah tak percaya dengan apa yang di dengarnya baru saja.
" Turun dari mobilku, Meera ! " Teriak Lucas cukup keras.
" Bukankah kau tidak ingin melihatku lagi, huh ? " Sorot matanya tajam menatap Meera. Bahkan jelas terlihat merah.
" Baik ! Akan ku turuti. Aku akan enyah dari hidupmu. " Ucap Lucas dengan nafas tersengal.
" Dan kau-- " Lucas menunjuk wajah Meera dengan jari telunjuknya.
" Bisa hidup tenang dengan Vano dan putrimu. Itu kan yang kau impikan ? " Teriaknya cukup histeris dan terdengar begitu menyakitkan. Mendadak bayangan saat Meera dan Vano mengobrol di rumah sakit waktu lalu terlintas kembali di benaknya. Padahal, selama ini Lucas tidak pernah sekalipun meragukan perasaan Meera padanya. Namun, karena Meera terus menerus meminta berpisah darinya, mendadak bayangan itu muncul dan menjadikan kemungkinan bagi Meera sebagai alasannya.
Hatinya benar-benar sakit dan terluka. Sudah cukup kesabarannya selama ini. Selama beberapa bulan ini. Menahan rasa cinta dan rindu pada istrinya hanya karena masalah Helena yang jelas Lucas sama sekali tidak memiliki perasaan sedikit pun padanya. Hanya sekedar rasa sahabat, bahkan akhir-akhir ini hampir saja seperti saudara.
" Sudah ku bilang kan Meera. Aku akan bercerai dengan Helena. Ini bukan hanya keputusanku. Melainkan keputusannya juga. Tapi kau-- kau tidak pernah mempercayaiku. Kau slalu saja meminta perpisahan denganku. " Lanjut Lucas lagi dengan emosi yang menguasai diri. Wajahnya merah padam saat itu.
Meera menangis melihatnya, mendengar ucapan Lucas yang dipenuhi dengan amarah. Dia takut, belum pernah dia melihat Lucas seperti ini. Sisi Lucas yang penuh dengan amarah dan emosi.
" Lucas ! " Meera terisak saat itu. Dia menyesal dengan ucapannya tadi. Dia seperti baru saja membangunkan seekor singa dari tidur nyenyaknya.
" Sekali lagi, Meera. Keluar dari mobilku ! " Teriaknya lantang dan keras. Hingga Meera refleks menutup telinganya.
" Lucas, maafkan aku ! " Meera terus menangis saat itu.
Lucas benar-benar marah. Air mata bahkan menetes dari matanya. Dia lalu keluar dari mobilnya, bergegas berjalan mendekati sisi mobil dimana Meera duduk. Membukakan pintunya, lalu memaksa Meera untuk keluar dari sana.
" Cepat turun ! " Tarik Lucas cukup kasar pada tangan Meera.
" Lucas jangan seperti ini ! Aku takut. " Rintih Meera menangis ketakutan. Namun Lucas tidak peduli. Emosi terlanjur menguasai diri.
Menutup pintu mobil itu dengan keras, Lucas berjalan kembali untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudinya semula. Seraya mamalingkan pandangannya dari Meera. Sebelum pergi, dia sempat membuka jendela kaca dan berbicara, dengan mata sendu berkaca-kaca.
Meera menatap Lucas dari balik jendela kaca yang terbuka itu. Dengan tatapan nanar dan sendu.
" Selamat tinggal, Meera. " Meera membelalakkan matanya setelah mendengarnya.
Lucas mengemudikan mobilnya cepat, keluar dari area parkiran dengan begitu tergesa. Bahkan suara gesekan ban mobil terdengar cukup nyaring, kala mobil mulai melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
Sreeeetttttt !!!!
" Lucas !!! " Teriak Meera panik. Mendengar ucapan selamat tinggal itu, bayangan buruk tergambar di pelupuk matanya.
*********
Lucas menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan kota yang malam itu mendadak terasa sepi. Seolah mendukungnya beraksi untuk segera mati.
Brrrraaaaaaakkkkkk !!!
Kecelakaan maut pun terjadi.
Suara sirine mobil polisi dan ambulance terdengar meramaikan malam itu yang awalnya terasa begitu hening. Belum lagi kerlap kerlip lampu mobil sirine menyilaukan mata para penonton yang berkerumun di sekitar sana. Kecelakaan beruntun terjadi. Beberapa kendaraan terlihat rusak dengan posisi yang hampir berdempetan.
*************
Malam itu terasa begitu mencekam. Dingin yang menelusup ke tulang bahkan terabaikan. Tak sebanding dengan rasa takut akan kabar kematian yang mungkin saja akan datang berhembus ke indera pendengaran.
Meera mengikuti langkah Arselli dan Alessya. Meera yang begitu panik saat ditinggalkan Lucas di area parkir tadi, memutuskan untuk kembali ke restoran menemui Alessya dan Arselli untuk memberitahukan kondisi Lucas sebelum pergi tadi.
Kabar kecelakaan itu belum datang ke telinga mereka, namun firasat buruk terlanjur datang dan dirasakan oleh Meera.
" Tenanglah, Meera. " Alessya mencoba menenangkan Meera di dalam mobil tadi.
" Tidak akan terjadi apa-apa pada Lucas. " Walaupun pada kenyataannya hatinya pun ikut cemas.
Dan rasa lega itu perlahan sirna, saat mobil Arselli tepat berhenti di dekat area kecelakaan, yang sudah diberi tanda dan garis kuning di sana. Ada mobil Lucas di sana.
Meera mengetahui betul mobil yang ditumpangi Lucas tadi. Baru beberapa menit lalu, mereka mengobrol di dalamnya. Hingga akhirnya mereka bertengkar dan terjadilah tragedi yang kini tampak begitu jelas dan tragis di depan matanya.
" Lucas !! " Histeria Meera saat itu.
" Itu mobil Lucas, Alessya. Itu mobilnya. " Ucap Meera terisak pada Alessya yang kini sudah tampak histeris juga.
Sementara Arselli, dia hanya diam mematung saat itu. Bagaimana dia tidak takut dan berdebar, kerusakan mobil Lucas begitu parah. Dia tidak bisa membayangkan kondisi Lucas sekarang.
" Bagaimana kondisi korbannya ? " Tanya Arselli pada petugas yang sedang berjaga di sana. Bahkan evakuasi korban masih belum selesai.
" Sebagian besar korban sudah dibawa ke rumah sakit terdekat. Anda bisa mengeceknya di sana. " Jelas petugas itu yang tampak begitu sibuk mengamankan kondisi jalan yang masih tampak semrawut.
" Baiklah. Terimakasih. " Ucap Arselli bergegas pergi. Menemui Istrinya dan Meera yang menunggu di dalam mobil.
" Bagaimana ? " Tanya Alessya panik. Meera hanya terdiam saat itu, dengan kepala bersandar di jendela kaca, dengan wajah yang begitu pucat karena merasakan khawatir yang begitu mendalam. Belum lagi rasa bersalah yang seakan menyiksanya.
" Kita ke rumah sakit sekarang. " Jawab Arselli.
" Meera !! Kau tenanglah. Semua akan baik-baik saja ! " Ucap Arselli berusaha menenangkan istri kesayangan adiknya itu.
Selang beberapa lama, mereka pergi ke rumah sakit. Berlari menuju bagian informasi. Untuk menanyakan dimana korban-korban kecelakaan itu dirawat.
Namun, belum sampai mereka ke tempat tujuan untuk mencari dan melihat Lucas, Meera sudah terlanjur pingsan saat itu.
.
.
💫 Bersambung ... 💫
Jangan lupa like, rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan koment ya ... Makasih semuanya 😘😘