Love

Love
Chapter 73 - Sebuah Kisah



dr. Amanda sempat terhenyak melihat tanda lahir yang dia lihat pada paha bagian dalam pasien yang malam itu dia tangani. Walau begitu, dia tetap berusaha untuk profesional dengan pekerjaannya. Apalagi menyangkut nyawa yang menjadi taruhannya.


Jantungnya mendadak berdebar begitu kencang malam itu. Apalagi saat lagi dan lagi, berulang kali, matanya mengarahkan pandangannya ke arah yang sama. Dia tidak bisa mengelaknya saat itu, atau sekedar memalingkan pandangannya.


Posisi sang pasien yang hendak melahirkan seolah memaksanya untuk melihat tanda lahir itu lebih dalam dengan sorot mata tajamnya, namun berusaha untuk tidak mencurigakan.


Sesekali menyentuh tanda itu dengan jarinya, untuk memastikan keasliannya. Dan lagi-lagi dengan cara dan upaya agar tidak mencurigakan.


Hatinya menjerit bahagia. Pencariannya selama hampir dua puluh tiga tahun akhirnya menemukan titik terang. Usahanya tidak sia-sia memilih profesi sebagai dokter kandungan beberapa tahun ini demi memudahkan pencariannya .


" Tolong aku ! " Tiba-tiba pasien itu merintih meminta tolong padanya. Dia yang sedari tadi sibuk memikirkan tanda lahir di kepalanya sontak terkaget, namun tidak berlangsung lama.


" Bawa aku pergi dari sini. Aku mohon ... " Sang dokter tersenyum penuh kelegaan, mungkinkah ini jalan dari Tuhan untuknya ?


.


.


Dua puluh tiga tahun yang lalu ...


Seorang gadis belia dengan perut besar berjalan menyusuri jalanan dengan lorong sempit dan sepi seorang diri. Dia menahan nyeri yang teramat sangat di perutnya. Sepertinya waktu melahirkan telah tiba.


Malam itu, dia seorang diri tanpa ada seorang pun yang menemani. Akhirnya memilih duduk di sebuah tembok karena merasakan mulas yang teramat sangat yang semakin lama semakin menjadi. Apalagi, ketika cairan bening mulai mengalir di sela kedua pahanya.


" Argghh !! " Jeritnya malam itu. Memecah keheningan malam di bawah sinar lampu yang begitu temaram.


Untunglah tiba-tiba seorang lelaki datang menghampiri. Setengah berlari dia mendekat untuk menolong membantu sebisanya.


" Apa kau mau melahirkan ? " Tanyanya panik, setelah melihat perut perempuan itu yang ternyata sedang hamil besar.


" Tolong aku ... " Jeritnya menangis.


Sang lelaki yang tidak tahu apa-apa akhirnya mengendong perempuan hamil itu. Membawanya masuk ke dalam mobilnya, lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.


" Bersabarlah kau akan baik-baik saja ! " Hibur lelaki itu, seraya sesekali menengokkan kepalanya ke arah belakang kursinya, dimana perempuan itu tengah terbaring miring di sana, dengan masih menahan rintih di perutnya. Lelaki itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah sakit.


.


.


Dengan ditemani lelaki itu, perempuan itu begitu beruntung mendapatkan pertolongan yang tidak terduga dari seorang malaikat tampan yang tak bersayap. Dengan rela menggendongnya, jauh-jauh mengantar ke rumah sakit, lalu menemani hingga proses melahirkan usai.


Lelaki itu, seolah ingin benar-benar memastikan keselamatan perempuan dan bayi yang telah ditolongnya tadi. Tidak tanggung-tanggung, berbuat baik sampai akhir, sampai semuanya beres tidak setengah-setengah.


Bayi perempuan lahir dengan berat badan 2,8 kg, dan panjang 48 cm. Cukup kecil, namun bila mengingat usia sang ibu yang ternyata masihlah belia, berat badan itu terbilang cukup ideal. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil pula. Dan setelah beberapa lama diperhatikan, bayi itu memiliki sebuah tanda lahir berwarna coklat di bagian paha atas dalamnya.


" Kau sudah mempunyai sebuah nama untuknya ? " Tanya lelaki itu yang terlihat begitu jatuh cinta pada sang bayi. Bayi cantik, mungil, dengan pipi yang cubby dan merah merona. Hidungnya kecil namun cukup mancung untuk ukuran orang Asia.


Sedari tadi, ibu sang bayi masih terlihat belum menerima keberadaan bayi itu. Dia malah menangis tiada henti. Sang lelaki penolong bukannya tidak tahu. Walaupun perempuan yang tengah duduk di hadapannya itu tidak bercerita, sang lelaki sedikit banyak sudah menduga. Mungkin, kehamilan itu merupakan kehamilan yang tidak diinginkan. Akibat pergaulan bebas atau sebuah tragedi yang tidak mengenakkan.


Untuk hal itu, dia samasekali tidak berani untuk bertanya atau mengungkitnya. Khawatir akan memancing rasa trauma. Apalagi sang ibu juga tampak terserang sindrome baby blues, semacam ketidak siapan menjadi seorang ibu apalagi merawatnya.


" Baiklah-- sebaiknya kau beristiratlah dulu. Aku akan mencari makanan dan pakaian untukmu dan bayimu. " Ucap lelaki itu seraya mulai melangkah jauh menuju pintu meninggalkan perempuan itu di ranjang pasien sendiri.


" Namanya-- Ameera Maharany. " Ucapnya tiba-tiba dalam keheningan siang itu. Sang lelaki penolong sempat terhenyak mendengarnya. Tersenyum lega sekaligus bangga kepada perempuan itu. Di usia yang masih begitu muda dan dini, sudah memiliki seorang bayi pastilah merasa berat, tidak semua orang akan kuat.


" Itu-- sangat bagus. " Jawab lelaki itu dengan seulas senyuman bangga di bibirnya. Berjalan kembali menghampiri ibu sang bayi.


" Namaku, Dimas. " Seraya mengulurkan tangannya. " Siapa namamu ? " Lagi-lagi raut kecewa tergambar di wajahnya. Karena setelah itu, bibir sang ibu bayi kembali terkatup rapat. Dia hanya merelakan lidahnya berucap untuk menyebutkan nama putrinya.


Bergegas keluar, Dimas meninggalkan ibu sang bayi di kamar itu. Sementara si baby Ameera, dia masih terlelap tidur di kamar khusus bayi yang tersedia di rumah sakit itu.


.


.


Seorang perawat yang mengetahui sesuatu, bergegas berlari menghampiri.


" Nona itu, dibawa paksa oleh beberapa lelaki. Dia bahkan menangis dan menjerit menolak untuk dibawa pergi tadi. " Jelasnya membuat tubuh Dimas tersontak kaget seketika.


Bagaimana dengan nasib Ameera nanti ?


.


.


Perempuan muda itu terus menangis tiada henti. Para lelaki yang membawanya adalah bodyguard suruhan ayahnya. Seseorang yang cukup terpandang di kota itu.


" Ayah ... jangan begini aku mohon ! " Dia terus menjerit dan menangis sejadi-jadinya, meronta sekuat tenaga yang dimiliki olehnya, ketika para bodyguard itu membawanya masuk ke dalam mobil.


" Ayah ... aku memiliki seorang bayi. Aku mohon ayah ... " Ucapnya tiba-tiba. Ayahnya sontak terkaget. Jika masih memiliki waktu, mungkin lelaki tua itu dengan bijaksana akan memerintahkan supirnya untuk memutar arah mobilnya menjemput sang cucu di rumah sakit.


Namun terlambat ...


Belum sempat sang ayah berucap pada sang sopir, kecelakaan besar terlanjur terjadi. Sang ayah dan sopir meninggal di tempat seketika, sementara putri dari sang ayah itu, yang merupakan ibu dari sang bayi mengalami koma hampir empat bulan lamanya.


Waktu yang cukup lama baginya, hingga akhirnya dia kehilangan jejak sang bayi bersama lelaki yang bernama Dimas itu.


.


.


Ameera terhenyak mendengar kisah itu dari sang dokter. Nama Dimas yang sempat tadi ia dengar dari mulut sang dokter sungguh tak asing baginya. Karena itu adalah nama ayah yang selama ini tertera dalam akta kelahiran dan biodata lainnya.


" Jadi dokter, siapakah ibu dari bayi itu ? " Tanya Meera setelah beberapa kali menelan ludahnya cukup kasar. Dia penasaran, namun juga merasa takut bersamaan. Tapi, itu adalah realita bukan ? Memiliki keluarga kembali yang dulu sempat hilang adalah impiannya.


Dimas yang selama ini berperan sebagai ayahnya adalah ayah yang baik baginya. Begitu pun istri Dimas, dia cukup baik berperan sebagai Ibu Meera dulu, walau tak sebaik ibu pada umumnya.


Keluarga yang cukup hangat sempat dimiliki oleh Meera dulu. Dan semuanya hancur seketika, ketika perusahaan sang ayah yang tidaklah terlalu besar mengalami kebangkrutan. Hingga akhirnya sang ayah mengalami sakit-sakitan dan akhirnya meninggal karena tidak menjalani pengobatan secara maksimal.


Istri Dimas yang sebenarnya sedari awal dulu tidak menyetujui pengangkatan Meera sebagai putri mereka, akhirnya mau tidak mau menjalani pahit kehidupan bersama Meera. Mengingat dia tidak memiliki anak yang lainnya. Dengan siapa lagi, usianya terlanjur senja untuk memutuskan hidup sendiri.


Dan akhirnya mereka hidup berdua dengan Meera yang menjadi tulang punggung keluarga. Dengan bekerja di warung nasi, restoran, kafe dan sebagainya. Semuanya sempat dia coba.


Hingga akhirnya saat Meera baru saja lulus dari SMA, sang ibu pun meninggal karena sakit. Walaupun sebenarnya tidaklah terlalu parah. Mungkin, itu sudah menjadi takdirnya. Dan sejak saat itu, Meera hidup sendiri. Berjuang menapaki jalan kehidupan yang terasa getir seorang diri.


" Jadi dokter, siapakah ibu dari bayi itu ? " Tanyanya untuk kedua kali.


" Itu berarti dia-- adalah ibu kandungku ? " Mengerutkan dahinya. Berusaha mencari jawaban dari mata sang dokter yang sedari tadi hanya terdiam.


Dokter Amanda terdiam, cukup takut mengungkap kenyataan, jantungnya mendadak berdebar kencang. Tapi-- kebenaran harus diungkapkan bukan ?


" Perempuan itu-- adalah ... " dr. Amanda menelan ludahnya kasar. Wajahnya pucat kala gugup semakin melanda.


" Perempuan itu adalah aku, Ameera. " Jawabnya dengan bibir bergetar.


Mata Meera melotot. Mengerjap kaget tak percaya. Benarkah ? Tangannya menutupi mulutnya yang sedari satu detik lalu terbuka, saking kagetnya. Air mata bermakna ganda mengalir membasahi pipinya.


Kau ibu kandungku ? , seraya menatap dalam ke arah sang dokter, yang ternyata adalah ibunya. Dengan sorot mata sendu yang jelas tidak terbaca.


.


.


💫 Bersambung ... 💫


Jangan lupa like, rate⭐⭐⭐⭐⭐


coment ya ...