Love

Love
11. Dia Datang



Hujan turun deras begitu senja tiba, Mama mengabarkan kemungkinan akan pulang malam karena Papa harus mewakili perusahaan untuk membicarakan kerjasama dengan beberapa perusahaan baru,


Iren yang makin lama makin tak tenang karena khawatir akan ada penampakan hantu Nyonya Wening mulai mondar-mandir di dalam kamar, tak lupa Iren juga terus berusaha menghubungi Kakaknya pun juga pacar Kakaknya agar Kak Wisnu bisa segera pulang,


"Sudahlah, duduk saja, kamu mondar-mandir begitu nanti lantai kamarnya jadi gembur,"


Kata Rendi sambil tiduran di atas tempat tidur Iren, tampak Iren pun menghela nafas melirik Rendi di sana,


"Memangnya aku kerbau membajak sawah lantai jadi gembur,"


Gumam Iren,


Lalu, jegerr!


Suara petir menyambar di luar sana, dan selang sedetik berikutnya lampu di dalam rumah mati,


"Haduuuh... Tamat riwayat kita,"


Kata Rendi,


Iren yang seketika makin ketakutan langsung lari ke tempat tidur dan memilih menempel kepada Rendi,


"Astaga, dosa apa aku tu sampai begini amat nasibnya,"


Lirih Iren sambil menarik selimut,


"Coba aku belum mati, suasana seperti ini, kita cocok buat..."


"Heh!"


Plok!


Iren menabok Rendi,


"Kamu mau disambar petir jadi hantu pikirannya jorok,"


Omel Iren,


"Apa sih, siapa juga yang mikir jorok,"


Rendi cekikikan,


"Itu tadi, cocok cocok suasana begini, apa maksudnya,"


Iren masih mengomel,


"Aku kan belum terusin,"


Rendi masih cekikikan


"Ah tidak mungkin, sudah jelas kamu mau ngomong apa,"


Iren merapatkan selimutnya,


"Apa coba? Orang aku mau bilang kita cocok buat bikin mie rebus sama minum kopi susu,"


Ujar Rendi sambil nyengir ke arah Iren,


"Ish... Tidak mungkin,"


" Hmm... Jangan-jangan kamu yang pikirannya jorok,"


Kata Rendi tiba-tiba sambil memencet hidung Iren, membuat Iren tentu saja kelabakan,


"Enak aja, enggak! Enggak mung..."


Iren belum lagi menyelesaikan kalimatnya, saat tiba-tiba dari arah pintu terdengar seperti handle ditarik,


Iren dan Rendi tampak memalingkan pandangan mata mereka ke arah pintu, menunggu siapa yang ada di sana,


"Mbak Narsiiih? Kak Wisnuuu?"


Iren memastikan memanggil kedua nama itu, yang memang hanya mereka yang mungkin akan naik ke lantai dua karena pelayan rumah yang dua orang lain selain Mbak Narsih hanya bertugas di bagian belakang dan juga mengurus halaman,


Ceklek! Ceklek!


Handle kamar kembali seperti ada yang mencoba menarik, lalu...


"Itu bukan Mbak Narsih, itu... Dia... Dia datang,"


Tiba-tiba tangan Rendi merangkul bahu Iren, tampak Iren menoleh ke arah wajah Rendi yang tampak tegang,


Melihat wajah Rendi yang begitu tegang, jelas saja Iren jadi lebih tegang dan merasakan ketakutan yang lebih dari sebelumnya,


"Tidak, jangan bilang dia..."


Swiiing... Aroma anyir darah menyeruak ke dalam kamar, bersamaan dengan itu suara petir yang menyambar di luar sana terdengar kembali,


Lampu masih belum menyala, cahaya satu-satunya hanyalah dari arah jendela kaca di mana masih ada sisa matahari di celah awan-awan hitam, yang itupun matahari sebentar lagi juga akan terbenam,


Dan...


Dari celah pintu kamar, sesosok perempuan tampak masuk ke dalam kamar Iren,


Sosok itu terlihat penuh dengan darah, kepalanya nyaris putus dengan leher yang tergorok,


Rendi yang melihat sosok itu kini melayang pelan menuju tempat tidur di mana ia dan Iren berada, seketika meraih Iren ke dalam pelukan,


"Jangan lihat,"


Lirih Rendi melindungi Iren yang tubuhnya kini sudah gemetaran luar biasa,


Meski Rendi sejatinya juga takut, tapi posisinya yang saat ini adalah hantu dan lagi dia juga laki-laki, maka barang tentu Rendi harus tetap berusaha berani demi melindungi Iren,


"Ma... Mau ap... Mau apa kamu ke sini Nyonya?"


Tanya Rendi gagap,


Hantu Nyonya Wening mendekatkan kepalanya yang nyaris putus itu ke arah wajah Rendi,


Darah masih mengalir dari sudut matanya, meskipun bibirnya terlihat mulai ditarik untuk sedikit tersenyum aneh,


"Aku mau minta tolong pada Nona Iren,"


Lirih hantu Nyonya Wening pada Rendi dengan suara yang nyaris hilang.


...****************...