Love

Love
Chapter 71 - Menghilang



Lucas segera menghambur berlari ke rumah sakit setelah sesaat lalu mendengar kabar dari Vincent mengenai Meera, istrinya. Dia bahkan kabur dari pesta pernikahannya sendiri malam itu. Sungguh, dia tidak peduli lagi akan semua itu.


" Dimana istriku ?! " Teriak Lucas tidak sabar. Dia menarik kerah kemeja anak buah asisten pribadinya itu. Vincent yang sedari tadi mengekori di belakang, langsung menenangkan.


" Nona sedang di ruangan tindakan, Tuan. " Jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar. Bagaimana tidak, tangan Lucas mencengkeram kerah bajunya dengan begitu keras. Membuat dirinya terasa hampir tercekik.


Bergegas Lucas pergi berlari, setelah menghempas cukup kasar anak buah Vincent, hingga tersungkur ke lantai.


Didapatinya para bodyguard berbaju hitam tengah berjaga di sana. Lucas langsung tahu, siapa bos mereka. Cih !!


Menghampiri pelayan wanita yang terlihat begitu cemas dan kalut, pelayan wanita itu tampak pucat pasi ketika Lucas menghampiri.


" Apa yang terjadi dengannya ? " Tanya Lucas dingin. Mengingat tanggal hari ini bukanlah tanggal perkiraan melahirkan istrinya.


Dengan sorot mata tajam yang menghujam, membuat si pelayan wanita sedikit ketakutan.


Dengan jari tangan yang bertautan di depan dada, pelayan wanita itu berdiri menunduk dengan kaki yang bergetar berusaha menopang tubuhnya yang terasa lunglai.


" Nona, mengalami pendarahan. " Jawabnya pelan.


" Kenapa sampai seperti itu ? Apa dia terjatuh ? " Tanya Lucas lagi menginterogasi.


" Tidak ! Bukan seperti itu. " Sangkalnya menggelengkan kepala. " Tadi-- Nona menonton televisi, dan dia-- melihat Anda di sana, dengan-- " Pelayan itu semakin menundukkan kepalanya.


Mungkin ini adalah keteledorannya karena telah mengizinkan Meera untuk menonton televisi, tapi siapa yang menikah lagi ? Jelas alasan itu yang lebih berperan penting dalam masalah yang sedang dihadapi Meera saat ini.


Lucas mencelos, tidak berusaha untuk menyangkalnya sekalipun. Masalah pernikahannya yang terendus media, hingga menyebabkan kondisi kesehatan Meera drop setelah mengetahuinya secara tiba-tiba dan tanpa penjelasan sebenarnya darinya sungguh diluar perkiraan Lucas. Saat itu-- dirinya terlalu fokus untuk menemukan istrinya itu. Hingga tidak memikirkan kemungkinan yang seperti ini.


Cukup lama mereka menunggu di luar ruang tindakan. Ny. Alice datang setelah beberapa saat. Dengan ditemani Arselli dan Alessya di sampingnya.


Wajah Ny. Alice sedikit pucat saat itu. Walaupun kadang dia bersikap kejam, kasih sayang nya pada kedua putranya tidak diragukan lagi. Hingga akhirnya kini dia sendiri yang hampir ketakutan, menghadapi Lucas nanti, apabila kabar buruk tentang Meera yang keluar dari balik pintu ruangan itu.


.


.


Lucas mengamuk saat itu, saat seorang perawat keluar dari ruang tindakan itu. Tampak terkesiap tak percaya, kala mendengar Meera sudah tidak ada di sana.


" Bagaimana bisa ?!! " Teriak Lucas histeris saat itu.


" Kondisi pasien cukup parah. Ini hanya rumah sakit kecil, Tuan. Perlengkapan di sini tidak lengkap. Jadi, kami harus memindahkannya ke rumah sakit yang lebih besar dengan peralatan yang lebih lengkap. " Jelas perawat itu sedikit khawatir. Dia sempat kaget tadi, ketika baru saja keluar dari ruangan itu, dia langsung dicecar pertanyaan mengenai keadaan pasien yang bernama Meera. Padahal setahunya, sedari tadi bukan pasien bernama Meera yang sedang ditangani di dalam ruang tindakan. Lalu kemana Meera sebenarnya ?


" Biar aku yang mengeceknya ! " Inisiatif Alessya bergegas berjalan masuk ke ruangan tindakan itu, tanpa menunggu jawaban dari perawat tadi. Dia akhirnya sedikit banyak tahu dengan permasalahan Lucas dan Meera, setelah tadi Ny. Alice sempat bercerita padanya dan Arselli selama perjalanan ke rumah sakit ini.


.


.


Alessya keluar membawa kabar yang tidak diinginkan. Memang bukanlah Meera yang berada di dalam ruang tindakan.


" Tadi-- Nona Meera dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar. " Jelas perawat yang berhubungan dengan administrasi pemindahan pasien.


" Tunggu sebentar ! " Perawat itu terlihat ikut panik. Lalu mengecek berkas yang menumpuk di atas mejanya.


Semua orang menunggu dengan raut wajah cemas dan penasaran. Sebenarnya ke rumah sakit mana Meera dipindahkan, dan siapa yang memindahkannya. Sementara perijinan akan hal itu hanya boleh dilakukan oleh keluarganya. Sementara pelayan wanita yang sedari awal membawa Meera ke rumah sakit pun tampak tidak tahu apa-apa.


" Dr. Amanda ? Dimana dia ? " Tanya pelayan wanita itu tiba-tiba. Dia baru tersadar tidak melihat dr. Amanda lagi setelah tadi mereka tiba di rumah sakit ini.


" Beliau-- " Berkas tentang pemindahan Meera pun ditemukan, perawat itu mengerutkan dahinya.


" Beliau yang mengurus pemindahan pasien bernama Meera. " Ucap perawat itu sembari membaca ulang berkas pemindahan.


" Beliau yang menjadi wali Nona Meera. " Tunjuk perawat itu pada kolom tanda tangan yang tercantum pada berkas itu. Tampak tanda tangan dr. Amanda terbubuh di sana.


Lucas merebut kasar berkas itu dari perawat. Membaca berkas itu lebih lengkap dari awal hingga akhir, matanya diam terpaku di satu titik pandang. Nama dr. Amanda terlihat jelas mengisi satu kolom penting di sana. Hingga Meera akhirnya bisa dipindahkan dari rumah sakit kecil ini.


Ibu ??? Dr. Amanda adalah ibu Meera ?


.


.


Lucas memukul dinding tembok rumah sakit itu berkali-kali. Nafasnya terlihat naik turun tidak tenang, gusar, gelisah tak beraturan.


" Kau sudah puas sekarang ?!!! " Tanyanya tajam pada ibunya. Sorot matanya penuh dengan kekecewaan di sana.


" Lucas ! Jangan seperti itu pada ibu ! " Tegur Arselli dengan lembut. Berusaha menenangkan sang adik yang kini tampak terlihat kalut. " Berusahalah untuk tetap tenang ! " Vincent ikut mengerumuni Lucas yang terlihat hampir naik darah. Dia takut tuannya itu akan lepas kendali hingga menyerang ibunya sendiri, Ny. Alice.


Sementara Alessya meraih tubuh sang ibu Mertua yang lunglai hampir merosot ke bawah lantai. Menggiringnya untuk duduk di kursi yang berada tidak jauh dari mereka berada.


Lucas, dia menghempas kasar punggungnya ke dinding tembok. Kakinya lunglai, hingga tak mampu menopang tubuhnya yang besar. Dalam sekejap merosot ke lantai, dengan kekacauan dan kekalutan yang tergambar begitu jelas di sana.


" Vincent !!! " Untunglah, setidaknya dia masih mampu untuk sekedar berteriak. Vincent segera menghampiri tuannya itu. " Cepat kerahkan anak buahmu di seluruh rumah sakit ! Temukan istriku !! " Perintahnya.


Lucas bangkit berdiri. Meninggalkan semua orang yang ada di sana. Dia lalu menoleh dan tersenyum getir pada ibunya. Bola matanya berkaca-kaca saat itu.


" Ibu ! " Panggilnya dingin dan ketus. Dia yang slalu manja pada ibunya kini tak lagi ada. Mendengar itu, dada Ny. Alice mendadak sesak. Merasakan sakit akibat penyesalan yang menyesaki rongga dada.


" Ibu ! " Ucapnya lagi. " Jika sampai terjadi apa-apa padanya, apa yang harus aku lakukan ? " Tanyanya dengan penuh kegetiran.


" Helena-- dia juga sedang hamil saat ini. " Lanjutnya lagi. Semua orang Ny. Alice, Arselli, Alessya dan Vincent terperangah mendengarnya.


" Dan sayangnya, bayi itu juga bukan anakku. " Lanjut Lucas lagi, menertawakan dan mengejek dirinya sendiri. " Kau pasti sangat puas sekarang, bukan ? " Tertawa pedih lalu melenggang pergi begitu saja dari sana.


Meninggalkan tatap penuh tanda tanya dari semua orang, terutama Ny. Alice. Entah apa yang ada di fikirannya saat itu.


.


.


💫 Bersambung ... 💫