
Lucas mengerutkan dahinya hingga keriput. Sudah hampir tiga bulan lamanya semenjak Meera pergi dan hilang dari kehidupannya. Namun tak ada juga kabar baik yang didengarnya.
Penampilan Lucas saat itupun begitu kusut. Tidak seperti dulu yang slalu terlihat tampan dan segar. Sekarang, bulu-bulu tidak terawat mulai tumbuh memenuhi dagu dan pipinya. Belum lagi aroma menyengat dan tidak mengenakkan akibat terlalu banyak menghisap rokok dan meminum minuman beralkohol.
Sepertinya, dia benar-benar begitu frustasi saat itu. Belum lagi masalah perusahaan yang kian menumpuk membuat dirinya enggan pulang ke apartemennya yang malah akan mengingatkan dirinya akan Meera.
Sesekali dia pergi meninggalkan perusahaan hanya untuk sekedar mengunjungi Helena. Melihat wanita hamil itu, seolah mengobati rasa bersalah dirinya terhadap Meera. Berharap di tempat lain akan ada yang menolong dan menjaga Meera dengan tulus hati, mengingat Meera yang tidak membawa barang sepeser uang pun saat pergi. Mengingat dirinya yang jarang memberikan uang cash hanya berupa kartu kredit dan ATM. Dan itupun, semua Meera tinggalkan di apartemen.
Ya, sesuai keputusan bersama. Pernikahan pura-pura itu tetap dijalankan. Lucas sedikit khawatir pada Helena. Bagaimanapun mereka bersahabat cukup lama. Lagipula, Helena sangat mengerti posisinya. Dia tidak mengambil kesempatan sedikitpun untuk mendekati Lucas dengan statusnya. Mereka saling menghormati, dan Helena sangat berterimakasih pada Lucas karena telah menutupi aibnya di muka umum dan media. Hanya Helena, Lucas dan keluarga Lucas yang mengetahui bahwa bukanlah Lucas ayah dari bayi yang dikandung Helena saat itu.
Lalu, pernahkah Lucas memikirkan, bagaimana bila Meera mengetahui pernikahan dan kehamilan itu ? Tentu saja. Namun, untuk saat ini prioritas utamanya adalah menemukan Istrinya terlebih dahulu. Semua hal bisa dijelaskan bila sudah bertemu.
" Bagaimana dengan dr. Amanda, apakah sudah ada kabar ? " Tanya tajam Lucas pada Vincent.
" Sebenarnya apa saja yang dilakukan anak buahmu itu. Sudah selama ini, namun belum juga ada hasilnya, ck. " Lucas mulai menghisap rokok yang ke sekian kalinya. Dia kembali menjadi pecandu rokok sejati. Andai Meera tahu, dia pasti akan benar-benar marah saat itu.
" Maafkan saya, Tuan. Sepertinya dr. Amanda memiliki orang penting di belakangnya. Keberadaannya benar-benar sulit dilacak. Saya hanya bisa memastikan bahwa dia dan Istri anda masih berada di negara ini. " Jawab Vincent dengan berhati-hati. Akhir-akhir ini atasannya itu sangat mudah tersulut emosi.
" Argh !! Sebenarnya siapa dr. Amanda itu. Apakah dia orang sepenting itu ? " Lucas menjambak rambutnya kasar. Mendadak emosi meliputi diri.
" Dia-- mertua Anda, Tuan. " Lucas mendelik tajam pada asisten pribadinya itu. Kala Vincent seolah mengingatkan dirinya yang sebenarnya tidaklah lupa. Dia hanya begitu penasaran, sebenarnya siapa ibu mertuanya itu, hingga sangat lihai bersembunyi dan sangat sulit untuk dicari keberadaannya.
.
.
Sementara itu di tempat lain, di tempat yang cukup sederhana, sepasang ibu dan anak tengah menikmati suasana siang yang hangat dengan bayi kecil di salah satu pangkuan mereka.
Dengan bantuan dari sahabat dr. Amanda yang dulu pernah ditolongnya dan merupakan orang penting di negara ini, mereka bisa menyembunyikan identitas mereka sehingga tidak mudah terlacak keberadaannya.
Sebenarnya dr. Amanda sangat ingin membawa Meera kembali pulang ke negara asalnya, negara tempat dirinya dan Meera tinggal sebelum pindah ke Paris. Dulu, saat masih mencari Meera di negara asalnya, informasi terdengar bahwa Meera tengah hamil dan pindah ke Paris bersama suaminya.
Oleh sebab itu, dia langsung menyusul ke Paris untuk mencari keberadaan putrinya itu. Dan benar saja, dengan pekerjaan yang dia miliki, akhirnya dia bisa menemukan putrinya yang saat itu akan melahirkan setelah menemukan tanda lahir coklat itu. Hal itu semakin diperkuat, setelah dr. Amanda secara diam-diam melakukan tes DNA. Dan hasilnya 99% akurat, Meera adalah darah dagingnya.
Sekarang setelah pertemuan itu terjadi, dr. Amanda sangat ingin membawa Meera dan cucunya kembali ke sana. Untuk hidup tenang menikmati masa tua bersama keluarga di rumah peninggalan ayahnya dulu. Namun urung terjadi, karena penolakan dari sang putri. Sedikit banyak dr. Amanda mengerti, bahwa Meera tidak ingin pergi dari negeri ini, karena masih mencintai suaminya dan tidak ingin jauh darinya.
" Kau tidak ingin menemuinya, Sayang ? " Tanya dr. Amanda pada Meera yang tengah menggendong putri kecilnya. Mengelus rambutnya dari belakang. Mencoba mengajak berbicara empat mata dan dari hati ke hati.
" Tidak ! Untuk apa ? " Sangkal Meera sembari mencebik. Padahal dalam hati, dia merindukan Lucas sepenuh hati. Ibunya bahkan sering memergoki Meera tengah melamun seorang diri.
Bahkan dia hamil ? Berarti ??? , fikiran Meera berselancar ke mana-mana. Membayangkan Lucas yang slalu hot mencumbuinya, kini mencumbui wanita lain, sungguh menyakitkan hatinya. Tapi, entah mengapa rasa cinta tak urung pergi untuk sang suami. Meera terlihat merenggut kesal saat itu, kala fikirannya sibuk dalam lamunannya sendiri.
" Cepat atau lambat kau harus membicarakannya, Sayang. " Sang ibu mencoba memberi pengertian.
" Bagaimanapun hubungan kalian harus dipastikan. " Lanjutnya lagi. Dia tidak ingin status putrinya digantung tidak jelas.
" Tapi, Ma ... " Rengeknya manja. Bertemu dengan ibu kandung di usia dewasa, serasa mimpi baginya. Kadang Meera bertingkah seperti anak kecil di hadapan sang ibu kini. Suatu moment yang sangat langka bukan ? Bagi Meera yang haus akan kasih sayang.
" Dia-- memang sangat tampan. Pantas menjadi rebutan. " Goda sang ibu kala itu. Membuat Meera merenggut lucu.
" Jika terlalu lama ditinggalkan, dia akan kesepian. Dan akhirnya ... " Ada benarnya juga ucapan ibunya Meera itu. Mereka hanya tidak tahu saja betapa setianya Lucas selama ini. Bahkan memiliki istri baru yang begitu cantik seperti Helena pun tak disentuhnya samasekali, bahkan sekalipun. Padahal, jika Lucas mau, Helena pun sepertinya tidak akan keberatan untuk melakukannya. Helena akan dengan senang hati melayaninya.
" Tidak ! Tidak ! Jangan diteruskan, Ma ! "
Meera menggeleng-gelengkan kepalanya, seraya menutup sebelah telinganya dengan sebelah tangannya. Mengingat satu tangan lagi harus memegangi putri kecil yang berada di pangkuannya.
" Meera ... Sayang ... Temuilah dia, hmm. " Lanjut sang ibu menasehati. Berpindah mengelus punggung sang putri.
" Aku-- hanya butuh waktu, Ma. " Jawab Meera dengan bola mata berkaca-kaca. Melayangkan tatapan dalam pada sang ibu, seolah meminta pengertian.
" Kenapa ? " Tanya sang ibu dengan tatapan dalam nan menyejukkan.
" Aku-- hanya takut, dia benar-benar telah berpaling dariku. " Jawab Meera lirih, dia takut dengan kenyataan pahit yang akan di dengarnya nanti.
" Baiklah ! " Sang ibu menyerah, mengangkat kedua tangannya.
" Tapi ingat, suatu saat kau harus menemuinya. " Pinta sang ibu menepuk pelan pundak putrinya. Akhirnya Meera mengangguk mengiyakan.
Ada perasaan rasa bersalah dan kesedihan yang begitu besar mengganjal di dalam dada sang ibu. Tatkala menyadari bahwa nasib sang putri tidak jauh berbeda dengan dirinya dulu. Mengalami kehamilan di luar nikah, walaupun sebenarnya Meera masih cukup beruntung ada lelaki seperti Lucas yang mau menikahinya, mencintai dan menerima apa adanya. Walaupun sangat disayangkan, saat ini, cinta mereka tengah diuji, karena terpaksa harus berpisah jauh dikarenakan keadaan.
.
.
💫 Bersambung ... 💫