Love

Love
Chapter 50 - Hari Bahagia



" Tiga hari lagi ?!! " Pekik Meera.


Lucas mengangguk pelan, namun penuh dengan kepastian. Dia kini tengah memijit kaki Meera yang bengkak, yang kini tengah berada tepat di pangkuannya.


Sementara Meera, berselonjor kaki bersandar pada gagang sofa yang memiliki model cukup tinggi.


Mereka tengah di hotel tempat Lucas menginap. Setelah sesaat lalu menghabiskan waktu bersama di luaran. Dari mengantar Meera memeriksakan kandungannya, lalu berjalan-jalan sekedar berbelanja keperluan Meera.


" Bagaimana bisa ? Ini terlalu mendadak. " Komentar Meera tegang.


" Aku harus segera kembali ke Paris. Dan aku-- ingin kau ikut denganku. Pekerjaanku begitu banyak Meera, kau harus tahu itu. "


Lucas beralasan. Mengingat hampir dua minggu dia di negara ini. Bahkan beberapa schedule penting sempat tertunda karena mendadak bertemu dengan Meera di kota ini.


" Tapi-- apakah harus menikah secepat itu ? " Tanya Meera ragu, menggigit bibir bawahnya.


" Mumpung perutmu belum terlalu besar juga Meera. Bagaimanapun-- hal ini merupakan hal yang cukup tabu. "


Dengan terbata Lucas mencoba menjelaskan, tak ingin menyinggung perasaan Meera. Tabu ? Benar juga.


" Tapi, Lucas. Aku--, kau tahu bukan, aku sangat malu dengan kondisiku ini, aku-- " Ucapan Meera terhenti, ketika jari Lucas menutup bibir Meera dengan gerakan cepat.


" Jangan membahas itu lagi ! " Tegas Lucas. Berbisik tepat di telinga Meera. Lalu mengecup pipi Meera mesra, hingga membuat pipinya merona.


" Tapi-- ... "


Meera sedikit merenggut kala itu. Wajahnya semakin memerah, membayangkan pernikahannya dengan Lucas yang serasa mimpi itu.


Tidak dipungkiri, hatinya menghangat bahagia, pernikahan adalah hal yang slalu diimpikan oleh setiap wanita, termasuk dirinya. Ini serasa mimpi baginya, yang berubah menjadi nyata.


Walau sebenarnya rasa bersalah lebih kental terasa, karena menjadi istri yang tidak sempurna.


Melihat reaksi Meera yang begitu menggemaskan, tidak segan Lucas menggigit jari kaki Meera setelah kembali duduk ke posisi semula.


" Argh !! "


Pekik Meera kaget, akhirnya tersadar bahwa itu bukanlah mimpi. Lucas tersenyum puas melihatnya.


Pipi Meera lagi-lagi merona tatkala bibir Lucas mengecupi dengan lembut ujung kakinya. Sesekali menjulurkan lidahnya, menggigit kecil-kecil, sesekali menyesap, memberi efek geli di sana.


Lambat laun, kecupan itu merangkak naik. Menyusuri tumit, betis, lutut dan paha mulus, putih, menggoda. Terus naik, naik, naik, dan semakin naik-- dengan perlahan, lembut dan begitu menggoda. Sentuhan Lucas memberikan sensasi yang berbeda di tubuh Meera.


Tangan Lucas bergerilya, menelusup masuk mengelus perut buncit Meera. Berulang-ulang, lembut dan perlahan, membuat Meera terlena untuk sejenak.


Kecupan dan gerakan tangan itu tertahan, oleh gerakan tangan Meera yang berusaha menyadarkan.


" Lucas, jangan !! "


Tegur Meera mencoba mengingatkan. Menatap Lucas yang kini mendongak ke arahnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.


Dengan kesal Lucas berhenti. Menutup kembali dress yang sedikit tersingkap tadi. Dokter itu, bahkan bisa menyentuh perut Meera sesuka hatinya tadi.


Arrgh !!! Erangnya kesal


Lucas menyesal, seharusnya hari pernikahan dimajukan hari ini saja.


.


.


.


Zora menghampiri Meera yang kini tengah terduduk di atas ranjang di kamar hotel yang disiapkan Lucas untuk mereka tinggali sementara waktu, sampai hari pernikahan tiba. Kamarnya tepat bersebelahan di samping kamar Lucas.


Demi keselamatan Meera tentunya. Mengingat lingkungan tempat tinggal Meera yang tidak sesuai dengan standar. Lucas sepertinya begitu khawatir pada Meera, mengingat dia yang saat ini tengah hamil.


" Aku turut bahagia, Meera. " Ucap Zora tulus.


" Walaupun aku sangat sedih karena akan berpisah denganmu. Tapi percayalah, aku sangat bahagia dengan pernikahanmu itu. " Lanjut Zora lagi.


Dia paling tahu bagaimana kesedihan Meera selama ini. Melihat Meera akan menikah, tentunya dia yang paling merasa bahagia.


" Terimakasih karena telah menjadi sahabatku disaat masa sulitku. " Lanjutnya lagi dengan sedikit berlinang air mata.


Zora meraih Meera masuk dalam pelukannya. " Jagalah anakmu dengan baik ! Kau harus memberi kabar padaku mengenai perkembangannya, Ok ?! " Ucap Zora dalam sela pelukan mereka.


" Semoga kau berbahagia, Meera !! " Harap Zora.


" Terimakasih ... " Ucap Meera.


Meera mengurai pelukan mereka, lalu mengajak Zora untuk segera tidur. Mengingat besok, mereka memiliki hari yang panjang untuk dihabiskan bersama.


Besoknya ...


Diawali dengan Meera yang berpamitan pada atasan dan rekan kerjanya di restoran, dengan alasan akan pindah ke luar kota. Tanpa memberitahukan rencana pernikahannya.


Sejauh ini, hanya Zora dan asisten pribadi Lucas yang mengetahui rencana pernikahan Meera dan Lucas.


Memberikan beberapa hadiah berupa makanan dan bingkisan kepada rekan kerja dan atasannya, sebagai kenang-kenangan, dan tanda syukur bahagia.


" Kita berbelanja ... " Meera kini mengajak Zora berjalan-jalan di mall. Bermaksud membeli beberapa baju, sepatu dan tas yang akan diberikan sebagai hadiah perpisahan kepada Zora.


" Asik, ditraktir Bu Bos ... " Zora tertawa riang, sembari bertepuk tangan bahagia.


" Setelah berbelanja, kita makan-makan ... " Lanjut Meera lagi, semakin membuat Zora riang.


Meera ingat, beberapa hari lalu dia menemukan beberapa lembar uang, bahkan cukup banyak di dompetnya. Tanpa ragu sedikitpun, Meera tahu pasti Lucas yang memasukkannya, siapa lagi ?


.


.


Hari pernikahan tiba ..


Suatu malam, tepatnya di kamar hotel yang Meera tinggali beberapa hari ini.


Dengan dress bermodel panjang dan sederhana namun pasti berharga mahal, pernikahan sakral itu akan berlangsung.


" Kau cantik sekali, Meera ! " Puji Zora.


Dengan make up flawles yang menghiasi wajah cantik Meera, Zora berhasil mendandani Meera menjadi ratu di hari pernikahannya. Meera yang sudah cantik menjadi lebih cantik, bak bidadari yang turun dari surga.


" Aku gugup-- " Ucap Meera dengan suara sedikit bergetar.


Untunglah make up cukup membantu, wajah pucat Meera tersamarkan.


Gugup, itu juga yang dirasakan Lucas. Dia tengah duduk menanti sang mempelai pengantin wanita di ruang tamu kamar hotel Meera. Didampingi sang asisten pribadi dan beberapa petugas pernikahan.


Tatapan takjub terpancar di mata Lucas, tatkala Meera keluar dari kamarnya bersama Zora. Dengan balutan gaun dan make up yang sesederhana itu, Meera sukses menjadi ratu di hati Lucas.


" Cantik .. " Puji Lucas lirih. Seulas senyum tersungging tipis di bibirnya.


Tatapan mereka bertemu, secara tidak sengaja. Meera kembali menunduk dengan wajah merona.


Zora dan asisten pribadi Lucas menjadi saksi pernikahan sakral itu. Sebuah cincin berlian nan cantik dan indah menjadi mas kawin yang dipersembahkan sang mempelai lelaki. Sukses disematkan pada jari manis Meera yang mempesona.


Diana, Reynald dan Dafa samasekali tidak dilibatkan, bahkan tidak diberi tahu. Lebih tepatnya belum. Sepertinya, Lucas masih mencari waktu yang tepat untuk memberitahukan mereka. Mengingat pernikahan mereka, bahkan belum mendapat restu dari Ny. Alice dan Arselli, kakaknya.


Pernikahan yang terasa begitu mendadak. Lucas dan Meera bahkan baru bertemu kurang dari dua minggu yang lalu.


Kehadiran Vano beberapa hari lalu cukup memprovokasi Lucas. Dengan sigap, Lucas meminta asisten pribadinya untuk mempersiapkan semua ini, sebuah tugas rahasia dan eksklusif.


Lucas benar-benar tidak ingin kecolongan lagi, kehilangan Meera untuk kedua kali. Tak peduli status pernikahan yang terbilang rahasia. Yang penting Meera menjadi miliknya kini.


Resmi sudah, mereka resmi bersatus suami istri secara hukum maupun agama. Lucas akhirnya merasa lega, Meera telah resmi menjadi miliknya.


.


.


💫 Bersambung ... 💫