Love

Love
- Pertengkaran



Beberapa hari lamanya Lucas memendam perasaan, beribu penasaran, dan sejuta pertanyaan. Ada apa gerangan yang terjadi dengan Vano dan istrinya. Apa yang mereka lakukan, bertemu secara diam-diam di belakangnya ?


Bertanya pada Meera, Lucas hanya butuh pelampiasan untuk menunjukkan rasa cemburu yang bercokol dan mengungkapkan penasaran yang bergemuruh di dalam dada.


Bagaimana tidak cemburu, bahkan Vano memiliki kenangan kuat dalam masa lalu istrinya, dan Nara menjadi bukti pasti. Mereka bahkan bisa saja kembali bersama, dengan Nara yang menjadi alasan kuatnya. Lucas sadar, walaupun Meera mencintainya, ada setitik cinta untuk Vano yang masih tersisa.


Satu hal yang begitu membekas di dalam hati Lucas sampai ini, bahkan dengan setitik luka yang tak terobati, Vano adalah seseorang yang menyentuh Meera untuk pertama kali. Itu fakta dan tidak bisa dipungkiri.


Satu Minggu kemudian ...


" Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa kalian bisa bertemu ? " Tanya Lucas saat itu. Setelah beberapa lama memendam.


" Apa maksudmu ? " Ketus Meera saat itu. Padahal Lucas hanya sekedar bertanya saat itu. Sepertinya, Lucas bertanya pada waktu yang salah. Tatkala hormon kehamilan tengah berkuasa.


Meera menangkap sorot curiga dan rasa tak percaya di mata Lucas, hingga memancing amarah di dalam dada. Dia kecewa, bagaimana mungkin Lucas masih saja meragukan perasaan cintanya.


" Kau tahu betapa aku kecewa dan sakit hati padanya. ------------------------------ !! " Meera memborbardir Lucas dengan amarahnya saat itu. Berdecak sungguh tak percaya. Dan Lucas hanya terdiam, melongo tak percaya melihat emosi Meera yang meluap-luap tak seperti biasanya.


" Kau gila ! Kau sungguh ------ . " Sedari tadi Meera terus marah tak berhenti. Tak memberi kesempatan sedikitpun bagi Lucas untuk menyela kalimatnya. Membela diri sekedar menjelaskan apa maksud pertanyaannya tadi. Dia hanya ingin kejelasan dari kebenaran apa yang sebenarnya terjadi kemarin itu. Meera yang merasa dicurigai terlanjur emosi. Sehingga pembicaraan mereka selanjutnya, terdengar begitu tidak sehat. Dimana amarah dan emosi yang begitu mendominasi, khususnya pada Meera istrinya.


" Aku membenci dia, Lucas. Aku membenci dia ! " Teriak Meera dengan bola mata berkaca-kaca. Air matanya luruh bersamaan dengan rasa kecewa yang timbul terhadap suaminya itu. Bagaimana bisa suaminya mencurigainya, tidak mempercayainya. OoMmGg ..


" Jika saja dia bukan ayah dari putriku, dan tidak menyelamatkanku kemarin, aku akan membenci dia untuk selamanya. Kau harus tahu itu ! " Camkan Meera saat itu dengan begitu tegas. Menatap Lucas tajam, dengan sorot mata penuh kemarahan.


Bibir Lucas mengatup rapat saat itu. Ini memang benar-benar waktu yang tidak tepat. Dia salah memilih waktu untuk membicarakan hal sensitif itu.


Lucas terlihat begitu kacau sekali saat itu. Mendengar penjelasan panjang lebar istrinya membuat dirinya tersadar, tak seharusnya dia mempertanyakan hal kemarin pada istrinya.


Namun sedikit penasaran muncul di dalam hatinya. Bagaimana reaksi Meera.


" Bukankah benci dan cinta itu, jaraknya sangat tipis sekali ... " Ucap Lucas datar.


Meera melotot mendengarnya.


Prannnkkkk


Sebuah benda melayang dilempar ke udara oleh Meera, membentur tembok hingga hancur berserakan ke mana-mana.


" Lucas. Kau brengsek sekali ! " Pekik Meera. Sangat marah saat itu. Berteriak menangis histeris.


Sedang Lucas, melongo takjub. Baru pertama kali dia melihat kemarahan Meera seperti ini.


****


Meera terbaring tidur di atas ranjangnya. Setelah kenyang menangis hampir beberapa jam lamanya. Karena pengaruh hormon kehamilan, emosinya menjadi begitu labil. Naik turun secara drastis tak menentu.


Meera tersadar, Lucas hanya sekedar bertanya tadi, tidak marah sama sekali. Jelas terlihat dia begitu menahan diri di hadapan Meera yang saat ini tengah mengandung anaknya.


" Maafkan aku ! " Tiba-tiba Lucas datang menghampi Meera yang tengah tidur miring saat itu. Memeluknya dengan begitu erat dari balik punggungnya, setelah tadi ikut berbaring di belakang istrinya. Menyalurkan ketenangan di dalam hati.


Meera mengerjap kaget. Dia fikir, Lucas akan marah besar padanya. Apalagi setelah mengingat luapan emosi dirinya tadi, yang begitu berlebihan sampai melempar barang pecah berharga yang dipajang di kamar mereka.


Dan sialnya, barang itu begitu mahal dan langka dan merupakan benda kesayangan suaminya. Menyebabkan rasa bersalah hadir di dalam hati Meera saat ini.


Meera berbalik badan menghadap Lucas, menatap dalam suaminya.


" Sayang .. " Menggigit bibir bawahnya.


" Ada apa, hmm ? " Lucas terlihat senang Meera mau berbicara dengannya lagi dan menatap dirinya dengan tatapan penuh cinta tersirat di sana.


" Guci itu ... " Ucap Meera terbata.


" Apa mahal sekali ? " Tanya Meera polos.


Lucas tergelak mendengarnya.


Cup


Sebuah kecupan melayang di bibir manis Meera.


" Tidak ! Itu tidaklah seberapa dibanding dengan dirimu. " Ucap Lucas menghibur istrinya. Membelai pipinya mesra.


Wajah Meera merona seketika. " Ish ! " Sembari memukul dada suaminya itu.


Cup


Kali ini Meera yang melayangkan kecupan di bibir Lucas. " Maafkan aku ... " Ucapnya lembut. " Guci itu pasti mahal sekali. Dan akan sangat sulit untuk mendapat gantinya nanti. Bukankah itu barang langka ? " Rasa bersalah tersirat di matanya. Sebagai istri dia merasa gagal menjalankan tugasnya, menjaga harta milik suaminya yang begitu berharga dan disukainya.


" Ish .. Sayang ! Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya tidak suka kau meragukan perasaan cintaku kepadamu. " Jelas Meera mengusap dada Lucas yang kini terbuka.


Mereka tersenyum bersamaan. Saling memeluk dengan penuh cinta dan damba. Menahan diri menahan gejolak di dalam tubuh mereka-- mengingat intruksi dokter yang melarang mereka untuk melakukan adegan intim sampai melahirkan nanti.


Lucas mengeratkan pelukan pada istrinya, seolah tak ingin terpisahkan oleh apapun dan siapapun.


" Mama bilang -- Vano ingin bertemu dengan Nara. " Bisik Lucas lirih, tak ingin memancing emosi Meera tuk kedua kali.


Duerrr


Hal itu mengejutkan Meera. Tak pernah terbayangkan sedikitpun. Bahkan berencana sekalipun dalam hatinya untuk mempertemukan mereka. Pertemuan sekali dulu, terjadi secara tidak sengaja, dan Meera sungguh tidak ingin mengulanginya.


Meera melepaskan pelukan Lucas padanya. Menatap Lucas tajam, nyalang dan sedikit menakutkan. Lucas sudah bisa membayangkan adegan selanjutnya nanti.


" Tidak !! " Jawab tegas Meera saat itu.


" Bagaimana bisa kau--- " Ucapan Meera terhenti. Karena Lucas terlanjur menutup bibirnya dengan jarinya, lalu mendekatkan bibirnya, mengecup lalu melum*t bibir manis itu.


Melepaskan cumbuannya, Lucas berbisik. " Kita lanjutkan pembicaraan ini besok, mama akan ke sini. Aku merindukanmu, Sayang. Malam ini kau adalah milikku. "


" Tapi -- " Ucapan Meera terhenti bersamaan dengan bibir Lucas yang mencumbuinya lagi. Meraup rasa manis di bibir, menikmati sejuta rasa di sana, mengalir berdenyut hangat di dalam hati.


Keesokan harinya ...


Setelah perbincangan dengan sang mama yang cukup panjang dan alot, bahkan disertai dengan perdebatan yang didominasi Meera, akhirnya ---


Meera terpaksa merelakan Nara untuk bertemu Vano barang sekali saja.


Dr. Amanda yang akan menemani Nara saat pertemuan itu. Pertemuan kedua kali setelah beberapa lama tidak bertemu antara ayah dan anak sedarah daging itu.


" Sayang, jika kau merasa tidak nyaman, menangislah yang kencang nanti ! "


Nasihat Meera pada putrinya saat itu. Sembari mendelik ke arah suami dan mamanya yang telah setengah memaksa dirinya untuk melepas putrinya itu bertemu dengan ayah kandungnya.


Ternyata saat terjadi pertemuan antara Vano dan dr. Amanda saat itu, Vano meminta ijin pada mama Meera untuk diijinkan bertemu dengan putrinya. Dengan seribu janji tidak akan pernah mengusik pernikahan Meera dan Lucas, dan tidak akan pernah meminta hak asuh atas Nara-- Andara.


dr. Amanda dan Lucas terlihat terkekeh mendengar ucapan konyol itu. Bagaimana bisa Meera mengajarkan hal buruk pada putrinya.


Lucas, walaupun dia cemburu pada Vano, dalam hati terdalam dia sangat berterima kasih karena telah menyelamatkan istrinya dan calon anaknya.


Oleh sebab itu, saat sang mama mertua menyampaikan keinginan Vano untuk bertemu putrinya, Lucas merasa tidak tega untuk menolaknya. Lagipula-- Vano bilang, mungkin pertemuan ini hanya akan terjadi kali ini saja, karena sebentar lagi, Vano akan pindah ke luar negeri untuk meraih gelar dokternya, dan kemungkinan besar dalam jangka waktu lama dia akan mengabdi menjadi dokter sukarela di negara atau daerah yang membutuhkan. Perusahaan orang tuanya perlahan pulih, oleh sebab itu Vano kembali ingin mengejar cita-citanya seperti semula. Menjadi seorang dokter, dan untung saja instrinya Bella begitu baik, bersedia untuk mendukungnya.


" Lagipula ... Dia tidak pernah mengurus Nara. Jadi-- jangan pernah berharap untuk bisa mengambil Nara dari hidupku. " Ucap Meera pada Lucas dan Mama saat itu, masih sarat kebencian di bibir manisnya itu.


" Sudahlah, sayang ... dia hanya ingin bertemu dengan Nara. Tidak lebih, apalagi bermaksud untuk mengambilnya. " Jelas dr. Amanda menenangkan putrinya itu.


Meera lama terdiam, cukup lama sekedar menenangkan diri. Dia terlalu paranoid tadi. Saking takut kehilangan Nara dari hidupnya.


" Dan juga, dia sudah menolongmu saat di mall kemarin. Kita-- bahkan belum mengucapkan terimakasih padanya. " Ucap Lucas.


Dia sadar sesadar sadarnya, istrinya dan calon anaknya yang masih hidup dan terselamatkan tidak lepas dari jasa Vano yang telah menolongnya saat itu. Jika tidak ada Vano entah apa jadinya. Walaupun pada akhirnya akan ada yang menolong Meera, namun tak secepat dan segesit Vano saat itu.


Deg


Mendengat ucapan itu, Meera tersentak, tersadar akan semua itu. Menatap Lucas dan mamanya lekat, dengan rasa yang entah apa tersirat. Hanya Meera yang mengetahuinya saat itu.


" Dan juga .. sepertinya Vano akan pindah ke luar negeri untuk meraih gelar dokternya. Sepertinya akan butuh waktu lama -----. " Bla, bla, bla, Jelas Lucas mengenai rencana Vano ke depannya.


" Bagaimanapun, dia adalah ayah kandung Nara. " Ucap Lucas merasa sakit di dalam hati. Tapi-- itu adalah sebuah fakta bukan ?


Meera menatap Lucas dalam.


Maafkan aku, menyakiti hatimu Lucas-- dengan semua kenyataan ini ...




🍬 Bersambung ...🍬


Hi ... mohon maaf ... masih memperjelas episode sebelumnya ini.


Semalem baru kerangka kasar, saking ngantuk di up walau belum sempurna sepenuhnya.


Pas pagi-pagi baca, yaelah .. ternyata banyak yang terlewatkan. Pas malem perasaan ngetik banyak deh , taunya hanya mimpi 😅😅😅