
Kesedihan Meera tak berlangsung lama, setidaknya secara kasat mata. Kesedihan yang terdalam tersimpan rapi dalam hati sanubarinya.
Lucas, dia slalu bisa membangkitkan gairah Meera. Apapun itu, bukan hanya masalah ranjang semata. Seperti saat ini, saat Lucas tiba-tiba membawanya ke sebuah butik.
" Aku lihat pakaianmu begitu sedikit. Karena pernikahan kita begitu mendadak, dan akhir-akhir ini aku juga begitu sibuk, aku sampai lupa bahwa aku belum membelikanmu hadiah pernikahan. " Ya, semacam seserahan mungkin ya, maksud Lucas itu.
Meera tersenyum, walaupun tak secerah saat diajak ke toko perlengkapan bayi tadi. Dia berusaha untuk menghargai suaminya ini, yang tengah berusaha untuk membahagiakan hatinya.
" Hmm. " Meera mengangguk pelan.
" Tapi-- bantu pilih, ya. " Rengek Meera manja.
" Biar kayak di film-film gitu. " Selorohnya lagi tersipu malu, membuat Lucas mengerjap kaget lalu seketika tertawa.
" Bukannya di novel ? " Sergah Lucas.
" Aku jarang baca novel. " Jawab Meera mulai berjalan melihat-lihat baju yang tergantung rapi, Lucas berjalan, mengikuti Meera dari belakang.
" Memangnya suka nonton film ? " Tanya Lucas lagi terus melangkahkan kakinya.
" Gak juga ! " Meera menggelengkan kepalanya tak acuh. Matanya tetap fokus memilih baju.
" Terus, kenapa bisa tahu ? " Interogasi Lucas.
Meera menoleh, lalu tersenyum manis pada suaminya itu. " Pengen aja ! " Jawabnya singkat.
Bawaan bayi kali ya. Ibu hamil kan begitu sensitif. Dan bawaannya itu manja sama minta yang aneh-aneh. Kalau orang bilang, ngidam namanya.
Dalam hatinya bergumam, andai bayi yang dikandungnya adalah anak Lucas, mungkin Meera bisa beralasan ngidam dalam setiap permintaannya.
Mungkin tadi-- Meera juga bisa sedikit memaksa, bahkan merengek pada Lucas untuk ikut masuk ke toko perlengkapan bayi memilih bersama kebutuhan bayi mereka. Dan, ternyata semua itu, hanya di mimpi saja.
Meera sempat menghela nafasnya, berfikir sejenak, mungkinkah ceritanya akan berbeda jika Vano yang menikahinya ? Mengingat Vano adalah ayah biologis sebenarnya dari anak yang sedang dikandungnya ini. Meera mengelus-elus perutnya.
Meera tersentak kaget, kala Lucas tiba-tiba menyodorkan sebuah dress yang terlihat begitu cantik.
" Sayang ! " Lucas menyentuh pipi Meera dengan tangannya.
" Masih sempat melamun ? " Lucas mengernyitkan dahinya.
Meera menggelengkan kepalanya.
" Nggak, kok ! " Jawabnya singkat, bola matanya sedikit berkaca-kaca. Mungkin terbawa suasana karena melamun tadi.
Lucas terdiam, terhenyak sesaat. Fikirannya mengembara seketika. Melihat bola mata indah milik istrinya berkaca-kaca, membuatnya merasa bersalah.
Apakah masih karena tadi ?
.
.
Setelah berbelanja cukup banyak pakaian tadi, kini mereka terdampar di sebuah toko perhiasan. Dengan beberapa jinjing paper tag yang memenuhi tangan.
" Kok ke sini ? " Tanya Meera mengerutkan dahi.
" Aku juga belum memberikan perhiasan untukmu, Sayang. " Jawab Lucas berusaha tersenyum, dalam hatinya sebenarnya dia ragu, apakah Meera akan menyukainya.
Egoiskah ? Kalau dia tidak mengantar Meera ke toko perlengkapan bayi tadi. Kalau dia boleh jujur, sebenarnya hatinya sakit. Setiap kali mengingat bahwa bukan dirinyalah ayah biologis sebenarnya dari bayi yang dikandung Meera, melainkan Vano.
Melihat perut Meera, dan menyadari kehamilan Meera, Lucas merasa belum sepenuhnya memiliki Meera dalam hidupnya. Belum seutuhnya sempurna memiliki hati Meera. Sejatinya, hati Meera masih terbagi, walau hanya sedikit saja.
" Ini berlebihan, Sayang. " Tolak Meera.
Meera merasa tidak pantas mendapatkannya. Bukankah saat menikah kemarin, Lucas sudah memberikan sebuah cincin berlian indah yang kini melingkar di jari manisnya. Dulu, Lucas bahkan pernah memberikan sebuah kalung untuknya, bahkan kini masih melingkar cantik di lehernya.
" Kita pulang aja yuk ? " Meera menarik tangan Lucas untuk meninggalkan toko itu.
" Sebentar ! Ini nggak berlebihan sama sekali. Hanya sebuah perhiasan. " Jelas Lucas. Tak bergeming sedikitpun walau Meera menariknya dengan sekuat tenaga.
Dan akhirnya Meera menyerah. Matanya terpukau kala melihat sebuah gelang mewah nan indah. Apalagi saat Lucas memperlihatkan nya cukup dekat dan jelas. Ada sebuah ukiran di dalamnya.
Kalau sudah seperti ini, tidak mungkin menolak kan ?
.
.
Mereka pulang dengan hati senang. Entah, dengan hati Meera yang sebenarnya. Meera lebih banyak diam saat itu.
Hening
Suasana di mobil itu begitu hening. Malam telah tiba. Meera lebih memilih menatap lampu indah yang berkerlap kerlip di jalanan. Seraya berfikir, melamun, memikirkan kehidupannya yang terasa kelam.
" Kau memikirkan sesuatu ? " Tanya Lucas yang sedang mengemudikan mobilnya. Menyentuh pipi Meera dengan jari sebelah tangannya.
Sedari tadi, Lucas bukan tidak memperhatikan Meera yang tengah duduk di sampingnya, namun fikirannya sedang melayang entah ke mana. Sembari berpura-pura menatap lampu yang bersinar cukup terang di jalanan ibu kota.
Meera menoleh, melayangkan senyuman indah pada suaminya itu, menatap dengan tatapan teduh, walau tersirat luka di sana.
" Tidak ! Aku-- hanya sedikit kelelahan saja. " Bohong Meera. Tanpa mengalihkan pandangannya pada wajah suaminya.
" Ada apa ? " Dipandang sedalam itu oleh istrinya, Lucas salah tingkah juga.
Meera hanya tersenyum, diam dan menghela nafas cukup dalam.
" Jika kau-- " Meera terlihat begitu ragu saat itu. Tapi tidak ada salahnya mencoba mengeluarkan uneg-uneg di dalam hatinya. Bukankah menikah itu harus saling terbuka. Bukan hanya sekedar buka-bukaan baju atau kaki semata, melainkan hati dan perasaan juga.
" Apa ? " Mendadak Lucas gelisah melihat sikap Meera yang tidak seperti biasanya.
" Jika kau-- menyesal menikahiku .. " Belum sempat selesai ucapan Meera, Lucas langsung menoleh menatap Meera tajam menghunus tepat ke jantung hatinya. Meera hanya bisa menelan ludah dalam. Wajahnya sedikit memucat saat itu.
Sretttt
Lucas mengerem mobil secara mendadak. Untunglah jalanan cukup sepi saat itu. Dia melajukan mobilnya kembali, tapi bukan untuk meneruskan perjalanan, melainkan memarkirkan mobilnya ke tepian jalan.
" Apa maksudmu ?!! " Lucas merubah posisi duduknya menghadap Meera.
" Apa maksudmu, Meera ?!! " Bertanya lagi, kala tak mendengar jawaban dari bibir istrinya itu.
Menyimpan kedua lengannya pada bahu Meera, mencengkeramnya erat, lalu menggerak-gerakkannya dengan cukup keras.
Meera meringis saat itu. Air mata yang sedari tadi dia tahan, akhirnya lolos seketika. Dengan gerakan cepat, Meera menghapusnya dengan jarinya.
" Jika-- kau-- menyesal menikahiku-- aku tidak keberatan, jika kau melepaskan ku, Lucas .. " Jawab Meera dengan merintih. Menahan Isak tangis namun akhirnya meledak saat itu juga.
" Melepaskanmu, katamu ! Kau gila ! " Kali ini tangan Lucas mencengkeram kedua pipi Meera.
" Kita baru satu minggu menikah, Meera ! " Lucas emosi hampir tidak bisa mengendalikan diri, menghempas cengkramannya dengan gerakan pelan.
Melepaskan cengkraman itu kala tangisan Meera semakin menjadi, Lucas memalingkan wajahnya. Lalu memukul keras setir kemudi mobil dengan tangannya. Menangkupkan kepalanya di atas lingkaran kemudi setir mobil itu. Lucas pun menangis walau tak bersuara.
Cinta mereka memang begitu besar dan suci, namun ternodai dengan hamilnya Meera oleh lelaki lain. Dan Lucas akui, dia kecewa karenanya. Walaupun pada akhirnya, dia yang memutuskan sendiri untuk menikahi Meera, tanpa ada seorang pun yang meminta, apalagi memaksa, bahkan Meera itu sendiri.
Aku hanya butuh waktu, Meera ..
Hanya butuh waktu ...
Hening semakin kental terasa saat itu. Isak tangis Meera pun perlahan reda. Dia memilih berdiam diri saja, menunggu reaksi Lucas selanjutnya.
Walaupun sebenarnya, dia begitu takut dengan yang akan terjadi berikutnya. Meera hanya terbawa emosi sesaat, dari hati yang paling dalam, Meera sangat mencintai Lucas dan sangat takut jika Lucas akan meninggalkannya sendiri.
Lucas ibarat gula baginya, pemanis hidupnya yang seringkali pahit terasa.
" Maafkan aku ... " Ucap Lucas setelah air matanya mereda. Mengejutkan Meera tuk ke sekian kalinya.
.
.
💫 Bersambung ... 💫