Love

Love
Chapter 90 - Kehamilan ( END )



Satu Tahun Kemudian ...


Dengan raut wajah yang terlihat begitu kesal, Lucas mengantar Meera ke kampus tempatnya melanjutkan kuliah.


" Sayang !! " Ujar Meera manja, mobil mereka telah terparkir di depan kampusnya.


" Hmm. " Respon Lucas dingin.


" Aku -- " Berpamitan, Meera berucap ragu dan terbata. Meera sadar, suaminya itu tengah merajuk marah padanya.


" Turunlah ! " Perintah Lucas dingin, bersikap tak acuh pada istrinya itu. Dia bahkan tidak menolehkan wajahnya sedikitpun. Meera memberenggut kesal melihat sikap suaminya yang tidak seperti biasanya itu.


Bagaimana tidak, sudah beberapa minggu ini, Meera terlihat begitu sibuk sekali. Dengan jadwal kuliah yang semakin padat. Belum lagi di rumah, Meera disibukkan dengan Nara dan beberapa tugas kuliah yang dibawanya. Sedikit mengabaikan Lucas yang slalu ingin dimanja dan diperhatikan.


" Kau tidak akan-- " Mencoba mengingatkan kecupan perpisahan yang slalu Lucas layangkan di bibir manisnya. Dia bahkan memakai Lip Balm rasa aple kesukaan suaminya itu hari ini.


Cup !


Kecup Lucas singkat pada bibir istrinya. Seperti tak ingin berlama-lama. Mengabaikan rasa aple favoritnya itu.


Hanya sedetik. Apa-apa an ini ? , Meera mengerutkan dahinya seraya mencebikkan bibirnya, kesal !


" Turunlah ! " Ucap Lucas ketus. Setelah sesaat lalu membukakan pintu, tepatnya saat mengecup Meera tadi.


Sebenarnya dia tak berniat mengecup bibir Meera tadi. Namun apa daya, tatkala dia bergerak hendak membukakan pintu, bermaksud sedikit mengusir Meera untuk lekas turun, imannya seketika runtuh, tatkala melihat bibir mungil manis menggoda. Sungguh sayang, untuk disia-siakan.


Dengan memberenggut kesal dan bibir yang sedikit cemberut, Meera menurunkan kakinya dari dalam mobil. Menghentak-hentakkan kakinya kemudian ke atas aspal pinggir jalan.


Meera, akhirnya tersenyum puas setelah sempat melayangkan ancaman yang cukup pedas sebelum turun dari mobil tadi.


" Awas ya, kalau kamu tiba-tiba balik lagi ke sini, terus nelfon aku untuk keluar nemuin kamu. NGGAK AKAN !! " Ancamnya, seraya menutup pintu mobil dengan begitu keras.


Brukkk !!!


Lucas hanya menyeringai. " Tidak akan ! " Umpatnya pelan. Lalu melenggang pergi begitu saja meninggalkan Meera di sana. Menatap dari balik kaca kecil di dalam mobilnya, Meera terlihat setia menatap kepergian dirinya walau terlihat kesal menyelimuti dada.


Lucas tersenyum menatap Meera yang semakin jauh semakin kecil itu, seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


" I Love you ... " Ucapnya lirih.


Bagaimanapun kesal dan marahnya dia pada istrinya, takkan pernah menghapus dan memudarkan rasa cinta yang telah ada dan bersemayam cukup lama di dalam hati.


Mobil Lucas pun melenggang pergi semakin jauh, Lucas mengarahkan mobilnya menuju kantornya. Hari ini, dia memang berangkat sedikit siang, setelah semalam sempat berjanji untuk mengantar ke tempat kuliah sang istri, walaupun sedikit berat hati.


Lalu sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya yang disimpan pada dudukan khusus di dashboard mobilnya. Tampak nama sang istri tercinta tertulis di sana, sebuah pesan masuk.


Ada sebuah paper bag kecil di bawah kursiku tadi, bukalah ! Ada sebuah kejutan untukmu. --Meera Sayang--


Lucas mengangkat kedua alisnya. Kejutan ?


Menghentikan mobilnya untuk sementara setelah menepi di tepian jalan, Lucas menunduk mencari paper bag yang Meera maksud.


Bergerak cepat mengambil paper bag itu, sedikit mengernyit kala mendapati sebuah kotak berwarna biru muda di dalamnya. Dibukanya kemudian, Lucas tersenyum girang dengan yang dia lihat di dalamnya. Sebuah test pack, foto scan hasil USG, dan surat keterangan positif dari dokter.


Meera hamil ? Yess !! , Lucas terlihat begitu bahagia saat itu. Tertawa dan menangis bersamaan. Andai Meera ada di sana, pasti akan Lucas peluk istrinya itu dengan begitu eratnya.


Melajukan mobil memutar arah kembali ke arah kampus Meera, Lucas terlihat gusar kala panggilan telfon nya diabaikan begitu saja oleh Meera, balas dendam rupanya.


Terngiang-ngiang di telinga Lucas ucapan Meera tadi.


Awas ya, kalau kamu tiba-tiba balik lagi ke sini, terus nelfon aku untuk keluar nemuin kamu. NGGAK AKAN !!


" Oh, jadi ini-- maksudnya. " Lucas mengerti, manggut-manggut gemas dengan tingkah polah istrinya. Masih tertawa girang, sendirian, saking senang, karena akan menjadi seorang ayah sekarang. Yess !! Lagi-lagi, merasa bahagia yang tak terkira.


******


Drrrttt ... Drrrrtttt ... Drrrrtttt ....


Ponsel Meera terus berbunyi dan bergetar, namun Meera abaikan sembari cekikikan tertawa, sendirian pula di teras balkon lantai dua kampusnya. Kini, dia tengah berdiri menyandarkan dadanya pada pagar balkon itu, sembari menatap Lucas yang tengah berdiri di samping mobilnya di area parkir kampus Meera.


" Ha ... ha ... " Meera tampak tertawa puas melihat Lucas saat itu.


" Sayang ... ! " Akhirnya menjawab panggilan telfon ke berapa belas kali itu. Lucas menghubunginya tiada henti, tak menyerah sama sekali.


" Keluarlah, Sayang ! Aku mohon ! " Pinta Lucas memelas. Dia ingin segera memeluk istrinya itu, mengucapkan selamat dan terimakasih bersamaan atas kehamilannya. Sekaligus menyapa sang calon bayi yang bersemayam dalam perut sang istri.


" Aku sedang di lantai atas, Sayang ! Kau tidak takut aku akan kelelahan ? " Jawab Meera manja, menggoda Lucas suaminya. Seolah mengkhawatirkan kandungannya bila dia harus bergegas turun untuk menemui Lucas di bawah.


" Tapi -- " Suara Lucas terdengar serak saat itu. Sepertinya, dia menangis karena terharu.


Meera yang menyadarinya lalu melambaikan tangannya. " Sayang !! " Dari balik ponselnya.


" Balikkan badanmu ! Aku di atas sini. " Beritahu Meera.


Dan alangkah bahagianya Lucas melihat Meera saat itu. Dan bukan Lucas namanya jika dia hanya berdiam diri saja melihat Meera dari bawah sana.


Bergegas dia berjalan, berlari menuju Meera di lantai dua.


" Sayang ! Kau mau ke mana ? " Pekik Meera panik. Dia tidak sanggup membayangkan dengan adegan selanjutnya nanti. Entah adegan dalam drama Korea atau film India, Meera sungguh tidak sanggup membayangkannya.


" Tunggu aku di sana. Jangan kemana-mana ! " Perintah Lucas saat itu. Masih berlari menyusuri lorong koridor dan tangga menuju lantai dua dimana Meera berada.


Jangan tanya reaksi Meera, dia gusar setengah mati membayangkan adegan selanjutnya nanti. Ini kampus Lucas !! Mengingat suaminya yang cukup barbar dan liar itu. Yang slalu memberinya kejutan, yang membuat hatinya meledak dan meletup-letup bahagia.


Vano tersenyum, terharu, menatap foto perkembangan Andara, Nara sang putri hasil buah kisah cintanya dengan Meera. Dengan intens, Lucas dan Meera mengirim foto perkembangan Nara pada Vano melalui email, dan kini tengah dia tatap di layar monitor laptopnya. Walaupun sedikit tidak rela, setidaknya Lucas mau mengerti dan tidak terus larut dalam kecemburuan dengan kisah masa lalu yang jelas sudah berlalu.


" Nara, sangat cantik ! Mirip sekali dengan mommynya. " Komentar Bella saat itu, memuji. Duduk di samping Vano, sembari menggendong bayi laki-laki mereka yang baru menginjak usia tiga bulan itu.


" Hmm. " Balas Vano singkat. Dia tidak ingin panjang lebar membahas masalah ini, bisa berabe ujung-ujungnya. Bagaimanapun Bella punya perasaan dan hati, yang bisa saja cemburu kala mendengar suaminya memuji perempuan lain yang begitu dia cinta di masa lalu itu.


" Jadi-- menurutmu juga sama, Nara cantik mirip seperti Mommynya ? " Sinis Bella. Tuh kan, baru juga kefikiran barusan. Benih kecemburuan baru saja ditabur, yang siap dituai kemudian.


Demi ketenangan dan kedamaian dunia novel, Vano memilih untuk menutup layar laptopnya.


" Bayi kita juga sangat tampan, mirip kamu. " Maksud Vano memuji istrinya saat itu.


" Maksud kamu ? Aku kayak cowok ? " Idih sensi, lagi PMS kali ...


Vano menarik nafas kasar, gusar.


" Kalau kita punya anak perempuan nanti, dia pasti secantik kamu. " Maksud Vano memuji lagi.


" Bayi kita masih kecil, Sayang. Jangan minta adik dulu ya ! " Jawab Bella, ha ...


Menggaruk kepala, Vano memilih diam tak berkata apa-apa. Melingkarkan sebelah lengannya di pundak istrinya, lengan yang satunya mengelus lembut pipi putra kecilnya itu.


Seiring dengan waktu, perlahan Vano bisa melupakan Meera dari hatinya, walaupun tak dipungkiri, sangat sulit untuk menghapusnya seutuhnya, karena bahwasanya masalalu itu memang bukan untuk dihapus melainkan cukup diingat dan dikenang sebagai pelajaran.


Berdua, mereka menjalani hari ini, esok, dan seterusnya dengan sebuah ikatan pernikahan suci nan bahagia. Menyongsong masa depan dengan penuh harapan dan impian bersama istri dan buah hati mereka.


*****


" Lucas !!! "


Pekik Meera saat itu. Kala Lucas tiba-tiba menggendong tubuhnya ala bridal, lalu memutarnya saking bahagia. Padahal, mereka masih di kampus saat itu.


" Terimakasih ! " Ucap Lucas mengecup bibir mungil istrinya itu.


Meera gelagapan. " Sayang, ini di kampus. " Tegurnya pelan.


" Aku bahagia ! " Seraya merengkuh Meera dalam pelukannya. Lucas sempat terlupa, beberapa bulan lalu, mereka memutuskan untuk tidak memakai pengaman lagi diantara mereka.


" Hmm ! " Meera mengangguk pelan, ikut terharu juga. Bagaimanapun, walaupun ini kehamilan kedua baginya, tapi janin ini adalah yang pertama bagi Lucas.


" Akhirnya aku berhasil ! " Ujar Lucas saat itu, sembari mengepalkan tangannya ke atas.


Maksudnya ???, Meera mengernyitkan dahinya.


" Kapan kau akan pulang ? " Tanya Lucas.


" Satu jam lagi. Hari ini, aku hanya melaporkan tugas skripsiku. " Jelas Meera.


" Skripsi ? "


" Hmm. Aku tahu, kau begitu kesal padaku akhir-akhir ini. Aku-- hanya ingin segera menyelesaikan kuliahku. " Jelas Meera saat itu menjelaskan jadwal kuliahnya yang padat. Karena Meera memang berniat untuk menyelesaikannya dengan cepat.


" Emh, maafkan aku ! " Ujar Lucas saat itu. Karena berfikiran buruk pada Meera selama ini, yang seolah melupakan suami dan keluarganya sendiri.


" Baiklah ! Kalau begitu aku menunggu di dalam mobil. " Terang Lucas.


" Kau tidak akan ke kantor ? " Tanya Meera heran.


" Khusus hari ini, aku milikmu seorang. " Mendekap Meera menggombal.


" Heemm. " Cebik Meera manja. " Awas ya, kalau ada maunya. " Tepuknya pelan pada dada suaminya.


" Tenanglah, kita hanya akan makan siang bersama. " Jelas Lucas.


" Setelah itu, kita singgah ke butik dan salon. Malam ini, kita akan menghadiri pernikahan Helena, kau ingat Sayang ? " Ajak Lucas.


Dan Meera hanya mengangguk menyetujui. Mau bagaimana lagi, Lucas tidak mungkin ditolak, keinginannya harus slalu dituruti, apapun itu. Lagipula-- acara itu adalah acara besar bagi Helena, sudah sepatutnya mereka hadir untuk memberi selamat padanya.


" Jika kau mau, kita bisa singgah ke hotel sepulang dari acara Helena, untuk merayakan kehamilanmu. Bagaimana ? " Bisiknya pelan, mengerlingkan matanya menggoda. Seraya mengusap pelan perut istrinya itu.


Meera membelalakkan matanya. " Ish ! " Seraya pergi meninggalkan Lucas untuk menemui dosennya.


******


Lucas membawa Nara dalam gendongannya. Semenjak kehamilan Meera, Lucas semakin protective pada istrinya itu. Bahkan untuk sekedar menggendong Nara pun Lucas khawatir akan hal itu. Untunglah, Nara begitu dekat dengan Lucas. Harus Meera akui, Lucas menyayangi Nara seperti putrinya sendiri. Dia figur ayah yang cukup baik, bahkan begitu baik di mata Meera.


" Terimakasih, karena sudah mencintaiku, dan menerimaku apa adanya. " Ucap Meera pada Lucas lirih. Mereka tengah duduk di balkon sore itu, sebelum menghadiri pernikahan Helena.


" Hmm. " Lucas mengangguk. " Terimakasih juga karena memilih untuk hidup bersamaku. I Love You ! " Jawab Lucas. Inginnya mengecup bibir, namun ada Nara yang saat ini berusia dua tahun berada di dekatnya.


" I love you, too. "


Hari-hari mereka lewati bersama. Tersenyum, tertawa, dan bahagia. Hari ini, esok, dan kemudian hari. Walaupun terkadang ada duka di sana, tetap mereka lalui semua itu, karena pada dasarnya memang tidak ada kebahagiaan sempurna. Dan merekapun menyadari semua itu.


.


.


💫 END 💫