
.Ambressio menengadah ke arah yang ditunjuk matanya terbelalak dengan langkah lebar dia menghampiri Cindy. Cindy melihatnya Ambressio berjalan menuju ke arah nya dia berbalik arah dan tujuan nya keluar dari. sana.
"Sweetie kenapa ? Ada yang salah? Darimana kau mengetahui aku disini?",ditariknya box bayi itu, lalu di gendong nya Ayana sembari mencium bibir sekilas.
"Aku menelpon kantor...aku hanya ingin mengantar sarapan pagimu", jawab Cindy tergagab dan menunduk. Direngkuhnya tubuh mungil nya dan berjalan beriringan. Mereka duduk di bangku taman. Tidak jauh dari pemotretan. Ambressio membuka tas punggungnya Cindy menatap sandwich dengan jus jeruk di botol, dengan memangku Ayana dia makan dengan lahapnya Cindy membantu membukakan botol jus, David dari jauh membidik candid keluarga kecil bahagia. Sesekali Cindy mengusap bibirnya Ambressio yang kena remahan roti sedangkan Ambressio menciumi ujung jarinya setiap Cindy melakukan itu. Perasaan Cindy menghangat, karenanya, David mendekat mereka menoleh.
"Boss semuanya menunggu?", katanya dengan garuk-garuk kepalanya. Matanya menatap lekat ke arah Cindy. Ada rasa penasaran.
"Jaga pandangan mata mu!", sakars Ambressio
Ambressio bangkit lalu memandang kesegala arah. "Kamu tunggu disini sweetie!", titah nya. Mereka berdua berjalan ke tempat semula. Cindy hanya menatapnya dengan diam, ia melihat sang suami yang sempurna dengan wanita-wanita cantik di sekelilingnya.
"Ambil yang kutandai tadi! ", titahnya pada David. " Dan kamu lakukan sesuai arahan ku tadi !", masih menggendong Ayana yang gembul dan yang satu menggenggam botol jus digunakan menunjuk para model berlenggak-lenggok dan bergerombol.
"Boss siapa dia ihh, gemesin...", suara riuh wanita-wanita mendekati dan berusaha untuk menyentuh ", Jangan berani menyentuhnya !! Dia putriku dan dia istriku!!", suaranya menggelegar tegas. Para wanita itu memandang ke Cindy iri. Wanita cantik itu hanya memandangi sang suami yang bekerja sambil menggendong sang anak. " Kita sepakat dengan model pakaian tadi, jadi kau tahu harus bagaimana", Ambressio menatap tajam ke arah para desainer.
"Cindy?" sebuah suara membuyarkan lamunan wanita itu menoleh ke arah sumber suara.
" Alex Ferguson?", gumamnya lirih.
"Kau disini? Siapa bayi itu ? Bekal? ", lelaki itu terkekeh pelan.
"Rupanya kau masih saja sama .." celetuk nya tak lepas dari senyuman.
"Di mana istrimu? Apa yang kau lakukan disini?", tanya Cindy gugub. Perasaan sakit itu masih ada walaupun tak seperti dulu.
"Setelah kau pergi ayahku masuk rumah sakit karena serangan jantung dan tidak ada pernikahan. Pada dasarnya kami berhubungan hanya sekedar kebutuhan biologis saja. Dia bukan type ideal untuk menjadi seorang istri bagi ayahku", jawabnya datar panjang lebar.
"Aku mencintaimu.. tapi aku pria normal, kau yang tidak ingin melakukan itu. Jadi aku hanya mencari kesenangan saja." jelasnya dengan lugas. "Sayangnya aku tidak sepenuhnya sependapat denganmu. Hubungan harus dilakukan dengan cara keterbukaan dan kejujuran jika kau juga menuntut itu kau harusnya mencari pasangan yang dapat memenuhinya. Bukan nya..." belumlah di selesaikan kata-katanya sudah dipotong Alex Ferguson. "Aku tahu aku yang egois. Kau sudah menikah?". tanyanya.
"Iya. Suamiku seorang lawyer juga membantu ayahnya di perusahaan keluarganya. Kami mempunyai baby kembar. " jawabnya. Ambressio kembali ke tempat sang istri dan mengecup puncak kepalanya.
"Sudah dirapikan?", tanya nya dan Cindy hanya mengangguk dan tersenyum, namun arah matanya Ambressio menatap lelaki disampingnya Cindy.
"Hubby....kenalkan dia Alex Ferguson..dia.." , Cindy berusaha senormalnya mengenalkan.
"Mantan istriku? Apa yang kau lakukan disini? Masih ada nyalikah kau menemuinya?", sakars Ambressio.
"Kau mengenal ku? Apa dia menceritakan tentang kisah-kisah kami?", Alex Ferguson menjawabnya dengan senyuman mengejek.
"Aku melihat berkasmu saat aku menyelidiki kematian pegawai Daddy ku, yang melibatkan police asuransi bernilai tinggi. Dan itu melibatkan sahabatnya yang memiliki partner bisnis cafe? Dan sayangnya sang putri almarhum tidak mengetahui jika ayahnya meninggal kan uang yang jumlahnya tidaklah sedikit. Gadis itu tinggal di rumah kecilnya dengan usaha part time di sana sini demi menyambung hidup", jelas Ambressio dengan tegas dan menatap sekilas ke arah Cindy dan menatap tajam ke Alex Ferguson. Lelaki itu hanya menatap kosong jujur dia tidak mengerti perkataan yang diucapkan oleh Ambressio.
Dipikirkan lagi kata-katanya seperti menceritakan tentang kisah Cindy. Akan tetapi tentang police asuransi jiwa? Dia tidak mengetahui apa itu.
"Baiklah aku pamit, bolehkah aku meminta nomor telepon mu Cindy?" , tanyanya.
"Maaf, aku terlalu cemburu Jika istriku berteman dengan orang lain terutama lelaki." potong Ambressio. Alex Ferguson mengangguk kemudian berlalu.
"Aku akan pulang bersama anak-anak. Kau lanjut kan saja pekerjaan mu", Cindy bangkit dari duduknya. "Aku akan mengantarmu sweetie..." sambungnya dengan menidurkan bayi Ayana di box bayi dan menjinjing nya bersama dengan tas punggung Cindy. Wanita itu hanya mengikuti dari belakang dengan patuh.
Mobil SUV luxury membelah jalanan menuju kediaman Ambressio. Di bimbingannya sang istri di sambut maid di ruang keluarga.
"Tolong jaga anak-anak sebentar dan kau ikut aku sweetie" , titahnya. Sang perawat yang kebetulan muncul dari arah dapur bergegas menggendong bayi Revano dan sang maidnya menggendong bayi Ayana.
Ambil berjalan beriringan menuju ke lantai dua ke kamarnya. Begitu masuk ditariknya tubuh mungilnya dengan kaki nya menendang pintu agar tertutup dengan sendirinya. Di lumatnya bibir mungil hingga akhirnya mereka melepaskan diri ", kau dihukum sweetie. Beraninya keluar rumah tampa ijin ku!", ujarnya serak disesapnya bibir mungil itu dengan bersamaan jatuhnya baju-baju mereka. Pergulatan panas di ranjang king size berlangsung lama.
"Apakah mereka tidak mencari mu sayang..?" , tanya Cindy di tengah-tengah pergulatan panas mereka.
"Aku bos nya aku dapat datang kapan ku Kusuka.." , jawabnya dengan menambah kecepatan irama. Cindy mencengkeram seprai dengan kuatnya.
"Sa...Yaang.....ampuun..." jeritnya dengan terkulai tubuh nya . Ambressio merengkuhnya dengan kuat wanita yang dikungkung nya. Tubuhnya bergetar hebat karena pelepasan dan kepuasan. " Maafkan aku sweetie", gumamnya.
Dia kaget dan marah karena sang istri datang ke tempatnya bekerja juga bertemu dengan mantan kekasih nya, dan dia menjadi lupa diri. Di tatapnya sang istri, wanita itu menatapnya sayu terkulai lemah kehabisan tenaga. Kemudian dia bangkit yang sebelumnya ditutupnya badan sang istri dia pun berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Reynald sudah menunggu kurang lebih satu jam di ruangan pribadi Ambressio, lelaki itu dengan santai masuk tanpa menyapa sang kakak. Di bukanya berkasnya ", Sudah lama kak?" Reynald hanya berdehem menjawabnya. "Dari mana saja kenapa tidak ikut rapat?", tanyanya.
"Dari rumah, aku sedang menghukum istri ku yang berani keluar rumah tanpa ijinku. Walaupun dia hanya mengantarkan sarapanku, tapi aku tidak sukai, mata-mata lapar di luar sana menatapnya. " jawabnya santai. Reynald mengangguk mengerti setelah melihatnya, wajah Ambressio yang segar dan dengan senyuman penuh keceriaan.
"Aku akan mengurus semuanya kak janganlah khawatir. Belum ada pergerakan dari Cartwright juga mengenai projects yang di bahas dalam rapat asisten ku akan melaporkan kepada ku." lanjutnya. Reynald mengangguk mengerti iapun berlalu keluar dari ruangan Ambressio tampa sepatah kata. Ambressio menghela nafasnya berat, Dia mengerti kenapa kakaknya berubah menjadi lebih pendiam, karena itu dia berpura-pura seolah-olah semuanya normal saja. Kau masih mencintai istrimu kak, batinnya nyeri. Sejujurnya Ambressio takut jika Cindy akan kembali kepada-nya (Reynald). Dia juga hanya lelaki normal, yang hanya ingin mencintai Dan dicintai.
Di ruangannya Reynald menatap foto Cindy. Wajahnya yang ayu itu di usap nya dengan penuh kerinduan. Andaikan dia dapat bertahan dan semuanya tidak akan seperti ini, pikirnya.
Cindy menyusui bayinya di kamar, ia meminta maid dan perawat membawa dan membantunya, Ayana dan Revano berguling di kasurnya. Walaupun letih dia mencoba untuk menjaga keduanya di kamar.
Di lain tempat. Celine Cartwright mendesah keenakan di bawah Kungkungan lelaki asing. Yah, kini ia tak lebih hanya wanita penghibur dan baby sugar nya lah sebagai perantara. Lelaki itu tidak hanya menikmati tubuhnya saja akan tetapi dia juga memanfaatkan nya untuk kepentingan pribadi. Entahlah bisnis apa lagi yang dia jalani bersama lelaki yang menjadi partner ranjangnya kali ini. Lelaki itu menyelesaikan permainan itu setelah tiga kali pergulatan. Dengan mengenakan pakaiannya sang lelaki memberikan cek tunai dengan menaruh nya di atas nakas. Celine Cartwright menatapnya berbinar ", Terimakasih tuan".
"Itu khusus untuk mu!' , katanya Celine Cartwright menghampiri dan bergelanyut di lengannya manja. Lelaki itu menciumi bibirnya berulangkali. "Aku harus pulang istri ku nanti curiga. " katanya.
"Itu sebabnya kau melarang ku menyentuh tubuh mu tuan?", lelaki itu hanya menyentuh manja hidung nya dan berlalu. Celine Cartwright memasukkan cek itu dan segera mengenakan pakaiannya lalu keluar dari kamar hotel. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediaman yang di sediakan untuk nya. Dia membersihkan dirinya dan tak lupa melakukan perawatan spa yang disediakan oleh Jacobs. Wanita itu sudah tidak peduli lagi hidup nya seperti itu. Dan dia juga sudah melupakan keluarga nya.
Sementara kyeowook Cartwright memikirkan bagaimana cara mereka memiliki perusahaannya kembali. Perusahaan nya dulu di alihkan Reynald karena kehabisan modal dan bangkrut. Dia sekarang hanyalah karyawan biasa walau dia menjabat sebagai CEO namun hanya sekedar jabatan.
Di kediaman Reynald . Anak-anaknya berkumpul di ruang keluarga menonton film ditemani momy Evelyn. Mereka menunggu Reynald pulang kerja dan makan malam bersama. "Apakah om Ambressio tidak kangen kita kak?", tiba-tiba Sarah bertanya kepada Revalia. Sang kakak hanya menatapnya tanpa dapat menjawabnya. "Mungkin sedang sibuk sayang,'" bisik momy Evelyn wanita itu membelai rambut cucu perempuannya.
Revalia hanya ikut mengangguk mengiyakan. Sarah kembali menatap filmnya dengan muka murung nya. Tak lama Reynald muncul dan menyapa mereka lalu berjalan menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri lalu bergabung dengan semuanya. Saat akan memulai makan malam Sarah bertanya kepada Reynald," Daddy bolehkah aku menelpon om Ambressio?", tanyanya takut-takut.
"Kenapa?", ditatapnya gadis cilik itu.
"Aku hanyalah ingin bertemu dengan Mom dan adik bayi..Apakah om Ambressio akan mengijinkan?", lanjutnya. Reynald menutup matanya merasakan sesuatu yang tidak dapat ditahan nya. Rasa nyerinya hati terasa lagi lelaki itu hanya menghela nafasnya.
"Sayang...", mom Evelyn mencoba untuk mengalihkan tetapi disela Revalia
"Bagaimana pinjam phonsel Daddy ? Boleh kah menelpon om Ambressio meminta ijin nya?", tanya nya dengan antusias.
Diambilnya gawai lalu di dial nya nomor telepon Ambressio. Dia sengaja mengaktifkan mode loud speaker. Sejenak belum tersambung hingga panggilan ketiga terangkat.
"Hallo.." suara wanita menjawabnya.
"Momy...!", pekik keduanya serempak nyaring.
"Saa ...Yaang?", terdengar suaranya tersendat.
" Momy kami kangen...kapan mom kemari?", tanya keduanya bergantian. Cindy termenung menatap kosong kedepan sedangkan tangannya masih menempel kan gawai di telinga. Ambressio keluar dari kamar mandi menatap sang istri curiga.
"Siapa?" , Cindy menoleh dengan linglung, di raihlah gawainya tertera Reynald dan masih terhubung dengan suara anak perempuan yang riuh bertanya kepada dirinya.
"Sayang..ada apa?", tanyanya.
Reynald terhenyak dari lamunannya. "Ambressio mereka hanya sekedar bertanya kepada mu kapan kau datang makan malam bersama bersama adik-adiknya? Tolong jangan tersinggung, kebetulan Cindy mengangkat nya jadi ... mereka heboh", jelas Reynald.
"Ok. Kita lihatlah nanti sayang, om masih sibuk dengan pekerjaan ,dan .... mom kalian tidak dapat om biar kan pergi sendirian. Tolong mengerti ya?", jawab Ambressio.
"Baiklah om. kami mengerti.", jawab keduanya lesu. Telepon pun di tutup oleh Reynald, disana Ambressio hanya menghela nafasnya menatap Cindy yang termenung. "Sayang..apa kau tidak tahu siap yang menelepon tadi?" , tanyanya hati-hati.
"Aku langsung menjawab tanpa melihat nya. Hubby bagaimana cara mengatasi ini?", tanyanya ragu-ragu. Dipeluknya erat-erat sang istri mencoba menenangkan.
"Weekend ini kita ke sana bagaimana? Lagipula jarak nya tidaklah jauh. Mereka belum mengetahui kabar mu sayang. Hanya kakak yang berkunjung ke sini. ", bisiknya sesekali mencium puncak Surai hitamnya.
"Kau yakin baik-baik saja? Apakah Mom Evelyn tidak akan marah?", tanyanya dengan memeluk erat-erat tubuh Ambressio dengan mencium aroma tubuhnya maskulin dan aroma sabun.
"Apakah kamu sudah siap untuk bertemu dengan mereka sweetie?", ganti Ambressio bertanya.
"Entahlah', jawabnya gamang. Ambressio hanya tersenyum dan menciumi puncak kepalanya. Reynald kehilangan nafsu makan nya. Rasanya sungguh hambar semua makanan yang masuk ke tenggorokan nya. Sedangkan anak-anak tertunduk lesu dengan malas mengunyah makanan mereka. Momy Evelyn hanya menatap sendu kalau saja waktu itu dia tidak memaki sang menantu melalui telepon juga dengan kasar dia merampas bayinya semuanya tidak akan seperti ini.