Love

Love
12. Awal Petaka



Ambressio berjalan mengitari apartemen. Ia begitu resah, juga rindu entah mengapa rasa yang ia berusaha hilangkan perasaan itu masih berjokol di hatinya dan seolah tidak mau pergi.


Kau kenapa Ambressio? gumamnya dengan membentur kan kepalanya pelan ke meja mini bar milik apartemen nya. Dengan tangan kirinya diraih gelas dan dituangnya air beralkohol itu ke gelas, di sesapnya sedikit. " Aku harus menghilangkan pikiranku itu". Putusnya. Ia pun bangkit ke kamarnya dan tidur.


Keesokannya waktu keberangkatan Reynald ke China pun tiba, Cindy berpamitan dengan mama Evelyn dan kedua putrinya Sarah dan Revalia dengan berat hati ia harus mengikuti kegiatan sang suami. setelah mendarat di bandara internasional mereka menuju hotel tempat menginap dan beristirahat Karana malamnya baru di mulai kegiatan pamerannya peluncuran produk itu.


Maka mereka langsung istirahat. Di saat yang sama Ambressio juga menuju ke kota yang sama dengan Reynald. Mereka tidak menyangka akan pergi ke kota yang dengan urusan bisnis dan itu sudah di amati seseorang dari jauh.


Di hotel Reynald bersiap dengan toxido dan menunggu sang istri berganti pakaian. " Wow...so pretty.. " Reynald mendekat dan memeluk sang istri dengan erat..sangat erat... "Sweet heart...please...", Suara serak Reynald, dengan kepalanya menempel di ceruk leher sang istri. Menghirup aroma Cindy.


Cindy tak berdaya dan ia pun melayaninya. Hasrat sang suami muncul saat itu dan ritual hubungan suami istri pun berlangsung. Di lobby Daffa menunggu gelisah. Apa mereka tertidur karena kelelahan? pikir Daffa.


Reynald mempersingkat kegiatannya bersama sang istri mengingat jadwal pertemuan penting di ballroom hotel. Mereka berjalan menuju ballroom yang tak jauh dari ruang resepsionis. " Boss kenapa lama turun?", Tanya ber bisiknya.


" Ehmm... ada Urusan sedikit tadi.." Jawabnya sedikit berdehem sedikit beralasan merasa bersalah kepada Daffa. Daffa melirik Ia sempat melihatnya tanda kiss mark disela kerah kemeja. Dan hanya tersenyum geli.


Di perjamuan banyak relasi bisnis, juga para model yang mempromosikan Phonsel. Para model berlenggak-lenggok memamerkan produk dan di monitor ada gambar desain dan MC yang menjelaskan detailnya fitur-fitur.


Cindy merasa sedikit pusing , ia berpamitan dengan sang suami ke toilet. Wanita itu berjalan terhuyung-huyung terkadang berhenti. Kepalanya benar-benar berdenyut. Biasanya ia minum sampanye tidak pernah pusing walau hanya segelas. Dari arah berlawanan ada pelayan pria dan seperti petugas hotel. Berjalan mendekat tidak ada yang aneh saat melewati mereka baru beberapa langkah Cindy merasa ada yang membekap dari arah belakang.


Cindy berontak tapi itu sia-sia saja hanya beberapa detik ia sudah terkulai. Tubuhnya di angkat di bawa pergi meninggalkan hotel lewat jalan lain. Yang hanya dilalui staf hotel dan itu sangat sunyi. Di tempat pagelaran Reynald sibuk melayani para tamu undangan. Juga para relasi bisnisnya.Wajahnya cemas Daffa melirik ada yang tak beres dengan bos nya, ia pun mendekat. " Kau tangani para investor aku cari Cindy sebentar", Titahnya.


Dia pun berlalu menuju ke toilet, saat disana tidak ada siapa pun ia sudah bertanya pada petugas kebersihan. Ia cemas keringat membasahi kening, diambil nya gawai.


" Daffa istriku hilang hubungi sekuriti aku akan ke kamar mengeceknya. Kau periksalah CCTV-NYA ", Langsung ia putuskan sepihak.Dia setengah berlari ke kamarnya. Kosong kemana dia?, Batinnya.


Di tempat lainnya. Ada dua orang di jebak dalam satu kamar. Mereka adalah Ambressio dan Cindy, mereka dalam keadaan tidak sadarkan diri di letakkan dalam satu kamar. Ambressio di sofa sedang kan Cindy di kasur.


Mereka sudah di bius dan di beri afrodiac yang berujud lilin aromaterapi. Dan juga berupa suntikan. Ada juga ditaruh dalam minuman.


Mereka akan terus menerus melakukan itu tampa kenal waktu...lihat bahkan aku sudah menyiapkan kamera di dekat tempat mereka bercinta, Rodrigo Cartwright bermonolog dan tertawa lebar penuh kemenangan.


Ambressio tersadar dari pingsannya ia bangkit dari tempat duduknya, mengamati sejenak. Pandangan mata beralih ke arah Cindy. Yang tergeletak di ranjang. Wanita itu tersadar tapi ada yang salah padanya. Dia menggeliat menggeliat seperti cacing kepanasan obat yang di bubuhkan di minum nya sudah bereaksi.


Demikian juga dengan Ambressio di kamar nya air minum mineral nya juga diberi obat. AMBRESSIO INI KESEMPATAN MU UNTUK MEMILIKI NYA, perang batin antara kewarasannya, logika dan nafsu berkecamuk.


" Ambressio...", Panggil Cindy lirih itu terdengar seperti suara yang sexy dan menggoda. Jiwa kelelakiannya meronta meminta segera di lepaskan.


"Ambressio tolong bantu aku ...", Cindy menatapnya sayu memohon. " Kita harus keluar dari kamar ini...", Jawabnya. Ambressio berusaha sadar membuka jendela pintu tetapi nihil. Semua rapat tak bisa di buka di ganjal dari luar. Perasaan nya semakin tidak nyaman. Ia berusaha untuk sadar dengan masuk kamar mandi mencuci muka. Itupun tidak banyak membantu. Mereka berhadapan dengan frustasi.


" Cindy..Aku tidak yakin dapat keluar dari sini..." Keluh Ambressio. " Apa yang mereka inginkan?", Bisiknya lemah. Cindy menggeliat menahan hasratnya. " Kita di racun...aku sama dengan mu... gawai ku di ambil, saluran telepon di sini pun di putuskan. Kita di culik dan di racuni. Mereka mengetahui siapa kita. Yang mereka inginkan adalah kita hancur." Jelasnya. Ambressio mencubiti tangan nya dan mencakarnya hingga berdarah.


" Cindy.." Ambressio menatapnya lekat. Wanita itu sangat lemah terkulai di kasur. Dengan gaun nya yang sudah berantakan kusut karena dia berguling-guling." Cindy apa..." Ambressio tersendat seraya menatap wanita itu." Sakiit... Ambressio..." Cicit nya. " Maukah kau memaafkan ku..." , Cindy mengangguk dengan berlinang air mata.


" Apa pun yang terjadi aku sayang kamu.." Bisiknya serak. Mencium kening sebagai tanda meminta maaf dan ijin wanita itu. Cindy hanya diam dan berlinang air mata nya.


Dan terjadilah hubungan terlarang antara dua orang lain jenis. Karena pengaruh obat dan keadaan mereka, Ambressio mungkin lebih memilih mati, disana tidak ada cermin atau benda yang tajam jendela terbuat dari kayu, bangunan hanya ada tempat tidur dan kamar mandi yang di dalamnya hanya closed dan shower saja.


Jendela kamar mandi hanya teralis kecil yang sempit. Semua sudah di rancang sesuai keinginan, sang sutradara tertawa membahana puas.


Di lain tempat Reynald kebingungan mencari sang istri. CCTV-NYA sudah di rusak dan para pelayan hotel sudah di interogasi tak ada hasil. Kepolisian setempat mencari keberadaan wanita tersebut.


Waktu pun berlalu sudah tak terasa sudah tujuh hari. Ambressio tertidur di dalam pelukan hangat nya ada Cindy yang hanya terdiam. Di makanan dan minuman itu semua terbuat dengan plastik dan sterefom.


Dia tidak begitu mengerti salah nya di mana? kenapa mereka di racuni terus seperti ini. Air matanya menetes Ambressio mengerjab-ngerjab netranya, merasa ada air menetes di lengannya. Di kecupnya Surai hitam di samping nya.


"Aku akan bertanggung jawab apapun yang terjadi jangan kau pendam sayang. " bisiknya serak. Dia berdiri mengenakan boxer nya ia melihat ke pintu di sana tidak ada apa pun. Ia berjalan hati-hati mencoba memutar kenop pintu, klik pintu terbuka. Ia langsung menyambar celana panjang mengenakan tergesa dan kemeja nya.


Segera ia mengenakan sepatu dan mengambil barang nya yang di ruang berbeda yang sudah di temukan nya. Jas nya ia kenakan pada Cindy. Karena gaunnya agak terbuka.


" Ayo aku sudah pesan tadi online juga aku sudah memotret tempat ini rekan ku akan kesini." " Ambressio...??" , Xander bingung melihat keduanya begitu dia tiba di lokasi. "Aku akan mengantar Cindy, kau datang dengan tim penyidik dan dokter ?" Tanyanya Ambressio.


" Itu mereka", Seru Xander menunjukkan dengan kepala nya. Dokter mengambil sampel darah dan memeriksa kedua nya. Dektetif bekerja meneliti tempat itu. Mengambil sidik jari dan bukti bukti yang di perlukan.


"Kami pergi dulu. " Pamit Ambressio. " Aku turut bersimpati, yang kuat bro" Bisik Xander. Ini benar benar mengerikan batin Xander .


Di hotel Reynald berdiri kaku melihat sang istri yang kusut dan itu juga di lihatnya Ambressio juga banyak kiss mark di tubuhnya samar atau baru . " Brengsek!! "


Buggh... buggh... pukulan diterima sang adik sedangkan Cindy terduduk lemas dan berurai air matanya menetes. "Kita kembali tinggalkan dia!!", Titahnya. Reynald patah hati, dia hancur lebur istrinya di bawa kabur adik nya. Itulah yang ada di pikirannya. Di pesawat ia menangis pilu. Daffa hanya terdiam. Untuk kedua kalinya sahabatnya hancur.


Cindy mendekat memegang luka luka di wajah Ambressio. "Its Ok Sweat heart." Di peluk lah wanita itu keduanya menangis dalam diam. Tak berselang lama keduanya berkemas kembali ke Amerika.


"Kau akan tinggal di sini di apartemen ku. Jika kau tak nyaman aku tinggal di kantor atau di apartemen temanku. Aku akan minta Reynald mengirim barang barang berharga mu. " begitu tiba di basemen apartemen. Saat memasuki lobi seorang petugas sekuriti menghalanginya.


"Tuan, ada barang yang di antar sehari lalu dengan sebuah map coklat. Maaf saya lancang memasukkan nya tampa ijin Anda". Katanya.


" Baik. Terimakasih. Ini untuk anak-anak ajak mereka jalan jalan" , Ambressio menyodorkan beberapa lembar ribuan. Di apartemen ia meneliti barang barang itu. 3 koper besar 2 kardus besar.


" Koper ku. Ini.." Cindy menunjukkan ke arah koper abu abu. Dia menahan tangisnya. " Dia menggugat mu sweet heart", di sodorkan nya berkas itu. Tangan Cindy bergetar tak lama dia jatuh pingsan. Ambressio reflek berlari dan menangkap nya, di angkatnya tubuh itu ke ranjang.


Dari China Ambressio sudah menelpon rekannya di IT mengantisipasi karena dia sudah di rekam dalam pergulatan panas . Ia yakin orang itu akan memviralkan Vidio panas itu. Taruhan adalah kerajaan bisnis RCC Company. Kepalanya pusing ia belum menjelaskan kakaknya tapi dia langsung menghajarnya tampa kata kata. Dia tidak mempercayai istri atau adiknya.


POV Ambressio


Anugerah atau musibah ? Aku di kurung bersama wanita yang ku cintai secara diam diam. Wajah ayunya terlihat menarik saat ini. Salah kalian sedang di jebak! Ini salah! Logikanya bekerja, tapi dia terlihat menggemaskan...bisikan nafsunya. Akkhh..


Aku berusaha untuk menggunakan logika juga kewarasan Ku. Tapi obat kuat ini sungguh menyiksanya dan menyiksaku.


Aku mencoba berdiskusi dengan nya. Dia hanya pasrah dia juga sudah berusaha keras luka luka di tangan dan badannya sama halnya aku juga berusaha tetap sadar. Kami selama di kurung hanya makan dan bercinta. Diantara surga dan nikmatnya bercinta aku abaikan rasa bersalah ku pada kakakku.


Jujur aku menikmatinya, aku benar-benar sudah gila, benar benar tak tertolong jiwa iblis ku bicara. Mau gimanapun sudah terjadi, maafkan aku kakak. Aku benar-benar minta maaf, ini bukan keinginan ku. Seseorang berbuat jahat sudah merencanakan ini, masih belum ku mengetahuinya motif nya.


Dugaan ku adalah kerajaan bisnis Papa yang sudah kau kembangkan kakakku. Maafkan aku kak, maafkan kesalahan indah ini, yang membuat mu sakit, juga membuat hancur keluarga kita. Maafkan aku.. Maafkan adikmu yang brengsek ini. Aku berjanji akan mencari dalang bencana ini.


Kakak lihatlah dia begitu terluka, ia banyak menangis diam diam, hatinya begitu lembut. Dia shock melihat barang barang nya yang kau kirimkan kakak. Wajahnya pucat, dan dia sudah jarang menyentuh makanannya.


Bahkan ia menanda tangani surat cerai tampa membaca, walau dia sempat pingsan karena mendapati diri nya di campakkan begitu saja, ia tak melihat aset yang kau berikan kakakku tersayang, ia juga tak menyentuh kotak apa yang kau kirimkan, dua kardus besar teronggok di pojokan kamar apartemen.


Aku yang menjadi lawyer nya dan aku harus berhadapan rivalku, dengan geramnya aku menahan ekspresi sinisnya. Tunggulah nanti saat mu tiba Broo.


Di pengadilan kakak tak hadir hanya ada pengacara sialan itu. Aku harus tahan dengan argumentasi nya yang bikin telinga panas. Foto foto kami bertemu di food court. Yang tidak sengaja padahal kami ber empat kenapa jadi berduaan? Teknologi emang canggih.


Kakakku segini rasa kau mencintai nya. Aku sungguh-sungguh kecewa. Cindy hanya terdiam melamun tampa ekspresi. Aku benar-benar takut kondisinya. Benar-benar takut, wajahnya pucat badannya semakin menyusut pipinya tirus tidak cuby lagi. Hakim membacakan keputusan nya kami harus menerima kenyataan pahit. Dia resmi menjanda. Kami keluar dengan lesu, lagi lagi dia menatapku dengan tatapan sinis, "Selamat kau bisa mendapatkan nya penuh" , sarkasnya berlalu.


Cindy berjalan Linglung dengan pandangan mata kosong. Dan tak lama. Brukk. Dia terjatuh, aku berusaha membawanya ke rumah sakit terdekat , ku kendarai mobil kecepatan tinggi aku benar-benar cemas. Lelaki mana tak cemas menghadapi wanitanya yang hanya diam dan makan jika hanya dipaksa di suapi, dengan pandangan mata kosong, ini benar masalah besar.


" Bagaimana?" Tanyanya begitu melihat Iva keluar dari kamar pemeriksaan. Dia sungguh tidak mengira bertemu teman sekolah nya dulu.


" Dia keletihan dan stress sepertinya dia hamil" dari gejala dan denyut nadi, kita lihat lagi usai serangkaian pemeriksaan," Jelas Iva dengan memasang selang infusnya. " Aku hanya dr. umum yang kebetulan sedang berjaga di sini. Apa dia istrimu?", Tanyanya.


Ambressio hanya tersenyum kecut. "Aku sedang berusaha, dia tadi menghadiri sidang perceraian nya. Dia di cerai kan, dan aku jatuh cinta padanya, suami nya marah saat mengetahui aku cinta dia dan dia tampa bicara menceraikan nya." Ambressio menjelaskan.