Love

Love
Chapter 84 - Jangan Tinggalkan Aku



Dengan langkah gontai, Meera berjalan menuju kamar perawatan Lucas. Setelah beberapa saat lalu, Meera tersadar dari pingsannya.


Terngiang-ngiang di telinganya dengan begitu jelas, ucapan Alessya tadi.


" Kau-- harus menguatkan dirimu, Meera. " Ucapnya terdengar begitu sedih.


" Apa maksudmu, Alessya ? " Meera terlihat panik saat itu. Bahkan wajah pucat karena pingsan tadi belumlah pergi. Sepertinya akan bertambah lagi.


" Dia-- mengalami koma, Meera. " Jawab Alessya terisak. Kepalanya tampak menunduk saat itu. Tubuhnya bergetar karena menangis akan musibah yang telah menimpa adik ipar satu-satunya itu.


" Apa ?! Tidak mungkin, Alessya. Tidak mungkin ! " Elaknya menangis. Merasakan rasa bersalah yang semakin menjalar di hatinya.


" Lucas ! Maafkan aku ... " Ucap Meera sembari terus menangis.


" Kau, cepatlah lihat dia, hmm. Semoga saja setelah mendengar suaramu, dia akan segera bangun dari tidurnya itu. " Lanjut Alessya lagi. Menepuk pelan bahu sahabatnya itu.


Dan kini, Meera telah berdiri tepat di depan pintu kamar perawatan Lucas. Dengan ragu, dia membuka pintu itu.


Krieett


Pintu terbuka, Meera masuk ke dalam sana. Tampak Lucas tengah terbaring di sana, dengan beberapa peralatan yang menempel di tubuhnya. Hati Meera merasa sakit melihatnya. Apalagi saat menyadari, hal yang menimpa lelaki yang berbaring di atas ranjang pasien itu adalah karena ulahnya. Karena keegoisannya dan karena rasa tidak percaya yang slalu menderanya.


Meera berjalan masuk dengan perlahan, dengan keraguan dan penuh ketakutan. Menyentuh jemari lelaki itu dengan lembut dan hangat, berusaha menyampaikan rasa cinta yang tersirat.


" Lucas ... " Panggil Meera lirih, setelah sesaat lalu duduk di kursi kecil yang tersedia di sana.


" Maafkan aku ! " Ucapnya lembut, sedikit terisak dengan air mata yang mengucur perlahan.


" Bangunlah, hmm. " Meera menautkan jarinya pada jari Lucas. Mengecupnya lembut dengan penuh kasih sayang.


" Jangan tinggalkan aku. Kau tahu kan, aku bisa gila jika kau pergi meninggalkanku. " Lanjutnya lagi. Menyesali dirinya yang berkali-kali meminta Lucas untuk pergi dari hidupnya. Nyatanya, saat semuanya hampir saja terkabul, dan hampir di depan mata, dia malah menangis tidak berdaya, meratapi kesalahannya.


" Aku mohon, tetaplah hidup ! Tetaplah di sampingku. Aku berjanji, aku akan melakukan apapun untukmu. "


" Akan ku kabulkan semua keinginanmu. Tapi-- kau harus hidup. Dan terus berada di sampingku. " Lanjutnya lagi.


" Lucas, bangunlah. Aku mohon--- hikss ... " Tangisnya tiada henti. Sembari menggerak-gerakkan dada Lucas. Wajahnya bahkan sudah memerah saat itu. Jangan tanya matanya, sudah pasti merah juga. Suaranya terdengar serak dan parau. Matanya sendu dan tampak tidak bernyawa.


Tangisan Meera semakin menjadi dan tak terkendali. Ia lalu memeluk dada Lucas dengan begitu erat. Menyandarkan kepalanya di sana. Dengan keputusasaan yang jelas semakin tersirat.


" Maafkan aku ! Kita bahkan belum memiliki seorang anak Lucas. Bangunlah, kita buat anak yang banyak, Ok ?!! " Sembari tersenyum getir.


Semakin lama, Meera semakin meracau tidak jelas. Dia masih bersandar di sana. Dengan Isak tangis yang belum juga reda.


Tiba-tiba ...


Meera merasakan suatu getaran. Tepatnya pada tubuh tempat dia bersandar sekarang. Meera langsung bangkit, memperhatikan Lucas lebih dalam.


" Hffffttttt !!! " Bibir Lucas nampak mengerucut menahan tawa, walau matanya masih terpejam, namun akhirnya terbuka setelah sebelumnya bertahan dengan memicing geli ke arah Meera.


Mata Meera melotot. " Lucas !! " Sembari tangannya bergerak memukul dada Lucas dengan gerakan pelan, lalu menghambur memeluknya erat.


***********


" Maafkan aku ! " Alessya tertawa geli pada Meera yang tengah mendelik tajam pada dirinya. Meera malu setengah mati tadi, ternyata Lucas tidak koma seperti yang diceritakan Alessya padanya.


" Aku gemas melihat kalian berdua. " Alessya menatap Meera dan Lucas yang kini tengah menghakimi dirinya.


Lucas ternyata tidak separah seperti yang diceritakan Alessya tadi. Bahkan dia sudah sanggup untuk duduk bersandar di ranjangnya kini.


" Seharusnya kalian berterima kasih padaku. Karena ulahku ini, kalian jadi akur kan ? " Alessya membela dirinya sendiri. Tak ingin disalahkan oleh mereka yang kini telah berbahagia.


" Siap Kaka ipar tersayang. " Ucap Lucas mengedipkan sebelah matanya, dan kini terpaku setelah mendapat delikan tajam dari istrinya.


" Jadi-- tadi kau hanya tertidur ? " Tanya Meera menginterogasi. Mereka belum sempat mengobrol tadi. Ketika tiba-tiba Alessya datang menginterupsi pelukan mereka.


" Ya, tadi aku hanya tertidur, ketika kau tiba-tiba datang, menangis dan memelukku tadi. " Jawab Lucas sembari tertawa geli.


" Lalu, kenapa kau tidak bangun saja tadi ? " Tanya Meera memicingkan matanya tajam.


" Kenapa aku harus bangun dan melewatkan untuk mengetahui isi hatimu itu. "


Masih dengan senyuman gelinya, Lucas menatap Meera nakal, " dan apa katamu tadi ? Memiliki banyak anak, ayo-- siapa takut ! " Ucapnya puas. Merasakan kebahagiaan yang begitu membuncah di dalam dada. Membayangkan proses membuat anak bersama Meera yang slalu dirindukannya beberapa bulan ini.


" Aku siap memenuhi keinginan mu itu." Lanjut Lucas sembari menyeringai puas.


" Kau-- hanya tinggal menentukan kapan waktunya kau siap. " Lanjutnya lagi, menatap Meera yang kini wajahnya tampak begitu merah karena malu dan karena puas menangis tadi.


" Lucas !! " Meera tersipu, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Lucas menarik sebelah tangan Meera. Menatap wajah Meera yang selama ini dia rindukan. Membawa tangan Meera untuk dikecup olehnya. " Jadi-- kapan kau akan siap ? " Tanya Lucas antusias, terlihat tidak sabar mendengar jawaban dari istrinya itu.


" Siap apa ? " Tanya Meera polos. Menatap Lucas setelah mengerjapkan matanya.


" Membuat banyak anak seperti yang kau inginkan. " Jawab Lucas membuat pipi Meera merona seketika.


" Bukankah-- kau masih sakit. " Jawab Meera memalingkan pandangannya dari suaminya itu. Dia salah tingkah karenanya.


" Lukaku tidak parah. Tidak akan berpengaruh dalam proses pem-- " Meera langsung membungkam mulut Lucas. Namun, bukan dengan tangannya melainkan dengan bibirnya.


Cukup lama kedua bibir itu berpagutan. Awalnya, Meera hanya bermaksud untuk mengecupnya saja. Apa daya ? Meera tidak bisa melawan, ketika tangan Lucas menekan tengkuknya, memagut bibir Meera lebih lama dan menyesapnya cukup dalam.


Meera terbangun setelah Lucas melepasnya tadi. Dengan nafas terengah tentunya. " Ini rumah sakit. " Tegur Meera memukul lengan Lucas. Padahal, diapun merasakan nikmat dan menginginkan lebih. Terbukti, dengan lidahnya yang bermain aktif tadi.


Lucas terkekeh mendengar ucapan Meera, tidak peduli ini rumah sakit atau bukan.


" Jadi-- kapan ? " Masih ingat saja dia.


Lagi-lagi pipi Meera merona. Mengerjap bingung harus menjawab apa.


" Setelah pulang dari rumah sakit saja. " Jawab Meera lirih dan menunduk. Mengira Lucas masih akan lama dirawat di rumah sakit.


" Baguslah ! " Jawab Lucas senang.


Eh ?


Meera menatap Lucas penuh tanda tanya.


" Kata dokter, lukaku hanya luka ringan. Cukup beristirahat di rumah saja. Jadi-- malam inipun aku sudah bisa pulang. " Jelas Lucas senang.


Dan Meera mengerjap kaget tak percaya dengan apa yang didengarnya baru saja.


Lucas benar-benar tidak ada duanya kala menggoda dirinya.


.


.


💫 Bersambung ... 💫


Like, rate, koment jangan lupa.