Love

Love
- Pertemuan Sedarah Daging



Bagi yang mo cepet lahiran Meera, sabar ya ... Ini tentang Vano dan Nara. Bagaimanapun juga, Vano salah satu pemeran utama di novel ini. Dia sama sekali gak jahat kok, situasi yang membuatnya seperti ini. Termasuk aku juga, yang menulis cerita ...😅😅




Plaaakkkk !!!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Vano. Dan tamparan itu berasal dari tangan dr. Amanda.


dr. Amanda kaget saat mengetahui bahwa lelaki muda yang ada di hadapannya ini adalah lelaki yang telah menghamili putrinya dulu--walaupun dengan dalih terpaksa dan tidak sengaja, hasilnya sama saja. Meera hamil dibuatnya, mengandung anaknya. Dan Vano keburu menikah dengan perempuan lain, saat Meera mengetahui kehamilannya, jangankan untuk meminta pertanggung jawaban atas perbuatan Vano saat itu.


dr. Amanda sedikit menyesal, bahkan tadi dia sempat memarahi Lucas dan memuji Vano di hadapan Lucas. Padahal, kebaikan Vano saat ini, menolong Meera, sama sekali tidak sebanding dengan kesalahan Vano pada Meera dulu.


" Maafkan saya .. " Ucap Vano tulus, sembari menunduk.


dr. Amanda terdiam. Berusaha berfikir jernih dan menetralisir perasaan. Tidak dipungkiri, tetap saja Vano berjasa, baik hati menolong Meera. Itu lebih berharga dari apapun, karena menyangkut nyawa Putri dan cucunya.


Dan juga, bagaimanapun Vano adalah ayah kandung dari cucunya Nara. Apalagi Nara adalah seorang perempuan, yang mungkin saja butuh tempat berlindung apabila terjadi sesuatu hal di masa depan.


" Baiklah !! " Jawab dr. Amanda singkat, walau berat hati dan sejujurnya begitu tidak rela.


Obrolan mereka terus bergulir secara perlahan.


Vano memang tidak bisa seratus persen disalahkan akan hal yang menimpa Meera dulu. Semua itu adalah permainan takdir yang harus diterima dan dijalani. Lagipula, Meera begitu beruntung dicintai oleh Lucas yang begitu mencintainya dan menerima apa adanya. Apapun kondisi Meera saat itu.


Terlebih lagi sekarang, bahkan Lucas sukses menjadi ayah sambung Nara dengan begitu baik. Dengan penuh cinta , ketulusan dan kasih sayang.


" Dalam jangka waktu dekat, aku akan pindah ke luar negeri dan ------- " Vano menjelaskan rencana masa depannya pada dr. Amanda.


" Bolehkah, aku menemui putriku, sekedar menghabiskan waktu bersama. Mungkin ini untuk terakhir kali, entah kapan lagi kita akan bertemu lagi. Walaupun mungkin, nanti, komunikasi melalui email ataupun selain itu akan tetap terjadi, sekedar melihat perkembangan Nara dari kejauhan. " Pinta Vano sedikit memohon.


" Apa ?!! " dr. Amanda sedikit kaget dengan penuturan Vano. " Bertemu ? " dr. Amanda tidak bisa membayangkan reaksi Meera nanti saat mendengarnya. Lagi-lagi, suatu fakta yang tidak bisa terlepas dan tidak bisa dipungkiri, Vano adalah ayah kandung, ayah biologis dari cucu kesayangannya, Nara.




Vano menyambut kedatangan Nara dan dr. Amanda di salah satu ruangan restoran, Private Room. Dia sengaja memesan tempat di sana agar lebih intens menghabiskan waktu bersama.


Dia bahkan sengaja tidak mengajak Bella istrinya, saking ingin lebih leluasa menghabiskan waktu bersama putrinya itu. Walau begitu, dia tetap meminta ijin pada istrinya untuk hal itu.


Seiring dengan waktu, secara perlahan Vano lebih menghargai istri dan pernikahannya. Walau rasa cinta yang hadir di dalam hati, masih tak bisa menandingi perasaan cintanya terhadap Meera di masa lalu.


Syukurlah, Vano cukup pandai mengendalikan perasaannya itu. Dan berusaha keras untuk mencintai istrinya. Namun, untuk masalah Nara, itu lain lagi. Darah daging tidak bisa dirubah dan disangkal bukan ?


" Hai, Nara ... " Sapa Vano pada putrinya yang hampir menginjak usia tiga tahun itu. Mengajak putri kecilnya itu bersalaman. Menyentuh tangan mungilnya, lalu mengecup pipinya dan mendekapnya dengan begitu erat. Tanpa sadar air mata luruh dari pelupuk matanya. Dia terharu mengalami moment langka itu.


Nara merasa aneh dengan sikap lelaki asing dewasa yang ada di hadapannya ini. Memikirkan dan memperhatikannya secara seksama, sikapnya tidak jauh berbeda dengan papanya, Lucas.


Mata bening dan polos Nara menatap lekat pada sang nenek, dengan sorot mata penuh tanya. Seolah bertanya siapa dia, Nenek ?


" Duduklah, Sayang ! " Ujar dr. Amanda lembut.


" Dia-- om Vano. " Jelas dr. Amanda berbohong, situasi ini sudah dibicarakan dengan Vano sebelumnya. Untuk jangan dulu membuka identitas sebenarnya. Khawatir jika dijelaskan secara gamblang, malah akan membuat anak itu terlihat bingung. Dia belum cukup umur untuk mencerna masalah besar yang di hadapinya ini.


Mungkin, suatu saat Nara akan mengetahui semua ini. Baik secara langsung ataupun tidak langsung, tapi itu nanti, bukan sekarang. Setidaknya menunggu Nara dewasa dan cukup paham.


Awalnya dr. Amanda memposisikan Nara diantara dirinya dan Vano. Namun, lambat laun, sikap hangat Vano mampu menarik perhatian Nara. Seiring dengan waktu, tanpa sadar Nara sudah duduk di pangkuan Vano, ayah kandungnya.


" Makanlah, hmm. " Vano menyodorkan satu sendok makanan ke arah bibir mungil Nara. Dan Nara, menyambutnya riang. Dengan lahap, dia menghabiskan satu suap makanan itu. Hingga akhirnya satu piring makanan tandas tak bersisa. Vano cukup lihai dan pandai mengambil hati Nara saat itu.


Vano menatap dr. Amanda hangat.


" Terimakasih ... " Ucap Vano tulus, dengan bola mata berkaca-kaca, merasa terharu bahagia.


Setelah makan siang bersama usai, Vano mengajak Nara ke pusat permainan anak-anak yang berada tidak jauh dari restoran itu. Sesuai titah dan pesan Meera putrinya, dr. Amanda mengikuti mereka, bahkan turut serta mendampingi, khawatir diam-diam Vano membawa kabur Nara untuk dimilikinya sendiri. Benar-benar paranoid sekali.




Di lain tempat, Meera tampak begitu gelisah. Berjalan bolak balik di ruang tamu rumahnya. Ada Lucas di sana menemani. Hari ini, memang akhir pekan.


Semua yang biasanya bekerja, merasakan libur yang cukup panjang sekedar dua hari, Sabtu dan Minggu. Begitu pun Lucas, Vano dan dr. Amanda. Pertemuan Nara dan Vano sengaja ditentukan pada hari libur, agar tidak mengganggu jadwal bekerja.


" Tenanglah, Sayang ! " Lucas mencoba menenangkan istrinya yang sedari tadi mondar mandir tak berhenti bak setrikaan itu.


Dia cukup jengah, matanya lelah, ikut bolak balik mengikuti gerak tubuh istrinya. Belum rasa cemas mendera di dalam hati, perempuan yang sedang bolak balik di hadapannya ini tengah hamil besar.


" Bagaimana aku bisa tenang, Sayang ! " Cemas Meera saat itu. Fikirannya sudah melayang liar kemana-mana.


" Bagaimana jika mama lengah ? Lalu Vano membawa Nara pergi. Bukankah dia akan pergi ke luar negeri. " Jelasnya panjang lebar. Mengutarakan kecemasan di dalam hati.


" Tenanglah, itu tidak akan terjadi. Aku bisa pastikan itu. " Ucap Lucas meyakinkan istrinya itu. Berjalan menghampiri istrinya, mendekapnya erat untuk berhenti berperan menjadi setrika.


" Kau yakin ?! "


" Tentu saja ! Aku sudah menyuruh Vincent untuk mengerahkan anak buahnya. Mengawasi mereka dari kejauhan. "


" Benarkah ? " Meera menatap takjub suaminya itu. " Terimakasih. " ucapnya lirih. Mengecup bibir suaminya." Kau memang yang terbaik. " Lanjutnya.


" Tentu saja ! "


Lucas tidak membiarkan kecupan itu berakhir begitu saja. Dengan sigap dia menahan tengkuk istrinya, lalu meraih pipi Meera, memagut kembali bibir itu, menyesapnya dalam dan mesra. Hingga akhirnya ciuman itu berhenti. Kala ...


" Mama ! "


Pekik Nara tiba-tiba saat itu, yang ternyata sudah kembali pulang bersama neneknya. Beringsut dia turun dari pangkuan neneknya.


Mereka melepaskan ciuman itu dengan cepat. Meera mendorong dada Lucas kencang hingga terhempas ke atas sofa.


" Mama ! Apa yang kau lakukan pada papa ? Papa adalah milikku !!! "


Pekik Nara begitu kencang saat itu, sembari berlari kecil menghampiri papanya yang telah duduk di sofa sembari mengusap tengkuknya, merasa malu dan salah tingkah. Kepergok berciuman cukup panas oleh anak dan mama mertuanya.


Papa adalah milikku !!


Papa adalah milikku !!


Papa adalah milikku** !!


Teriakan itu mengagetkan semua orang, Meera, Lucas dan dr. Amanda secara bersamaan. Terngiang-ngiang di telinga mereka cukup kencang.


Semakin kaget. Apalagi setelah melihat sikap posesive Nara yang langsung memeluk papanya dengan begitu erat. Seolah takut untuk terpisahkan.




🍬 Bersambung ... 🍬