
Hampir dua bulan sudah pernikahan mereka terjalin. Mereka masih saja menjadi pasangan yang paling hot dan romantis di dunia novel ini. Mengumbar kemesraan dan cinta diantara mereka berdua, tak jarang mereka lakukan di tempat umum nan terbuka.
Seperti yang pernah dijanjikan Lucas untuk slalu membuat Meera bahagia. Hampir setiap Lucas memiliki waktu senggang dalam pekerjaannya, mereka menghabiskan waktu bersama menikmati panorama alam, atau destinasi wisata.
Dalam jangka waktu dua bulan itu, hampir beberapa tempat telah mereka kunjungi. Termasuk menara Eiffel yang merupakan salah satu keajaiban dunia.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Sesuatu yang tidak mengenakkan mulai menerpa rumah tangga mereka.
Lucas terhenyak kala menerima laporan dari asisten pribadinya, Vincent. Laporan yang disertai beberapa lembar foto yang memperlihatkan pertemuan Vano dan Meera di bandara dua bulan lalu. Lebih tepatnya, tepat di hari keberangkatan mereka ke Paris.
Lucas dan Vincent bukannya sengaja memata-matai Meera ataupun Vano. Foto itu dikirimkan secara sengaja oleh seseorang kepada Lucas. Dan Vincent yang bertugas sebagai asisten pribadinya, berhasil menemukan kiriman itu untuk pertama kalinya.
" Kau yakin ini asli ? Apa kau sudah memastikannya ? "
Lucas menelan ludahnya dalam-dalam. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Bersamaan dengan rasa panas yang mendadak muncul di dalam hati.
Vincent mengangguk meng-iyakan. Dia sudah terlebih dahulu menelitinya terlebih dahulu tadi. Berkonsultasi dengan pihak yang cukup ahli dalam bidangnya.
Lucas melonggarkan dasinya cukup kasar. Melepas jasnya, lalu melemparnya kemudian. Menggulung lengan kemejanya sebatas sikut. Lalu berjalan, menghempas tubuhnya duduk di atas sofa yang berada di ruangan kerja di perusahaannya.
" Menurutmu, kapan pertemuan itu terjadi ? " Tanya Lucas dengan pandangan mata yang mulai menggelap. Emosi terlihat mulai menguasai diri.
" Itu-- sekitar dua bulan lalu, Tuan. Dilihat dari pakaian yang digunakan Nona, sepertinya-- pertemuan itu terjadi di bandara, saat keberangkatan ke Paris dulu. "
Lucas terhenyak mendengar laporan itu. Memutar kembali ingatan dua bulan lalu saat di bandara, memang saat itu Meera sempat hilang beberapa lama. Mungkinkah saat itu Vano menemui Meera ?
Vincent menundukkan kepalanya semakin dalam. Aura kelam yang mencekam dari atasannya begitu terlihat dengan jelas. Ikut tegang bersamaan, khawatir akan terjadi sesuatu hal yang tidak di harapkan.
Brakkk
Benar saja. Vincent menoleh ke arah dinding yang berdentum cukup keras. Kala sebuah pot kristal dilempar dengan begitu kasar dari atas meja oleh atasannya. Menyisakan benda itu yang kini tampak hancur berkeping-keping tak berbentuk samasekali dan berceceran di atas lantai ruangan itu, berserakan ke mana-mana.
Arrrggghhh !!!
Lucas meremas-remas foto itu hingga berbentuk gumpalan-gumpalan kertas, melemparnya ke arah sembarang. Lalu menjambak rambut kepalanya dengan cukup kasar. Berusaha meluapkan emosi yang membludak di dalam diri dan rasa sesak yang mengganjal di rongga dada.
Mengapa Meera tak pernah menceritakan hal ini, apakah ada hal lain lagi yang disembunyikan ?
Lucas terlihat frustasi, kacau balau saat itu. Hatinya porak poranda oleh cinta. Kepercayaannya hancur seketika. Dan perasaannya hancur berkeping-keping tak bersisa.
" Sebaiknya-- anda jangan terlalu terbawa emosi, Tuan. Mengingat kehamilan nona saat ini. " Vincent berusaha menenangkan Lucas saat itu.
" Sebaiknya-- bicarakanlah dengan baik-baik. Saya khawatir ini hanya kesalahpahaman belaka. " Lanjutnya lagi.
Lucas menarik nafasnya dalam-dalam. Menahan gejolak di dalam dada yang terasa begitu mencekam. Vincent benar, dia harus berfikir tenang dan rasional. Mengingat Meera yang kini tengah hamil besar. Jika dirinya sampai terbawa emosi, khawatir hal buruk yang tidak diharapkan akan terjadi.
.
.
" Kau baru pulang, Sayang ? "
Meera menyambut kepulangan Lucas dengan begitu hangat. Menampilkan senyum terbaiknya untuk mengobati lelah sang suami yang baru pulang dari bekerja sepanjang hari. Lucas pulang terlambat malam itu, dia malas pulang dengan masalah yang masih mengganjal di dalam hati.
" Hmm. "
" Apa kau sakit, Sayang ? "
Kejar Meera seraya mengernyitkan dahi, tak biasanya kecupan tidak suaminya layangkan pada pipinya. Seraya menggerakkan tangannya untuk membantu Lucas membuka jas yang dipakainya.
Menyampirkan jas pada lengannya, Meera terus melangkah mengikuti ke tempat yang suaminya tuju.
" Tidak ! Aku hanya ingin beristirahat saja. " Jawab Lucas dengan begitu datar dan dingin. Tangannya bergerak membuka kemeja yang dipakainya, hingga akhirnya kini dirinya bertelanjang dada. Lalu menghempas tubuhnya ke atas ranjang begitu saja. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kelam.
" Sayang ... kau tidak akan mandi ? " Tanya Meera yang sedari tadi menatap Lucas dengan begitu lekat, merasakan sesuatu yang aneh dan berbeda. Memunguti kemeja yang berserak di atas lantai, bergegas mendekat membukakan kaos kaki dan sepatu yang masih melekat di kaki suaminya itu.
" Tidak ! Aku sangat lelah. " Jawabnya lirih tak memperdulikan Meera yang tengah berdiri memperhatikannya. Sembari memijit keningnya sendiri, Lucas yang awalnya menatap nanar langit-langit kamar, perlahan memejamkan matanya.
" Sayang ... "
Meera beranjak naik ke atas ranjang. Perlahan merangkak lalu duduk di samping suaminya. Membelai rambutnya lembut, lalu melayangkan sebuah kecupan di keningnya, matanya, hidungnya, lalu ... bibirnya.
Perlahan Lucas membuka matanya kembali, hingga akhirnya pandangan mata mereka bertemu secara tidak sengaja. Tampak kini, Meera tengah menatap Lucas dengan tatapan syahdunya, dalam dan penuh cinta di sana.
" Apa kau sedang ada masalah ? " Seraya tak henti mengelus rambut suaminya itu. Begitu lembut dan penuh perasaan.
Lucas terdiam untuk beberapa lama. Berfikir sejenak, dengan masalah tadi yang menderanya. Dia harus tenang jangan terbawa perasaan. Apalagi emosi.
" Tidak. Aku-- hanya sedikit kelelahan saja. " Jawab Lucas dengan suara seraknya. Lalu meraih rambut Meera untuk dibelai dan dikecup mesra olehnya.
" Aku hanya ingin istirahat saja, hmm. " Ucapnya lagi. Melepas sentuhannya dari istrinya. Memalingkan wajah dan pandangan istrinya kini, Lucas berusaha mengusir Meera secara halus dari sampingnya. Saat ini, Lucas butuh sendiri, dia butuh waktu untuk menenangkan diri.
" Tapi -- " Meera mengerti, perlahan dia menjauhkan tangan dan wajahnya.
" Aku hanya ingin tidur Meera. Aku harap kau mengerti. " Meera tertegun mendengarnya, apalagi setelah menangkap tatapan dingin dari mata suaminya. Ada sorot kesedihan bercampur kecewa di sana. Tanpa sinar kasih seperti biasanya. Bahkan panggilan sayang pun tak terdengar dari bibirnya.
Secara perlahan, Meera bergerak turun dari ranjang, menjauhi suaminya. Bergerak melangkah mendekat ke arah pintu, dengan penuh tanda tanya di benaknya. Tidak sepertinya, suaminya seperti ini. Selama dua bulan pernikahan, mereka slalu membicarakan setiap masalah dengan terbuka.
Meera kemudian menoleh, menatap lekat kembali wajah suaminya
" A--pakah aku membuat kesalahan ? " Tanya Meera walaupun ragu. Butuh keberanian besar untuk mengucapkannya tadi. Tapi, dia sungguh penasaran dengan hal yang membuat suaminya berubah kini.
" Kau bisa membicarakannya padaku. Jangan hanya-- " Ucapan Meera terhenti seketika.
Setelah sesaat lalu, dalam hitungan detik saja, dengan begitu cepatnya, secara tiba-tiba Lucas bangun dari posisinya, dan kini menatap Meera dengan begitu tajam.
Meera memalingkan pandangannya, lalu menunduk. " Maafkan aku-- " Ucapnya lirih. Lalu bergegas melanjutkan langkahnya kembali untuk keluar dari kamarnya.
Langkah Meera terhenti. Ketika sebuah cengkraman menahan tangannya dengan begitu kuat. Dan tepat saat Meera menoleh, Meera melihatnya, menangkapnya dengan begitu jelas. Ada sorot kemarahan di mata Lucas.
" Sa-- sayang ... " Ucap Meera lirih dengan bibir sedikit bergetar, dengan raut ketakutan tergambar begitu jelas di wajahnya.
.
.
💫 Bersambung ... 💫