Love

Love
Chapter 79 - Pudar



Meera merasa kesal karena Lucas mencumbunya dengan sedikit memaksa tadi. Kekesalan semakin bertambah dan menjadi, kala menyadari baju-baju yang tadi menempel cantik di tubuhnya, kini tampak tak berbentuk dan tak berupa sama sekali. Kancing-kancingnya terbuka, belum lagi rambut yang berantakan dan lipstick yang belepotan kemana-mana.


Lucas berusaha membantu Meera merapikan kembali penampilannya. Namun Meera tepis dengan cukup kasar. Hingga akhirnya Lucas memilih untuk diam, membiarkan Meera merapikan dirinya sendiri sembari menenangkan diri.


Lega, akhirnya. Kemarahan Meera perlahan mereda kala Lucas memeluk tubuhnya dari belakang dengan begitu erat dan hangat. Wajahnya tampak tersipu malu, dengan rona merah di pipinya.


Nyatanya, senyuman yang baru saja terbit dari bibir Meera itu, langsung memudar saat itu juga. Meera mendadak ingat dengan status suaminya dengan Helena.


Dengan bola mata yang berkaca-kaca, Meera meronta dengan sekuat tenaga dari pelukan suaminya. Pipinya yang tadi merona karena tersipu bahagia, berubah merah padam karena kemarahan yang mendadak menyerang urat syarafnya.


" Lepas, Lucas ! Lepas ! "


Erang Meera saat itu. Menggerakkan tubuh dan tangannya berkali-kali demi lepas dari pelukan erat sang suami.


" Meera ?! "


Lucas mengeratkan pelukannya. Menyadari Meera telah mengingat masalah pernikahannya dengan Helena.


" Kamu sudah punya Helena. Mengapa masih mencariku ?!! "


Marah Meera dengan suara yang sedikit memekik kala itu. Dia masih meronta-ronta dengan tenaga yang cukup besar.


" Meera, dengarkan aku. Aku dan-- " Tiba-tiba ...


Brukkk, Lucas terpelanting.


Dengan sekuat tenaga Meera meronta, hingga tidak sengaja mendorong Lucas saat itu, hingga Lucas tersungkur jatuh dan bersandar ke tembok.


" Aww !! "


Pekik Lucas, pura-pura menyentuh kepalanya sembari meringis sakit. Walaupun memang cukup sakit dan kaget, untuk orang segagah Lucas, semua itu hanyalah hal kecil belaka yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.


Melihat suaminya jatuh karena ulahnya, Meera tercengang namun berusaha dia redam. Bersikap biasa-biasa seolah tanpa penyesalan di raut wajahnya, walau dalam hati sebenarnya merintih maaf yang tidak terkira.


Maaf !!


" Sayang, kau harus bertanggung jawab. " Candanya.


Lucas merengek manja, sembari bangun berdiri berjalan menghampiri Meera. Bermaksud merayu Meera agar kemarahannya segera mereda.


Meera masih mendelik tajam, dengan nafas tersengal karena emosi yang mendadak menguasai diri, kala tiba-tiba mengingat pernikahan Lucas dan Helena, ditambah dengan kabar kehamilan Helena.


" Kau fikir, semudah itu memaafkan orang yang berkhianat. Kalau aku yang berkhianat, apa kau akan semudah itu memaafkanku ? " Cibir Meera tajam.


Lucas menarik nafasnya cukup dalam. Menenangkan degub jantung yang mendadak berantakan. Jujur, baru pertama kali baginya melihat kemarahan Meera yang seperti ini. Biasanya, Meera hanya akan terdiam, lalu menghabiskan waktunya untuk menangis seorang diri. Karena beda kasus, emosi yang timbul pun tampak berbeda sekali.


" Sudah ku bilang bukan, kita harus bicara ! " Ucap Lucas sedikit tegas tak ingin ada penolakan. Sedari tadi dia memang ingin menjelaskan, namun belum ada kesempatan.


" Bicara saja sekarang ! " Jawab Meera ketus. Mendekapkan tangannya di depan dadanya. Memalingkan wajah dan pandanganya dari sang suami yang kini terlihat cukup keren dengan jambangnya. Ganteng namun bikin geli, ish !!


" Kau serius ? Di sini ? " Lucas mengerutkan dahi. Dan Meera hanya mendelik tajam saat itu.


" Baiklah ! Kita cari tempat lain ! "


Sembari berjalan melenggang pergi meninggalkan Lucas yang masih diam terpaku di dalam toilet tadi. Selang beberapa lama, Lucas mengikuti langkah Meera tidak jauh di belakangnya.


Mereka akhirnya memutuskan untuk berbicara berdua. Di kafe rumah sakit yang berada terletak tidak jauh dari toilet dimana mereka berada tadi. Untunglah tidak terlalu ramai siang itu. Mereka bisa lebih leluasa untuk berbagi cerita.


Lucas menceritakan semua masalah yang terjadi pada dirinya, hingga pernikahan dengan Helena yang akhirnya terpaksa harus dilakukannya. Berikut dengan ancaman yang pernah Ny. Alice berikan, yang membuat Lucas harus menuruti keinginan ibunya itu.


Termasuk menjelaskan tentang kehamilan Helena tentunya. Yang tidak semua orang tahu siapa ayah sebenarnya dari anak yang dikandungnya itu.


" Itu bukan anakku ! "


Sangkal Lucas dengan nada bicara yang begitu tegas. Dia ingin Meera mempercayainya, karena memang benar itu kenyataannya.


" Aku tidak pernah menyentuh Helena sekalipun ! " Jelas Lucas lagi saat itu.


" Kau yakin ?!! "


Meera menyeringai. Dengan mata yang memicing tajam. Mengingat Lucas sang petualang cinta, yang menurutnya tidak akan mungkin melewatkan sesuatu hal menggoda yang telah disuguhkan di depan matanya.


Lucas menghela nafasnya, karena terus dicurigai. " Yakin ! Seyakin yakinnya ! " Lucas mengangkat kedua jarinya, yang memiliki arti


" Percayalah padaku, Hmm. " Ucap Lucas meraih tangan Meera. Menggenggamnya dan mengecupnya lembut. Meera lalu menarik kasar tangannya dari genggaman Lucas. Tak ingin semudah itu mempercayainya.


" Sebaiknya, kau ceraikan saja aku. " Putus Meera sepihak saat itu.


" Meera ?!! " Sentak Lucas. Meera menoleh kaget.


" Maksudku, Sayang ... !! " Melembutkan nada bicaranya.


" Aku memang mencintaimu, Lucas. Tapi-- aku tidak suka dengan situasi ini. Mengenai pernikahanmu dengan Helena, baik kau mencintainya atau tidak, baik kau menyentuhnya atau tidak. Tetap sama saja, kalian menikah bukan ? " Amarah Meera membludak kali ini. Benar-benar sudah tidak tahan lagi.


" Dia tetap istrimu. " Lanjut Meera lagi.


" Secara resmi, dia adalah menantu idaman bagi ibumu. " Lanjut Meera lagi dengan rasa sakit yang kian menggerogoti hati.


" Tidak ! Dengarkan ucapanku, Sayang. Hmm. Ibu-- sudah mengetahui semua itu, tentang kehamilan Helena. " Jelas Lucas berusaha meyakinkan Meera.


" Dia-- cukup menyesal saat ini. " Lanjutnya lagi.


Meera hanya terdiam saja, jujur hatinya ingin mempercayainya. Namun, logikanya berkata tidak. Bagaimanapun kini, Lucas sudah memiliki seorang istri yang lainnya. Dan dia tidak sanggup untuk menerimanya, apalagi menjalaninya.


" Lagipula-- aku dan Helena sudah sepakat, untuk bercerai setelah satu tahun pernikahan kita. Dan mungkin-- saat itu Helena sudah melahirkan juga. " Lanjut Lucas saat itu, menatap Meera dengan begitu dalam. Menghantarkan sorot mata penuh ketulusan.


" Hmm ! " Respon Meera sinis. " Lalu orang-orang akan menganggapku sebagai penyebab retaknya hubungan kalian. Begitu, maksudmu ? "


" Meera-- " Lucas memelas.


" Tak bisakah kau mempercayaiku, hmm. Sekali ini saja, aku mohon. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua. " Mohon Lucas.


" Aku bersedia menikah dengan Helena, karena ancaman ibu yang akan menjauhkanmu dari hidupku. Dia bilang akan mempertemukan kita, jika aku bersedia menurutinya. Saat itu-- aku sangat mengkhawatirkanmu yang sedang hamil besar dan akan segera melahirkan. "


" Tapi-- pada kenyataannya kita terpisah juga kan ? " Sinis Meera.


" Kau bahkan tidak mendampingiku saat aku melahirkan. Rasanya sakit, Lucas. Ini sakit. " Seraya merem*s dadanya, Meera menangis.


" Kau benar, saat itupun aku sangat menyesal Meera. Andai aku tahu akhirnya akan tetap terpisah juga, pernikahan itu pasti akan kutolak dengan mentah-mentah. "


Mereka mengobrol cukup lama, untunglah tadi Meera menyempatkan waktu untuk menghubungi mamanya, menitipkan putrinya padanya untuk sementara, yang untungnya masih belum terbangun dari tidurnya.


Meera sedikit berbagi cerita beberapa hal ketika mereka berjauhan selama tujuh bulan ini, termasuk mengenai proses melahirkan dulu yang terasa hampa karena tidak didampingi sang suami.


" Maafkan aku, hmm. " Ucap Lucas tulus, sangat tulus, benar-benar tulus. Dari hati yang paling dalam.


" Kau tahu-- hmm, saat itu aku mencarimu kemana-mana. " Lanjutnya lagi mengeratkan genggaman tangannya tadi.


" Kenapa kau pergi ? Padahal, saat kau di rumah sakit saat itu-- aku segera berlari untuk menemuimu. Tapi, kau malah menghilang, Sayang. " Lanjut Lucas mengelus wajah Meera yang matanya kini masih dipenuhi air mata. Jari Lucas langsung bergerak menghapus air mata itu.


" Saat itu-- aku sangat takut ! " Tangis Meera lagi, dengan suara terbata-bata dia berkata.


" Aku-- sangat takut kehilanganmu, Lucas. " Lanjutnya lagi.


Cukup lama Meera menangis saat itu. Meluapkan rasa yang selama ini terpendam di dalam dada.


Mengerjapkan matanya, Meera tersenyum di sela tangisannya.


" Untunglah ada mama. Sekarang aku memiliki seorang mama di sampingku. " Lanjutnya lagi masih dengan sedu sedannya.


Meraih tangan Lucas yang satu lagi untuk dia bawa dalam genggamannya. Meera mengeratkan genggaman kedua tangan itu, sembari terus menangis, namun kali ini menangis karena bahagia.


Bahagia karena kini dia memiliki mama yang akan terus mendampingi hidupnya. Walaupun pedih kini terasa, karena harus kehilangan lelaki yang selama ini dia cintai.


Meera lalu melepas tangan Lucas dari genggaman tangannya. Menghapus air mata dari mata dan pipinya.


Keputusannya sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat. Sembari tersenyum, dia berkata. Walaupun sakit kian menggerogoti dada.


" Lucas ! Lepaskanlah aku ! "


.


.


💫 Bersambung ... 💫