
Kali ini Meera benar-benar menuruti keinginan Lucas. Duduk diam tidak melakukan apa-apa, mambuat Lucas sedikit curiga.
" Kau merasa tidak sehat, Sayang ? " Ketika melihat istrinya itu hanya duduk diam di pinggir ranjang. Sedangkan Lucas sedari tadi bersiap untuk bekerja.
" Hmm. Bukankah katamu aku harus diam saja. Tak boleh melakukan apa-apa ? " Sembari merajuk manja. Memainkan ujung-ujung kukunya.
Lucas lalu duduk di samping Meera. Mengecup pipinya sekilas.
" Ayolah, tetap perhatikan aku. Pasangkan dasiku ! " Perintahnya manja. Mengulurkan ujung dasi yang sudah tersampir di lehernya.
Meera yang awalnya duduk menunduk, berbalik menghadap suaminya. " Ish, masih aja manja. Udah lama juga, masih aja gak bisa pasang dasi. " Rajuknya.
" Kan ada istri, Kamu. Masa dianggurin. " Jawab Lucas saat itu. Sembari tersenyum sedikit menggoda.
" Kali-kali di apel-in lah jangan di anggur-in mulu. " Sungut Meera bercanda. Merajuk nama buah anggur dan apel. Dengan telaten memasangkan dasi Lucas.
" Serius nih ?! " Lucas memicingkan matanya. " Mau di apelin ? " Mengingat satu Minggu kemarin Meera ngidam tidak ingin disentuh olehnya, apa-apaan ?
Meera tersipu malu, benar juga. Tadinya cuman bercanda menggoda suaminya, tapi lama-lama kangen juga, pengen di iya-iya in sama suaminya.
" Gimana ? " Lucas sudah mendorong Meera ke atas ranjang, pelan tentu saja. Bergerak cepat, menindih, mengungkungnya kemudian. Dan Lucas hanya tersenyum senang, kala Meera mengangguk malu mengiyakan.
" Kangen ya ? " Goda Lucas mengecup bibir istrinya sekilas, mamagutnya lagi melum*tnya dalam dan menyesap rasa manis itu bibir. Melepasnya kemudian, Meera melengos kala Lucas bangun dari posisinya.
" Tapi sayang ... aku harus segera kerja, " Lucas lalu berdiri, melanjutkan untuk bersiap kembali bekerja, mengambil ponselnya mengecek pesan yang baru saja masuk.
Lalu, bagaimana dengan Meera ? Bibirnya mencebik, wajahnya memerah. Dan Lucas bukannya tidak melihatnya. Dia memang sengaja menggoda istrinya itu.
Dia lalu bangun, bangkit berdiri lalu berjalan ke arah pintu keluar.
" Mau ke mana ? " Tanya Lucas tiba-tiba di balik punggungnya. Memeluk Meera erat, mengecupi tengkuk leher istrinya. " Kunci pintu gih ! " Bisiknya ke telinga sang istri.
Meera lalu menoleh, dengan bola mata berbinar dia mengulum senyum. " Bukannya mau kerja ? " Bergegas mengunci pintu.
" Pagi-pagi gini, kayaknya lebih enak ngerjain istri. " Jawabnya tersenyum mesum, sembari membuka kancing kemejanya.
Meera yang sedang berhasrat, bergerak mendekat. Membantu membuka deretan kancing kemeja suaminya. " Emang lagi ga sibuk, sekarang ? "
" Demi kamu, apa sih yang nggak ? " Jawabnya seraya nakal mengelus perut istrinya.
" Ish ! " Merasa geli dengan sentuhan nakal suaminya itu. Lalu mendorong suaminya untuk berbaring di atas ranjang. " Aku di atas, ya ?! " Ucapnya lirih, malu-malu.
" Siaapp !! " Jawab Lucas begitu semangat. Dia memang slalu suka jika Meera bersikap agresif padanya.
Dan tepat sesaat Meera duduk di atas tubuh suaminya, pintu kamar diketuk cukup keras dari luar. Padahal Mereka sudah bersiap dengan posisinya masing-masing. Bahkan bibir mereka tengah berpagutan mesra tadi, kala seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
" Ada apa ? " Teriak Lucas saat itu, terdengar cukup kesal. Bukan hanya cukup, sangat malah.
" Ma--maaf, Tuan ! Ada Ny. Alice di depan. " Jawan pelayannya itu.
" Arrrggghhh ! " Erang Lucas kesal menggaruk kepalanya cukup kasar. Bergerak cepat menarik dan menahan kedua tangan istrinya, ketika Meera hendak bangun dari posisinya
" Jangan ke mana-mana ! " Tegasnya, sudah tanggung soalnya.
" Tapi-- " Selak Meera melongo.
Dengan gerakan cepat Lucas merubah posisi mereka, kini Meera yang berada di bawahnya dan tak bisa ke mana-mana lagi.
" Kamu harus tanggung jawab, Sayang ! " Mengingat setelah ini, dia akan berangkat kerja, bisa pecah konsentrasinya, karena belum tuntas urusannya.
Dan pelayan pun berlaku pergi, setelah mendengar sayup-sayup suara desahan dan erangan dari balik pintu. Merasa tidak enak jika mengganggu.
🍬
" Lama sekali ! " Protes Ny. Alice mendelik pada putra dan menantunya itu. Dia tampak tengah ikut bermain bersama Nara yang tengah didampingi pengasuhnya.
" Ini-- ibu hamil sedang ngidam. Tidak mungkin menolak kan ? " Jawab Lucas beralasan.
Mata Meera membelalak seketika. Begitu juga dengan pelayan tadi yang kini tengah berdiri membersihkan jendela tidak jauh dari mereka berada.
Ny. Alice melirik ke arah menantunya yang kini tengah menunduk malu. Dia bukannya tidak tahu, setelah menginterogasi pelayan tadi.
" Ngidam kok gitu ! " Cibirnya pelan, namun tetap kedengaran. Walau begitu wajah Ny. Alice sedikit memerah, merasa malu juga, mengingat sesuatu di masa lalu. Kalau di fikir-fikir kedua putranya memang mesum dan gila persis ayah mereka, yang sudah tiada.
" Daripada ngecesh kan, Bu ! " Lucas beralasan lagi.
Dan mereka hanya menggelengkan kepalanya, membiarkan Lucas pergi berangkat bekerja setelah berpamitan sebelumnya. Dan menyempatkan waktu untuk menyapa putri kecilnya yang sedang asyik bermain itu.
" Baik-baik Bu dengan istriku. Dia sedang mengandung anakku. " Bisik Lucas pada Ny. Alice mengingatkan. Lucas bukan tidak tahu, bahwa Ny. Alice masih belum menerima Meera dengan sepenuh hatinya.
" Emh. " Ny. Alice mengangguk mengiyakan, menatap putranya yang melenggang pergi menuju mobilnya diantar Meera, istrinya.
" Jangan terlalu tegang, Sayang ! " Kecup Lucas pada bibir istrinya itu. Dia jelas tahu perasaan Meera saat ini. Merasa canggung dan tidak enak hati bila berdekatan bersama sang ibu yang berwibawa tinggi.
" Hmm. " Meera mengangguk pelan. Mengecup pipi suaminya, lalu memeluk suaminya dengan begitu erat -- tidak seperti biasanya.
" Kamu beneran, lagi ngidam ? " Tebak Lucas terkekeh menertawakan.
Dan Meera hanya bisa mengangguk mengiyakan, sembari melengos. Sedari tadi ingin di dekat suaminya terus, tidak ingin berjauhan. Mungkin karena akibat dosa satu minggu kemarin, berpura-pura ngidam tidak ingin didekati dan disentuh suaminya, hingga membuat Lucas sedikit meradang dan blingsatan.
" Makanya jangan sok-sok an gak pengen disentuh. Sekarang kangen kan ? " Goda Lucas lagi. Meninggalkan Meera yang diam tak berkomentar apa-apa.
" Sabar ya, sayang. Papa akan cepat pulang ! " Kecupnya pada perut sang istri.
Melambaikan tangan, naik ke mobilnya kemudian.
" Hati-hati !! " Ucap Meera saat itu, membalas lambaian tangan suaminya.
Mobil Lucas pun berlalu pergi, meninggalkan rumah mereka yang beberapa lama ini ditinggali dengan beberapa pelayan dan seorang baby sitter.
Setelah resmi menikah, Lucas memboyong istrinya, Meera dan putrinya, Nara ke rumah ini. Tidak tinggal di apartemen seperti dulu lagi. Mengingat, ada anak kecil diantara mereka.
@@@
Bonchap mungkin akan terus berlanjut ya, hingga beberapa episode ke depan. Moga aja lancar dan gak lama, soalnya, bonchap episode2 berikutnya akan berhubungan dengan kisah Novel yang baru.
Rencananya mau bikin novel baru lagi, tentang Nara dan si kembar tiga, keponakan Lucas.
Mohon maaf bonchap nya lama. Akhir-akhir ini kondisi kesehatan menurun. Jadinya memfokuskan pada dunia nyata dulu.
Terimakasih udah membaca. 😍😘