
" Ini gila, Vincent !!! " Dengan nafas tersengal Lucas berteriak. Matanya memerah kala itu.
Sembari memijit dahinya yang sedari kemarin mengkerut, sebelah tangannya berkacak di pinggangnya. Dia mondar mandir tak jelas saat itu. Pantas saja jika sampai pusing tujuh keliling.
Lantas kedua tangannya mengepal di atas meja kerja berlapis kaca.
Bugh !!
Satu pukulan melayang tepat di sana, meninggalkan kaca yang kini retak karenanya.
Buku jari tangan Lucas berdarah, saking kerasnya pukulan itu tadi. Melampiaskan amarah yang sedari kemarin bercokol dengan begitu awetnya di dalam dada. Pakai formalin kah ?
" Bagaimana mungkin aku menikah, sementara istriku sedang berjuang dengan kehamilannya. Bahkan sebentar lagi akan melahirkan, Vincent ?! " Tanyanya.
Dia tidak butuh jawaban saat itu. Yang dia butuhkan adalah menemukan Meera. Menemukan istrinya yang sangat dicintainya, dengan begitu dia bisa menolak pernikahan itu.
Lucas tampak menahan emosi. Naik darah. Nafasnya seolah berburu dengan kemarahan yang seakan terus menjalar ke ubun-ubunnya.
Andai membunuh tidak dilarang, akan dia lakukan saat itu juga. Dan yang menjadi korban pertamanya, adalah ?
Lucas menatap Vincent tajam, tersenyum tipis lebih tepatnya menyeringai, terlihat begitu mengerikan. Tampak aura mencekam di sorot matanya.
" Apakah masih belum ada kabar juga ? Apa suruhanmu bekerja dengan baik ? " Tanya Lucas meneliksik tajam.
Vincent sedari tadi terdiam. Seperti halnya Ny. Alice, yang hanya butuh bukti, bukan sekedar ucapan semata. Mereka sebenarnya sama hampir serupa. Hanya bentukannya saja yang berbeda, yang memiliki karakter yang begitu persis, sama-sama gila !
Vincent mengerti, Lucas atasannya itu bukan hanya ingin mendengar sekedar laporan semata, dia butuh istrinya untuk segera hadir di hadapannya.
" Apakah aku berlebihan, huh ? Apakah gaji yang kuberikan masih kurang besar untukmu ? " Tanyanya lagi berteriak penuh emosi. Bahkan sedikit ngawur.
Vincent hanya mengerutkan dahi. Atasannya ini sedang jelas-jelas marah dengan mood bak seorang perempuan yang sedang datang bulan saja. Yang hanya butuh didengarkan, tanpa perlu ditanggapi.
Jika ditanggapi, Vincent khawatir satu pukulan akan melayang di wajahnya yang cukup tampan ini. Vincent mengelus pipinya pelan seraya tersenyum tipis. Teramat tipis.
" Kau gila, Vincent !!! " Teriak Lucas lagi tanpa menyadari bahwa dirinya sendiri yang semakin menggila.
Vincent berdehem pelan. Setelah memastikan kemarahan atasannya itu perlahan mereda, lantas memberanikan diri dia berucap.
" Kami masih menyelidikinya, Tuan. Saya pastikan, Nona-- masih berada di negara ini. " Tukasnya cukup jelas. Cukup menenangkan si atasan yang kian kalap tadi. Terdengar helaan nafas lega terhembus lembut dari hidung dan mulut atasannya itu.
" Baiklah ! " Lucas lalu berbalik, membelakangi meja. Berdiri tegap di depan jendela kaca. Menatap hiruk pikuk kota Paris yang akhir-akhir ini mendadak sepi baginya. Suasana malam pun yang biasanya terang dipenuhi lampu warna warni yang berkerlap kerlip memancarkan sinarnya mendadak gelap di matanya, segelap hatinya yang kini tengah dikerumuni awan mendung nan tebal dan hitam.
.
.
Helena bukan tidak kaget mendengar percepatan pernikahan itu. Dia hanya sedikit khawatir, mengingat perasaan Lucas padanya. Mengingat ikatan persahabatan mereka yang sudah terlanjur mereka jalin selama ini.
Hanya saja ? Dia bisa apa ?
Apalagi, saat tiba-tiba Lucas menghubunginya untuk bertemu dan berbicara berdua saja. Hal apa lagi ? Pastilah masalah pernikahan mereka. Ralat ! Masalah Pembatalan pernikahan mereka. Mungkin itu yang lebih cocok.
" Jujur, aku terpaksa melakukannya. " Jelas Lucas saat itu secara tiba-tiba.
Mereka bahkan belum bertegur sapa barang sepatah katapun. Saat mereka tidak sengaja secara bersamaan, tiba di kafe tempat mereka janjian untuk bertemu.
Tatapan Lucas terlihat kosong dan hampa. Helena sempat terhenyak melihatnya. Belum pernah dia melihat Lucas serapuh itu, sebelum saat ini.
Helena mengerjapkan matanya berulang kali. Tunggu ! Dia tidak salah dengar bukan ? Ucapan Lucas tadi, gimana eh gimana ?
Itu bukanlah pembatalan pernikahan, melainkan sebuah persetujuan, walaupun penuh dengan keterpaksaan.
" Jadi-- kau menyetujuinya ? " Tanya Helena seraya menelan ludahnya.
Lucas terdiam. Menatap Helena dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
" Maafkan aku ! " Ucapnya lirih. Lucas memalingkan pandangannya tak sanggup menatap Helena lagi.
" Kenapa Lucas ? " Tanya Helena.
" Satu tahun saja, bisakah ? Atau enam bulan mungkin ? " Lucas melanjutkan ucapannya yang terdengar begitu putus asa itu.
Helena masih memikirkan maksud dari ucapan Lucas. Dia yang sebenarnya sedang memiliki masalah cukup pelik dalam hidupnya, sebenarnya sedikit terbantu dengan adanya pernikahan itu.
.
.
" Maafkan aku ! " Balik Helena yang meminta maaf kali ini.
Lucas menatap Helena dengan tatapan heran.
" Aku-- sebenarnya ... " Ucapan Helena terhenti. Dia benar-benar ragu dan sedikit ketakutan.
Harga dirinya benar-benar dipertaruhkan kali ini. Namun, mendengar ucapan Lucas tadi yang meminta negosiasi, dia fikir-- tidak ada salahnya untuk mencoba. Ikut bernegosiasi juga, Helena sepertinya juga benar-benar membutuhkannya saat ini. Teramat sangat.
Lucas mengangkat sebelah alisnya, ketika mendengar ucapan Helena yang tersendat-sendat.
" Aku-- sebenarnya, sedang-- hamil, Lucas. " Helena langsung menunduk menyembunyikan kepalanya di bawah meja.
OPS ! Bagaimana ini ?
Lucas membelalakkan matanya, melotot tak percaya, " Apa maksudmu ?!! " Lucas menggebrak meja.
Akhirnya Helena bangkit, dengan raut wajah yang masih terlihat ketakutan.
Cukup alot Helena menjelaskan masalahnya. Berusaha meyakinkan Lucas bahwa percepatan pernikahan itu bukan karena kehamilannya. Karena sebenarnya hanya Helena sendiri yang baru mengetahui kehamilannya itu. Ini benar-benar gila !
" Satu tahun, Lucas. Itu sudah cukup ! " Jelas Helena. Dia yang memiliki aib yang cukup memalukan, tentu sangat terbantu dengan rencana pernikahan itu, mengingat dirinya yang berasal dari keluarga terpandang.
Pernikahan dengan Lucas cukup membantunya untuk menutupi kehamilan dirinya yang sungguh tidak terduga. Akibat hubungan yang terlalu kebablasan dengan seorang lelaki yang dia kenal beberapa bulan lalu saat di pulau Dewata, Bali. Lalu kemana lelaki itu ? Kenapa tidak mempertanggung jawabkan perbuatannya ? " Ka-mi putus belum lama ini, dan aku kehilangan kontect dengannya. " Jelas Helena dengan wajah yang memelas.
Lucas menghela nafas gusar. Menengadahkan wajahnya ke langit-langit kafe. Memijit keningnya seraya berfikir sejenak.
" Baiklah, rahasiakan itu ! " Ucap Lucas ketus. Dia benar-benar bisa gila karena semua ini.
" Dan ingat ! Kita hanya pura-pura saja ! " Lanjutnya lagi.
Kata sepakat pun jadi. Bersepakat untuk menjalani pernikahan pura-pura itu. Dan sepakat untuk menutupi kehamilan itu-- untuk sementara waktu. " Aku tidak ingin seseorang salah paham denganku. " Jelas Lucas saat itu, membuat Helena mengernyitkan dahi dengan raut wajah yang penuh dengan tanda tanya. Seseorang ???
Jika sekarang Ny. Alice sampai tahu kehamilan Helena, apalagi kehamilannya itu karena lelaki lain, Lucas khawatir pernikahan itu akan dibatalkan. Masih mending jika pernikahannya yang batal, nyatanya hanya pengantin wanitanya yang akan digantikan.
Ny. Alice yang perfeksionis, pasti memiliki calon lain selain Helena. Setidaknya, Helena bisa diajak kerjasama bukan ?
Lucas tertawa penuh dengan kegetiran. Apa yang akan dilakukan oleh ibunya nanti saat mengetahui kehamilan Helena ? Bahwa putranya menikahi dua perempuan hamil, yang nyatanya bukanlah anaknya.
.
.
💫 Bersambung ... 💫