
Vano, dia bukannya tidak tahu keberadaan Meera di Paris. Semenjak kepindahan Meera ke Paris saat itu, selang beberapa bulan kemudian, setelah proyek besar resortnya selesai, menyisakan hal-hal kecil yang bisa diurus oleh anak buahnya, Vano dan istrinya Bella kembali tinggal di Paris, negara yang merupakan tempat tinggalnya semula semenjak mereka menikah dulu.
Sedikit banyak dia mengetahui kabar Meera, dari anak buah asisten pribadinya. Ya, Vano memata-matai Meera, namun hanya itu, sekedar itu, tidak lebih. Dia hanya ingin memastikan Meera dan anak dalam kandungannya baik-baik saja.
Vano sadar, dia telah menyakiti Meera, mengambil mahkotanya dan meninggalkannya begitu saja, tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya dulu.
Ternyata, cinta yang besar yang tumbuh di hatinya, tidak cukup kuat untuk menjadikan alasan bagi mereka bersama. Takdir tak membiarkan mereka untuk hidup berdua
Walaupun Vano sadari, Meera menyimpan sedikit rasa untuknya, namun karena waktu yang terlalu singkat, tetap saja cinta yang baru tumbuh itu belum bisa mengalahkan rasa cinta Meera pada Lucas.
Selain itu, perjodohannya dengan Bella menjadi penghalang utama. Dengan terpaksa Vano meninggalkan Meera saat itu. Tanpa menduga kehamilan yang akan menderanya.
Dan semenjak kehamilan Meera, Lucas yang dulu tak pernah memperjuangkan cintanya pada Meera, justru malah bersedia menikahi Meera. Apalah artinya Vano yang sudah berkhianat dengan menikahi orang lain. Jelas hanya dipandang sebelah mata oleh Meera, hingga akhirnya Meera memilih Lucas sebagai suaminya.
Kabar keretakan rumah tangga Meera berhembus ke telinga Vano. Penolakan Ny. Alice yang menjadi alasannya, tidak membuat Vano kaget, dia sudah memperkirakan hal itu dari semula.
Namun, mendengar kabar Meera yang menghilang, sungguh di luar dugaannya. Selain mencemaskan Meera yang sampai saat ini masih bertahta di hatinya, bagaimanapun Meera kini tengah mengandung anaknya.
Hilangnya Meera dalam jangka waktu lama, membuat rasa cemas menggerogoti hatinya. Mengingat waktu itu jelang detik-detik kelahiran sang bayi. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa mencari, dengan mengerahkan anak buahnya.
Beberapa bulan tak ada kabar dari Meera, rasa cemas itu semakin menjadi. Perasaan yang tumbuh dari rasa bersalah benar-benar menyesakkan hatinya. Membayangkan penderitaan Meera dan bayi kecilnya sungguh membuatnya ingin merengkuhnya dengan segera.
Pernikahannya dengan Bella dari semula memang sudah terasa hampa dan hambar. Tanpa rasa cinta yang menggelora, dan rindu yang menggebu. Bagaimana tidak, karena semenjak menikah detik itu, di hati Vano hanya tentang Ameera.
Apalagi semenjak mengetahui kehamilan Meera, rumah tangga mereka hampir hancur berantakan. Vano hampir saja meninggalkan Bella, dengan alasan tak ada cinta diantara mereka.
Hembusan keretakan hubungan Meera dan Lucas dan kabar hilangnya Meera memotivasi Vano untuk berpisah dengan Bella. Di detik-detik Vano yakin dengan keputusannya untuk melepas Bella, detik itu pula kabar keberadaan Meera berhembus di telinganya.
Sungguh kebahagiaan yang tak terperi bukan. Bayangan untuk hidup bersama Meera dan buah hati mereka telah tergambar begitu jelas di pelupuk mata. Mengingat Lucas yang ternyata malah menikah dengan Helena, kesempatan besar seolah tepat di depan mata. Kemenangan kian yakin akan diraihnya.
Namun, pupus seketika. Kala Bella tiba-tiba datang menghampirinya, dan memeluknya dari belakang punggungnya.
" Vano, jangan pergi ! " Ucap Bella saat itu dengan suara lirih. Memeluk Vano dengan begitu erat, tak memberi kesempatan bagi Vano untuk pergi tanpa mendengar ucapan darinya.
" Sudahlah ! " Ucap Vano saat itu, tekadnya sudah bulat. Bulat sekali.
" Aku hamil, Vano. " Lanjut Bella dengan begitu yakin.
" Mari kita memulainya dari awal lagi. " Lanjut Bella saat itu. Melepaskan rasa ego di hati dan harga diri, demi mempertahankan rumah tangga mereka, dan demi kebahagiaan di calon jabang bayi.
Duerrrrr !
Serasa petir di siang bolong, Vano terkejut bukan kepalang. Musnah sudah impiannya, pupus sudah bayangan indah di pelupuk matanya. Mendengar kabar kehamilan itu benar-benar kejutan baginya.
Vano yang pernah merasakan sesaknya rasa penyesalan dan rasa bersalah, tentu tidak akan diam saja. Dia tidak akan membiarkan rasa itu berulang menguasai hati dan fikirannya.
Tanpa berfikir panjang lagi, dia kembali merengkuh Bella, mencoba memulai kembali meraih cinta dalam pernikahan mereka. Berusaha untuk mengabaikan Meera yang Vano yakini pastilah masih mencintai Lucas suaminya.
•
•
Saat itu, Vano mengantarkan Bella untuk memeriksakan kandungannya ke rumah sakit. Karena sesuatu hal, Vano meninggalkan Bella untuk beberapa saat. Dan saat itu tanpa terduga dan tak disengaja, Vano bertemu dengan Ameera, yang selama ini dicari dan dirindukan olehnya.
" Meera ... " Sapa Vano saat itu.
" Vano ... " Meera terlihat kaget saat itu.
Menatap Meera yang semakin cantik di matanya, sudut matanya melihat seorang bayi di pangkuan Meera saat itu. Takjub, terharu, menghangat, bahagia, segala rasa, tumpah ruah terasa. Bayi itu adalah ..
•••
Vano mengajak Meera untuk duduk di kursi tunggu panjang yang ada di rumah sakit itu. Meera memilih duduk sedikit berjauhan, mengambil jarak sekitar satu tempat duduk kosong diantara mereka.
Dengan sedikit canggung dan ragu, mereka mengobrol cukup lama.
" Apa kabarmu ? " Tanya Vano saat itu.
" Emh. Baik ! " Jawab Meera singkat. Dia terlihat begitu canggung dan risih.
Vano lalu menatap bayi yang sedari tadi berada di pangkuan Meera.
" Dia-- seorang perempuan ? " Tanya Vano setelah memperhatikan cukup lama tadi. Melihat pakaian dan accessories yang dipakainya, kesimpulan ini yang dia dapatkan.
" Hmm. " Meera mengangguk pelan. Seraya menunduk memperhatikan putrinya saja, tak sedikitpun memperdulikan Vano yang berada tidak jauh darinya.
" Siapa namanya ? " Lanjutnya lagi, tersenyum hangat. Dengan binar kagum di matanya. Anaknya begitu cantik, sama persis seperti mamanya.
" Namanya-- Andara. Kau-- bisa memanggilnya Nara. " Jawab Meera lagi, masih berusaha berpaling dari Vano yang sesekali menatapnya. Merasa risih mungkin.
Mereka cukup lama terdiam, Meera yang terlalu singkat memberikan jawaban, membuat mereka semakin canggung melanjutkan pembicaraan. Tangan Vano menggapai tangan mungil putrinya, lalu memainkannya.
" Maafkan aku ! " Ucap Vano saat itu. Entah pada Meera, atau pada putrinya. Meera diam tak merespon apa-apa.
" Saat ini-- Bella sedang hamil. " Lanjutnya, mencoba mengeluarkan rasa sesak yang mengganjal di dalam dadanya.
" Aku-- bahkan belum memberikan kasih sayang yang cukup untukmu. " Lanjutnya lagi, sembari menghela nafas sejenak. Berusaha untuk perlahan-lahan membuang rasa bersalah yang melingkupinya.
" Tapi-- sebentar lagi kau malah akan memiliki seorang adik. " Ucap Vano lirih, lag-lagi dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Rasa sesal dan rasa bersalah terhadap Meera bahkan belum sembuh dan tertebus. Kehamilan Bella yang mengejutkan, entah membahagiakannya atau tidak. Namun, dengan menyangkal dan menolaknya, Vano sadar, hal itu-- malah akan menambah deretan penyesalan dan rasa bersalah dalam hidupnya. Cukup satu penyesalan dan satu rasa bersalah saja, yaitu terhadap Meera. Yang rasanya begitu menyesakkan dan menyiksa. Dan sungguh tak ingin diulangi lagi dalam hidupnya untuk kali kedua. Mungkin-- rasa itu hanya akan tertebus jika melihat Meera bahagia, walaupun bukan dengan dirinya.
Vano menangis, sedikit terisak, dan Meera mendengarnya, melihatnya, merasakan kesedihan dan kehampaannya.
" Vano ... " Meera menoleh. Segera Vano mengusap air matanya dengan jarinya.
" Beri aku kesempatan, Meera. Beri aku kesempatan untuk memberikan kasih sayang padanya. Walaupun hanya sedikit saja. Aku berjanji, aku tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi. " Ucap Vano tulus saat itu.
Meera, mendengar Bella tengah mengandung anak Vano, entah mengapa hatinya ikut bahagia. Merasa lega. Setidaknya, walaupun Vano adalah ayah kandung dari putrinya, bayang-bayang Vano perlahan menghilang dari hidupnya. Dengan hamilnya Bella, berarti pernikahan mereka akan baik-baik saja, dan dirinya memang tidak ingin dianggap orang ketiga, apalagi dianggap sebagai penyebab hancurnya pernikahan mereka.
Perlahan, kekakuan dan kecanggungan diantara mereka mencair. Meera mendudukkan putrinya di atas kursi, diantara mereka berdua.
Lama kelamaan, kehangatan mulai kental terasa. Sang putri mulai ingin duduk di pangkuan ayahnya. Meera akhirnya tak bisa berbuat apa-apa. Mendudukkan putrinya di pangkuan Vano, mereka melanjutkan obrolan mereka dengan hanya sedikit canggung terasa. Namun, kali ini mereka bersikap seperti teman biasa, mengabaikan rasa dan kenangan yang pernah ada.
" Dia sangat lucu, Meera. Aku rasa aku akan sangat menyayanginya. " Ujar Vano saat itu, mengecup pipi putrinya.
Meera hanya tersenyum, tertawa kecil mendengarnya. Tanpa menyadari kehadiran seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.
.
.
💫 Bersambung ... 💫
Jangan lupa like, rate⭐⭐⭐⭐⭐ dan koment ya ...