Love

Love
Chapter 65 - Pergi dari Hidupmu (2)



.


.


Lucas memijit pelipisnya, mendadak merasakan pusing di kepalanya. Akhir-akhir ini perkerjaan di kantornya begitu banyak dan menyita waktu dan fikirannya. Menuntutnya untuk meluangkan waktu, tenaga dan fikirannya lebih ekstra lagi.


Masalah yang baru datang, semakin membuatnya pusing tujuh keliling. Ketahuan oleh sang ibu melakukan pernikahan diam-diam dengan perempuan hamil masih menjadi prioritas fikirannya setelah masalah perusahaan yang cukup bejibun itu.


Dan kini, kepalanya seperti dipukul dengan palu godam. Tatkala Ny. Alice tiba-tiba datang ke kantornya untuk membicarakan pernikahan dirinya dengan Helena. Pernikahan yang sempat tertunda beberapa bulan lalu, hingga akhirnya hubungan mereka terikat pertunangan saja terlebih dahulu seperti sekarang ini.


" Segeralah menikah dengan Helena. " Ucap Ny. Alice tiba-tiba.


" Apa ?!! " Lucas mendongak.


Auranya mendadak tajam saat itu. lLucas berteriak cukup keras. Dibanding Arselli, Lucas memang cenderung memberontak. Mengingat pergaulan dan masa mudanya yang cukup liar dulu. Kedekatan hubungan dirinya dengan sang ibu juga membuat dirinya lebih berani dan ekspresif dalam memperlihatkan emosi di dalam dirinya.


" Fikirkanlah baik-baik ! " Ucap Ny. Alice terdengar santai.


" Ini demi kebaikanmu sendiri. Perusahaan yang kau rintis akan semakin maju dan berkembang dengan begitu pesat. Belum lagi karirmu. Dengan menikahi Helena, kau akan memiliki jenjang karir yang bagus, bahkan kau bisa mengalahkan kesuksesan kakakmu, Arselli. " Jelas Ny. Alice.


Lucas tersenyum kecut seraya mengerutkan dahi. Jadi ini yang dimaksud ibunya pernikahan untuk kebaikan hidupnya.


.


.


Setelah kepergian Ny. Alice, Lucas tersenyum hangat menyambut kedatangan istrinya Meera untuk pertama kali ke kantor perusahaan miliknya.


Setelah beberapa saat lalu mengirimkan sopir pribadi untuk menjemput istrinya dari apartemen miliknya. Lalu meminta Vincent untuk menyambut kedatangannya di bawah.


Tidak seperti biasanya, Meera menelfonnya dan mengajaknya untuk makan siang bersama. Lucas yang saat itu begitu sibuk, hampir tidak bisa menuruti permintaannya.


Namun, membayangkan kekecewaan di wajah Meera, sungguh membuat hatinya dihantui rasa bersalah yang cukup besar kala itu.


Akhirnya Lucas memutuskan untuk mereka makan siang di kantor saja. Tentu saja Meera sangat senang mendengarnya. Mengingat itu adalah detik-detik moment terakhir diantara mereka.


Meera datang ke kantor Lucas dengan wajah secerah mentari, namun hati berkabut tebal semendung awan gelap. Dari luar dia tampak bahagia, namun di dalam hatinya, dia menyimpan duka dan nestapa yang teramat sangat menyiksa.


Dengan beberapa jinjing paper bag memenuhi tangannya, berisi beberapa kotak makanan hasil masakannya sendiri, Meera datang dengan senyuman riang.


" Sayang ... "


Sapa Meera hangat, setelah sesaat lalu Vincent mengantarnya ke ruangan Lucas dan menutup pintunya kemudian. Membiarkan sepasang insan itu menghabiskan waktu istirahat siang untuk berduaan.


" Kau sudah datang ? "


Sambut Lucas pada istrinya. Bergegas berdiri lalu menuntun Meera untuk duduk bersamanya di sofa.


" Hmm, aku sudah datang. " Jawab Meera sembari mendaratkan tubuhnya untuk duduk di pangkuan suaminya. Lalu melingkarkan tangannya pada leher suaminya itu.


Lucas sempat terhenyak dengan tingkah Meera yang tak seperti biasanya itu. Dan seperti kebiasaannya pula, Lucas hanya akan mengira itu sebagai bawaan bayi saja.


Lucas berdehem. " Jadi-- kita akan makan siang ? " Lucas tersenyum geli menatap Meera setelah sempat mendaratkan tangannya di pinggang istrinya. Mengingat posisi mereka saat ini, tidaklah cocok untuk makan siang bersama melainkan bercinta di siang bolong.


" Hmm. " Meera mengangguk. " Aku-- ingin disuapin. " Ucapnya merengek manja.


Lucas tentu tak bisa menolaknya. Tangannya bergerak mengambil satu kotak makanan, dengan perlahan Lucas menyuapi istri manjanya itu. " Ini-- masakanmu ? " Tentu saja, Lucas hanya berbasa basi saat itu.


Beberapa suap mereka habiskan makanan itu bersama. Terus saja seperti itu, saling menyuapi. Hingga akhirnya, makanan yang tersaji di kotak makanan tandas habis dalam sekejap mata. Meera yang sedari tadi telah turun dari pangkuan suaminya, mulai bergerak untuk membereskan bekas makan siang itu.


" Itu di sana, di balik lemari. " Tunjuk Lucas saat Meera menanyakan keberadaan toilet di ruangan kantornya itu. Bermaksud untuk membersihkan sisa makanan di tangan dan di mulutnya.


Meera tersenyum, beranjak pergi menuju toilet. Mencuci tangan dan membersihkan mulutnya di depan cermin, Meera tersenyum cerah tatkala Lucas tiba-tiba sudah berdiri di belakang tubuhnya dan mendekapnya kemudian.


" Waktu istirahat masih setengah jam lagi. " Bisik Lucas di telinga istrinya.


" Apa tadi kau melihatnya ? Ada sebuah ranjang di sana. " Lanjutnya lagi bersamaan dengan hembusan nafas yang begitu hangat di tengkuk istrinya. Membuat bulu kuduk Meera bergidik, dan tubuhnya meremang seketika.


Meera sempat mengernyitkan dahinya. Akhirnya mengangguk pelan kala mengingat tadi sudut matanya sempat melihat penampakan sebuah ranjang saat berjalan menuju ke toilet ini.


Meera hanya mengerjapkan matanya, dengan pipi yang kini berwarna merah. Dia yang tahu moment ini adalah moment terakhir diantara mereka, tentu tak akan menolak tawaran itu begitu saja. Apalagi saat Lucas mulai merayunya.


" Mungkin-- kita harus mencobanya. Sesekali menghangatkan ranjang itu. " Lanjut Lucas lagi. Mengecup tengkuk yang sudah tidak tertutupi rambut itu, karena baru saja beberapa detik lalu, Lucas menyingkapnya.


.


.


Sore itu ...


Meninggalkan secarik kertas di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Dengan berurai air mata, mau tidak mau Meera harus pergi saat itu juga. Mau bagaimana lagi, utusan Ny. Alice sudah menunggu di depan pintu ruangan apartemen mereka.


" Sesuai perintah Ny. Alice, Nona. " Ucap utusan itu sembari menundukkan kepalanya dengan begitu sopan.


Meera berdiri kaku, tubuhnya mendadak limbung seketika. Mengingat dirinya yang sedang hamil, dia tahan dengan sekuat tenaga.


" Selamat tinggal, Lucas ... "


Meera mengusap ranjang tempat dimana mereka slalu memadu kasih, menjalin cinta, dan berbagi kehangatan, dengan Isak tangis yang tak juga mereda. Mengusap lembut sprai tepat dimana Lucas slalu berbaring di sana, menghabiskan malam panjang bersamanya.


Meera samasekali tidak menyangka, bahwa waktu yang ditentukan oleh Ny. Alice ternyata secepat itu dari yang diperkirakan olehnya. Siang tadi, merupakan waktu terakhir yang mereka habiskan bersama tanpa mengira atau berfikir bahwa hari ini, dirinya akan pergi meninggalkan suaminya.


Meera keluar dari apartemen itu dengan langkah gontai, mata sembab nan sendu, dan dengan wajah yang sudah memerah karena terlalu banyak menangis saat itu. Mengikuti langkah kaki sang utusan, dengan hanya menjinjing tas berukuran sedang yang berisi pakaian dirinya dan beberapa pakaian bayi beserta perlengakapan bayi lainnya.


Meera tidak pernah menyangka, bahwa percintaan siang tadi adalah percintaan terakhir mereka. Perbincangan, kemesraan, dan makan penuh kehangatan yang terjadi siang tadi adalah moment terakhir kebersamaan mereka berdua.


Memasuki mobil yang telah disiapkan oleh Ny. Alice di tepian jalan, tidak jauh dari apartemen mereka, setidaknya Meera tidak dibiarkan pergi begitu saja.


Ny. Alice memberikan tumpangan dan tempat tinggal bagi Meera untuk sementara waktu. Setidaknya hingga saat waktu melahirkan tiba. Mengingat kondisi Meera saat itu.


Sedikitnya, Ny. Alice menyimpan rasa belas kasihan pada perempuan hamil itu. Mungkin Ny. Alice menyadari, bagaimanapun juga perempuan yang tidak disukainya itu adalah istri dari putranya sendiri. Dan merupakan perempuan yang sangat berarti dalam hidup dan hati putranya.


Entah, apa yang akan terjadi nanti. Jika Lucas mengetahui bahwa Meera telah pergi meninggalkannya. Apalagi setelah mengetahui bahwa ada campur tangan ibunya di sana.


.


.


💫 Bersambung ... 💫


Jangan lupa like, rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan coment yang banyak ya...