
Sudah satu bulan berlalu sejak pertemuan mereka terakhir kali. Tidak ada perkembangan berarti pada hubungan pernikahan mereka berdua. Mengingat Helena yang masih berstatus resmi di muka umum dan media sebagai istri Lucas.
Sebenarnya, status Meera pun sama, resmi juga. Hanya saja, mengingat pernikahan mereka yang diam-diam dan tertutup dulu, Meera pun akhirnya merasa tersisihkan akhirnya. Padahal, andai Meera membuka hatinya dan menyadari, di hati Lucas hanya Meera yang menjadi istrinya seorang.
Lucas bukannya tidak berusaha, ataupun mencoba. Berulangkali dia mendekati Meera, menelfon, mengajak makan malam, apapun itu. Hasilnya tetap saja, nihil, karena Meera slalu saja menolak. Dengan alasan, tidak ingin dianggap sebagai orang ketiga.
Padahal, Lucas sudah sangat merindukan Meera. Sebagai lelaki, wajar bukan kalau dia ingin menyentuh istrinya. Namun, jangankan diajak untuk bercinta, apalagi kembali hidup bersama, nyatanya diajak bicarapun begitu sulit baginya.
***************
Empat bulan berlalu,
Terakhir mereka bertemu adalah tiga bulan lalu, saat Meera ikut menemani mamanya dalam proses kelahiran Helena. Lucas menemaninya dengan cukup intens saat itu, hingga akhirnya Helena sembuh dan kembali pulang ke rumah orang tuanya.
Saat itu, hati Meera merasakan sakit yang tak terkira, melihat Lucas cukup setia menemani Helena di sampingnya. Menggenggam tangannya erat memberikan dukungan dan semangat. Berdenyut sakit hatinya, kala melahirkan Nara dulu, dia tidak mendapat perlakuan itu dari Lucas. Bukan salah Lucas memang, melainkan karena keadaan. Namun, hati tak bisa dipungkiri, melihat pemandangan di hadapannya itu hatinya sakit, sungguh tak terperi.
Waktu terus berlalu. Setelah saat itu, Meera tidak pernah melihat Lucas lagi, bahkan menghubunginya pun tidak sama sekali. Entah apa yang terjadi. Namun siapa sangka, karena hal itu Meera merasa kehilangan juga. Meera sempat mengira, mungkin Lucas sudah melupakan dirinya dan bertekad untuk meneruskan pernikahannya dengan Helena. Kini, mereka tengah sibuk mengurus bayi mereka. Membayangkan itu, Meera hanya bisa pasrah saja.
Malam ini, dengan berat hati Meera menghadiri undangan makan malam dari Alessya di sebuah hotel bintang lima. Hanya dirinya dan Arselli, dengan Meera yang menjadi tamunya.
" Kau mencari seseorang ? " Tanya Alessya kala menyadari Meera sedari tadi memutar kepalanya dengan mata yang terus mengitari restoran seperti tengah mencari seseorang.
" Emh, Tidak. " Meera menyangkal, namun apa daya rasa penasaran menggerogotinya.
" Maksudku ? Kita-- hanya makan bertiga ? " Tanya Meera akhirnya.
Alessya tertawa mendengarnya.
" Sebenarnya-- aku mengundang seseorang. " Jawab Alessya.
" Sayang, apakah dia akan datang ? " Tanyanya pada suaminya, Arselli.
Arselli melirik jam di tangannya.
" Sepertinya, sebentar lagi. Tunggulah ! " Jawabnya terlihat begitu santai.
Meera hanya melengos, dia sudah bertanya, dan mereka sudah panjang lebar menjawab pertanyaan darinya. Namun nyatanya, jawaban mereka tidak menjawab rasa penasaran dirinya.
Siapa ? Lucas kah yang akan datang ? Dengan sedikit harap di sana. Lama tak berjumpa, membuatnya merasakan sedikit rindu di dalam dada. Walau sekedar melihat saja, bolehkan ? Mengingat Lucas yang kini telah memilih untuk melanjutkan statusnya menjadi suami Helena.
Mendadak begitu tegang malam itu, dengan setitik kebahagiaan. Karena mengira akan bertemu dengan sang mantan. Mantan suami pujaan. Walaupun belum resmi juga, karena pada kenyataannya, Lucas belum pernah mengatakan hal perpisahan atau melepaskannya.
Tamu yang diundang datang. Bukan Lucas ternyata. Melainkan seorang lelaki yang katanya rekan bisnis Arselli. Alessya sengaja mengajak Meera untuk menemaninya. Agar merasa tidak canggung katanya.
Jika itu alasannya, ternyata setelah beberapa lama, semuanya hanya bohong belaka. Nyatanya, Alessya lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Arselli suaminya.
Dan Meera dengan terpaksa, menghabiskan waktu sekedar mengobrol dengan lelaki itu yang setelah berkenalan tadi diketahui, Bryan namanya.
" Aku-- ke toilet dulu. " Ijin Meera pada Bryan dengan canggung dan kikuk. Jujur, semenjak kejadian dengan Adam dulu, Meera sedikit trauma jika harus berhubungan dengan lelaki yang baru saja dikenalnya, seperti malam ini.
Namun, dia berusaha untuk menepisnya, mengingat ada Alessya juga di sana. Setidaknya, dia tidak sendiri bukan ?
" Silahkan ! " Jawan Bryan sopan sembari tersenyum lembut.
***************
Keluar dari toilet, Meera tersontak kaget, kala seseorang menarik paksa tangannya. Awalnya dia merasa ketakutan. Namun, akhirnya tersenyum lega kala melihat wajah lelaki yang telah beberapa lama dia rindukan itu dengan setitik benci dan kecewa di hatinya. Namun, mau apalagi dia sudah pasrah dengan keputusan Lucas.
" Kau akan membawaku ke mana ? " Tanya Meera sembari berlari mengikuti langkah besar sang suami yang sebentar lagi menjadi mantan itu.
" Ikut saja ! " Jawab Lucas singkat.
" Aku tiba-tiba pergi. Apa kak Arselli tidak akan marah padaku ? " Tanya Meera masih setengah berlari seperti tadi.
" Tidak ! Justru ini yang diinginkan oleh mereka. " Jawab Lucas yang menyadari rencana mereka untuk memancingnya datang ke sini. Dengan mengajak Bryan, untuk membuat Lucas cemburu hingga berani beraksi seperti ini. Tidak seperti kemarin yang lebih banyak diam menyibukkan diri di dalam kandang, di kantornya selama beberapa bulan ini.
Brukkk !!
Lucas menutup pintu cukup kasar. Meera baru menyadari mereka telah berada di dalam mobil. Mobil Lucas tentunya.
Hening !
Malam itu terasa begitu hening dan dingin. Berduaan di tempat yang cukup sepi dan tertutup cukup menggoda iman mereka. Tapi syukurlah mereka cukup bisa menahan diri.
Di dalam mobil yang terparkir di basement hotel itu, mereka mengobrol berdua. Setelah sekian lama tidak berjumpa.
" Apa kabar ? " Tanya Lucas yang sejak beberapa bulan lalu memutuskan untuk tidak menemui Meera. Entahlah, Lucas merasa semakin mereka sering bertemu, ada saja masalah tidak terduga yang menghampiri mereka.
" Emh, baik. " Jawab Meera kikuk. " Kau sendiri ? " Bertanya balik dengan begitu canggung.
" Baik juga. " Jawabnya singkat. Memalingkan pandangan ke arah luar jendela.
Hening beberapa lama. Karena setelah obrolan tadi, mereka hanya terdiam saja.
" Aku-- merindukanmu. " Lucas memberanikan dirinya. Lama tak berjumpa dia memang benar-benar merindukan Meera.
" Benarkah ? " Jawab Meera lirih, tersenyum kecut. Rindu, tapi tak pernah menghubungi dan menemuinya lagi. Rindu apa namanya ?
" Emh, kau pasti sangat bahagia sekarang. " Ucap Meera.
Hingga dengan begitu mudah melupakan diriku ?
Lucas mengernyitkan dahinya kala mendengar ucapan itu. Namun, dia lebih memilih untuk diam, mengingat pertemuan sebelumnya yang slalu dibumbui pertengkaran dan kesalahpahaman. Berharap kediaman dirinya bisa membuat Meera lebih tenang. Sehingga mereka bisa menghabiskan waktu berdua walau hanya sekedar larut dalam obrolan.
Bingung harus merespon seperti apa. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil. Kedua tangannya menopang kepalanya yang juga bersandar di sana.
" Lucas ! " Panggil Meera lirih. Menoleh, menatap Lucas dengan begitu dalam.
" Emh ? " Lucas menoleh. Membalas tatapan itu tak kalah dalam.
" Kapan kau akan menceraikanku ? " Tanya Meera dengan mata sendu dan ragu. Memberanikan diri dia bertanya, walau sebenarnya dia sangat takut dengan jawaban yang akan di dengarnya. Yang akan membuat hatinya terluka dan kecewa.
Lucas, dia menoleh. Menatap Meera dengan sorot mata tajamnya. Nafasnya tersengal, dadanya naik turun menahan amarah yang membuncah.
" Turun dari mobilku !! " Sentak Lucas mengusir Meera.
.
.
💫 Bersambung ... 💫